Jakarta, September 2005

Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 ketika aku meloncat kedalam taxi.
Karena harus berpacu dengan waktu, aku tidak sempat lagi memilih armada taxi yang lebih terjamin keamanannya.
Ah, tapi siapa peduli. Kalau ada apa-apa, tinggal mengeluarkan jurus Tae Kwon Do yang pernah aku pelajari selama 2 tahun waktu masih kuliah dulu.
“Ke Kuningan, Pak!”, aku setengah berteriak - atau lebih tepat dibilang memerintah - kepada sopir taxi yang akan membawa aku ketempat tujuan, yairu Hotel Ritz Carlton.
Bagai adegan di sinetron kacangan, aku bolak-balik melirik jam tangan ditangan kananku. Jangan heran, aku memang mengenakan jam tangan ditangan kanan. Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin beda saja dari khalayak ramai yang memakai jam tangan ditangan kiri.
Dan untuk lebih mendramatisir keadaan, aku pura-pura serius mencari sesuatu didalam tas selempangku. Maksudku supaya pak sopir Taxi mengerti kalau aku sedang diburu waktu, supaya dia punya inisyatif ngebut dan tidak bertanya-tanya aku mau lewat jalan mana. Soalnya aku juga belum hafal jalur-jalur alternatif di Jakarta yang kata Andi Merriem Matalatta ‘lenggang-lenggong’nya suka membuat orang lupa’.
Setengah jam lagi, aku sudah harus sampai di Hotel Rizt Carlton, sementara temanku yang sudah menunggu disana sudah bolak-balik menelpon ke HP’ku dengan pertanyaan yang sama dengan salah satu judul lagu Atiek CB tahun 1995 : “Kau dimana?” .
Taxi yang aku tumpangi terjebak macet di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Kapan sich kawasan ini tidak macet. Kalau misalnya kawasan ini tidak macet malam ini, pasti besok pagi dunia kiamat.
Dalam hati aku bersyukur pak sopir Taxi’nya tidak rewel bertanya-tanya.
Lima belas menit berlalu dalam bisu dan sunyi, tiba-tiba…

“Mas mau’nya lewat Casablanca atau Gatot Subroto?”. Olala..ternyata tadi aku terlalu cepat bersyukur.
“Lewar Bogor juga nggak apa-apa kok, Pak. Yang penting 15 menit lagi kita harus sudah sampai di Kuningan”, jawabku asal. Untung pak sopir Taxi’nya tidak tersinggung, tapi justru tertawa.
“Baru ya Mas di Jakarta?”. Duhhh, nanya lagi.
“Udah 3 tahun sich, Pak. Tetapi biasanya saya diantar sopir pribadi saya, jadi saya kurang begitu hafal jalan”.
Dalam hati aku geli sendiri. Sopir pribadi darimana ya? Dari Hongkong? Wong aku tiap hari naik angkot dan kopaja atau metromini melulu. Tapi khan angkot dan kopaja ada sopirnya juga.
“Udah menikah Mas?”.
Penting banget ya nanya-nanya, apa beliau ini nggak ngerti kalo aku lagi dikejar waktu.
“Bisa ya, bisa tidak”. Aku memberi jawaban yang tidak sinkron, supaya dia bingung dan tidak bertanya hal-hal tidak penting lagi.
Berhasil. Dia sudah tidak bertanya lagi. Untuk menghindari senewen dan rasa bosan didalam taxi, aku iseng mencoba gaya hipnotis Romy Rafael.
Korban yang aku pilih adalah argo taxi yang sejak dari tadi sepertinya ngebut tidak karuan, padahal taxinya sendiri tidak ngebut.
Konsentrasi, konsentrasi dan konsentrasi. Dalam hitungan kelima, maka argo taxi ini akan berhenti. Ternyata GAGAL!!! Argonya masih berjalan, bahkan sepertinya semakin cepat berpganti angka dari digit ribuan ke digit puluhan ribu. Ya sudahlah…aku memang belum sehebat Romi Rafael.
“Mungkin menikah’nya belum ya Mas, tetapi kawin’nya sudah sering. Iya khan, Mas?”.
Ya ampun, ternyata ‘beliau’ ini masih teguh kukuh berlapis baja nyerocos.
Selanjutnya perjalananku malam itu mendapat bonus joke-joke garing dan sedikit jorok dari beliau. Lain kali aku bersumpah tidak akan naik taxi yang pengemudi’nya masih muda. Tiba-tiba aku merasa kangen sekali sama kawasan Kuningan dan ingin segera cepat-cepat sampai disana.
Tuhan, cobaan yang Kau berikan malam ini sungguh berat.

