[INDONESIA-VIEW] KOLOM Perwira Alengka:  Thursday the Fourteen

           From: "Perwira Alengka" <neoalengka@hotmail.com>  Save Address Block Sender
           To: indonesia_view@hotmail.com
           Subject: KOLOM Perwira Alengka :  Thursday the Fourteen.
           Date: Fri, 26 Jun 1998 13:40:53 PDT

           Seri II. Sambungan dari Paradigma Baru Tentara Diraja Alengka.

           Thursday the Fourteen.

           Mula mula kikuk juga saat membaca Reformasi Kultur Pandita. Namun lama
           lama bila itu memang gaya bicara, bila itu simbol kebebasan, bila itu
           cara beradab dalam dialog, akhirnya kan terbiasa juga. Yang penting
           tujuannya untuk memperbaiki masa depan Alengka.

           Khusus untuk tragedi 14 Mei ( Thursday the Fourteen ), izinkan Perwira
           Alengka bicara dalam perspektif nya. Memang selama ini Alengka sudah
           terbiasa dengan kultur : " Bahwa sesuatu yang rekayasa, selalu diterima
           sebagai kejadian benaran " ( Pavlov ). Sehingga.... ketika tragedi
           benaran itu betul betul melanda, kita masih berpikir pavlovians dan
           menganggap itu bagian dari rekayasa. Lalu kita semua kebablasan, dan
           baru sadar ketika nasi telah menjadi bubur. ( Conclusi ini Perwira
           Alengka sederhanakan, dengan sama sekali tidak menyederhanakan rasa
           simpati dan prihatin yang sedalam dalamnya atas semua kerugian, baik
           moril maupun material yang dialami oleh seluruh warga Alengka, khususnya
           etnis Han ).

           Dalam postingnya Pandita menulis : " Pihak keamanan tidak siap. Itu
           bukti kegagalan total, ...... " Pandita benar. Dengan penuh kejujuran,
           kami katakan itu benar. Tragedi " Thurday the Fouteen" telah terjadi.
           Dan bila kita hanya melihat aspek " who in charge" dan "out put" tragedi
           tersebut, memang kelihatannya sepertinya pihak keamanan telah gagal.
           Tetapi bila dilihat dari sudut prakondisi, proses matangnya situasi,
           sampai kesulitan internal yang terjadi, maka... tanpa maksud membela
           diri sama sekali, khusus untuk tragedi " Thursday the Fourteen" ini ,
           banyak hal yang harus dipertimbangkan.

           Tragedi ini berlangsung dengan back ground revolusi sosial, dimana
           pentas politik saat itu ( dan sampai kini ) penuh ranjau ranjau politik
           yang multidimensional dengan ratusan variant jebakannya. Pandita
           Gohkarna tahu itu. ( Kita bahas dengan cantrik cantrik Pandita nanti ).
           Dalam kapasitas jabatannya, Patih Wir terpaka turut dalam permainan
           catur maut. Sementara kita tahu, beliou kan tidak master master amat.
           Variant pembukaannya saja sudah pembukaan "buah simalakama". Dimakan
           mati bapak.Tidak dimakan mati ibu. Dalam tekanan psikis, mengingat emosi
           massa sangat fragile saat itu, terutama setelah gugurnya empat pahlawan
           reformasi, membuat posisi TDA sangat sulit. Di "babat", ( pinjam
           istilah...) minimal menimbulkan ribuan korban lagi, yang akan
           memperdalam kebencian dihati rakyat Alengka umumnya, kaum sekolahan,
           kaum pandita, dan paguyuban azazi insani khususnya. Tidak di "libas"  (
           pinjam lagi ) dianggap ragu, lemah, terutama oleh saudara kita Han, dan
           forum internasional yang berstandar ganda sesuai kepentingannya.

