Organizational Behavior #1
|
||
Organizational Behaviour, mulai saat ini saya singkat OB,
adalah suatu studi mengenai perilaku individu dan kelompok di dalam struktur organisasi. Organisasi bisa berupa kumpeni, sekolah, rumah sakit, mesjid, toko, LSM, RT RW, sampai ke pemerintah pusat, pokoknya paguyuban dimana manusia ngumpul. Mengapa orang tertarik untuk mempelajari OB? Sebab kita bertujuan agar cangkulan ataupun perumpian kita bisa semakin maju, efektif, efisien. Bukan saja OB bermanfaat untuk diketahui para juragan, kita sebagai karyawan/wati pun perlu untuk memahami hal-hal seputar OB, ya supaya kita bisa lebih oke di dalam berkarya atau berorganisasi. Ada 5 unsur utama atau disiplin ilmu yang membentuk OB, psikologi, sosiologi, psikososial, anthropologi dan politik. Psikologi akan menyangkut pengenalan tingkat mikro, yakni si individu, yang empat lainnya menyangkut pemahaman konsep makro yakni dinamika kelompok dan organisasi. Mari kusitir satu kumpulan kata-mutiara dari Thomas J. Watson Jr, bos ibeem ketika sahaya mulai nyangkul disitu. "Look, you can take away anything from IBM. You can take away our plants. You can take away our labs. You can take away any facility. You can take away our headquarters, but leave our people and this business will re-create itself over-night". Oom Thomas menekankan bahwa si individu, manusianya lah yang paling penting di dalam organisasi. Ada benarnya kalau kita lihat bahwa organisasi memang tak lain sekumpulan orang dengan tujuan yang sama. Bukan hanya IBM yang mementingkan manusia atau pegawainya di atas segalanya. Microsoft, Motorola, Hewlett Packard, Starbucks, juga dianggap orang sebagai kumpeni demikian. Organisasi yang sukses mengedepankan warganya karena lewat sang manusia lah mereka bisa bersaingan dengan organisasi lain yang manusianya biasa-biasa azha, yang tidak setermotivasi warga paguyuban mereka. Kumpeni seperti itu mempunyai ciri-ciri a.l. menghargai 'diversity', demen ke keluarga pegawai sampai menyediakan fasilitas penitipan anak seperti IBM Lab di kotaku ini, membiayai warganya mengenyam pendidikan kemana-mana termasuk ke Patpong Road di kota Bangkok :-), melakukan 'empowerment' alias memberikan wewenang hingga ke tingkat kurcaci di sang kumpeni. Sebagai layaknya dongengan Bang Jeha, saya mau syering pengalaman belanja di akhir pekan kemarin. Saya dan nyonya mau membeli perabot rutang di Hudson Bay Company, kita kenalnya HBC di Kanada ini, yakni salah satu perusahaan tertua di dunia karena didirikan pada tahun 1670. Cecilia sudah membawa barang idamannya setelah menyeleksinya dari beberapa macam lainnya, harganya $ 99 dan ada kertas di depan rak itu, diskon 25%. Dibawa ke kasir dan ternyata salah rek, benda itu harganya pas, tidak didiskon. Tentu bojoku ngotot dan bersama si kasir ke raknya dan lalu kasir bilang ini tidak termasuk yang didiskon dan memang salah ditaruh disitu karena tidak ada tempat lain untuk menaruhnya. Kalau saja saya banyak waktu ekstra, saya akan cari manager yang saat itu bertugas untuk complain. Sudah jelas so pasti kami tidak jadi beli, masalah prinsipil, bukan urusan $ 25 doang. Itulah kumpeni yang tidak 'friendly' termasuk tidak memberikan empowerment kepada kasirnya untuk mengambil inisiatif demi langganannya yang sudah mengeluarkan kartu kredit HBC mau ngebayar. Bisa dipastikan, masih akan lama lagi saya berbelanja di The Bay, padahal toko itu disaingi berat oleh toko-toko Amrik seperti WalMart, Home Depot dan Costco. Suatu organisasi disebut produktif bila berhasil mencapai tujuannya dengan mengubah input (tenaga kerja, bahan baku) menjadi output (jasa, produk) dengan ongkos serendah mungkin. Berlainan dengan Pearson International Airport di Toronto yang sebentar lagi akan mengalahkan Tokyo Narita sebagai lapangan terbang termahal biaya mendaratnya di dunia, toko perabotan Swedia bernama IKEA terkenal karena tujuan mereka mempermurah barang jualan mereka. Orang menganggap IKEA tinggi efektifitas dan efisiensinya. Satu contoh lainnya, suatu rumah sakit disebut efektif kalau doi berhasil memenuhi kebutuhan pasiennya. Ia efisien kalau bisa melakukannya dengan ongkos yang murah. Jadi teringat ketika saya pulkam seusai pensiun dan rakus berani makan mie sirem di daerah Kota di Jakarta di sebelah pelbak. Ya, warung mie itu cuma punya meja kursi a la kadarnya sehingga kami makan di dalam mobil di sebelah lahan pembuangan sampah. Amblaslah perutku malam harinya dan setelah berapa kali tahu ke WC, saya putuskan mampir ke R.S. Ongko Mulyo (sekarang Omni) di Pulo Mas, dekat rokum nyokapku. Singkat cerita, dalam hanya waktu beberapa menit, dibandingkan dengan beberapa jam di TO :-), saya sudah diperiksa oleh seorang dokter muda yang manis dan ramah :-). Setelah ia cemak-cemek disono sini, saya diberinya beberapa obat diarhea yang langsung bisa ditebus di apotik di ruangan bawah. Total ongkosnya tidak sampai $ 10 alias murmer banget. Bagi Bang Jeha Anda, R.S. Omni di malam itu adalah suatu organisasi yang produktif sebab efektif dan efisien, sesuai dengan definisi OB :-). ... (bersambung) ... Jusni Hilwan Email ID: hilwan@rogers.com. Homepage: http://ca.geocities.com/hilwan Toronto, Canada |
||