MENJAWAB
TUDUHAN BATIL TERHADAP DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB
Oleh : Abul Harits as-Salafy
Keseriusan pemerintah Inggris untuk menghancurkan dakwah
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menyeru manusia untuk kembali kepada
Al-Qur'an dan As-Sunnah ini semakin nampak. Ini terbukti dengan biaya dan
tenaga yang sangat besar yang telah keluarkan dalam menghentikan dakwah yang
mubarakah ini. Salah satu bukti kuatnya adalah ketika Ibrahim Baasya dari
Mesir, berhasil menghancurkan kota Dar’iyyah di Riyadh, tempat Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab dan raja Abdullah bin Su’ud bin Abdul Aziz.
Pemerintah Inggris mengutus
George Forster Sadleer yang menjabat sebagai ketua Agen Inggris yang
berkedudukan di India untuk melakukan perjalanan panjang dan melelahkan menuju
ke Riyadh dengan tujuan memastikan bahwa Dar’iyyah benar-benar sudah hancur
sekaligus memberikan ucapan selamat dan penghargaan kepada Ibrahim Baasya.
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan akhirnya rombongan Sadleer ini
bertemu dengan Ibrahim Baasya pada tanggal 13 Agustus 1819 M di tempat yang
bernama Bi’ir Ali di dekat kota Madinah.”
Dari data-data diatas jelaslah
kedengkian Hizbut Tahrir terhadap dakwah tauhid yang dilakukan oleh Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, dan tidak terbatas pada beliau saja, tetapi Hizb ini
membenci semua ulama’ yang mendakwahkan tauhid. Dibawah ini penulis akan
menghadirkan beberapa tuduhan bathil Hizbut Tahrir terhadap para ulama’ salaf.
Agar pembaca dapat mengetahui
dan membandingkan antara tuduhan Hizbut Tahrir dan fakta yang ada, maka penulis
disini sengaja menghadirkan sejarah singkat syaikhul Islam Muhammad bin Abdul
Wahhab.
Nama lengkap beliau adalah
Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman Attamimi, beliau lahir di sebuah rumah
yang terkenal yang penuh dengan ilmu di kota Uyainah tahun 1115 H/ 1703 M.
kakek beliau Sulaiman bin Ali bin Musyrif adalah seorang ulama’ yang terkenal
pada zamannya, beliau adalah orang yang dijadikan rujukan para ulama’ pada
zamannya. Beliau menulis sebuah kitab yang sangat terkenal dalam masalah
Manasik Haji. Begitu juga pamannya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, juga
seorang ulama’ ahli fiqih, ayah syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman seorang Hakim
yang juga Ahli fiqh.
Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab adalah seorang yang cerdas, hafal Al-Qur’an sebelum usia 10 tahun.
Belajar Fiqih Hambali pada ayahnya. Syaikh Abdul Wahhab kagum dengan kecerdasan
anaknya dalam menerima pelajaran.
Di samping itu Syaikh Muhammad
juga belajar dari beberapa guru di berbagai daerah, sampai ke Madinah. Setelah
memahami ilmu tauhid dari Al-Qur’an dan Sunnah, beliau melihat di kotanya Najd
banyak terjadi kesyirikan, khurafat, dan bid’ah yang merajalela. Beliau
menyaksikan para wanita yang belum menikah pergi ke pohon-pohon kurma yang
dikeramatkan dan bertawassul (meminta) kepada pohon-pohon kurma itu agar mereka
diberikan jodohnya pada tahun ini. Di Hijaz beliau melihat orang-orang
mengkeramatkan kuburan para sahabat dan
ahlul bait, dan di kota suci Madinah Al-Munawwaroh yang dulu merupakan pusatnya
tauhid, beliau menyaksikan bagaiman manusia beristigosah dan berdoa kepada
kepada Rasulullah, yang mana hal itu menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah
seperti yang difirmankan Allah dalam surat Yunus :
ولا تدع من
دون الله مالا
ينفعك ولا
يضرك، فإن
فعلت فإنك إذا
من الظالمين.
“Janganlah
kalian menyeru kepada selain Allah yang tidak mampu memberi kalian manfaat
tidak pula memberikana bahaya. Jika kalian melakukannya maka sesungguhnya
kalian adalah termasuk orang-orang yang zhalim.”
