spanduk.jpg (15111 bytes)
pasar - komoditi - saprotan - teknologi - petani - lahan - modal - legal - buletin - data harga - mudik...


BULETIN AIS JABAR
No. 3 Tahun 1998

KATA PENGANTAR

Bisnis merupakan kegiatan untuk memperoleh keuntungan atau pendapatan bersih setinggi-tingginya. Meskipun demikian harga jual tinggi belum berarti petani akan memperoleh pendapatan tinggi. Biasanya dalam merencanakan usaha tani, petani lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ramalan harga jual yang tinggi. Padahal kenyataan yang ada sering terjadi ketika panen harga jual yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akan lebih memberikan keuntungan yang lebih pasti, jika harga cukup stabil dan harga pokok produksi (HPP) rendah sehingga Gross Margin tinggi. Dengan demikian melalui peningkatan produktivitas ( Volume / Orang ) dan perekonomian biaya produksi peningkatan pendapatan petani akan lebih realistis untuk dicapai. Gambaran tersebut kami sajikan dalam Buletin ini semoga dapat bermanfaat bagi para pelaku agribisnis di Jawa Barat.

 

KEPALA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN
PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT
Ir. D. MULJADI , M.Agr.Sc
Pembina Tingkat I
NIP. 080 021.033

 

daftar isi

Cabe Merah
Pasar
Pembiayaan
Manajemen
Keuangan
SISIPAN
 

Pembina :
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi DT I Jawa Barat
Penanggung Jawab :
Ir H. Yaya Herman Sumantri
(Kepala Sub Dinas Bina Usaha)
Redaksi :
Ir Setra Yuhana, Ir Diden Trisnadi
Sekretaris :
Nurbaeti SE, Ani Heryanti

Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Propinsi DT. I Jawa Barat
Jl Surapati No. 71, Bandung,
Jawa Barat, Indonesia
Tlp  61-022-2503884, 2500963

 


PASAR CABE MERAH

Kondisi petani Jawa Barat saat ini dan kecenderungan pasar Dunia akan semakin menyulitkan usaha di sektor Pertanian Tanaman Pangan, padahal kegiatan usaha tani sangat menentukan bagi kesejahteraan masyarakat desa. Petani dan pelaku usaha tani lainnya harus menyadari dan bertindak untuk mengantisipasi perkembangan pasar dunia dengan meningkatkan daya saing melalui pengembangan usaha tani yang modern dan tangguh yaitu usaha yang dilaksanakan atas dasar keterpaduan dalam usaha yang dilaksanakan atas dasar keterpaduan dalam suatu sistem, berorientasi pasar, memanfaatkan sumber daya secara optimal. Dikelola secara profesional yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, menerapkan teknologi tepat guna, berwawasan lingkungan serta berkembangnya kelembagaan yang kokoh.

Sebenarnya peluang agribisnis hortikultura di Jawa Barat sangat menarik, masih banyak lahan pertanian di Jawa Barat yang belum diusahakan optimal, kedekatan dengan wilayah pasar konsumen rumah tangga, industri pengolahan pangan, infrastruktur, transportasi yang memadai, tenaga kerja tani yang relatif trampil. Walaupun demikian peluang tersebut belum banyak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Kebanyakan para pengusaha enggan untuk terjun ke dunia usaha di sektor pertanian, karena mereka masih memiliki kesan bahwa kegiatan pertanian kurang menunjukan Bonafiditas terkesan tradisional. Beresiko tinggi dan harus berhadapan dengan kekuatan sosial tertentu dengan demikian usaha tani memberikan kesan mempunyai resiko investasi yang sangat tinggi. Namun apabila kita cermati secara lebih arif ternyata banyak contoh sukses usaha tani yang dapat digunakan sebagai modal untuk investasi. Pola tradisional sistem ekonomi yang berkembang di masyarakat petani sudah terbukti berjalan yang perlu dilakukan adalah bagaimana sistem ekonomi di pedesaan tersebut mampu mengakomodir sistem yang ada di kota atau sebaliknya.

Resiko usaha tani yang paling menonjol adalah gagal panen dan harga jatuh ketika panen. Resiko gagal panen dapat dihindarkan dengan pola tanam dan penerapan teknologi penanaman yang tepat guna. Petani yang sudah berpengalaman umumnya jarang sekali mengalami kegagalan. Oleh karena itu penilaian petani yang akan diberikan fasilitas kredit menjadi kunci sukses pembiayaan usaha tani.