           Sehingga TDA, dalam menentukan tindakannya harus memikirkan faktor
           faktor psikologi massa ini. Main frontal, Tien An Men II akan terulang,
           dengan dampak Alengka akan didiskreditkan oleh dunia pewayangan
           sejagad.Tidak dibabat, TDA akan dianggap gagal total. Jika TDA
           membabat...., pasti akan dimusuhi mayoritas, dan bila tidak dibabat,
           akan dibenci minoritas. Begitu juga untuk perlindungan . Bila pasukan
           TDA aktif melindungi rumah rumah dan toko toko warga Han, akan
           disalahkan dan dihujad sebagai anjing Peking. Jika tidak dilindungi ....
           mereka akan dijarah dan dibakar massa. Dilematis.

           Sehingga dua hari pertama ( tanggal 13 dan 14 ) memang diakui
           sebagaihari euphoria gila gilaan. Dalam dua hari itu pula Perwira
           Alengka mempelajari psikologi masa yang bergerak unpredictable, dimana
           emphati rakyat berobah dari menit ke menit. Bila data suasan emosi ini
           diolah dan ditabulasi berdasarkan isi pemberitaan seluruh media massa di
           Alengka, ( berita media massa merupakan cerminan suara nurani masyarakat
           saat itu ), maka ritme emosi / psikologi massa akan terbaca jelas. (
           Kronologis 2 hari tersebut tidak perlu diulang disini )

           Sekarang nasi sudah menjadi arang . Asset asset nasional sudah di bakar
           dan dijarah. Korban korban pelecehan sudah timbul. Dendam dendam lama
           sudah terbangkitkan kembali.  Kini dendam dendam itu berkeliaran dimana
           mana. Ironi sekali, sementara dendam dendam lama belum benar benar
           terkuburkan, kita sudah mulai lagi dengan dendam baru. Karena itu,
           Perwira Alengka yang tidak pernah memiliki dendam lama, juga tidak ingin
           terlibat dendam baru. Untuk itulah dengan segala kenetralan , for thr
           sake of this nation, for the sake of Alengka, izinkan Perwira Alengka
           menjelaskan faktor faktor yang menjadikan kami ragu.

           Ada beberapa faktor penekan yang kamirasakan dilapangan.
           Pertama adalah situasi psikologis massa saat itu yang sangat apriori
           dengan tindakan kekerasan dari TDA.
           Kedua adalah kerasnya tekanan paguyuban hak azazi insani di Alengka dan
           kemungkinan embargo ekonomi jagad raya, membuat kamiharus berpikir ulang
           dalam melangkah.
           Ketiga adalah, perintah "tembak ditempat" tidak populis ditelinga warga
           Alengka. Perintah itu seperti stigma. Sementara tanpa itu kami dianggap
           tidak menakutkan.
           Keempat, gugurnya empat pahlawan reformasi sangat menyudutkan citra TDA,
           dan posisi rakyat pada dua hari terakhir tersebut bersebrangan dengan
           TDA.
           Kelima, akumulasi ketidak adilan, salah prosedure, dan kasus kasus
           terkini, masih membebani nurani kami, dan tidak akan ditambah dengan
           beban baru lagi. ( ternyata malah menimbulkan yang baru ).
           Keenam, faktor internal TDA antara lain sarana angkutan, logistik,
           jumlah personil, perimbangan personil luar-dalam ibukota Alengka,
           tingkat kemacetan dan proses penyatuan visi dalam menentukan bentuk
           tindakan yang akan diambil, semuanya membutuhkan waktu. Belum lagi
           situasi politik sedang hamil tua. Begitupun, tanggal 13 sore operasi
           segera direncanakan. Tanggal 14 pasukan selesai di gelar. Namun masa
           sudah terlalu bringas, tanggal 15 baru bisa  terkendali.

           Karena itu, bila TDA disalahkan, khususnya oleh Pandita dan warga Han,
           kami siap memikul bebannya. Apalagi pembakaran dan penjarahan memang
           sudah terjadi dimana mana. Asset asset nasional sudah hangus terbakar,
           dan rantai distribusi sudah terganggu. Apalagi sekarang, rakyat
           banyaklah yang menanggung semua akibatnya.