Dan hadits Rasulullah :
إذا
سألت فسأل
الله، وإذا
استعنت
فاستعن بالله
“Jika
kamu meminta maka memintalah hanya kepada Allah dan jika kamu memohon
pertolongan maka mohonlah kepada Allah.”
Menyaksikan semua
kemungkaran itu, beliau bangkit dan segera memulai dawah beliau dengan
memurnikan keta’atan kepada Allah, memurnikan tauhid masyarakat Arab yang
tercampur dengan Syirik, khurafat, dan bid’ah. Beliau seakan-akan membawa agama
baru bagi masyarakat Arab pada waktu yang tengah tenggelam dengan kesyirikan,
bid’ah dan khurafat.
Mulailah terjadi perlawanan
dari kelompok-kelompok sesat yang merasa dirugikan dengan adanya dakwah Syaikh
ini, kemudian mereka mencoba mengadakan perlawanan baik fisik maupun pikiran.
Fitnah dan tuduhan keji mulai di arahkan kepada beliau, dengan menyebut semua
yang menyelesihi adat dan kebiasaan mereka disebut “Wahhabi” segala sesuatu
yang konotasi jelek disebut “Wahhabi”, namun beliau tetap berdakwah kepada
Allah, memperingatkan manusia dari
bahaya yang mereka lakukan, berusaha mengumpulkan kalimat mereka diatas
kebenaran, dan dalam satu kepemimpinan yang ditegakkan pada mereka perintah
Allah, dan mereka berjihad dijalan Allah, maka beliau bersungguh-sungguh dalam
melaksanakan hal ini, berdakwah kepada
Allah, berhubungan dengan para pemimpin, menulis kitab-kitab tentang
tauhid/perintah untuk meng-Esakan Allah, dan melaksanakan syariat, serta
meninggalkan kesyirikan.
Beliau senantiasa bersabar
atas yang demikian itu, mengharapkan pahala dari Allah. Sesudah beliau
mempelajari dan memperdalam agama dari para ulama di negeri itu dan selainnya,
beliau berusaha bersungguh-sungguh dalam
berdakwah kepada Allah
dan berjihad di jalan-Nya, mempersatukan umat di kota Huraimala
pada awalnya, lalu di Al Uyainah, lalu berpindah - sesudah beberapa
perkara - ke Dar'iyyah, dan Muhammad bin Su’ud membaiatnya untuk
berjihad di jalan Allah, untuk menegakkan perintah Allah maka mereka semua
adalah orang-orang yang benar dalam hal ini, saling tolong-menolong, maka
merekapun berjihad hingga Allah memberi kemenangan dan menguatkan mereka. Meka
merekapun menyiarkan tauhid, mengajak manusia kepada kebenaran dan petunjuk dan
menerapkan syariat Allah terhadap
hamba-hambaNya.
Disebabkan kejujuran dan “isti’anah”
(meminta pertolongan) kepada Allah, dan karena tujuan yang benar Allah menolong dan menguatkan mereka.
Dan cerita tentang mereka itu sudah
tidak asing lagi bagi mereka yang memiliki pengetahuan meski sedikit.
Setelah Muhammad bin Su’ud,
kemudian datanglah Raja Abdul Aziz (sesudah masa yang penuh dengan kekacauan
dan perpecahan), beliau bersungguh-sungguh dalam memperbaiki keadaan umat ini
sambil memohon pertolongan kepada Allah,
kemudian meminta bantuan para ulama, maka Allah pun menolong dan
menguatkannya, serta mempersatukan kalimat kaum muslimin Jazirah ini. Di atas
Syariat dan di jalan-Nya, sehingga tegak dan bersatu jazirah ini dari penjuru
utara hingga selatan, timur hingga barat di atas kebenaran dan petunjuk, dengan
sebab kejujuran, jihad, dan menegakkan kalimat Allah.
Dalam menyingkapi
fitnah terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan agar pembaca bisa menilai
dengan adil, maka marilah sejenak kita simak perkataan Syaikh Muqbil bin Hadi
-rahimahullah-:
“Maka jika kita
melihat ketika diutusnya Nabi kita Muhammad r dan melihat perbuatan (jahat)
orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam kepada Nabi kita Muhammad r, lalu kita menyaksikan akhir kesudahan yang
baik itu adalah bagi orang bertakwa. Dan demikianlah sesudah Nabi kita Muhammad
r hingga zaman kita ini yang dianggap sebagai zaman fitnah, fitnah yang
bermacam-macam yang tidak akan mengetahui banyaknya fitnah itu melainkan Allah
U.
