Mei Yung


Hari sudah mulai gelap ketika aku dan Ai Mei berjalan pulang dari pelabuhan. Mama pasti marah, lihat saja nanti. Apalagi Papa. Wah, kami akan diceramahi macam-macam begitu sampai.

Aku lebih banyak diam di perjalanan, sibuk memikirkan alasan yang tepat agar tidak dimarahi. “Bilang saja kita bertemu dengan teman Mama dan ia menanyakan banyak hal tentang Mama,” usulku. “Teman-teman Mama kan se-muanya cerewet.”

Ai Mei mengangguk. “Boleh,” jawabnya pelan. Jelas sekali bahwa ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Jiwa-nya sedang tidak ada di sana… pasti memikirkan pemuda itu lagi.

“Kau betul-betul jatuh cinta padanya ya?” tanyaku dengan nada sesantai mungkin.

Wajahnya langsung memerah. Ia tak perlu mengatakan apa-apa lagi untuk menjawab pertanyaanku. Tapi ia berko-mentar juga, “Ya… ia pemuda yang baik. Hanya saja…” Kata-katanya menggantung.

“Hanya saja?”

Ia terdiam. “Papa. Papa tak mungkin menyetujui hubunganku dengannya.”

“Kenapa?”

“Papa kan ingin kita menikah dengan pemuda berada, yang setingkat dengan kita. Kau masih ingat kan beliau per-nah berkata begitu. Papa hanya mempersoalkan bisnis,” gerutunya kesal.

Dalam hati aku mengiyakan kata-katanya. “…jadi apa yang akan kauperbuat?”

Ai Mei menghela napas. “Kurasa aku akan tetap menemuinya tanpa sepengetahuan Papa.”

Kutatap wajahnya lekat-lekat.

“Kenapa?” tanyanya heran. “Ini hidupku, aku berhak menentukan segala sesuatunya sendiri. Kau setuju kan?”

Sekali lagi aku mengangguk. “Ya,” jawabku singkat. “Lagipula… kurasa yang seharusnya meneruskan bisnis Papa adalah Chi Chi, karena dia anak sulung. Kita tak ada sangkut pautnya dengan hal ini.”

“Seharusnya memang begitu.”

Aku tak berkomentar lebih jauh.





Musim panas di Shanghai tak selamanya menyenangkan. Cahaya matahari begitu terik sampai-sampai peluh membasahi seluruh wajah dan tubuhku. Panasnya bagaikan neraka. Setidaknya itulah yang kudengar dari misionari-misionari yang datang kemari sekitar sebulan yang lalu.

Pelabuhan selalu menjadi tempat favorit kami berlima. Rasanya hati ini menjadi tentram saat melihat laut yang ber-buih dan kapal-kapal warna-warni yang berlabuh di dermaga. Dari ujung barat sampai ujung timur berjejer para nela-yan penjual ikan yang sibuk memancing di waktu malam dan menjualnya di waktu siang. Pelabuhan selalu ramai. Ba-nyak orang baik dari dataran rendah maupun dari gunung datang kemari. Ada juga pedagang-pedagang dari negara lain seperti Arab, Persia dan Roma. Mata mereka bulat dan besar-besar, tidak seperti mata kami yang cenderung kecil dan sipit. Kulit mereka pun agak kecoklatan, bukan kuning. Aku lumayan sering melihat mereka, tapi hari itu pandang-an mataku menangkap sesosok manusia yang betul-betul unik…

Seumur hidup aku tak pernah melihat manusia berambut secerah itu. Mama memang pernah menceritakan soal bangsa-bangsa berambut jagung dan bermata sebening laut, nun jauh di barat sana, tapi aku sama sekali tak me-nganggapnya serius. Kukira itu hanya dongeng pengantar tidur untuk gadis-gadis kecil; tentang bangsa yang kesemua penduduknya tinggi dan besar, hampir seperti raksasa. Mereka tak makan nasi dan sayuran, mereka hanya makan ja-gung dan daging serta minum susu. Itulah sebabnya rambut mereka berubah kuning dan kulit mereka menjadi putih kemerahan. Mama seorang pengarang cerita yang hebat, begitu pikirku ketika mendengarkan ceritanya itu. Dan aku tertegun ketika di hadapanku berdiri seorang pemuda yang merupakan perwujudan dari dongeng pengantar tidur Ma-ma.