Aku sudah telat 15 menit. Bagai pelari marathon dikancah Olimpiade yang pertama kali digelar di Yunani, aku berlari kencang dari pelataran parkir sampai ke lobby hotel yang jaraknya sekitar 100 meter sehingga membuat beberapa security yang saya lewati terkagum-kagum, atau mungkin terheran-heran atau justru prihatin. Lomba lari kok sendirian, kok tidak ada lawan’nya?

“Acaranya belum mulai. Darimana aja sich? Kok lama banget!”.
Ahhhh, ucapan temanku yang sudah sejak tadi menunggu benar-benar membuat perasaanku lega karena aku memang tidak ingin ketinggalan acara ini walau satu detikpun, persis seperti Aerosmith yang don’t wanna miss a thing.
Bersama-sama, kami kemudian memasuki ruangan yang didominasi oleh wajah-wajah Asia dan Eropah. Bahkan beberapa wajah yang sering aku lihat dilayar TV dan dirubrik fashion dan profil majalah hiburan seliweran dikanan kiri tempatku berdiri.
OK, jangan sampai mati gaya. Meski bukan selebriti, bukan berarti aku harus minder ketika berada diantara kerumunan selebriti yang bisa jadi tidak lebih tampan atau lebih cerdas dari aku. Lho, kok aku jadi terkesan sirik tanda tak mampu seperti ini?

Waktu sudah berlalu 30 menit dari jadwal acara yang ditentukan sebelumnya. Aku mulai bosan. Kapan acaranya dimulai?.
Aku datang kesini bukan untuk haha-hihi atau ngobrol ngalor ngidul atau berdiri tegak seperti tiang jemuran, tapi untuk melihat seseorang secara langsung.
Gelas ditangan sudah kosong sejak 10 menit yang lalu. Beberapa potong makanan yang rasa’nya seperti ubi rebus dan daun talas sudah aku paksa turun keperut.
Mau tambah minuman, tapi agak gengsi. Nanti dikira seperti orang yang sudah tidak minum selama seminggu.
Lagian aku juga tidak tau letak minumannya dimana. Mau nanya, tetapi gengsi.

The opening show is started. Beberapa model perempuan bertubuh jangkung dan berkulit mulus mulai lenggak-lenggok memamerkan sebuah produk jam tangan. Well, jam tangan yang sungguh keren dan kelihatan berkelas.
Belinya bisa kredit tidak ya? Atau, apakah nanti diakhir acara akan dibagi-bagi secara gratis? Wah, untung malam ini aku pakai celana panjang yang saku’nya besar-besar.
The main show is right in the corner, everyone! Host acaranya menginstruksikan semua tamu memasuki Mistere Bar diruangan sebelah. Ruangan yang minim penerangan.
Ya namanya juga Bar. Kalau terang benderang bukan Bar dong namanya, tapi sunatan massal atau pesta kawinan.
Beberapa musisi mulai memainkan instrumen musik yang dipegang masing-masing. Dan saat musik intro mengalir, diatas panggung muncul sosok tinggi langsing dalam balutan gaun malam panjang transparan.
Alunan vokal’nya yang khas sontak memancing teriakan gemas sebagai besar penonton. Yes, Anggun - the one and only Indonesian International singer - is in the house.
Lagu “A Rose In The Wind” membuka pertunjukan musik eksklusif sang bintang pujaan.
“Senang rasanya kembali ke Jakarta dan tampil dihadapan anda-anda semua yang malam ini terlihat cantik dan tampan”, ujar Anggun dari atas panggung dengan senyum manis yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Aku berharap ketika mengucapkan kata “tampan”, dia akan melihat kearahku. Tetapi ternyata tidak. It’s OK, no hard feeling. Masih ada kesempatan kapan-kapan.
Membawakan sekitar 8 buah lagu dari tiga album internasionalnya dengan aksi panggung dan kontrol vokal yang mengagumkan, Anggun benar-benar menjadi bintang malam itu.