Dalam zaman ini yang tercampur padanya
kesyirikan dan hal-hal jelek bagi kaum muslimin, terdapat kebangkitan yang
diberkahi yang mana keutamaan dan karunia ini adalah karena Allah. Dia-lah yang
memberkahi, menumbuhkan dan menunjuki jalannya. Lalu musuh-musuh Islam
bermaksud menjauhkan manusia dari kebangkitan yang diberkahi ini dengan
memberikan bermacam-macam julukan dan nama untuk memalingkan kaum muslimin dari
kebangkitan yang diberkahi ini, dan kesadaran yang diberkahi.
Dan kami berbicara –insya Allah-
tentang satu julukan, walaupun (segala puji bagi Allah) banyak saudara-saudara
kita tidak mengetahui tentang hal ini. Akan tetapi ini termasuk dari
(melaksanakan) bab : "Hendaknya seorang yang tahu menyampaikan kepada
orang yang tidak tahu". Karena sesungguhnya Nabi r bersabda :
ليبلغ
الشاهد
الغائب
"Hendaknya orang yang hadir
menyampaikan kepada orang yang tidak hadir".
Dan beliau r bersabda :
نضر الله
امرأ سمع
مقالتي
فوعاها
وحفظها وبلغها
"Semoga Allah
memperindah yang mendengar perkataanku, lalu menyapa, menghafal dan
menyampaikannya"
Itulah kata buruk yang disebarkan oleh orang-orang komunis,
pengikut partai ba'ats, pengikut pemahaman Jamal Abdul Nasir, orang-orang
Syi'ah, orang-orang Sufi ahli bid'ah, mereka menyebarkannya dilingkungan
masyarakat kita untuk menghalangi manusia dari sunnah Rasulullah, kata-kata itu
adalah kata "Wahabiyyah", maka barangsiapa berpegang teguh dengan
sunnah Rasulullah, mereka menjauhkan manusia darinya dan memberikan julukan itu
agar manusia lari darinya.
Dan sepatutnya diketahui, bahwasannya
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab –
رحمه الله- adalah termasuk
ulama yang hidup pada abad ke-12 Hijriyah, beliau seorang ulama yang bisa benar
dan bisa salah, kalaulah kita orang-orang yang buat "Taklid"
(mengikuti tanpa dasar) tentulah kita akan "Taklid" kepada ulama
Yaman kita yaitu Muhammad bin Ismail Al-Amiir Ash-Shan'ani –beliau hidup
sezaman dengan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-, dan beliau lebih alim daripada
syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, akan tetapi syaikh Muhammad bin Wahab
dakwahnya diberi kekuatan oleh Allah dengan kekuasaan dan tersebarlah ilmunya.
Dan Muhammad bin Ismail Al-Amiir yang hasil karya beliau (karangan-karangannya)
memenuhi dunia. Kaum muslimin mendapat manfaat dari kitab-kitabnya, walaupun
orang-orang Yaman menghancurkan beliau dan mereka berkehendak mengusirnya dari
negeri Shan'a (Yaman)
Itulah kata (Wahabiyyah) yang dengannya
manusia dijauhkan dan dihalangi dengannya dari sunnah Rasulullah, wajib bagi
kalian untuk berhati-hati dari perkaranya dan kalian hendaknya melihat apa
maknanya.
Kata itu (Wahabiyyah) adalah
dinisbatkan kepada seorang ulama dan bukanlah dinisbatkan kepada
"Marx" dan bukan pula dinisbatkan kepada "Lenin" dan bukan
pula dinisbatkan kepada "Amerika" dan bukan pula dinisbatkan kepada
"Rusia" dan bukan juga dinisbatkan kepada "Para pemimpin musuh-musuh
Islam" dan kami tidak memperbolehkan seorang muslim untuk menisbatkan
dirinya kecuali kepada Islam dan kepada Nabi kita Muhammad r.
