![]() |
||
|
Berbagai kelompok masyarakat amat kecewa
atas pernyataan
Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bahwa kerusuhan
di Maluku dipicu oleh golongan Islam. Ia nyatakan itu dalam
seminar 'Mencari Bentuk Ideal Negara Indonesia Masa Depan'
di Istana Negara, 21 Maret silam. Sepuluh tahun tahun terakhir,
kata Gus Dur, pemerintah Soeharto telah memberikan perlakuan
istimewa bagi masyarakat Islam Maluku. Perlakuan ini
disebutnya telah mengguncang keseimbangan antara pemeluk
Islam dan Kristen. Dan ketika komunitas Nasrani protes,
mereka ditindak penguasa lokal. Akhirnya konflik pun
membesar. ''Dan karena militan Muslim yang diperlakukan
sebagai golden boy (anak emas), maka menyerbulah mereka ke
kampung Kristen''.
Kekecewaan atas pernyataan Gus Dur ini bersumber dari
pengetahuan mereka bahwa tragedi Ambon dimulai dari
serangan sistematis sejumlah besar umat Nasrani terhadap umat
Islam di hari raya Iedul Fitri, 19 Januari 1999. Pemicunya adalah
konflik seorang sopir Muslim dengan seorang kondektur
Kristen. Akibat serangan itu, ribuan sasaran Muslim seperti
rumah, toko, mobil, dan becak musnah dibakar. Lebih dari
seratus ribu orang jadi pengungsi, ribuan cedera, dan lebih dari
seribu orang Muslim tewas sia-sia. Sedangkan kerusuhan
antargolongan agama di Maluku Utara dipicu oleh pemusnahan
16 desa Muslim di Malifut (Halmahera Utara) oleh golongan
Nasrani juga, 24 Oktober 1999. Konflik ini pun menciptakan
korban yang tak sedikit di pihak Muslim.
Karena itu ketika dimintai komentar atas pernyataan Gus Dur,
Ketua PBNU Hasyim Muzadi menganggapnya 'kurang relevan
dan tak sesuai dengan kenyataan'. Pendeta Arnold Nicolas
Rajawane, anggota DPR asal Maluku, bahkan menyatakan:
''Tidak benar bahwa umat Kristen merasa tidak puas, lalu marah
dan berkonflik dengan saudara Muslimnya''. Menurut Rajawane,
kerusuhan di Ambon dan Maluku sudah dirancang sangat baik
oleh para provokator. Karena itu, ''Saya berharap Gus Dur lebih
arif bijaksana, dan tidak membuat pernyataan yang memancing
kontroversial''. Hartono Mardjono, Ketua Partai Bulan Bintang,
menyatakan, ''Inferioritas yang berlebihanlah yang menyebabkan
ia sampai tega mengatakan umat Islam seperti itu''.
Protes yang lebih keras datang dari Forum Komunikasi Ahli
Sunnah Wa'l-Jama'ah. Pada 6 April lalu, setelah melakukan
tablik akbar di Istora Senayan untuk solidaritas Muslim Maluku,
sebagian mereka mendatangi Istana Negara untuk memprotes
sikap pemerintah menangani kasus Maluku. Pertemuan enam
wakil mereka dengan Gus Dur bukannya menimbulkan saling
pengertian, malah meninggalkan kesan getir di kedua pihak. Gus
Dur terpaksa 'mengusir' mereka, karena menganggap
tuntutannya tidak bisa diterima. Sedangkan mereka tak
menggubris Gus Dur yang akan menangkap mereka yang
berjihad ke Maluku. Memang, selain memprotes, mereka juga
meminta izin Presiden untuk mengirim ribuan Lasykar Jihad ke
Maluku.
Obsesi membantu minoritas
Sangat mungkin pernyataan kontroversial Gus Dur di atas bukan
lantaran lemahnya informasi intelijen, sebagaimana diduga
Hasyim Muzadi, melainkan manuver untuk menekan kaum
Muslim yang bersemangat perang. Toh dari dulu Gus Dur selalu
berpihak pada kelompok minoritas dalam konfliknya dengan
kelompok mayoritas meskipun di belakang layar, katanya, ia
selalu menegur pihak minoritas kalau mereka kebetulan bersalah.