Kebutuhan pasar produk hortikultura terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan penduduk dan pertumbuhan industri pengolahan pangan. Peningkatan konsumsi (Demand) produk hortikultura belum diimbangi oleh peningkatan produksi (Supply), sehingga mengakibatkan gejolak harga yang tinggi untuk beberapa komoditas seperti Cabe, Tomat, Bawang Merah dan Kentang.

Pada kesempatan ini fokus bahasan akan dititik beratkan pada komoditas Cabe. bagaimana menyikapi dan menyiasati usaha tani cabe sehingga menjadi salah satu kegiatan usaha yang layak. Berikut adalah gambaran tentang sampai sejauh mana usaha tani cabe layak sebagai kegiatan usaha.


1. Pasar

Cabe sebagai sumber dapur tidak dapat digambarkan fungsinya oleh produk lain, sehingga walaupun harganya sangat mahal akan tetap dibeli oleh ibu rumah tangga. Pertumbuhan rata-rata pada tahun 1996-1997 diproyeksikan meningkat sebesar 1,09 % / tahunnya. Rata-rata ekspor cabe masih lebih kecil dari pada impornya. hal ini menunjukan bahwa kebutuhan domestik masih cukup besar.

Perkembangan nilai impor cabe periode tahun 1995-1997 diproyeksikan meningkat sebesar 136,24 %. Pertumbuhan demand cabe pada tahun 1995-1997 diproyeksikan akan meningkat rata-rata sebesar 28,79 % per tahun.

Harga cabe sangat berfluktuasi dan sering mengagetkan konsumen, pada bulan Pebruari 1996 harga cabe di tingkat konsumen pernah mencapai Rp. 18.000,- /kg dan 7 bulan kemudian harga jual cabe di tingkat petani jatuh hingga di bawah biaya produksi. Siklus ini berulang seperti tidak ada yang dapat mengendalikan. Kontribusi cabe terhadap inflasi regional Jawa Barat pada bulan Oktober 1997 sebesar 0,2 %, kerugian karena harga jatuh biasanya hanya dialami oleh petani cabe yang belum profesional atau petani ikutan. fluktuasi produksi cabe mengakibatkan gejolak harga yang tinggi. Oleh karena itu pada tahap lanjut perlu kerjasama antara petani dengan industri pengolahan makanan.


2. Pembiayaan

Kegiatan usaha tani cabe sangat membutuhkan biaya yang cukup tinggi mengingat peruntukan dana lebih banyak untuk sarana produksi dibandingkan tenaga kerja. Dengan demikian mutu intensifikasi budidaya cabe sangat ditentukan oleh kecukupan modal yang dimiliki oleh petani. Hal lain dengan adanya tuntutan teknis Budidaya yang mengharuskan adanya rotasi tanaman di Jawa Barat ini sangat jarang sekali ada suatu wilayah sentra produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar cabe dari aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas dan harga.

Salah satu kendala pembiayaan usaha tani cabe di pedesaan adalah belum dikenal dan diterimanya sistem perbankan di desa. Mereka membutuhkan perantara untuk mendapatkan dan memelihara pinjaman dari perbankan, petani sudah biasa meminjam dana untuk membiayai usaha tani dari berbagai sumber bukan perbankan seperti tengkulak atau warung. Pola tersebut umunya berjalan lancar dan jarang sekali terjadi tunggakan. Pola pembiayaan yang sudah berjalan di antara penduduk dapat dibagi dua pola yaitu Nengah dan yarnen.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas, pernah dilakukan in depth study mekanisme pembiayaan yang sudah berjalan di masyarakat petani, diperoleh beberapa kondisi sebagai berikut :

Akad antar Individu
Ketaatan petani untuk membayar hutang sangat tinggi, secara tradisi mereka akan tanggung renteng untuk melunasi hutang-hutang kerabat/tetangga yang meninggal dunia. Tetapi jika hutang tersebut ke suatu lembaga (koperasi, perusahaan) cenderung tradisi tersebut tidak diberlakukan.

Dihindarkan Kata Bunga
Masyarakat petani umunya beragama Islam, mereka sangat hati-hati dengan istilah bunga yang berkonotasi dengan riba yang bertentangan dengan syariah agama.