Sepatutnya kalian
berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam masalah ini. Nabi Sulaiman u ketika burung Hud-hud mengabarinya apa yang dilakukan
oleh Ratu Saba' dan kaumnya :
ثُمَّ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
يُخْزِيهِمْ
وَيَقُولُ
أَيْنَ
شُرَكَائِيَ
الَّذِينَ كُنْتُمْ
تُشَاقُّونَ
فِيهِمْ
قَالَ الَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
إِنَّ
الْخِزْيَ الْيَوْمَ
وَالسُّوءَ
عَلَى
الْكَافِرِينَ(27)
“Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan
berfirman: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu
selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mu'min)?" Berkatalah
orang-orang yang telah diberi ilmu): "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari
ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir". (An-Nahl
27)
Dan Allah berfirman
dalam kitab-Nya yang mulia :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
إِنْ جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ
بِنَبَأٍ
فَتَبَيَّنُوا
أَنْ
تُصِيبُوا
قَوْمًا
بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا
عَلَى مَا
فَعَلْتُمْ
نَادِمِينَ(6)
“Hai orang-orang
yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(Al-Hujurat 6)
Kami
berbicara tentang hal ini bukanlah lantaran Ahli Sunnah dan Ahli Agama di
"Dammaj" (tempat Syaikh Muqbil bermukim) karena sesungguhnya dakwah
mereka (Segala Puji bagi Allah) diterima oleh penduduk Yaman, akan tetapi
permasalahannya adalah propaganda ini telah melanda negeri Saudi Arabia, Mesir,
Sudan, Syam, Iraq dan seluruh negeri-negeri Islam. Barangsiapa berpegang teguh
kepada Agama, mereka berkata : "Itu adalah Wahabi".
Dan Allah berfirman
dalam kitab-Nya :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
لَا تُحِلُّوا
شَعَائِرَ
اللَّهِ
وَلَا
الشَّهْرَ
الْحَرَامَ
وَلَا
الْهَدْيَ
وَلَا الْقَلَائِدَ
وَلَا
ءَامِّينَ
الْبَيْتَ
الْحَرَامَ
يَبْتَغُونَ
فَضْلًا مِنْ
رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا
وَإِذَا
حَلَلْتُمْ
فَاصْطَادُوا
وَلَا
يَجْرِمَنَّكُمْ
شَنَآنُ قَوْمٍ
أَنْ
صَدُّوكُمْ
عَنِ
الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ
أَنْ
تَعْتَدُوا
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى
الْبِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَلَا
تَعَاوَنُوا
عَلَى
الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ
اللَّهَ
شَدِيدُ
الْعِقَابِ(2)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar
syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan
jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka
mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali
kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah2)
Dan Nabi Muhammad r bersabda sebagaimana dalam shahih muslim,
"Orang muslim
adalah saudara muslim lainnya. Ia tidak akan mendhaliminya, menghinakannya dan
tidak meremehkannya. Ketakwaan itu adalah disini (beliau menunjuk)”
Kami memperingatkan
tentang propaganda ini, karena rasa kasih sayang kepada saudara-saudara mereka
secara umum dari berburuk sangka kepada saudara-saudara kita para dai yang
menyeru ke jalan Allah “Azza wajalla” dan hendaknya mereka tidak mengganggu
saudara-saudara mereka para dai di jalan Allah, karena Allah berfirman dalam Al
Qur’an :
وَالَّذِينَ
يُؤْذُونَ
الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
بِغَيْرِ مَا
اكْتَسَبُوا
فَقَدِ
احْتَمَلُوا
بُهْتَانًا
وَإِثْمًا
مُبِينًا(58)
“Dan orang-orang
yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka
perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata.” (Al Ahzab : 58)
Dan
Perkaranya adalah sebagaimana pepatah :
“Lempar
Batu Sembunyi Tangan”
Perkaranya (adalah
sebagaimana telah dikatakan) bahwasanya komunis, pengikut partai ba’ats,
..........berbeda dengan ahli sunnah wal jama’ah dan para dai yang menyeru
kepada Allah, dan Allah berfirman :
وَمَنْ
يَكْسِبْ
خَطِيئَةً
أَوْ إِثْمًا
ثُمَّ يَرْمِ
بِهِ
بَرِيئًا
فَقَدِ
احْتَمَلَ
بُهْتَانًا
وَإِثْمًا
مُبِينًا(112)
“Dan barangsiapa
yang mengerjakan kesalahan atau dosa,
kemudian di tuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka
sesungguhnya i a telah berbuat suatu kebohongan yang nyata.”
