Solo Dalam Mei |
di persimpangan gadis menggemerincingkan gelang kaki nasib lampu-lampu redup pada geliat pinggul malam sedingin setajam jarum bocah-bocah membayangkan harum ransum ruh menjerit menggarami udara saya di antara kata-kata sederhana penuh gairah sebuah harapan lebih berumur panjang seperti jam tangan, selalu menunjuk ke jantung mimpi kemerdekaan menjadi sebuah tugu kematian terpahat ribuan nama, dan ribuan tercecer gedung dan rumah gemetar menutup pintu mimpi kemerdekaan menjadi sebuah tugu kematian di puncaknya ruh menjerit menggarami udara kemana alamat? kusahut tanda cahaya yang berkelebat kusebar harum harapan sepanjang jalan kaki kureguk kenyataan dari setiap ancaman panorama kota, seperti tangis kehilangan airmata |
1999 Abdul Wachid B.S. wachid@bigraf.com |