           Hanya.... semoga sifat kesatria kami ini tidak diterjemahkan sebagai
           sifat lemah. Apalagi tuduhan terlambat itukan belum tentu benar. Belum
           pernah diteliti secara ilmiah. Jika mau main kata kata, bisa saja para
           Patih akan balik tanya, Apa betul tuduhan itu. Apa sudah diteliti. Apa
           judul penelitiannya. Bagaimana kerangka konsepnya. Jika "keterlambatan"
           dijadikan variabel terikat, faktor faktor apa yang akan dijadikan
           variabel bebasnya. Bagaimana metodologi penelitiannya. Kualitatif atau
           kuantitatif. Berapa besar sampel yang dibutuhkan. Bagaimana tehnik
           hitung sampelnya. Apa tools yang digunakan. Jika menggunakan questioner,
           apakah sudah diuji reliabilitasnya.dll dll dll, yang hanya semangkin
           memperpanjang polemik yang tanpa akhir.

           Namun begitupun, siapa tahu ada yang tertarik untuk melakukan penelitian
           ini. Siapa tahu dia bisa menemukan faktor faktor yang paling berpengaruh
           terhadap keterlambatan itu. Atau mungkin saja dia bisa menemukan "fakta
           baru" yang justru lebih besar lagi perannya dalam membuka keseluruhan
           tabir misteri akhir akhir ini, Who knows.

           Namun, menurut Perwira Alengka, dari pada berpolemik sebaiknya kita
           lupakanlah semua ini. Kita mulai mengais puing puing. Kita bangun kultur
           baru kita. Kita bangun lagi neo Alengka ini. Kami tahu kepedihan korban.
           Kami bisa merasakan itu. Bila warga Han sudah merasakan bagaimana
           pedihnya digeneralisata secara umum, dimana karena konglomerat setitik,
           rusak Han se Alengka. Begitu jugalah kami. Semoga TDA tidak
           digeneralisasi. Jangan gara gara duga menduga satu orang, seluruh citra
           TDA dan nama satuan di bawa bawa. Kitakan orang beragama, men....!.
           Bila memukul orang hidup tidak berani, memukul orang matipun berbahaya
           loooo. Banyak hantunya. ( Tapi pandita kita memang berani. Orang hidup
           maupun mati, dihajar sama rata )

           Sebetulnya... bila Perwira Alengka tidak mau pusing, bisa saja ndablek,
           tutup mata tutup telinga, apa yang terjadi terjadilah. Emangnya gua
           pikirin. Bertahan dengan paradigma lama kan ta napa napa. Perlu apa
           sampai susah susah amat jongkok di sini. Emangnya gua dibayarin. Belum
           lagi hati dag dig dug, di ciduk kagak. Nah inilah kesalahan paradigma
           lama. Paradigma baru tidak begitu. Paradigma baru adalah aktif bermain
           dalam dinamika. Jika mampu survive. Jika tidak bubar. Bermain dengan
           stabilitas, apalagi represif... sudah kuno. Stabilitas akan tercipta
           sendiri setelah semuanya menemukan equilibriumnya sesuai meritocracy. (
           tetapi bukan diterjemahkan back to barrack )

           Karena itulah, walau tanpa cantrik cantrik ( gua nggak diciduk aja udah
           syukur, apalagi rame rame pakai cantrik ) Perwira Alengka tetap akan
           menulis dan terus menulis. Dua hari dapet satu yaah syukur. Biasa pegang
           bedil, terjun, nyelam, survival, mau ikutan nulis.... yaah belajar lagi.
           Namun.... Pandita Gohkarna benar. Ada kepuasan batin tersendiri di
           dalamnya.

           Perwira Alengka di Neo Alengka.
 
  1