(An Nisa : 112)
Dan aku katakan kepada saudara-saudara para da’i
yang menyeru kepada Allah di seluruh negeri Islam : Hendaknya mereka
bersungguh-sungguh menyingsingkan lengan (dalam berdakwah), dan hendaknya mengharapkan
wajah Allah (dalam berdakwah), bukan lantaran ingin mendapatkan kursi,
kedudukan, dan bukan pula lantaran ingin mendapatkan sedikit kehidupan dunia,
sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali jika amal itu didasari
keikhlasan untuk mengharapkan wajah Allah, berdakwah kepada Allah lebih tinggi
nilainya daripada kursi, kedudukan dan sedikit kehidupan dunia ini.
وَمَنْ
أَحْسَنُ
قَوْلًا
مِمَّنْ
دَعَا إِلَى
اللَّهِ
وَعَمِلَ
صَالِحًا
وَقَالَ إِنَّنِي
مِنَ
الْمُسْلِمِينَ(33)
“Dan siapakah yang
lebih baik perkaataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal shalih dan berkata : “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.”
(Fushilat :33)
Ya, Allah berfirman
:
وَلَا
تَهِنُوا فِي
ابْتِغَاءِ
الْقَوْمِ إِنْ
تَكُونُوا
تَأْلَمُونَ
فَإِنَّهُمْ
يَأْلَمُونَ
كَمَا تَأْلَمُونَ
وَتَرْجُونَ
مِنَ اللَّهِ
مَا لَا يَرْجُونَ
وَكَانَ
اللَّهُ
عَلِيمًا
حَكِيمًا(104)
“Janganlah kamu
berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan,
maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu
menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(An Nisa :104)
Kalian mempunyai Al
Qur’an dan sunnah Rasulullah r,
sedangkan musuh-musuh kalian dari kalangan kaum komunis, pengikut partai
ba’ats, pengikut pemahaman Nasirin, syi’ah, Sufiyyah, propaganda mereka
dibangun diatas kedustaan, kebohongan, pengkhianatan. Sedangkan para dai yang
menyeru kepada Allah tidak ada yang menolong mereka melainkan Allah, dan
cukuplah Allah sebagai penolong. Dan Allah berfirman dalam Al Qur’an untuk
mengokohkan hamba-hamba-Nya yang beriman :
وَلَا
تَهِنُوا
وَلَا
تَحْزَنُوا
وَأَنْتُمُ
الْأَعْلَوْنَ
إِنْ
كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ(139)إِنْ
يَمْسَسْكُمْ
قَرْحٌ
فَقَدْ مَسَّ
الْقَوْمَ
قَرْحٌ
مِثْلُهُ
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ
نُدَاوِلُهَا
بَيْنَ
النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ
اللَّهُ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
وَيَتَّخِذَ
مِنْكُمْ
شُهَدَاءَ
وَاللَّهُ
لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ(140)
“Janganlah kamu
bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum
(kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman
(dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur
sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (Ali
Imran : 139-140)
Dan Allah juga
berfirman :
فَلَا
تَهِنُوا
وَتَدْعُوا
إِلَى
السَّلْمِ
وَأَنْتُمُ
الْأَعْلَوْنَ
وَاللَّهُ مَعَكُمْ
وَلَنْ
يَتِرَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ(35)
“Janganlah kamu
lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu
dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad
: 35)
Akan
tetapi sepatutnya dakwah itu bukanlah dakwah untuk pemberontakan dan
penggulingan, karen dakwah seperti ini lebih banyak kerusakandaripada
kebaikannya, dakwah itu adalah mengajak kaum muslimin kembali kepada Al Qur’an
dan sunah nabi mereka Muhammad Rasulullah r.
