GERBONG
KE LIMA
Matahari
bulan April telah menyengat kulit wajahku.
Panasnya
menjalar hingga ke pori-pori.
Hitam
pun membesut sekujur jasad.
Ya!
Aku termangu di atas punggung gerbong ke lima.
Keberanian
ini lahir tanpa pertimbangan.
Kegilaan
memang telah mengaduk-aduk nyaliku.
Desis
angin yang kencang meninggalkan butir kotoran
disudut-sudut kelopak mataku.
Rambut
pun menjadi keras seperti kawat.
Sementara
dahaga sudah sejak lima jam lalu ibarat jarum yang
menusuk-nusuk kerongkongan.
Gambar-gambar
petani dipematang sawah melesat-lesat begitu cepatnya
tertinggal dibelakang.
Alam
memang siluet kehidupan bagiku.
Sambil
menikmati senandung roda-roda baja yang beradu dengan rel
aku bertanya dalam hati:
"Berapa
banyak sesungguhnya Tuhan memberi nyawa?"
©dharman
smaradhana.