Akhirnya, setelah acara konferensi pers kami semua digiring kesebuah ruangan tertutup dibagian gedung yang sama.
Setelah menunggu sekitar 5 menit, tiba-tiba pintu terbuka dan dengan senyum ramah dan langkah yang anggun, Anggun melangkah masuk. Mampus deh, aku hanya bisa memandangi dari sudut ruangan. Mau mendekat, tetapi bingung bagimana memulai percakapan.

“Hallo, apa kabar?”, dengan ramah Anggun menghampiri dan menyalami para pemenang kuis satu persatu.
Saat tiba giliranku bersalaman dengan Anggun, spontan aku langsung ngomong… “Aku dari Medan, Mbak.”.
Lho, siapa yang bakal peduli ya apakah aku dari Medan atau dari Klaten. Apalagi Anggun. Tiba-tiba aku merutuki diri sendiri, kenapa juga nggak mengeluarkan kata-kata yang tidak penting itu.
Tapi ternyata, Anggun sedikit terkejut. Tanpa melepaskan genggaman tangan’nya, Anggun memandangiku. Mungkin dia merasa geli karena aku satu-satunya peserta yang memanggil dia dengan embel-embel ‘mbak’.
“Kamu dari Medan? Wah, jauh sekali. Kapan datang ke Jakarta?”, tanya Anggun dengan muka serius.
“Kemarin sore, mbak”, jawabku salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah, tanganku masih digenggam Anggun. Tolong dilama-lama’in ya mbak pegang tangan’nya, nggak apa-apa kok. “Wah, masih capek dong. Ma kasih ya, udah datang jauh-jauh”, Anggun tersenyum ramah seperti biasa.
Selanjutnya aku menunjukkan klipping artikel Anggun koleksi’ku. Aku senang banget karena Anggun cukup menikmati melihat-lihat artikel koleksi’ku itu.
Dan Anggun tidak bisa menahan tawa geli ketika melihat gambar-gambar dan artikel tentang dirinya waktu zaman dulu. Bahkan Michel sang manager sempat merekam artikel-artikel itu lewat handycam’nya.

“Nanti aku mau lihat lagi ya buku klipping’nya”, bisik Anggun waktu aku mendapat giliran photo bareng Anggun.
“Klipping yang mana, mbak?”, tanyaku pura-pura bingung.
Kapan lagi coba aku bisa ngobrol sama Anggun. “Itu lho, klipping artikel sebelum go internasional”.
“Lho, tadi khan udah liat”.
“Iya, tapi aku masih ingin lihat lagi. Tadi aku lihat’nya cepat-cepat, soalnya tadi yang lain ikut ngeliatin gambar-gambarku zaman dulu itu. Aku khan malu”, canda Anggun. Aku mengangguk.
“Sudah sejak kapan ngumpulin artikel’nya?”, Tanya Anggun disela-sela aktifitas’nya membubuhkan tanda tangannya keatas foto Anggun yang aku sodorkan.
“Sejak tahun 1989, mbak”.
Anggun sejenak tertegun sambil berkata ,”Wow”.
“Mbak, tolong tulis sesuatu dong disini”, pintaku kepada Anggun sambil memberikan poster Anggun.
“Mau ditulis’in apa?”, tanya Anggun ramah.
“Buat fans ‘ku yang dari Medan”,
jawabku dengan percaya diri yang kelewat narsis. Anggun tersenyum, kemudian menulis “Buat Harrys di Medan. Ma Kasih Ya…Dari Anggun” diatas poster itu.
Sejenak kami langsung pasang gaya ketika kamera sudah siap merekam moment aku bersama Anggun. Setelah berpose beberapa kali, Anggun kembali bertanya…
“OK, sekarang mau gaya yang gimana lagi?”, tanya Anggun iseng.
Spontan aku meraih tangan Anggun dan mengajak Anggun berpose ala Tango Dancer. Seisi ruangan terseyum geli dan rebutan mengabadikan gaya ‘aneh’ racikanku itu. Ah, peduli amat. Aku bersama artis internasional nich.
Bisa jadi ini adalah kesempatan seumur hidup. Aku tidak yakin apakah besok atau lain waktu aku masih bisa bertemu Anggun lagi seperti ini.
“Eh, tangan kamu kok dingin?”, tanya Anggun ketika berpose sambil pegangan tangan. Brrrr..aku memang sedikit kedinginan. Maklum, bocah kampung nan kolokan ini belum terbiasa diruangan ber-AC.
“Iya, dingin banget mbak. AC’nya sich yang bikin dingin”, jawabku santai. Ya ampun jawabanku itu lho, sekarang ketahuan deh udik’nya. Dimana-mana AC ya emang bikin dingin. Kalo bikin panas, kompor dong namanya.
“Kamu nggak bawa jaket?”, tanya Anggun lagi.
Oh God, aku sedikit ge-er karena aku merasa Anggun sepertinya sedikit perhatian sama aku.

