Al-Haq the Truth - Kebenaran
|
||||
|
SOAL - SOAL YANG DIPERSELISIHKAN Artinya : "Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen tidak akan rela kepadamu, kecuali kalau kamu mengikut agama mereka. Katakanlah petunjuk Tuhan itulah benar-benar petunjuk" (Q.S. Al-Baqarah : 120).
Permusuhan yang terjadi antara Arab dan Israil adalah permusuhan lama sejak dahulu kala. Tumbuh bibitnya sejak masa Ibrahim a.s. sedang akarnya menghunjam dalam hati wanita yang pertama dalam sejarah Iman dia itu Nyonya Sarah. Panah permusuhan ini diarahkan kepada nyonya yang tenang dan kalem Hagar (Siti Hajar) dan ditakdirkan pula dia menjadi hamba sahaya Nyonya Sarah.
Sarah menginginkan Ibrahim a.s. mempunyai anak, sedangkan Sarah itu seorang wanita mandul, tidak bisa beranak, lalu Hagar hamba sahayanya itu dikasihkannya kepada Ibrahim, lalu buntinglah dan melahirkan seorang laki-laki yang diberi nama Ismail. dengan begitu Hagar menyangka telah menjadi merdeka, satu kedudukan dengan Sarah dalam hati Ibrahim. Tetapi Sarah marah dan berteriak kepada Ibrahim suaminya sambil berkata :
"Bahwa malu adinda ini pulanglah kepada kakanda, karena adinda telah menyerahkan sahaya adinda kepada ribaan kakanda, maka semenjak diketahuinya dirinya mengandung, maka dicelakakannya adinda, sebab itu Tuhan juga akan menghukum antara adinda dengan kakanda" (Torat kitab kejadian 16 : 5).
Ibrahim tidak mendapat jalan lain, melainkan menyerah kepada kemauan isterinya Sarah, lalu katanya kepadanya :
"Sesungguhnya sahayamu itu adalah dalam tanganmu; buatlah olehmu barang kehendakmu akan dia lalu perempuan itupun larilah dari padanya" (Torat kitab kejadian 16,6).
Permusuhan ini menjadi warisan orang-orang Israel dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, sehingga pada masa para Hawari yaitu pada masa murid-murid Yesus. Paulus yang mengaku dan menamakan dirinya sebagai missi (Rasul) golongan Kristen dia berkata :
"Akan tetapi bagaimanakah bunyi Al kitab itu ? Buangkanlah hamba yang perempuan dengan anaknya, karena anak hamba yang perempuan itu tidak akan mewarisi beserta anak dari dari pada perempuan yang merdeka itu. Sebab itu hai saudaraku, kita bukannya anak-anak hamba yang perempuan, melainkan anak-anak perempuan yang merdeka" (Galatin 4 : 30, 31).
Permusuhan ini menjadi warisan orang-orang Israel, berurat dan berakar dalam hati dan jiwa mereka; berbuahkan iri dan dengki, dan berpenyakit bangsa merasa diri besar, komplikasi inferioritas dan komplikasi superioritas, karenanya mereka mengaku dirinya sebagai bangsa pilihan, bangsa yang diistimewakan oleh Tuhan, sebagaimana anggapan mereka bahwa bangsa-bangsa selain bangsa Israel adalah bangsa yang tidak mempunyai derajat tinggi sebagai manusia dia katakannya hamba sahaya di permukaan bumi, sebagai budak-budak, sebagai sampah terbuang. Itulah persangkaan dan dugaan mereka, inilah dugaan dan dusta mereka, buruk dan jelek sekali anggapan mereka yang dusta itu.
Nabi Muhammad s.a.w. Utusan Tuhan membawa
perkabaran gembira dan menjadi rahmat dan karunia untuk semesta alam. Disampaikan
apa yang difirmankan oleh Tuhan : Artinya : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (Q.S. Al-Hujarat : 13).
Dalam pembinaan dan pembangunan yang sehat ini, menimbulkan dan mendapatkan kebaikan dan kebajikan, berbuah dan menhasilkan dirgahayu, makmur dan sejahtera.
Wahai netter/pembaca ! anda tentu dapat mengenal dan menanggapi bahwa Islam itu membina manusia dengan kemuliaan, dan Islam membina kemanusiaan dengan penghargaan yang tinggi, supaya berlaku tolong menolong, bantu membantu diantara sesamanya, bergontong royong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kekasaran hati manusia diperhalus oleh Islam, dan jalannya tidak ada lain, melainkan kiranya timbul dalam hati manusia itu rasa takut kepada Allah.
Kalau sudah perasaan takut kepada Allah tentu timbul rasa kasih sayang sesama manusia, rasa hormat menghormati. Bertambah halus perasaan manusia, halus dengan arti kata yang sebenarnya, bertambah tinggi nilai pribadi manusia itu. Faktor pokok ketinggian manusia itu adalah taqwa yang dikehendaki oleh Al-Qur'an, taqwa dengan arti kata yang sebenarnya itu adalah faktor dan daya perangsang membentuk manusia itu berpribadi tinggi. Tepatlah yang difirmankan Tuhan dalam Al-Qur'an :"Yang paling mulia diantara kamu menurut pandangan Allah adalah pribadi yang paling taqwa".