Allah berfirman :
وَقُلْ
جَاءَ
الْحَقُّ
وَزَهَقَ
الْبَاطِلُ
إِنَّ
الْبَاطِلَ
كَانَ
زَهُوقًا(81)
"Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil
telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap." (Al Isra : 81)
Dalam ayat yang
diberkahi ini terdapat berita gembira dari Allah bahwasanya kebatilan tidak
akan mampu berdiri kokoh didepan kebenaran, dan Allah berfirman :
أَنْزَلَ
مِنَ
السَّمَاءِ
مَاءً
فَسَالَتْ
أَوْدِيَةٌ
بِقَدَرِهَا
فَاحْتَمَلَ
السَّيْلُ
زَبَدًا
رَابِيًا وَمِمَّا
يُوقِدُونَ
عَلَيْهِ فِي
النَّارِ
ابْتِغَاءَ
حِلْيَةٍ
أَوْ مَتَاعٍ
زَبَدٌ
مِثْلُهُ
كَذَلِكَ
يَضْرِبُ
اللَّهُ الْحَقَّ
وَالْبَاطِلَ
فَأَمَّا
الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ
جُفَاءً
وَأَمَّا مَا
يَنْفَعُ النَّاسَ
فَيَمْكُثُ
فِي
الْأَرْضِ
كَذَلِكَ
يَضْرِبُ
اللَّهُ
الْأَمْثَالَ(17)
“Allah telah
menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah
menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa
(logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada
(pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan
(bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu
yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia
tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”
(Ar Ra’du : 17)
Maka
kami memuji kepada Allah yang membangkitkan penduduk Yaman khususnya, dan juga
penduduk Najd di Al Haramain, dan di Mesir, sungguh banyak diantara mereka
menjadi orang-orang yang tidak terpengaruh dengan propaganda yang keji ini yang
mana proopaganda ini ditujukan kepada seorang ulama yang dipuji oleh ulama
Islam. Muhammad bin Ismail Al-Amir An-Shan’ani -rahimahullah- berkata
tentang diri syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
:
لقد جاءت
الأخبار عنه
بأنه يعيد
لنا الشرع
الشريف بما
يبدي
وينشر
جهرا ماطوى كل
جاهل ومبتدع
منه فوافق ما
عندي
ويعمر
أركان
الشريعة
هادما مشاهد
ضل الناس فيها
عن الرشد
أعادوابها
معنى سواع
ومثله يغوث
وود بئس ذلك
من ود
وقد
هتفوا عند
الشدائد
باسمها كما
يهتف المضطر
بالصمد الفرد
وكم
طائف حول
القبور مقبل ومستلم
الأركان منهن
بالأيدي
Telah datang kabar gembira
(datangnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)
Yang telah mengembalikan
syari’at Islam
Beliau singkap kebodohan orang
jahil dan mubtadi’ maka beliau bersamaku
Beliau bangun kembali
tiang-tiang agama dan menghancurkan kuburan-kuburan keramat yang membuat
manusia sesat
Mereka membuat kembali
berhala-berhala seperti suwa’ yaghuts, wad dan ini sejelek-jeleknya
Dan mereka memohon kepada
berhala-berhala itu dikala susah seperti seorang yang meminta Allah Yang Maha
Esa
Berapa banyak orang yang
thowaf dikuburan sambil mencium dan mengusap dinding-dinding kuburan dengan
tangan-tangan mereka.
Maka wajib bagi
para da’i yang menyeru kepada Allah untuk menetapkan kebenaran, dan sungguh
kami telah mengatakan dalam beberapa pelajaran maupun khutbah bahwasannya
propaganda itu adalah kedustaan untuk menyandarkan diri kita kepada syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, sesungguhnya kami tidak ridha untuk dinisbatkan
melainkan kami hanya ridha kami dinisbatkan kepada Rasulullah r yang memberi syafa’at kami dan yang kami cintai, yang
mana Allah mengeluarkan kami dengan perantaraan beliau r dari kegelapan kepada cahaya. Propaganda-propaganda
itu akan hilang sebagaimana pernah dijuluki As-Shabi’ artinya orang yang
keluar dari agama nenek moyangnya dan berganti agama dengan agama lain. Adapun
kita tidaklah keluar dari agama kita berganti dengan agama lainnya kita tidak
mengkafirkan bapak-bapak kita, kakek-kakek kita, sebagaimana persangkaan mereka
! dan kita tidaklah mengkafirkan para wali dan tidaklah membenci ahlul bait
(keluarga Nabi), dan kita telah membicarakan tentang keutamaan-keutamaan
keluarga Nabi dalam beberapa ceramah. Dan kita tidak membenci orang-orang
shalih dan kita tidak mengkafirkan masyarakat kita, dan kita tidak memperbolehkan
untuk keluar dari ketaatan pemerintahan muslim, maka hendaknya orang yang
menyaksikan hal ini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, dan sesudah ini
propaganda itu akan lenyap dan akan menjadi sebab bagi tersebarnya sunnah
Rasulullah r, Allah berfirman dalam Al-Qur’an
:
إِنَّ
الَّذِينَ
جَاءُوا
بِالْإِفْكِ
عُصْبَةٌ
مِنْكُمْ لَا
تَحْسَبُوهُ
شَرًّا لَكُمْ
بَلْ هُوَ
خَيْرٌ
لَكُمْ
لِكُلِّ امْرِئٍ
مِنْهُمْ مَا
اكْتَسَبَ
مِنَ
الْإِثْمِ
وَالَّذِي
تَوَلَّى
كِبْرَهُ
مِنْهُمْ لَهُ
عَذَابٌ
عَظِيمٌ(11)لَوْلَا
إِذْ
سَمِعْتُمُوهُ
ظَنَّ
الْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ
بِأَنْفُسِهِمْ
خَيْرًا
وَقَالُوا
هَذَا إِفْكٌ
مُبِينٌ (12)
"Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah
baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang
dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar
dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.Mengapa di waktu kamu
mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka
baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ‘Ini adalah
suatu berita bohong yang nyata.’" (An-Nur 11-12)
Jika kamu
mendengarkan seseorang berkata : “Itu orang Wahabi”, maka ketahuilah bahwa ia
termasuk dari salah seorang dari dua orang ini :
4 Mungkin
ia seorang yang melakukan perbuatan keji.
