Jakarta, 18 Oktober 2000
Begitu sampai dilantai 6, ternyata sudah ada antrian yang cukup panjang.
Mulai dari usia remaja, mahasiswa hingga eksekutif muda dan tua ikut antri untuk bertemu dengan Anggun.
Begitu panjangnya antrian hingga jumlah barang yang bisa ditandatangani Anggun dibatasi hanya satu saja. Foto bareng Anggun juga hanya boleh satu kali. Padahal aku membawa dua photo’ku bareng Anggun untuk ditandatangani Anggun.
Akhirnya kakakku ikut antri didepanku, agar kedua photo tersebut bisa ditandatangani Anggun.
Duhhhhh, antrian’nya panjang benar. Kayaknya cocok nich antri sambil nyanyi ular naga panjang’nya bukan kepalang.
Ketika tiba giliran kakakku minta tanda tangan Anggun, Anggun sedikit kaget dengan photo yang disodorkan kakakku.
Aku pikir Anggun akan langsung menandatangani photo’nya tanpa memperhatikan gambar photo’nya. Ternyata Anggun sempat mengamati photo itu untuk beberapa saat.
“Ini Harrys khan?”, tanya Anggun seolah tidak yakin.
“Iya, itu photo Anggun dan Harrys yang waktu ketemu kemaren itu”., jawab kakakku.
“Ini kakak’nya Harrys ya?”.
“Iya”.
“Aduhhhh, sayang dia udah pulang ke Medan ya. Salam ya buat dia”, ujar Anggun sambil menandatangani photo itu.
“Dia belum pulang ke Medan. Itu orang’nya ada kok”, jawab kakakku sambil menunjuk kearahku yang berdiri 4 meter dari tempat Anggun yang berada dibarisan depan antrian yang masih tersisa.
Surprise, Anggun langsung menoleh kearahku dan melambaikan tangannya.
“Hai….apa kabar?. Kamu masih di Jakarta ternyata”
Aku berjalan menghampiri Anggun dengan langkah mantap. Bagaimana tidak mantap, ternyata Anggun masih ingat aku.
“Kapan pulang ke Medan”, tanya Anggun sambiul menandatangani photo yang aku sodorkan.
“Besok, mbak”.
“Hati-hati ya, salam buat keluarga di Medan. Ma kasih lho…”, kata Anggun setelah aku mendapat kesempatan photo bareng, walaupun hanya dapat jatah satu kali.
Saat akan melangkah kearah pintu keluar, tiba-tiba salah satu sekuriti mencolek punggungku.
Ngapain sich colek-colek? Naksir? Aku sudah hampir pasang kuda-kuda untuk menyerang.
“Dipanggil Anggun lagi tuh”, katanya.
Spontan aku menoleh lagi ke Anggun. Ada apa ya? Apakah aku diperbolehkan foto bareng Anggun tujuh belas kali lagi?
“Jangan kedinginan lagi ya…”, seru Anggun sambil tertawa, manis sekali.
Sambil nyengir, aku langsung mengarahkan kameraku kearah Anggun, bermaksud memotret Anggun. Tetapi tiba-tiba lensa kameraku ditutupi oleh tangan salah seorang petugas sekuriti.
“Maaf, mas. Sudah tidak boleh motret lagi”.
Karena aku nekad pengen motret Anggun sebanyak-banyak’nya, sempat terjadi aksi dorong-dorongan antara aku dengan dua orang petugas sekuriti.
Akhirnya, karena tidak ingin membuat Anggun malu aku mengalah dan berjalan keluar.
Besoknya, aku kembali ke Medan naik bus dengan perasaan yang senang, bangga dan merasa diberkati oleh Tuhan.
Terima kasih ya Tuhan…..