Bukan Kredit Proyek
Pinjaman yang dikaitkan dengan sebuah proyek sering tidak berjalan baik, khususnya proyek dengan keterlibatan petani yang rendah. Mereka tidak melunasi hutang dengan berbagai alasan seperti dipaksa mengambil kredit, pada awalnya tidak butuh pinjaman, atau terjadi penyelewengan di organisasi / pelaksana Proyek.

Pinjaman Dalam Bentuk Uang Tunai
Pinjaman yang diberikan dalam bentuk barang sering menimbulkan prasangka dengan harga dan kualitas barang yang tidak benar. Pinjaman sebaiknya diberikan tunai dan petani diberi kebebasan untuk memilih barang.

Tepat waktu Ketika Dibutuhkan
Sering terjadi realisasi pencairan dana kredit terlambat sehingga tidak bermanfaat lagi untuk petani.

Pengembalian Pinjaman Secepatnya
Tingkat pendapatan petani relatif rendah, mereka cenderung tidak bisa menyimpan dana, apalagi menabung. Oleh karena itu biasanya petani akan secepatnya melunasi hutang sebelum terpakai oleh kebutuhan rumah tangga.

 

Sedangkan untuk pola pembiayaan sistem Nengah dan Yarnen dapat diterjemahkan ke dalam pengertian sebagai berikut :

Nengah
Pola pembiayaan berdasarkan bagi hasil dan mirip dengan modal Ventura. Pembagian deviden tidak berdasarkan pemilikan saham, tetapi berdasarkan akad di awal kerjasama. Resiko kerugian ditanggung bersama sesuai dengan modal yang disetor. Sistem ini biasa juga disebut Maro, Marapat, Mertelu, dsb.

Yarnen
Istilah Yarnen (Bayar panen) dikenal karena pembayaran dilakukan pada saat panen. Petani meminjam uang atau sarana produksi dan akan mengembalikan dengan jumlah tertentu pada saat panen. Jika panen gagal maka pembayaran dapat ditangguhkan pada panen musim tanam berikutnya. Pola ini mirip dengan penerbitan obligasi, di mana petani berjanji akan membayar pinjaman plus tambahannya pada waktu tertentu (jatuh tempo). Pola ini sudah biasa dilakukan antara petani dengan warung Saprotan.


3. Manajemen

Suatu hal yang mustahil bagi investor untuk mau menanamkan modalnya pada kegiatan usaha tani cabe apabila petaninya tidak memiliki manajemen yang handal. Maksud diungkapannya beberapa kegiatan ekonomi petani, tiada lain merupakan solusi untuk menentukan manajemen yang bagaimana yang tepat dalam kegiatan usaha tani yang padat modal dan padat teknologi.

Implementasi pengorganisasian petani dalam kelompok tani digabungkan menjadi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) pada dasarnya merupakan proses pemberdayaan petani karena dalam gapoktan petani memiliki Bargaining dalam hal pengadaan sarana produksi dan penjualan hasil.

Dalam pelaksanaan kegiatan usaha tani untuk luasan garapan Gapoktan (100 Ha), Gapoktan meminjam dalam bentuk Saprotan dan dikonversi dalam nilai rupiah yang harus dibayar pada saat panen. Biaya dan Bunga kredit dimasukan ke dalam harga saprotan. Pinjaman dalam bentuk tunai tidak dikenakan bunga tetapi jumlahnya dibatasi terhadap persentase pengambilan saprotan. Harga saprotan diusahakan tidak terlampau berbeda dengan harga pembelian di warung.

Berikut adalah gambaran peluang investasi usaha tani cabe dengan luasan 100 Ha yang dikelola oleh Gapoktan.


4. Keuangan

Biaya Investasi
Biaya investasi untuk satuan luas 100 Ha adalah sebesar 4 Milyar Rupiah. Sebagian besar investasi akan ditanggung oleh petani dan memang umumnya lahan pertanian sudah dimiliki oleh mereka. Biaya tambahan investasi adalah untuk pembelian Motor Sprayer. Rincian kebutuhan investasi dapat dilihat pada tabel berikut :

 

 

Total

Sendiri

bank

INVESTASI

3.925.550.000

3.895.550.000

30.000.000

Lahan

3.680.000.000

3.680.000.000

--

Bangunan

17.550.000

17.550.000

--

Mesin dan Perkakas

85.500.000

55.500.000

30.000.000

Kendaraan

142.500.000

142.500.000

--

       

MODAL KERJA

     

