TRILOGI
TRAGEDI 1993
Asem-asem - Manis - Dan gurih! = Nano-nano dong!?
"...
Jika terjadi kehancuran hidup dengan tiba-tiba, orang ingin
mengejarnya kembali. Kalau perlu dengan mempergunakan jalan
apa pun … Misalnya, kalau kekasihnya kawin dengan orang
lain, ia akan 'buru-buru menggantinya dengan orang lain yang
lebih gagah atau cantik …' Di sinilah bekerja 'nafsu'
manusia yang ingin mempergunakan jalan apa pun untuk mencapai
'cita-cita'-nya …
… Yang pasti tidak setiap orang sabar menunggu perubahan
hidup pada dirinya seperti 'tumbuhnya bulir padi
sebutir-sebutir dalam jangka sekian bulan'. Orang kerap kali
ingin mendapatkan sesuatu dengan mendadak … Kalau dapat
dengan cara yang mudah dan singkat serta tanpa memerlukan
'kepintaran', selain memuja setan! …"
2 Agustus 1993, Senin.
TRILOGI I.
Siang-siang 'anak kecil' itu merengek-rengek padaku.
"Lepaskan dia." Atau "Mundur saja",
kasarnya. Namun aku cuman tertawa. Asem-asem, manis-manis.
Malamnya, ada pembicaraan bertiga. Aku, dia dan 'anak kecil'
itu! Percakapan bagai air dalam baskom. Diam. Lalu aku
menyentuhnya hingga beriak. Lantas ada keputusan. Meski aku
tahu, dia ragu-ragu. Maka aku tertawa. Ada gurih yang
tertinggal …
3 Agustus 1993, Selasa.
TRILOGI II.
Aku makin tertawa waktu melihat 'anak kecil' itu menunggui
'Ibunya'.
4 Agustus 1993, Rabu.
TRILOGI III.
Hampir siang. Gurih, karena senyumku cuma untuk 'rembulan'.
Sang bocah nampak masih curiga padaku. Lucu!
Tanpa kuduga 'rembulan' menjenguk. Sebelumnya dia panggil aku
'Ayah'. Persetan bila si bocah sampai tahu. Rembulan pun
berkata-kata. Kemudian terbesit penyesalan dari matanya.
"Saya tak ingin putus …," desahnya malu-malu. Maka
kisah ini bergulir kembali. Ada arah. Ada tujuan. Ada
kebingungan, sebab aku masih terheran-heran. O, Dewa Kamajaya!