Aku
lahir di atas balai papan sebuah rumah, yang dindingnya
bersekat anyaman bambu serta lantai dari tanah. Di utara
Jakarta, Ancol tepatnya. Kawasan ini memang -
doeloe - adalah rawa-rawa. Bau sampah adalah wangi parfum
bagiku. Dan bunyi cicit katak adalah nyanyian kehidupan.
Bila sore, aku selalu punya kebiasaan memandangi
sekawanan burung-burung laut yang hendak pulang
kesarangnya. Tapi kini pemandangan itu tak ada lagi.
Yang ada hanya papan-papan reklame, hotel yang tinggi
menjulang serta kincir raksasa. Kadang-kadang ada
kerinduan yang mengoyak-oyak masa penuh kenangan itu
...
Waktu
usiaku 12 tahun, kenakalanku rasanya tak sebanding
dengan usia. Aku tak pernah punya rasa takut. Aku sudah
terbiasa melompat dari satu gerbong ke gerbong, ketika
roda-roda kereta bergulir dalam kecepatan 60 - 80 km per
jam. Aku pun pernah terjerembab dalam jurang kehidupan
yang dalam. Perjudian dengan nasib bagiku adalah sesuatu
yang amat menggoda naluri. Tak pernah terlintas sedikit
pun kecemasan, apalagi menghitung nyawa. Barangkali itu
sebabnya, gigitan ular, tulang yang patah dan kulit
robek, selalu kuanggap seperti sebuah hadiah atas
keberanian.
Jangan
kamu mengira hidupku penuh kesia-siaan. Aku justru
bangga dengan masa kecilku. Pengalaman-pengalaman ketika
itulah yang akhirnya membuatku sangat menghargai arti
sebuah kehidupan. Aku bisa bergaul dengan siapa saja.
Aku tak pernah menilai seseorang dari latar belakang
serta dari mana dia berasal. Selama orang itu berniat
baik, mari kita bersahabat dan berbagi rasa! Ya, ...
tentang apa saja. Aku ingin menjadi temanmu yang setia
di alam maya ini. Tak perlu sungkan, email-lah aku jika
kamu perlukan. Dan selama aku masih sanggup membiayai
hidup dalam dunia yang penuh keanehan ini, aku akan
secepatnya menjawab kirimanmu.
Kini,
kadang-kadang aku suka tertawa, bila melihat
segerombolan anak sekolah yang tawuran. Dan sesekali,
tawaku berubah jadi kebencian jika melihat pesakitan
yang membenamkan dirinya dalam limbah narkotika.
Merekalah orang-orang yang tak pernah mensyukuri
karunia. Kesombongan pada gaya hidup, dan ingin selalu
menjadi 'Tuan-Tuan Kecil' dibumi, percayalah, hanya akan
meninggalkan luka yang abadi! Kalau kamu ingin nakal,
lakukanlah kenakalan yang terpuji. Jangan pernah
berkhianat, apalagi terhadap diri sendiri.
Aku
memang belum dan bukan apa-apa. Aku hanya mahluk kecil
yang kadang-kadang masih suka jatuh tersungkur. Aku
bukan Dewa. Aku hanya ingin berbuat sesuatu yang berarti
bagi orang lain, sebelum napasku terlepas dari jasadnya.
Salam manis dan hargailah kehidupan!
|