Beginilah
kita seharusnya. Berdebat, berkelakar dan saling tertawa.
Meski kita tak pernah tahu apa yang yang harus diperdebatkan
atau bagian sebelah mana yang terkadang mengundang kelucuan.
Kita
memang belum pernah bertemu, Laura. Pertemuan kita hanya
terjalin karena jari-jemari yang meliuk menari-nari di atas
papan keyboard. Serta gelombang suara yang mengalir demikian
cepatnya lewat kabel tembaga yang carut-marut.
Namun,
apapun bentuknya, semoga pertalian ini tetap terjalin dengan
baik. Berbahagia sekali kita bisa bersahabat.
Dan malam
ini aku telah dijejak oleh kesunyian, Laura. Aku tak dapat
menelan janjiku. Aku harus segera menekan tuts demi
tuts untuk merangkai beberapa sajak-sajak ini buatmu ...
JIWA
YANG TERBELAH
SECANGKIR
CINTA
MATA
WANITA
DARAH
MERAH
BUNGA
TANGISAN
SEORANG GADIS
PERAWAN
KETIKA
HATIKU MATI
SAAT
KAU TAMPAR AKU
DI
PERSIMPANGAN
©
8.8.2001
kode
validasi Sajak