29 April 2003

Kira-kira jam sepuluh, handphoneku berbunyi. Nomor ID’nya ‘restricted’, ID yang sama setiap kali aku mendapat telepon dari luar negeri. Aku mengangkat teleponku, lalu….

“Hallo….selamat pagi?”.
Tidak ada jawaban. Tapi diujung sana aku bisa mendengar kalo ada orang.

“Hallo…selamat pagi? Hallo…”, aku mulai tidak sabaran.
Aku mendengar suara samar-samar dari seberang sana. Aku pikir mungkin cuma orang iseng. Telepon’nya kemudian kututup. Kira-kira dua menit lagi, handphoneku kembali berbunyi.

“Hallo..selamat pagi”.
“Hallo, ini Harrys ya?”.. Akhirnya ada jawaban dari ujung sana.
“Iya, ini Harrys”.
Aku mencoba mengingat-ingat sipemilik suara ini. Sepertinya familiar, tetapi tidak tau siapa.

“Apa kabar Harrys?”
“Kabar baik. Eh, ini siapa ya?”, aku langsung to the point nanya tanpa membalas nanya ‘apa kabar’ juga. Selamat tinggal tata Krama.
“Coba tebak ini siapa?”. Lha….kok malah ngajak main tebak-tebakan.
“Suaranya kayaknya kenal. Tetapi nggak tau siapa”, jawabku polos dan sedikit bodoh. Suara yang berat dan seksi itu tertawa.
“Ini Anggun”.
“Siapa?”
“Anggun”.
“Anggun? Anggun yang mana?”
“Memang ada berapa sich Anggun yang kamu kenal?”
“Anggun yang penyanyi itu ya? Soalnya aku taunya cuma Anggun yang itu doang”. Mampus deh, ternyata bisa juga keluar pertanyaan konyol dari seorang Harrys.
“Iya, ini Anggun yang penyanyi itu”, Anggun tertawa. Mungkin geli mendengar istilah 'Anggun yang penyanyi itu'.
“Ah, masa sich ini Anggun?”
“Bener ini Anggun. Percaya deh”.
“Nggak mungkin. Anggun khan ada di Canada”.
“Lha, ini Anggun nelpon dari Canada lho”
“Serius dong. Aku pernah dapat telepon, trus ngaku-ngaku dari siapa gitu”.
“Percaya deh. Ini beneran Anggun”.

Suara memang mirip Anggun. Ada bagian dari hatiku yang juga seperti berusaha meyakinkan aku kalo orang yang berada diujung sana adalah Anggun. Oh my GOD, jadi ini benaran Anggun?
"Saya test dulu deh, supaya yakin ini Anggun”.
“Boleh, tapi jangan disuruh nyanyi ya”.
“Yeee, gimana sich. Anggun khan penyanyi, jadi test’nya harus nyanyi”.
“Eh, gimana kabarnya?”, Anggun mencoba mengalihkan pembicaraan. Tidak mempan, mbak!
“Nyanyi lagu ini deh, mbak. Lagu ‘Bojoku’”.
“Hahahaha, kok lagu yang itu sich?”
“Itu khan lagu lama. Jadi kalo beneran Anggun, pasti masih hafal”.
“Jangan disuruh nyanyi dong. Yang lain saja”
“Tau khan lagu Bojoku?”
“Ya tau dong”.
“Ya udah, nyanyi sekarang. Satu…dua..tiga…!!”
“………….”
Satu detik, dua detik, lagu yang aku tunggu-tunggu tak kunjung berkumandang. Aku justru mendengar suara tawa yang sangat khas.
Mendengar tawa itu, aku merasa tidak perlu lagi diyakinkan dengan suara Anggun menyanyi. Ya, aku sekarang yakin banget kalau aku sedang berbicara dengan Anggun. Aku mengenal tawa yang khas itu.
Dan tiba-tiba saja hari itu aku bersyukur sekali karena Anggun memiliki kesabaran setebal tembok China menghadapi orang serewel aku.
Kalau artis lain, mungkin sudah sejak tadi teleponnya ditutup karena respon awalku yang agak menyebalkan.