Disini timbul pertanyaan : Apa yang diperselisihkan oleh ahli kitab ?
Jawabnya terkandung pada pembahasan Ilmiah yang diuraikan oleh Imuwan Inggris Prof. Toynbee, beradasarkan sejarah umum dan sejarah Torat dan Injil : "Kejiwaan yang merusak hati-hati orang Yahudi dasarnya kesalahan dan dosa yang sangat merusak yang mereka perbuat terhadap diri mereka sendiri, lantaran dulu-dulunya mereka adalah satu-satunya bangsa yang telah mencapai kedudukan kerohanian tinggi dengan kelebihan mereka yaitu kuat berpegang dan memeluk kepercayaan Keesaan Tuhan. Telah mencapai kedudukan rohani yang luhur yang tidak dicapai oleh bangsa-bangsa lain. Akan tetapi setelah diberikan kelebihan itu oleh Tuhan, diberinya mereka suatu kedudukan rohani yang tidak terbandingkan lalu ditinggalkannya kekangan keegoisan mereka itu, lalu mereka tertarik dan terpengaruh oleh fotamargana keduniawian yang memberikan tipuan itu, lantaran mereka beranggapan bahwa ketinggian rohani yang telah mereka capai benar-benar Tuhan kasihkan kepada mereka saja dengan adanya ikatan abadi dijadikannya mereka itu selaku ummat Tuhan yang pilihan".
Dengan itu sudah terjatuhlah mereka dalam kesalahan besar. Pikiran-pikiran mereka yang salah itu menyebabkan murka Tuhan kepada mereka sehingga Tuhan berfirman dalam Al-Qur'an : Artinya : "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim" (Q.S. Al-Baqarah : 124).
Disini pula kita bertanya-tanya faktor apakah yang menggiring Yahudi sehingga mereka mengaku dirinya sebagai bangsa pilihan Tuhan dan faktor apa sehingga mereka dikuasai oleh berperasaan teristimewa ? Jawaban terhadap pertanyaan ini terletak pada peristiwa-peristiwa yang diperbuat oleh Yahudi terhadap dirinya sendiri. Sejak dahulu kala Khalifah Musa a.s. Yusak anak Nun berkata kepada mereka sambil masuk dengan mereka kebumi Palestina.
"Dan lagi kata Yusak : dengan ini boleh diketahui" oleh mu akan hal Allah yang hidup ada diantara kamu dan akan dihalaukannya segala orang Kanani ini dan orang Heti dan orang Hewi dan orang Ferizi dan orang Girgazi dan Orang Amori dan orang Yebuzi dari hadapanmu dari dalam pusakanya" (Torat kitab Yusak 3 : 10).
"Yusak berkata kepada mereka : Sesungguhnya Allah akan berperang membela kamu dan mencabut bumi dari ahlinya dan diwariskannya kepadamu".
Bani Israil tinggal di bumi Palestina sejak mereka keluar dari Mesir tahun 1375 SM. Bangsa itu masih ditengah-tengahnya. Sejak detik pertama timbullah pada mereka kemauan berperang melawan bangsa-bangsa yang ada disekitarnya, dan melawan empire-empire yang ada disekitarnya, dan melawan empire-empire yang ada di Timur Tengah. demikian itu mereka memusuhi bangsa-bangsa tetangganya.
Karenanya mereka itu harus ditarik dari bumi Palestina dan di pindahkan ke Babilonia pada masa Nebuchodnazaar. Pada tahun 722 SM. Sargon yang kedua raja Assyrie Palestina menyerang dan menghancurkan tempat peribadatan Sulaiman, dan menawan orang-orang Israel ke Babilonia dan ke Nineve dan dileburkan tempat-tempat dan barang-barang suci mereka. Tidak heranlah sesudah itu pokok-pokok kitab Torat kitab-kitab Nabi-Nabi dan kitab Mazmur hilang dan musnah.
Setelah habis riwayat empire Assyrie dengan berdirinya empire Persi yang didirikan oleh Cyrus dibenarkan mereka kembali ke Palestina, tetapi tidak lama lantaran Palestina sudah dikuasai oleh Rum pada masa Pompius Maharaja Romawi pada mulanya. tetapi secepat mereka berhimpun dan berpadu mereka lalu memusuhi tetangganya, dan diporak- porandakan di permukaan bumi ini.
Disini jelas kesalahan yang telah mereka lakukan itu benar-benar mereka mengira dan beranggapan bahwa mereka dalam memiliki tanah, bumi itu ialah dengan kekuatan dan kegagalan mereka. Mereka lupa kepada Tuhan yang menghendaki diwariskannya kepada mereka tetapi setelah mereka, bangkang dan menyeleweng jadinya mereka menerima kekalahan dan kehancuran. Sudah diberi peringatan mereka itu oleh Nabinya, Yermia sebagaimana tercantum dalam kitab Torat kita Yermia 22 : 8,9, sebagai berikut :
"Banyak bangsa itu melalui negeri ini serta katanya seorang kepada seorang : Mengapa dibuat Tuhan demikian akan negeri sebesar ini ? Lalu akan sahutnya : Yaitu sebab dilupakannya perjanjian Tuhan, Allahnya dan mereka itu sudah menyembah sujud kepada dewa-dewa dan sudah berbuat bakti kepadanya".