Contohnya, kasus ceramah Theo Syafei yang melecehkan Islam
atau kasus Mochtar Pakpahan yang menuduh ICMI terlibat
dalam kasus pemerkosaan terhadap keturunan Cina pada 15
Mei 1998.
Ada beberapa hal yang melandasi pernyataan-pernyataan
kontroversial Gus Dur menyangkut masalah Maluku. Pertama,
masalah agama. Islam harus menjadi rahmatan lil 'alamin.
Artinya, semua orang, Muslim maupun non-Muslim, harus bisa
merasakan kebaikan Islam secara luas. Agama adalah inspirasi
kebaikan, bukan alat untuk melihat dan menyelesaikan segala
sesuatu. Kedua, masalah sosial. Kaum Muslim harus mengayomi
seluruh kelompok sosial dalam masyarakat. Sebagai kelompok
mayoritas, golongan Islam harus mampu memberi rasa aman
pada kelompok minoritas. Konflik-konflik yang timbul dalam
masyarakat mestinya diselesaikan secara sosial dan rasional
dengan tidak menyeret agama kedalamnya.
Ketiga, isu kebangsaan. Bangsa Indonesia dibangun atas dasar
kesepakatan berbagai komponen, Islam maupun non-Islam.
Artinya, pluralitas sosial, budaya, dan agama merupakan hakikat
Indonesia itu sendiri, sehingga kaum Muslim sebagai mayoritas
tidak boleh mengklaim sebagai pemilik tunggal bangsa ini.
Mempertahankan pluralitas sama artinya dengan mengamalkan
Islam itu sendiri. Keempat, isu politik. Bangsa Indonesia akan
hancur bila kelompok mayoritas bersikap diskriminatif terhadap
kelompok lain. Khususnya menyangkut Kristen Maluku, dunia
internasional akan menekan Indonesia andai terdapat indikasi
kelompok Kristen teraniaya. Ini bisa mendorong Dunia Barat
menyokong usaha separatis kelompok Kristen sebagaimana
yang terjadi di Sudan. Maka, gerakan separatis di tanah air akan
kian berkembang.
Secara internal, pernyataan-pernyataan kontroversial Gus Dur
bermaksud mengucilkan kelompok Islam yang memandang
kasus Maluku sebagai masalah agama. Agaknya, ia curiga
bahwa kasus ini telah dijadikan alat oleh kelompok Islam
tertentu dan kekuatan politik lain untuk kepentingan politiknya,
demi mematikan kelompok-kelompok yang dicurigai itu. Kita
masih ingat, bagaimana Gus Dur memanipulasi data kematian
kaum Muslim di Halmahera Utara dalam insiden Desember
1999 dan Januari 2000. Ketika ia menyatakan yang tewas
hanya lima orang, padahal jumlahnya ratusan.
Kristen Maluku
Bagaimanapun, kendati niat Gus Dur baik, dampak yang
ditimbulkannya tidak sehat bagi perkembangan bangsa ini.
Pembelaan yang berlebihan, ketika kelompok yang dibela jelas
bersalah, justru tidak membuat orang Kristen menjadi lebih
dewasa. Pemahaman negatifnya selama ini terhadap golongan
Islam, sesuai doktrin kolonial dan zending Belanda demi
menjaga kepentingan kekuasaannya, mendapat justifikasinya
dari sikap Gus Dur. Ini membuat usaha mengintegrasikan
kelompok Nasrani ke dalam bangsa Indonesia terganggu. Juga
upaya mendamaikan Nasrani-Muslim di Maluku menjadi sulit.
Kaum Muslim di Maluku menghendaki komunitas Kristen
meminta maaf pada mereka sebagai syarat utama rekonsiliasi.
Tapi pernyataan Gus Dur nampaknya akan memperkeras sikap
Nasrani untuk mempertahankan posisi salahnya.
Nico Schulte Norholt dari Universitas Twente, Enschede, dalam
ceramahnya di simposium Moluks Historisch Museum, Utrech
(15/1/2000) menyatakan bahwa masyarakat gereja Maluku
perlu bertanya pada diri mereka sendiri, sejauh mana mereka
memberi pemahaman terhadap kekristenan mereka, selain
sebagai bentuk identitas tersendiri dalam menghadapi Islam.