“Jadi bener nich ini Anggun?”
“Percaya deh”
“Aduh mbak Anggun. Ma kasih banget udah mau nelpon aku”
“Sama-sama. Aku juga ma kasih banget udah kamu bikinin website”.
“Kok bisa tau nomor teleponku sich, mbak?”
“Aku khan liat diwebsite kamu”
“Mbak tau kalo aku bikinin website buat mbak Anggun?”. Aduh, aku kok nanya lagi. Khan barusan udah diomongin.
“Ya tau dong. Masa website sendiri nggak tau”. Hehehe, untung mbak Anggun tidak mengomel.
“Aduh aku jadi malu nich. Website’nya khan nggak bagus”
“Ya, tapi juga enggak jelek-jelek amat. Hehehehe….”
Wahhh, kena deh aku diledek Anggun. Kira’in mau dipuji dan disanjung-sanjung. Ternyata seroang Anggun bisa jahil juga.

“Gimana kabar di Jakarta. Katanya ada SARS ya?”
“Sekarang banyak orang kalo kemana-mana pake masker, terutama di bandara”
“Udah separah itu ya?”
“Belum sich. Mungkin sekedar jaga-jaga saja”
“Kabarnya udah ada korban ya di Jakarta?”
“Dia warga negara Taiwan. Berobat ke Jakarta, tetapi nggak berhasil. Akhirnya meninggal deh”
“Oh begitu ya”
“Tapi mbak nggak usah takut datang ke Jakarta, Mbak. Aman kok disini”.
“Iya, nanti khan aku mau konser di Jakarta”
“Beneran, mbak?”
“Iya. Kamu belum tau ya? Itu lho pesta musik Prancis. Jadi ceritanya CCF mau menyelenggarakan acara yang memperkenalkan kebudayaan Prancis di Jakarta.
Salah satu acaranya aku diundang konser”.

“Kapan, mbak?”
“Bulan Juni. Kamu datang ya”
“Kalo mbak Anggun kasih aku tiket gratis, aku pasti datang”. Huuuu, keluar deh bakat pecinta yang gratisan’nya.
“Lho, tiketnya dijual ya? Aku pikir nggak pakai tiket”
“Iya deh, nanti aku nonton”.
“Bisa ya? Kamu masih di Medan khan?”
“Oh bukan, mbak. Aku sekarang sudah di Jakarta”.
“Waktu aku pertama kami ketemu kamu, kamu masih di Medan”.
“Iya. Dulu aku kuliahnya di Medan. Sekarang aku sudah di Jakarta”.
“Bagus dong”.
“Nanti mbak mau nyanyi lagu apa di konser CCF”
“Ya seperti biasa. Tetapi kayaknya aku akan lebih banyak nyanyi lagu bahasa Prancis”
“Kalo lagu bahasa Inggris’nya?”
“Yaa, mungkin ada dua atau tiga lagu bahasa Inggris”
“Bakal nyanyi lagu bahasa Indonesia juga nggak. Lagu lama kayak Mimpi dan Tua Tua Keladi”
“Yaaaa, kita lihat saja nanti”.
“Nyanyi lagu Bayang Bayang Ilusi juga ya, mbak”. Aku berusaha terdengar sangat berharap.
Anggun cuma ketawa. Selama sepuluh detik, aku dan Anggun sempat terdiam.

“Ayo, mau nanya apa lagi”, Anggung langsung memecah kesunyian yang baru saja kami ciptakan bersama.
“Bingung mau nanya apalagi. Kaget sekaligus senang ditelepon sama mbak Anggun. Jadi nggak ada persiapan”.
Anggun kembali tertawa.
“Kok pake persiapan segala. Memang’nya mau perang?”
“Ya, misalnya mempersiapkan pertanyaan’nya”
“Nggak usah dipersiapin. Spontan aja. Anggap aja ini ulangan mendadak”
“Oh iya, album barunya gimana?”
“Untuk album baru, aku masih ngerjain sampe sekarang”
“Musiknya kayak apa?”
“Ya mungkin kearah Elektro Pop”
“Elektro Pop itu kayak gimana sich mbak?”. Ya ampun, polos sekali pertanyaanmu, Rys.
“Aku juga bingung menjelaskan Elektro Pop itu kayak gimana. Pokoknya denger’in aja nanti. Bagus kok. Hehehehe..”
“Emang kapan albumnya mau dirilis, mbak?”
“Aku belum bisa pasti’in. Karena aku sekarng juga masih negosiasi dengan beberapa label rekaman”
Anggun menyebutkan dua label rekaman yang sedang menjadi pertimbangannya. Sebut saja label X dan Y.

