Organizational Behavior #2
|
||
Studi mengenai OB menjadi menarik ataupun menantang karena
banyaknya perubahan yang terjadi di dalam kurun waktu yang singkat di seputar perorganisasian. Misal, antara tahun 1987-1992, 143 kumpeni yang masuk ke dalam daftar Fortune 500, menghilang alias amblas. Pakar manajemen mengatakan, faktor yang paling stabil dan nyata di dalam suatu kumpeni adalah perubahan. Anda bisa memantau sendiri iklan lowongan kerja dimana-mana, ilmu kompi sering suatu yang perlu dimiliki si pelamar di jaman sekarang. Organisasi maupun warganya sekarang ini mengalami banyak ketidak-pastian, insecurity. Di Amrik dan Kanada, yang namanya pekerjaan tetap, full-time employment sudah menjadi semakin langka. Lowongan pekerjaan temporer, part-time, kontrakan, itulah yang banyak tersedia dimana-mana. Hal ini dikarenakan kumpeni ingin agar terus "langsing" atau tidak "kegemukan" kebanyakan pegawai tetap. Perubahan lainnya bersifat demografik, yakni semakin banyaknya ibu-ibu yang nyangkul sehingga berdampak kepada organisasi. Sekitar 2/3 anak-anak TK di Kanada mempunyai ibu yang bekerja, dibandingkan dulu mayoritas 'homemaker' istilah ibu rutang di Indo. Di masyarakat patriarkis seperti di Kanada, Amrik dan tanah air, sudah bisa dipastikan para ibuks itu ketika pulang ke rumah, diharapkan untuk "nyangkul" lagi ganti topi, yakni sebagai homemaker. Tidak jarang mereka juga yang kudu nganterin anaknya berenang, latihan piano, tanding hockey, main badminton. Duh banget memang dan itu baru dari aspek si karyawati. Dari sisi kumpeni, saya tidak bisa lupa ketika masih di Indo, ada satu cewek lulusan GAMA masuk jadi Systems Engineer dan udah susah-susah saya mentorin, ngajarin gimana untuk jangan mau dikerjain Sales Rep :-), kaga lama masuk kawin, dikerjain lakinya :-), hamil, cuti beranak, berhenti kerja :-). Duh juga ye. Kembali ke soal kerja kontrakan, di Amrik mereka mencakup 1/4 dari total karyawan/wati, di Kanada sepertiganya. Mereka itu sedikit banyak ada di luar dari penelitian mengenai karyawan yang selama ini dilakukan periset. Soalnya teori mengenai cangkuler sejauh ini didasarkan atau dilakukan dengan sampling cowok, pekerja penuh, di satu kumpeni seumur-umurnya. Dibutuhkan teori baru yang mencakup pekerja part-time, mahasiswa/i, para buruh kasar yang suka dicuekkan di dalam suatu survai akademis. Teori baru ini mungkin bisa menjelaskan kenapa kumpeni sekarang ini pada pelit di dalam menggaji para karyawati mereka, tibang pas alias sesuai harga pasar, nyekolahin hanya kalau dibutuhkan, dikaryakan hanya selama kumpeni untung. Dari perspektif si pegawai, ia hanya akan terus bekerja selama kondisinya oke, gaji lumayan, ada harapan training ke Kanada :-) dan kemungkinan untuk promosi, naik pangkat jadi kopral terbuka. Cangkulan di jaman sekarang sungguh berbeda dari katakan 20-an tahun lalu ketika saya belum lama menclok di Toruntung. Meskipun sudah tidak lagi pakai 'punch card' untuk memasukkan program kami ke dalam kompi, tetapi kami masih berkutet dengan apa yang kami sebut 'listing' yakni kertas cetakan puluhan ratusan halaman yang berisikan program kami yang sudah di-compile (istilah dunia perangkat lunak bahwa program itu sudah diterjemahkan dari bahasa yang dimengerti manusia ke bahasa mesin). Sudah dari jaman dahulu cangkulanku memakai mahasiswa/i kerja praktek, istilah kami co-op student dan hampir semuanya dari U. of Waterloo yang studi mengenai compilernya mendunia. Ada satu mahasiswi ceking kerempeng, si L yang menjadi petugas pesuruh kami, beberapa kali sehari ia ke computer room untuk membawa listing segerobak dan dibagi-bagikan kepada kami para programmer. Tenaga fisik masih dibutuhkan di kala itu dan untunglah terakhir saya dengar si L sudah menjadi bos departemen Fortran Compiler di eks cangkulanku :-). Seperti kusinggung di contoh di atas, kebutuhan untuk kita seterek, kuwat perkasa secara fisik sudah berkurang jauh. Sebagai gantinya, si bule bilang 'brain not brawn', kita ngomongnya otak mek bukan otot :-). Untuk menjadi cangkuler yang oke, kita perlu kepiawaian di dalam pengambilan keputusan, mampu bekerja dalam tim, fleksibel di dalam menghadapi sikon kumpeni yang terus berubah. Secara singkat, tantangan yang dihadapi karyawan/wati adalah kepuasan bekerja, empowerment, beretika. Tantangan bagi kelompok adalah kemampuan bekerja di dalam tim dan keaneka-ragaman kolega. Adalah umum kalau kita bekerja di perusahaan Amrik dan Kanada sekarang menjumpai rekan kita yang datang dari 100 negara di dunia, namun kalau di dunia kompi, mayoritas dari Respublik Rakyat Tiongkok. Terakhir, tantangan di level organisasi antara lain produktifitas, pembinaan karyawan menjadi manusia efisien, globalisasi, kompetisi sedunia. Akan kita lihat satu-persatu faktor tantangan itu tetapi kemarin saya membaca saingan di dalam bisnis pabrik sepeda di Kanada ini lawan Cungkuo. Perusahaan seperti Raleigh Canada dan Groupe Procycle sedang mendesak pemerintah agar mengenakan pajak tinggian bagi sepeda impor murah dari RRT dengan alasan 600 karyawan terancam. Dengan pajak 30% yang mereka minta dibebankan, sepeda eks Cungkuo bisa menjadi $ 400 satunya di toko, padahal ongkos FOB cuma $ 225. Yang menarik, para tukang jualan sepeda melobby balik agar gubernemen Kanada jangan menaikkan pajak sepeda impor sebab akibatnya akan berdampak kepada distributor sepeda, toko maupun terutama konsumen seperti Bang Jeha yang gemar naik sepeda dan lagi ngincer sepeda RRT yang oke punya, murah tetapi enteng kuat laju :-). ... (bersambung) ... Jusni Hilwan Email ID: hilwan@rogers.com. Homepage: http://ca.geocities.com/hilwan Toronto, Canada |
||