Untuk sementara kami berpisah dulu dengan Anggun karena sekarang adalah jadwal Anggun untuk interview khusus dengan media cetak dan elektronik. Selanjutnya Anggun juga harus bersiap-siap untuk tampil di RCTI.
Sementara Anggun melakukan interview, kami disuruh oleh pihak Panitia menunggu dilobby hotel. Setelah setengah jam menunggu, tiba-tiba kami diinformasikan oleh pihak Sony Music bahwa kamu akan segera berangkat ke studio RCTI.
Sekarang? Yahhh…apa tidak bisa pamitan dulu dengan Anggun? Kirain tadi mau disuruh masuk ruangan lagi untuk ketemu Anggun.
Dengan hati sedikit kesal aku mengikuti teman-teman yang lain bersiap-siap meninggalkan hotel.

Saat akan berangkat melewati lobby hotel, tiba-tiba pintu ruangan yang tadi kami gunakan untuk bertemu Anggun terbuka dan Anggun melangkah keluar bersama beberapa pria bertubuh kekar. Anggun melangkah kearah yang berbeda dengan arah kami.
Aku ingin teriak memanggil, tetapi batal karena kebetukan aku bukan type orang yang bisa teriak-teriak ditengah keramaian seperti tukang jual obat.
Bye Anggun…bisikku dalam hati sambil melambaikan tangan. Lucu juga, aku hanya bisa melambaikan tangan kepunggung Anggun karena arah posisi Anggun kini membelakangi kami. Ternyata….seperti telepati, Anggun tiba-tiba berbalik lagi dan berjalan menghampiri kerumunan kami.

“Eh, mana tadi yang dari Medan?”
Spontan aku langsung tunjuk tangan, dan berlari menghampiri Anggun . Huh, aku ini kayak murid SD yang mau disuruh nyanyi didepan kelas saja. Anggun tersenyum manis melihat tingkahku.
“Ma kasih ya. Nanti ikut ke RCTI lho”, kata Anggun sambil menyalami tanganku sebelum berpisah dilorong hotel tersebut. “Pasti dong, mbak”.
“Nama kamu tadi siapa?”
“Harrys Simanungkalit, mbak”.
“Orang batak ya?”
Aku cuma tersipu-sipu sok imut.
“Kayaknya kamu benar-benar kedinginan deh. Tangan kamu masih dingin”.
Aku cuma meringis. Ya ampun, segitu’nya deh mbak Anggun.
“Ada yang bawa jaket nggak? Pinjemin dia dong!”, Anggun langsung bertanya kepada orang-orang disekelilingnya.
“Ciehhhh, Anggun kayaknya perhatian banget sama penggemar’nya yang dari Medan ini”, ledek para wartawan.
Selanjutnya Anggun tersenyum sambil memandang aku entah karena prihatin atau kasihan atau simpati. Sambil malambaikan tangan, akhirnya Anggun benar-benar hilang diujung lobby hotel sebelah sana.


Sebelum kestudio RCTI, pihak Sony Music membawa kami untuk makan malam disebuh restoran makanan Jepang.
Dengan bangga aku memamerkan T Shirt bergambar Anggun dan sudah ditandatangani Anggun kepada para waitress dan waiter restoran itu.

“Kapan bertemu Anggun”, tanya mereka antusias.
“Baru aja”, jawabku dengan senyum bangga.
“Wah, kami juga mau ketemu Anggun”.
“Emang siapa yang tidak mau ketemu Anggun?”, aku makin bangga.
"T Shirt'nya buat saya aja dong", rayu salah satu waiternya.
"Trus saya pake apa?", tanyaku agak tidak rela.
"Telanjang aja".
Kurang ajar!!!!