“Kira-kira mbak Anggun akan milih label yang mana?”
“Dua-dua’nya sich OK. Makanya aku masih mempertimbangkan’nya. Nggak mau salah pilih”.
“Kalo mbak Anggun lebih sreg ke label mana”. Maksud pertanyaan’nya sama, tetapi kata-katanya aku rubah. Hehehehe…
“Aku lebih sreg ke label X sich sebenarnya”.
“Ya udah pilih itu aja, Mbak”
“Kita lihat saja nanti. Hehehe….”
“Judul albumnya apa, mbak?”
“Eh, tidak boleh dikasih tau. Orang Jawa bilang “pamali”.
“Mbak Anggun, aku boleh tau nomor telepon mbak Anggun nggak?”
“Wah, nggak boleh”
“Janji deh mbak, nggak bakalan telepon. Cuma SMS doang”
“Tetap nggak boleh”
“Karena menyangkut urusan profesionalisme ya Mbak?”
“Begitulah kira-kira”
“Mbak Anggun tau nggak forum Anggun?”
“Yang di Rileks.Com khan?”
“Iya. Eh, mbak Anggun beneran tau forum Anggun yang di Rileks.Com?”
“Iya. Aku tau yang di Rileks.Com. Aku sering baca lho”
“Oh ya. Mbak marah ya kalo baca komentar kami?”
“Ah, enggak. Seru kok komentar kalian. Lucu!”

Diam lagi selama 5 detik. Dan lagi-lagi Anggun yang berinisyatif untuk memulai pembicaraan. Duh, maafkan penggemarmu yang tidak tau sopan santun ini ya Mbak.
“Eh, tolong bilangin keteman-teman kalau aku nggak jadi konser di Bali ya”
“Lho, kenapa?”
“Soalnya aku juga ada konser pada hari yang sama di Korea”
“Konser apa’an?”
“Sama kayak yang di Jakarta. Aku diundang nyanyi oleh CCF disana”
“Tapi kemaren aku lihat iklan konser di Bali, katanya mbak Anggun ikutan”.
“Tadinya sich iya. Tetapi sudah dibatalkan. Besok mungkin manajerku akan kasih kabar tentang kepastian’nya”.
Besok’nya memang sang manajer menelpon aku untuk konfirmasi tentang pembatalan dan alasan pembatalan konser Anggun di Bali.

“Aku punya adek cowok. Dia sekarang punya band dan udah punya album juga. Kamu udah tau?”
“Tau. Nama band’nya Satoe”
“Menurut kamu, gimana band adekku itu?”
“Menurut mbak sendiri gimana?”
“Aku belum dengar lagu’nya sich. Jadi aku nggak tau gimana”

“Video’nya sudah sering diputar di MTV”
“Trus?”
“Kalo menurutku sich, band’nya masih belum punya ciri khas. Masih kayak band-band kebanyakan yang sudah ada di Indonesia. Bilangin dong mbak sama mas Gogor biar band’nya punya ciri khas dan unik seperti mbak”
“Memangnya aku unik ya?”
“Iya dong, makanya aku ngefans”. Gombal!!!!!
“Ma kasih kalo begitu. Mungkin karena dia masih baru memasuki dunia musik, jadi wajarlah kalo dia masih mencoba-coba jenis musik seperti apa yang mau dibawain. Ya kita lihat saja nanti”
“Mbak marah nggak mendengar komentarku tentang band’nya adek Mbak?”
“Ya enggak dong. Tapi kalo dia yang mendengar, mungkin saja dia marah. Hati-hati lho….”, canda Anggun.
“Kalo begitu jangan bilang-bilang dia ya, mbak”
“Yo wis kalo begitu. By the way, sekarang sudah jam berapa di Jakarta?”
“Jam 10.30”.
Gilaaa, aku baru sadar kalo aku teryata aku sudah ngobrol dengan Anggun sekitar 30 menit.
“Kalo di Canada sekarang jam berapa, mbak?”
“Jam 11”
“Jam 11 pagi?”
“Malam dong, sayang.”
“Wah, udah waktu’nya tidur dong disana”
“Iya”
“Wah, jadi nggak enak nich. Udah ganggu mbak Anggun”