Selama menikmati alunan suara merdu Anggun, aku berkali-kali mencoba mengirimkan bahasa isyarat lewat gerak tubuh. Mulai dari hanya sekedar lambaian tangan sampai isyarat jari kelingking dan jempol yang berusaha menyampaikan pesan norak “call me tonite” seperti salah satu adegan difilm Austin Power.
Tidak peduli apakah Anggun bisa melihat gerak-gerikku yang seperti ular kesundut rokok diantara kerumunan penonton yang berjubel.
Menutup pertunjukannya malam itu, Anggun menyanyikan lagu “In Your Mind” dengan gaya yang tidak kalah hot dari gayanya di video.
Setelah pamitan dan menghilang dari panggung, pertunjukan benar-benar sudah usai. Meski beberapa pria berpenampilan eksekutif dengan teguh kukuh berlapis baja meneriakkan “we want more”, tapi pertunjukan memang sudah usai.
Dalam hati aku prihatin sama mereka. “Please deh, bapak-bapak. Jangan seperti orang susah dong”, aku meledek – lagi-lagi hanya dalam hati. Meski jauh dilubuk hati yang paling jujur, sukmaku sebenarnya dari tadi juga ikut berteriak “we want more”.
Aku dan temanku beranjak meninggalkan ruangan dan bermaksud pulang. Tapi sebelum benar-benar menuju pintu keluar, temanku ini iseng mengajak aku masuk ruangan Mistere Bar lagi.
What? Baru keluar sudah mau masuk lagi. Are u nutz?
But thanks Man, ternyata sifat isengnya bisa juga bermanfaat. Karena…Oh my GOD. Anggun ternyata sudah berada dibawah panggung dan berbaur dengan kerumunan penonton, berbincang dan menyapa ramah beberapa pengunjung disekitarnya.
Tak mau kehilangan moment berharga ini, aku dan temanku langsung menghampiri Anggun dan mencoba menyapa walaupun dengan risiko mungkin akan diacuhkan atau paling parah diteriakin maling.

“Hallo mbak Anggun”, aku mencoba menyapa dengan ragu-ragu sekaligus siap-siap melarikan diri seandainya hal-hal buruk terjadi.
Dan ternyata…
“Hey, kamu tadi darimana saja?”, sambut Anggun sambil membalas jabatan tanganku dengan hangat ketika aku sudah sampai didekat Anggun dengan debar jantung yang sejak tadi sudah ‘dag-dig-dug-ugh-lala.
Thank GOD, dia masih mengenaliku sejak pertemuan singkat kira-kira 5 tahun silam. Otakku langsung bekerja keras memikirkan topik pembicaraan.
Tentu saja, karena aku tidak mau terlihat sebagai penggemar yang hanya bisa senyam senyum bodoh tanpa bisa berkata-kata didepan Anggun. Imej dong, imej!
Ayo Harrys, pikirkan sebuah pertanyaan cerdas! Tanpa sadar, aku memukul kepalaku pakai handycam butut ditanganku karena belum juga dapat ilham mau bertanya apa.
“Mbak Anggun aku foto ya”, aku langsung mempersiapkan kamera old fashion yang lebih mirip kotak sumbangan daripada kamera. Olala, that’s the best you can say, Rys?
“Boleh. Tapi tunggu dulu, riasan wajahku masih bagus nggak?”, canda Anggun dengan gaya jenaka sambil pura-pura membenahi rambutnya.
“Tanpa riasan sedikitpun, Anggun sudah cantik kok”, jawabku, tapi kembali lagi hanya dalam hati saja. Karena sang manager seliweran disekitar kami, tidak lucu rasanya kalau aku dijitak oleh dia gara-gara dituduh menggoda Anggun.
Dan memang benar, dengan riasan wajah natural dan aksesori yang seadanya Anggun sudah terlihat 'bercahaya', persis judul album terbarunya “Luminescence”.
Ini mungkin yang membedakan Anggun dengan artis perempuan Indonesia lainnya yang sepertinya tidak bisa bertahan hidup didunia yang fana ini tanpa make-up tebal, wig dan aksesori bulu-bulu.
Sebagian besar pengunjung acara itu bahkan seperti tidak bisa melepaskan perhatiannya dari Anggun. Mulai dari yang sekedar curi-curi pandang, mempelototi secara terang-terangan, minta foto bareng, hingga mengajak ngobrol.
Ngobrol dengan Anggun sungguh menyenangkan. Begitu akrab dan ramah karena Anggun memang tidak berusaha menjaga jarak dengan orang yang ingin ngobrol dengannya, sehingga hampir terlupakan bahwa sebenarnya perempuan cerdas dan berwajah cantik ini adalah seorang figur yang popularitasnya sudah mulai mendunia.
Berkali-kali ajakan “foto bareng lagi yuk!” kepada kami terucap dari Anggun sepanjang malam itu. Sebenernya siapa yang ngefans siapa sich?