''Jika para pemuda sambil menyanyikan lagu 'Pejuang Kristen
Maju Terus' benar-benar mengangkat senjata untuk membunuh
kaum Muslim, dan menggunakan kitab Injil sebagai jimat untuk
melawan peluru yang mematikan, tampaknya ajaran pokok Injil
memang belum difahami dengan baik''.
Pendapat Nordholt dibenarkan secara implisit oleh Dr Plaizer,
Sekjen Uniting Churches in Netherland, yang menyatakan
permintaan maaf gereja-gereja dan zending (penginjil) di
Belanda atas terbentuknya teologi eksklusivisme di Maluku, dan
menampilkan diri sebagai kalangan superior di tengah
masyarakat. Pernyataan itu disampaikan Plaizer dalam sambutan
pada Sidang Raya Ke-13 Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (PGI) di Palangkaraya (27/3).
Gus Dur menyatakan bahwa konflik bersumber dari
tarik-menarik kepentingan Islam-Kristen. Sebelumnya, katanya,
38 posisi penting di provinsi itu dibagi antara Islam dan Kristen,
tapi kemudian diserahkan kepada Muslim semua. Tentunya oleh
Gubernur Maluku Saleh Latuconsina, yang juga Muslim.
Faktanya, menurut pengamat Amal Tomagola yang juga
menyesali pernyataan kontroversial Gus Dur di atas, baru
beberapa pos yang diganti seperti Kakanwil Departemen Sosial,
Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Hukum dan
Perundang-undangan, dan Departemen Pekerjaan Umum.
Tapi lepas dari benar-tidaknya golongan Muslim merebut
posisi-posisi penting Kristen, pernyataan Gus Dur ini tetap salah.
Dengan berpikir dalam kerangka kebangsaan, tidak seharusnya
orang berbicara mengenai siapa menguasai apa. Yang terpenting
adalah komitmen kerakyatan dan kebangsaannya. Toh selama
ini kaum Muslim Maluku tidak mempertanyakan 'hak-hak
istimewa' yang diperoleh komunitas Kristen Maluku yang
sebenarnya merupakan kelompok minoritas. Memelihara status
quo dalam kaitan hubungan Islam-Kristen di Maluku sama
artinya dengan meneruskan kebijakan kolonial Belanda di
provinsi yang terbelakang itu.
Penutup
Kecuali di Halmahera, Maluku Utara, konflik fisik dan aktivitas
perang di Provinsi Maluku umumnya menurun drastis
belakangan ini. Kegiatan rekonsiliasi antarkelompok bertikai pun
masih terus dilakukan. Pada tanggal 28 sampai 31 Maret dan
dari tanggal 1-3 Mei diadakan simposium rekonsiliasi di Bali dan
Manado, yang diikuti oleh tokoh-tokoh dari kedua komunitas.
Usaha-usaha ini diharapkan membuahkan hasil positif, yang
akan merekatkan kembali hubungan golongan Islam dan Kristen.
Tekad Lasykar Jihad ke Maluku bisa jadi justru akan lebih
memperkeruh situasi di sana. Kaum Muslim Maluku tidak
kekurangan sumberdaya manusia untuk mempertahankan
eksistensinya. Pihak Kristen pun kini sudah jenuh dan lelah untuk
meneruskan konflik. Karena itu, alangkah baiknya bila semangat
jihad fisik ditransformasikan menjadi jihad perdamaian. Ini lebih
baik, agar penduduk Maluku bisa kembali hidup normal dan
memulai rekonstruksi fisik dan mental hancur. Juga agar bangsa
ini bisa lekas pulih dari krisis ekonomi, politik, sosial, dan
budaya.
Bagaimanapun, harapan ini harus ditunjang oleh sikap fair
Presiden Abdurrahman Wahid. Sudah sejak awal konflik, rakyat
Maluku -- khususnya pihak Muslim -- tak lagi mempercayainya,
karena sikapnya yang dirasa kurang adil. Maka, bila Gus Dur
tetap tidak arif dalam merespons aspirasi rakyat Muslim secara
keseluruhan di sana, mereka akan mengambil jalan sendiri untuk
memenuhi rasa keadilannya, seperti yang hendak dilakukan oleh
Forum Komunikasi Ahli Sunnah wal-Jama'ah dengan Lasykar
Jihadnya. Dengan begitu konflik akan terus berlangsung. Toh
luka psikologis di kedua pihak masih mengangga, yang terus
mencari jalan penyembuhan melalui pembahasan.