“Nggak kok. Khan tadi aku yang nelpon kamu. Jadi aku yang mengganggu kamu”
“Nggak mengganggu kok. Sering-sering aja”.
Anggun lagi-lagi tertawa.
“Sama siapa mbak disana”
“Sama si ...".
Anggun menyebut nama seseorang yang berbau Prancis, mungkin asisten atau manajernya.
“Salam ya buat dia”
Anggun terdengar berbicara dalam bahasa Prancis dengan seseorang.
“Dia bilang ma kasih. Dia juga kasih salam buat kamu”.
Hehehe, ternyata beneran disampe’in. Kira’in cuma basa-basi doang.
“Masih ada yang mau ditanya lagi?”.
Wahhhhhh, kurang baik apa coba mbak Anggun ini.

“Kayaknya belum ada yang mau ditanyain lagi untuk sementara ini”
“Yo wis. Udah dulu ya. Anggun mau istirahat dulu. Ma kasih ya untuk semuanya. Daaaaa….”
“Daaaa mbak Anggun. Eh, tunggu dulu mbak….”.
My Godness, aku hampir saja lupa moment yang paling cruisial.
“Iya, ada yang mau ditanya’in lagi?”. Suara itu masih saja terdengar ramah dan sabar.
“Happy Birthday, ya Mbak. God bless you”
“Oh, ya ampun. Kamu ingat ya?. Ma kasih ya! Iya, hari ini aku memang ulang tahun”.
Ufffffff, nyaris saja aku menjadi penggemar yang tidak tau diri dan tidak tau terima kasih.
“Mbak Anggun, nanti kalo nanti udah di Jakarta…telepon aku lagi ya”.
Anggun cuma tertawa. Aku ini kok seperti orang yang dikasih jantung minta hati saja ya. Jadi malu sendiri.
“Udah? Masih ada yang mau disampein lagi?”, tanya Anggun penuh pengertian.
“Udah mbak. Ma kasih ya, udah mau nelpon aku”
“Sama-sama. Yo wis, udah dulu ya. Sampai ketemu lagi nanti. Daaaa….”
“Daaaa…mbak Anggun”

Sepuluh menit setelah aku menutup telepon, aku masih terbengong-bengong. Masih tidak percaya kalo aku baru saja bicara langsung dengan Anggun sekitar 30 menit lebih. Pernah bertemu Anggun saja menurutku sudah merupakan sebuah keajaiban, apalagi ditelepon langsung sama Anggun. Aku makin percaya kalo berkat dari Tuhan memang tidak pernah berkesudahan.

“Siapa, mbak’mu?. Kok dari tadi mbak-mbak melulu ngomongnya?”, ternyata kakakku mendengar percakapan antara aku dan Anggun dari kamarnya yang berada dibawah kamarku.
“Anggun”, jawabku dengan bangga.
“Tadi kamu ngomong sama Anggun?”
Aku mengangguk mantap.
"Anggun yang penyanyi itu?", kakakku sedikit kaget.
"Lho, emang ada Anggun yang lain apa?"
“Selama satu jam?”
Aku mengangguk lagi. Meski aku tadi yakin nggak ada satu jam aku ngomong sama Anggun, tetapi demi gengsi aku iyakan saja.
“Kamu yang nelpon dia?”
Aku hampir mengangguk karena keasyikan mengangguk.
“Eh bukan, Anggun yang nelpon aku”
“Dapet nomor telepon’nya nggak?” Dasar norak, aku langsung nge'cek data call handphoneku yang menyimpan semua nomor yang masuk. Ternyata nomor yang tadi digunakan Anggun, tidak bisa direcord.
Ya sudahlah, nggak apa-apa kok. Aku justru sibuk mikir, kira-kira Tuhan kasih kejutan apalagi ya buat aku besok atau lain kali lewat Anggun.
Terima kasih Anggun.
Terima kasih Tuhan.

1