Cupak adalah takaran yang harus dimiliki oleh setiap orang.
Disebut sebagai cupak asli karena takarannya hanya orang yang punya cupaklah yang berhak mengatur serta mengetahui yang sebenarnya.
Sedangkan cupak buatan, takarannya dibuat dengan kesepakatan semua manusia di dunia ini.
Ujud dari kesepakatan tersebut ialah nilai-nilai bilangan angka disertai pengolahannya dalam bentuk logika manusia terhadap alam yang terkembang ini.
Inilah yang disebut oleh nenek moyang kita cupak (takaran) nan dua, yaitu cupak asli dan cupak buatan.
Cupak asli berada di dada, sedangkan cupak buatan ada di kepala.
Di dalam kepala ada dua belahan otak kanan dan kiri.
Perasaan (iman) seseorang muncul di tengah-tengah tubuh, yaitu dada; sedangkan daya periksa (pemikiran-nalar) manusia berpangkal di otak.
Kedua hal tersebut merupakan hidayah (nan Bana) atau petunjuk dari yang Esa untuk manusia.
Mata, telinga, hidung, kulit, lidah tak akan bisa mengetahui dunia ini tanpa otak menurunkan daya periksanya. Daya periksa yang melibatkan pemahaman bit informasi, hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang mengerti ilmu pengolahan bilangan angka (matematika-arithmatika).
Pengetahuan moderen menemukan belahan otak kanan memahami bit informasi yang non logika (raso), sedangkan belahan kiri untuk hal-hal yang bersifat logika (pareso).
Dengan demikian belahan otak kanan berfungsi menerima raso yang dibawa naik dari dada, sedangkan belahan otak kiri menurunkan pemeriksaan terhadap gelombang materi-materi yang masuk ke dalam pancaindera.
Perasaan dan pemikiran ini harus dikumpulkan menjadi satu dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.
Nenek moyang kita menyebutnya dalam kalimat pendek:
PAKAILAH PERASAAN, LAKUKAN PEMERIKSAAN
JADILAH MANUSIA, SEBENAR-BENARNYA ORANG
FUNGSIKAN OTAK KANAN, AKTIFKAN OTAK KIRI
PAKAILAH ETIKA, GUNAKAN LOGIKA
MILIKI IMTAK, RAIHLAH IPTEK
KERJAKAN ZIKIR, LAKUKAN PIKIR
AMANU WA AMILUS SHOLIHATI
AQIMUS SHOLATA WA ATUZ ZAKATA
HABLUMINALLOH WA HABLUMMINANNAS
Hal-hal tersebut di atas adalah "syarak" atau "syari'at" atau "kewajiban" nan Dua, yang harus dilandasi kitabullah nan Dua pula (KITAB YANG DITULIS DAN KITAB YANG TIDAK TERTULIS)
Kitab yang ditulis ialah kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para nabi dan al Qur'an yang diturunkan kepada nabi Muhammad sebagai penyempurna.
Kitab yang tidak ditulis ialah alam terkembang yang diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan nilai angka-angka bilangan atau ilmu statistika/arithmatika/matematika; segala sesuatunya di alam terkembang ini telah ditetapkan nilai takarannya.
Nan Dua Rasa-Periksa ini secara dialektika disebut juga sebagai "adat yang sebenar-benarnya adat" yang perlu dipakai manusia yang beradat.
"Adat" ialah perbuatan manusia yang baik-baik dan dilakukan dengan kesadaran untuk tujuan kemajuan peradaban umat manusia.
Berdasarkan dialektika logika serta sistematika yang diwariskan nenek moyang kita disebutkan bahwa seseorang yang beradat adalah orang yang "tahu di nan Ampek" (bilangan empat merupakan simbolisasi ilmu pengolahan dan pengelolaan angka-angka).
Semua ilmu pengetahuan moderen selalu melibatkan angka-angka.
Manusia yang mampu mengolah bilangan/angka-angka dapat juga dikatakan sebagai orang mampu membaca "nan benar" yaitu "kitabullah yang diturunkan tidak ditulis".
Pada peta alam terkembang di bawah ini tampak, di lingkaran paling luar adalah alam terkembang yang islam.
Alam terkembang tersebut hanya bisa dibaca dengan menggunakan nan Empat yang dibuat manusia yaitu ilmu makhluk bernyawa (biologi), ilmu makhluk tak bernyawa (fisika), ilmu buhasa, dan ilmu budaya sosial.
Dua kelompok ilmu yang pertama bit informasinya dipahami oleh otak kiri dan dua kelompok ilmu lainnya dipahami bit informasinya oleh otak kanan.
Kesimpulan: nan Empat adalah adat, sedangkan nan Dua merupakan kitabullah.
Karena yang Esa hanyalah Allah, maka adalah sifat setiap makhlukNya, bukan tunggal, termasuk pula kitabnya yang Dua, tertulis dan tak tertulis atau raso dengan pereso.
Ingatlah Tuhanmu dengan berzikir dan pandanglah ciptaannya dengan berfikir.
Jangan sekali-kali anda memikirkan tentang asal-asul, bentuk, rupa, ukuran, apalagi melukis bentuk tuhan.
Dalam bahasa ibu atau dialek yang kita pakai sehari-hari disebutkan "berzikir" meggunakan perasaan, sedangkan untuk "berfikir" diperlukan data-data hasil pemeriksaan.