Begitu sampai di RCTI, samar-samar terdengar suara Anggun menyanyikan lagu ‘Want You To Want Me’ sambil di’iringi piano.
Aku langsung berlari mendahului rombongan menuju ruangan darimana sumber suara berasal, tetapi langsung dicegat salah satu crew studio RCTI.

“Eh, adik tidak boleh masuk”.
Sebel juga aku disebut “adik”. Emang’nya tongkronganku masih kayak anak SMP, wong udah 'dewasa' gini.
“Aku penggemar Anggun lho, Pak”, kataku yakin akan dikasih masuk, seolah-olah aku baru saja mengatakan ‘aku manajer Anggun lho, Pak’.
“Nggak bisa, Dik”.
“Tetapi aku ingin lihat Anggun nyanyi”, aku masih mencoba menerobos masuk.
“Anggun belum nyanyi. Nanti baru nyanyi”.
“Lho, itu Anggun udah nyanyi”.
“Itu bukan nyanyi, itu lagi latihan”.
“Iya latihan’nya sambil nyanyi”.
“Itu lagi latihan, bukan nyanyi”
“Pokoknya khan Anggun nyanyi”.
“Beda dong latihan nyanyi sama nyanyi”. Aku akhirnya menyerah sebelum ketularan tulalit. Aku bisa frustasi dan masuk rumah sakit bersalin kalo nekad berdebat dengan bapak yang satu ini.
Akhirnya malam itu, kami menyaksikan Anggun menyanyikan ‘Want You To Want Me’ dan ‘Still Reminds Me’ langsung dari studio yang disiarkan secara Live.
Kelar acara, aku langsung berlari menuju backstage…berharap masih bisa ketemu Anggun. Di backstage aku cuma mendapati beberapa kru sedang membereskan peralatan.
“Anggun sudah pulang”, kata Satpam ketika aku bertanya tentang Anggun.
Aku kemudian berlari menuju pintu samping studio. Sudah sepi, sudah tidak ada orang lagi. Hanya ada sebuah mobil berwarna hitam tepat didepanku. Saat akan beranjak pergi, tiba-tiba ada gerombolan yang berjalan terburu-buru dari arah samping kiriku.
Beberapa pria bertubuh kekar sedang mengawal seseorang menuju mobil didepanku. Ya…orang yang dikawal itu ternyata Anggun.
Aku bisa mengenalinya lewat baju yang dipakainya persis sama dengan kostum yang dia pakai tadi diatas panggung. Aku ingin memanggil Anggun. Sekedar menjabat tangan’nya untuk yang terakhir kali’nya, karena besok lusa aku akan kembali ke Medan karena harus ujian semesteran. Tetapi suaraku tidak jadi keluar karena Anggun sudah masuk kedalam mobil dan buru-buru menutup pintu mobil.
Aku langsung berinisyatif berjalan dengan cepat untuk mendahului mobil yang belum bergerak itu, dengan harapan nanti saat melaju mobilnya akan melewati aku.
Dan ketika mobilnya bergerak pelan disampingku, aku melambaikan tangan sambil terseyum kearah Anggun yang berada didalam mobil.
Aku tidak tau apakah Anggun bisa melihat aku atau tidak. Aku tidak tau apakah Anggun membalas lambaian tanganku atau tidak. Aku juga tidak bisa melihat kedalam mobil karena kaca’nya gelap.

Aku tidak peduli. Aku sudah terlanjur bahagia karena hari ini aku sudah bertemu dengan Anggun.
Aku bahagia karena sekarang Anggun sudah tau ada penggemarnya yang bernama Harrys yang sudah menunggu untuk bertemu dengannya selama 11 tahun.
Aku bahagia karena Tuhan telah mempertemukan aku dengan Anggun.
Terima kasih Kakakku yang baik hati…
Terima kasih Bintang Indonesia…
Terima kasih Sony Music Indonesia…
Terima kasih Anggun…
Terima kasih Tuhan…
Terima kasih keajaiban...

1