4 Atau mungkin seorang yang bodoh
tidak mengetahui hakekat ini.
Ini adalah
kedustaan yang besar terhadap para da’i yang menyeru kepada Allah, Allah
berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ
الَّذِينَ
جَاءُوا
بِالْإِفْكِ
عُصْبَةٌ
مِنْكُمْ لَا
تَحْسَبُوهُ
شَرًّا لَكُمْ
بَلْ هُوَ
خَيْرٌ
لَكُمْ
لِكُلِّ امْرِئٍ
مِنْهُمْ مَا
اكْتَسَبَ
مِنَ
الْإِثْمِ
وَالَّذِي
تَوَلَّى
كِبْرَهُ
مِنْهُمْ
لَهُ عَذَابٌ
عَظِيمٌ(11)لَوْلَا
إِذْ
سَمِعْتُمُوهُ
ظَنَّ
الْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ
بِأَنْفُسِهِمْ
خَيْرًا
وَقَالُوا
هَذَا إِفْكٌ
مُبِينٌ(12)
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita)
perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi
mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang,
kamu tidak mengetahui." (An-Nur 19)
Allah
telah menamai kita sejak zaman dahulu sebagai seorang muslim dan kita umat
Muhammad r tidak meridhai Nabi Muhammad
diganti, kami tidak meridhai untuk menisbatkan diri kami kepada Syafi’i atau
Zaidi atau kepada Wahabi atau selain ini. Mereka itu semua adalah para ulama
yang agung yang menganggap jahat orang yang menisbatkan dirinya kepada mereka.
Saya
menasehatkan kepada setiap saudara seagama untuk membaca kitab beliau
rahimahullahu yaitu Kitabut Tauhid niscaya kalian akan melihat ayat-ayat
Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Kitab itu adalah kitab yang agung walaupun
didalamnya ada hadits-hadits yang dha’if, namun tidaklah memberi mudharat.
Sungguh
saya telah menerangkan dalam kitab “An-Nahju Asy-Syadidu” , lihatlah
disana
“Janganlah
kalian menjadi bunglon tapi hendaklah kalian mengatakan jika manusia berbuat
baik maka kami akan berbuat baik, dan jika mereka berbuat dhalim maka kami akan
berbuat dhalim, akan tetapi tanamkanlah dalam jiwa-jiwa kalian jika manusia
berbuat baik kalian akan berbuat baik, dan jika mereka berbuat jahat maka
janganlah kalian berbuat jahat.” Wallahumusta’an.”
Itulah pendapat Syaikh Muqbil
terhadap orang-orang yang menisbatkan sesuatu yang jelek kepada Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab dan memberinya julukan Wahabi. Seorang ulama’ yang lain
berkata :
“Pada masa lalu Imam Syafi’i
dituduh sebagai seorang rafidhi (pengikut syi’ah rafidah), dan beliau (Imam
Syafi’i) menjawab : “
إن كان
رفضا حب آل
محمد فليشهد
الثقلان أني
رافضي
Jika orang yang cinta kepada
Muhammad itu disebut Rafidhah
Maka saksikanlah wahai manusia
bahwa saya Rafidhi
إن
كان تابع أحمد
متوهبا فأنا
المقر بأنني
وهابي
Jika orang yang mengikuti Nabi
Muhammad disebut Wahhabi
Maka saya mengikrarkan bahwa
diri saya adalah seorang Wahhabi.
Footnote :