1987
[direvisi dari 'surat untuk fian']
Seperti
keingintahuanmu tentang sifat kepura-puraan yang selama ini
kita mainkan bersama. Maka kubukalah tabir agar [semoga] kita
temui titik penyelesaian itu.
Biarin! Kalau kamu mau bilang hidup ini brengsek, nggak punya
arti. Juga kalau kamu mau bilang aku nggak punya kepribadian,
cengeng, egois dan nggak punya pengertian. Aku tetap bilang
biarin!
Kalau kamu
bilang aku bajingan. Aku bilang biarin!
Kalau kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin!
Soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan, mau jadi apa coba?
Lonte? Aku laki-laki. Apa aku harus bunuh diri? Itu lebih
brengsek , masa aku harus membiarkan perempuan-perempuan
bertingkah-polah seenaknya?
Barangkali aku
ini memang pengecut! Tapi, bukankah semua laki-laki, nggak
dianugrahi sifat pemberani? Dan nggak semua perempuan
ditakdirkan berwatak lemah? Tidak selamanya kejujuran itu
bijaksana, Fian. Terkadang kejujuran itu sendiri musuh
kebijaksanaan.
Aku sesungguhnya
seorang idealis. Penuh rasa nasionalis. Jika aku hidup di masa
revolusi, aku mungkin pejuang sejati. Jiwaku nggak cengeng.
Aku punya jiwa agung seperti pejuang. Dan waktu telah
membuktikan, kepribadian mereka nggak goyah oleh jaman.
Makanya [bukan sombong, nih!] kamu akan banyak beruntung punya
pacar atau sahabat sepertiku.
Tanpa advis
orang lain aku mampu membedakan, mana yang baik dan mana yang
buruk. Pokoknya tanpa menunggu perintah aku bisa menyelesaikan
tugas hingga selesai.
Oya, aku selalu
ceria tiap kali bangun dari tidur. Laksana burung pipit yang
bernyanyi. Wajahku seperti matahari membuka gelap. Tetapi
kadang-kadang aku nggak dapat mengatasi rasa kebosanan yang
menghinggap. Terus terang, aku masih membutuhkan orang yang
mau menaruh kepercayaan padaku.
Aku punya watak
dua-lisme yang nggak indentik. Aku selalu dapat melihat lebih
awal dalam hal apa saja, dari pada orang lain. Aku juga suka
menyendiri memikirkan masalah orang banyak. Aku memang nggak
suka melihat ketidakadilan, meski aku nggak bisa main hakim
sendiri. Aku selalu ingin cepat menyelesaikan sesuatu
secepatnya. Itulah sebabnya dalam hal cipta-mencipta
kreativitasku nggak buruk-buruk amat. Aku penuh ide walau
nggak pernah terwujud 100%. Aku selalu berpikir keras agar
kelak hidupku bahagia.
Aku seorang yang
dinamis, yang mampu mengikuti perkembangan jaman. Aku nggak
termasuk 'gila hormat' meski aku senang dengan pujian, dan
senang berada di tempat ramai seperti pasar.
Diam-diam aku
punya daya tahan yang luar biasa lo! Sehingga ada semacam
suatu keyakinan pada diriku, bahwa aku dapat mencapai puncak
karier yang melebihi hari ini. Dan tak pelak lagi aku ulet!
Jarang mengeluh dan nggak pernah merasa bimbang dalam
menentukan langkah.
Pribadiku
akurat. Aku seorang pendiam yang optimis. Ada satu sifat yang
sampai saat ini masih kupegang, yaitu: "Alon-alon asal
kelakon."
Dalam berpacaran aku selalu merencanakan strategi untuk
menaklukan si do'i. Sehingga puluhan bahan kalkulasi dan buku
pedoman pacaran aku geluti, supaya dapat menjadi batu
loncatan.
Aku tukang
khayal dan mimpi yang lebih hebat dari seniman atau sutradara
manapun juga. Di belakangku banyak orang-orang yang dapat
kukatakan sebagai prajurit, atau pasukan, yang sewaktu-waktu
dapat kuperintahkan. Sekali aku bicara, orang-orang pasti
tertarik.
Biarpun aku
menyukai yang serba praktis, tapi dalam mengisi kehidupan ini
aku sangat membutuhkan tantangan dan gelombang badai.
Sekilas aku memang terlihat tenang. Namun itu bukan berarti
aku tak patut diperhitungkan. Aku mudah mendapat seorang
kawan, seperti mudahnya aku mendapat kepercayaan. Rasa sosial
selalu aku bagikan khusus untuk orang yang ditimpa kemalangan.
Itulah aku, Fian.
Dari diary-mu
tertanggal 2 Pebruari 1987, yang aku curi itu, tak salahkah
kamu menulis, bahwa kamu menyayangiku? Jika itu benar, terima
kasih. Terima Kasih karena kamu mau menyayangi manusia konyol
macam aku ini. Mahkluk yang sepanjang hidupnya selalu ingin
merdeka.
Nah, tentang
kebrutalanku yang kamu bilang, "Ampun deh!" Memang
sudah menjadi satu ciri khas yang aku miliki. Sukar rasanya
untuk merubah karunia Tuhan.
Sungguh! Dihadapanmu aku nggak pernah berpura-pura. Apa yang
kamu lihat, itulah sikap dan sifatku yang orisinil. Asli serta
nggak dibuat-buat. Apalagi untuk maksud menutupi kekuranganku.
Sekarang kamu
boleh mengambil langkah yang kamu anggap paling baik: Tinggal
bersamaku, atau pergi! …
Jakarta, dinihari, 5 Pebruari 1987.