Nabi
itu telah memberikan peringatan kepada mereka pada tahun 722 SM. dengan akibat
pada belakang harinya, tetapi Israel tidak memperdulikan kebenaran dan tidak
memelihara amanatnya, maka Tuhan berfirman tentang mereka itu, termaktub dalam
Al-Qur'an : Artinya : "Wahai bani Israel ! Ingatlah akan nikmatku yang telah ku kurniakan kepada mu, dan aku lebihkan kamu dari bangsa-bangsa lain. Takutlah akan hari yang satu sama yang lain tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa diterima penebusan lagi, tidak pula berarti syafaat dan mereka tidak bisa mendapatkan pertolongan (Q.S. Al-Baqarah : 122, 123).
Setelah ternyata bagi orang-orang Yahudi tidak ada gunanya cara kekerasan dalam mencapai tujuan hendak berkuasa, lalu mereka menggantungkan harapannya kepada lamunan dan khayal untuk mendapatkan penyelesaian dan pemecahan keruwetan dan problematika memelihara dirinya dari ancaman binasa. Lalu dipupuk oleh ahli-ahli agama jiwa mereka itu, bahwa merekalah bangsa pilihan Tuhan, dan dunia terdiri dari berbagai bangsa yang sudah menjadi suratan taqdir, bahwa mereka dibawah kekuasaan Israel pada akhir kesudahannya.
Lalu mereka menggantungkan harapannya yang besar pada hari kelahirannya raja keturunan nabi Daud, yang akan melepaskan mereka dari belenggu Rumawi, dia akan menguasai dunia, dan mereka memilikinya bersama dia lalu didirikan untuk mereka empire dunia berpusat di Yerusalem (Baitul Maqdis) dan dibuatnya dari merekalah unsur pemegang pemerintahan dan orang penyelamat-penyelamat yang ditunggu-tunggu itu mereka menamakan Al-Masih, sedangkan Al-Masih julukan dalan kitab Torat ketika Saul anak Cais disapu kepalanya dengan minyak dalam upacara pengangkatannya sebagai raja Israel. Maka pada hari penobatannya mereka menuang minyak diatas kepala Raja itu lalu disapu-sapunya. Karena inilah disebut Masihullah, yakni yang diusapnya oleh Tuhan dengan minyak kegembiraan selaku tanda rela dan setuju. Lalu mereka menamakan Al-Masih anak Maryam juru selamat, yakni Yesus adalah kata-kata Yunani artinya juru selamat. Kata-kata Yesus, pada umat Islam menyebutnya dengan sedikit perobahan ialah Isa, Ahli kitab bersandar kepada kenabian ini. Adapun kenabian itu tersebut dalam kitab Zakaria : 9 : 9. sebagai berikut :
"Bersuka citalah engkau, hai putri Sion ! Bersorak-soraklah, hai putri Yerusalem ! Bahwa sesungguhnya rajamu datang kepadamu dengan adil, dan ialah penolong selamat hatinyapun lembut dan ia mengendarai seekor keledai, seekor anak keledai betina".
Dan menyebut kenabian ini :
"Katakanlah kepada putri Sion : Tengok Rajamu datang kepadamu dengan rendah hatinya mengendarai seekor keledai". (Injil Matius : 21 : 5)
Al Masih datang dan mengingkari semuanya ini.
Adapun tentang empire Israel : Al Masih membatalkan anggapan ini dengan bukti kenyataan ini, kata Al Masih : "Wahai Yerusalem ! Wahai pembunuh Nabi-nabi dan Utusan-utusannya ! Ini dia rumahmu ditinggalkan kepadamu hancur".
Selesai dihancur-leburkan merata, pada masa negara Persi Sania tahun 614 M.
Adapun tentang pribadinya, Al Masih berkata : "Kerajaanku itu bukannya dari pada dunia ini. Jikalau kerajaanku dari dunia ini berperanglah segala laskarku, supaya aku jangan diserahkan kepada Yahudi". (Injil Yahya 18 : 36).
Sewaktu mereka mau mengalahkannya dengan tipuan, dengan kelicikan dikasihkannya satu dinar kepada Yesus, sambil mereka bertanya : "Adakah kami beri pajak kepada Kaisar ? Dia jawab: untuk siapa gambaran ini ? Dan untuk siapa tulisan ini ? Mereka jawab untuk Kaisar. Dia berkata : Apa-apa kepunyaan Kaisar untuk Kaisar, dan apa-apa kepunyaan Allah untuk Allah. Dengan ini bereslah persoalan". Dalam hal ini Will Durant memperluas dengan judul Al Masih dan Injil dalam bukunya "The Story of Civilization Vol. III 564 - 570.
besambung (klik disini)
|
http://alhaqa.cjb.net
http://www.geocities.com/al_haqa