Berikut petikan obrolan singkat antara aku dengan Anggun yang beberapa kali terinterupsi oleh beberapa tamu yang ingin foto bareng dan ngobrol dengan Anggun.

Mbak Anggun ngapain kesini?
(Aku memang terbiasa memanggil Anggun dengan sebutan ‘mbak’ karena sejak kecil sudah diwanti-wanti sama Nyokapku kalo sama yang lebih tua tidak poleh panggil nama langsung, apalagi Anggun juga seusia dengan kakak perempuanku)

Maaf?
(Anggun langsung mendekatkan wajahnya kewajahku, agar suaraku bisa lebih jelas terdengar diantara riuhnya alunan musik. Aku langsung bersyukur Anggun tidak mendengar pertanyaanku barusan. “Ngapain kesini?”. Ya ampun, pertanyaan macam apa itu. Kok lebih mirip mengusir daripada bertanya. Buru-buru saya ralat kembali bentuk kalimat pertanyaanku yang salah asuhan itu)

Dalam rangka apa kesini, Mbak?
Aku sekarang jadi duta sebuah produk jam tangan itu lho. Jadi aku kesini kapasitasnya bukan sebagai penyanyi, tapi sebagai model yang diundang untuk membuka pameran sekaligus memperkenalkan produk ini.

Bagaimana dengan promo album 'Luminescence'?
Tadinya aku memang ingin sekalian promo album. Tapi ternyata pihak rekamanku di Indonesia punya rencana yang lain. Jadi mungkin nanti habis Lebaran aku akan balik lagi kesini khusus untuk promo album.

Jadi acara wawancara dan konser distasiun TV batal dong?
Iya. Tapi jangan khawatir, nanti aku akan datang lagi kok. Nggak apa-apa jadwalnya diundur, supaya persiapannya juga makin matang. Tadinya sich mau bikin konser di JCC.

Habis dari Jakarta, mau kemana lagi?
Ke Swiss. Aku mau konser amal yang disponsori PBB. Aku belum latihan lho, jadi besok lusa aku sudah harus kesana. Coba tebak dengan siapa nanti aku nyanyi? Peter Gabriel dan bla..bla…bla…
(Setelah menyebut nama Peter Gabriel, Anggun menyebutkan deretan nama yang tidak terlalu familir ditelingaku. Tetapi demi gengsi, aku pura-pura mengangguk seolah-olah kenal dengan nama terakhir yang Anggun sebut barusan. Padahal, aduh siapa sich? Penyanyi baru ya?)

Eh, ini lho adikku. Namanya Ganjar.
(Anggun tiba-tiba menarik tangan seorang cowok berpostur tubuh tinggi besar yang sejak tadi berdiri kalem dibelakang Anggun. Aku langsung menyalami Ganjar. Ketika tiba-tiba beberapa orang kemudian menculik Anggun untuk sementara, aku berusaha untuk terlihat sopan dan tau tata krama dengan mengajak Ganjar ngobrol)

Mbak Anggun sudah mampir kerumah?
Wah mana sempat. Biasanya sich kita yang datang ke hotel tempat mbak Anggun nginap.

