10
Agustus 1993, Selasa
DALAM KAMAR 303 KITA
Tragedi
Gurih.
Mula-mula ragu bertempur dengan keyakinan. Mula-mula ragu
kupatahkan dengan janji-janji. O, berjanjikah aku saat itu?
Lantas kita sepakat. Mari atur siasat!
Rangka pintu jati telah kita lampaui. Kamu duduk di sudut,
sedang aku terlentang pada ranjang warna ungu. Mari kita
berkata-kata. Kemudian kita saling menatap. Ah, lima belas
menit kemudian kamu susul aku. Kita satu ranjang.
Aku lupa siapa
yang memulai. Tahu-tahu kita sudah tenggelam. Aku dan kau
sama-sama melumat … Dalam-dalam. Panjang. Serta nikmat!
Aku kuliti kancing demi kancing blues-mu. Maka tersingkap pada
batas dada. Lantas kulihat dua bukit indah, tentu saja!
Patutkah aku ceritakan kisah-kisah selanjutnya?! … Yang
jelas banyak desah berhamburan.
Kulitku dan
kulitnya bersatu. Dan karamlah raga kita dalam ranjang warna
ungu. O, Dewa Kamajaya! Keringat kami bergemericik disapu
nafsu!
Aku telusuri rimba dibawah sana … Di antara cadas-cadas
lembut dan bening. 'Aku tersesat' dalam cagar nafsu. Kamu pun
begitu pula.
…………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………….............................
Usai permainan
itu, ada air mirip gerimis di belakang sana … Kita sama-sama
kehujanan. O, bukan! Kita sama-sama berhujan-hujan. Saat
itulah aku baru sadar, bahwa tinggimu cuma sebatas leherku.
Ah! …
Kemudian kita
ulangi kejadian tadi. [Tertunda sesaat] Kamu sakit, dan
kukeroki.
Dalam selimut warna putih kita karam untuk yang kesekian kali.
Sekarang kudengar pekik tertahanmu: "Sakit!" Ah,
begitu padatnya harkatmu.
Sampai waktu
akan pulang, entah telah berapa banyak warna merah
kutinggalkan dikulitmu. O, nyaris alpa! Saat kutarik vesvaku
kencang-kencang, mendadak kamu cegah: "Awas! Saya mulai
berisi!" Astaga! Benarkah kau berisi? …
[Kami lalui masa-masa dengan penuh kebimbangan. Penyesalan
memang ada. Tapi mau apa lagi? Inilah ketololan yang kesekian!
Lama, dan berat. Hingga aku menulis ini …]