Sarana Produksi

1.658.230.250

--

1.658.230.250

Tenaga Kerja

1.265.000.000

 

1.265.000.000

Biaya langsung lain

298.000.000

 

298.000.000

Overhead

75.750.000

 

75.750.000

Dana Cadangan

19.480.250

 

19.480.250

INVESTASI DAN MODAL KERJA

5.583.780.250

3.895.550.000

1.688.230.250

   

69,765 %

30,235 %


Biaya Produksi
Biaya produksi dihitung untuk kebutuhan penanaman 100 ha. Biaya langsung dibagi menjadi biaya Sarana Produksi, Tenaga Kerja dan Biaya Langsung lain-lain. Biaya Sarana Produksi terdiri dari biaya pembelian bibit, pupuk dan pestisida. Biaya tersebut adalah biaya riel yang dibayarkan oleh petani. Anggaran biaya pembelian pestisida adalah biaya maksimal sebagai cadangan jika ada serangan hama.

Biaya pestisida akan jauh berkurang jika tidak ada serangan hama. Selain dari pupuk kandang, sarana produksi tersebut dibeli dari luar desa.

Biaya Sarana Produksi terbesar adalah untuk pembelian pupuk kandang yaitu sebesar 225 juta rupiah. walaupun demikian sebagian dana akan tetap berada di desa tersebut. Biaya terbesar kedua adalah pembelian mulsa plastik perak sebesar Rp. 132 juta, biaya ini sangat besar tetapi dapat menghemat tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas lahan.

Biaya tenaga kerja atau upah buruh tani total dalam waktu 7 bulan sebesar Rp. 298 juta. Biaya tak langsung berupa gaji dihitung hanya pada periode produksi, yaitu selama 7 bulan. gaji Manager adalah upah untuk Sarjana Pelaksana Inkubator yang saat ini masih dibayarkan oleh Pemda. Biaya total untuk luasan 100 Ha adalah Rp. 1,64 Milyar. Rincian Biaya dapat dilihat di lampiran

 

Analisa Keuangan
Kumulatif laba-rugi kotor dalam satu periode penanaman = Rp. 1.456.500.000,- , laba-rugi operasi Rp. 1.433.773.000,- dan laba-rugi bersih Rp. 1.314.348.000,- . Analisa laba-rugi bersih harus mencermati Nilai lahan. Harga lahan sangat tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap rasio laba terhadap harta, Kekayaan petani meningkat dari Rp. 3.899.550.000,- pada awal proyek menjadi Rp. 5.187.799.000,-.

Profitabilitas usaha sangat baik, rasio laba kotor terhadap penjualan sebesar 47 % dan sebenarnya dapat lebih tinggi hingga 70 %. Rasio laba terhadap asset jauh lebih rendah, akibat dari nilai lahan yang sangat tinggi. Walaupun demikian usaha ini tetap memberikan benefit yang sangat besar bagi masyarakat karena lahan dimiliki sendiri, bukan dari dana pinjaman.

Rasio laverage (Solvabilitas) menjadi rendah karena harta berupa tanah adalah milik petani. Walaupun rasio profitabilitas tinggi dan laverage rendah, tetapi likuiditas sangat rendah. Hal ini memang menjadi karakter petani dengan pemilikan lahan yang sempit. Di mana penghasilan dari luasan lahan yang dimiliki tidak mencukupi biaya hidup, sehingga sulit sekali untuk menabung. Rencana untuk memperbaiki likuiditas adalah dengan mewajibkan petani untuk menyisihkan peningkatan pendapatannya untuk ditabung di kelompok.

Total dana yang diperoleh selama satu tahun operasi adalah Rp. 1.289.873.000,- . Sepuluh persen dari dana tersebut akan ditabung untuk modal kerja pada musim tanam berikutnya.

 


LAMPIRAN

Analisis kelayakan usahatani Cabe di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
cabe.xls
cabe.doc

 


Link Indonesian : DEPTAN, Badan Agribisnis, BINUS-TPH, BPS, BPPKU, Mandirimore ..
English : Mardi, AVRDC, Extension Service, USDA's, Today's Prices , more ..
E-Mail aisjabar@indosat.net.id
Alamat Surat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi DT. I Jawa Barat
Jl Surapati No. 71, Bandung 40115 , Jawa Barat, Indonesia
Telepon  61-022-2503884, 61-022-2500963

 

1