SAMPAH,
KATAK DAN ASPAL
Engkau
memang seperti katak
Yang
selalu berderit dalam kesunyian malam
Sedangkan
aku hitamnya aspal jalanan.
Nasib
yang menyelimuti kegelisahan ini adalah aroma berbau
sampah masa kecilku.
Sepi
telah menikamku malam ini dan menorehkan luka tak
terlihat.
Bagaimana
denganmu?
Hmm
... gerimis pun mulai jatuh satu-satu ...
Daun
kering melayang-layang terlepas dari tangkainya.
Aku
termangu dalam kebisuan yang panjang ...
Bumiku
basah ... Tanah telah lembab
karena
tetesan darah dari luka yang tertoreh sembilu ...
Malam
ini adalah malam tak bertuan.
Kebersamaan
telah terbagi-bagi sejak kemarin.
Hanya
bidak-bidak enternit kamar yang dapat kutatap dalam
keremangan, dan seekor cecak yang sedang berkelakar.
Kita
memang akan selamanya terkurung.
Ada
demikian banyak permainan Tuhan yang tak pernah dapat kita
mengerti.
Mari
berserah diri ...
Sebab
cuma kematian yang dapat mempertemukan kedunguan ini ...
Akh!
...
©dharman
smaradhana, 26 | 7 | 2001.