Kenapa? Karena jadwal mbak Anggun terlalu padat ya?
Iya sich. Tetapi juga karena memang susah. Kita khan sudah tau gimana wartawan-wartawan gosip disini. Kalo mereka nyamperin kerumah khan repot.

Iya sich.
(Aku dan Ganjar pun langsung kompak memasang tampang prihatin terhadap ulah para wartawan gosip tanah air yang kadang tidak manusiawi, hewani, surgawi, duniawi, dan romawi dalam memperlakukan artis)

Mas Wiwin dan Mas Gogor masih di Jogyakarta?
(Raut wajah Ganjar sedikit kaget. Mungkin dia pikir kok aku tau Wiwin dan Gogor segala?. Aku sendiri juga kaget, kok pertanyaanku begitu banget . Seperti sedang reuni keluarga saja. Padahal referensiku hanya dari Thanks List cover album Chrysalis tentang 'siapa yang lagi dimana' anggota keluarga Anggun)
Mas Wiwin udah di Jakarta sekarang. Tinggal Mas Gogor aja yang di Jogya

(Hmmm…ngobrol apa lagi ya? Oh iya, Gogor khan seorang Chef…kenapa tidak mengajak bicara tentang masakan saja. Tetapi aku langsung sadar kalau aku bisa berubah menjadi peribahasa ‘katak hendak menjadi lembu’ kalau aku nekad mengajak Ganjar berbicara tentang mi instant, satu-satunya bahan makanan didunia dan akherat yang aku kuasai secara teori dan praktek dan juga satu-satunya yang bisa aku masak tanpa resiko gosong atau mentah)

Eh, maaf ya…lagi ngomongin apa?. Aku mengganggu nggak?
(Tiba-tiba terdengar suara seksi perempuan dari belakang. Voilaaaaa…..save by the angel. Anggun sudah bergabung lagi. Aktivitas selanjutnya, kami lebih banyak saling balas senyum dan memotret. Suasana yang berisik dan dentaman suara musik tidak memungkinkan untuk ngobrol)

(Jam sudah menunjukkan jam 11 malam, besok pagi aku dan temanku harus berangkat ke kantor jam 7 pagi. It’s time to go home)
Kok cepat banget sich mau pulang? Duduk-duduk dulu dong sambil ngobrol.
(Anggun sepertinya tidak rela kami harus pulang cepat malam itu. Lho, aku jadi bingung. Siapa yang penggemar, siapa yang artis ya? Kok justru Anggun jadi pihak yang ingin lama-lama bersama kami. Seharusnya kami dong yang pengen berlama-lama dengan Anggun.)

Maaf mbak, soalnya besok kami harus kerja.
(Sebenarnya sich OK saja kalau mau disini sampai pagi bersama Anggun, tetapi kami sadar kalau kehadiran Anggun diruangan ini bukan untuk kapasitas jumpa fans, tetapi untuk urusan profesional dan bisnis. Apalagi disalah satu sudut ruangan yang sepertinya sengaja disetting untuk acara konferensi, Anggun sudah ditunggu sebuah rombongan bapak-bapak berpenampilna eksekutif yang siap presentasi.
Mekipun hanya fans, tetapi khan perlu juga jaga citra. Bukan hanya artisnya saja yang perlu menjaga citra, tetapi fans’nya juga. Selain itu, mending pamit pulang duluan sebelum diusir karena kelamaan. Soalnya lebih terhormat.)

Oh begitu ya..”
(Anggun menyambut uluran tangan kami dan cium pipi kanan cium pipi kiri. Whoaaaa…mau lagi dong!!! Tapi aku segera sadar diri kalo dimana-mana tidak ada yang namanya ‘cium pipi kanan cium pipi’ kiri sampai berkali-kali dengan orang yang sama disaat yang sama pula, kecuali kalo lagi main lenong atau Srimulat)

Ma kasih ya……
(Ucapan yang tulus itu akhirnya menjadi salam perpisahan dengan Anggun malam itu, dan Anggun benar-benar mengantar kepergian kami dengan tatapan matanya yang memancarkan sorot jenaka dan cerdas hingga kami benar-benar hilang dibalik pintu keluar. Ah Anggun, you are the true 'one in a million'...)

1