Ia lebih tinggi sekepala dari pria yang paling tinggi di seluruh daratan Cina. Kulitnya putih, namun sinar matahari telah mengubahnya menjadi coklat keemasan. Rambut jagungnya berkilau hampir secerah matahari di atas sana, dan rahangnya yang tegas menunjukkan kedinamisan dan kepercayaan dirinya. Bentuk hidungnya benar-benar bagus, be-gitupula dengan alis dan bibirnya. Ketampanan, keimutan dan kharisma tinggi melebur dan menciptakan sesosok ma-nusia yang langka. Tegas dan lembut, kuat dan anggun, dingin dan menawan, ia bagaikan perpaduan dari dua hal yang selalu bertentangan. Dan mata biru kehijauannya itu… siapakah yang dapat menghindar darinya? Ketika kedua belah matanya itu terarah tepat ke bola matamu yang pekat dan seakan dapat menembus isi hatimu yang terdalam… ia sudah berhasil membuka pintu hatimu, yang diinginkannya sekarang adalah untuk tinggal di dalam sana selama-nya…

Dan kau tak akan mampu untuk melawan.





Wajah Papa terlihat sangat kencang ketika kami bertujuh sedang makan siang bersama. Mama menuangkan teh panas ke dalam cangkir, dan ia tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Kami bisa mencium bahwa ada sesuatu yang ti-dak beres. Jantungku pun mulai berdebar-debar.

Papa menghirup tehnya dengan penuh wibawa. Ia memang sangat fanatik terhadap etika, dan ia selalu mengajari kami tata cara makan dan berpakaian yang sopan tiap hari. Katanya kesopanan adalah kunci utama dalam berbisnis.

Papa meletakkan cangkirnya di atas meja dan memandangi kami. Pertama-tama ia menatap Chi Chi dengan pe-nuh kecurigaan. Bisa kulihat keringat dingin mulai mengalir membasahi kening Chi Chi. Papa memang menakutkan saat sedang marah.

Lalu pandangan beliau beralih ke Fung Ling. Lalu Pai Yoen. Dan wajahnya betul-betul mengeras ketika menatap Ai Mei. Aku mulai mengerti. Ini pasti ada hubungannya dengan laki-laki. Jantungku berdegup demikian kencang, sam-pai-sampai aku merasa bisa mendengarnya menusuk-nusuk gendang telingaku.

Aku mendapat giliran terakhir dipandangi oleh Papa. Kutundukkan kepalaku rendah-rendah. Aku tak berani mena-tapnya. Aku tahu bagaimana raut wajahnya walaupun aku tak melihatnya. Pasti matanya sedang melirik dengan sinis dan kedua belah bibirnya tertutup rapat. Aku benar-benar takut… dan aku lega bukan main ketika Papa berhenti me-natapku.

Papa menghela napas panjang. “Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat terhadap kalian berlima.”

Kami tak berani berkata apa-apa.

Papa menggelengkan kepala. “Kalian tahu, aku benar-benar tidak suka kalian main-main di luar sampai malam ti-ap hari. Kalian harus sadar, kalian itu anak gadis! Jangan membuat aku malu! Coba kalian bayangkan kalau salah se-orang dari rekan bisnisku melihat tingkah kalian yang terlalu gampangan itu, bagaimana reaksinya?!! Kalian itu anak gadis dari keluarga yang baik-baik lagi terhormat!!!” serunya.

Hatiku seakan teriris oleh kata-kata Papa. Gampangan, katanya?! Memangnya apa salahnya kalau kami pergi ke-luar?!! Apa hubungannya keluarga terhormat dengan hidup kami? Kami sudah besar, kami tahu mana yang benar dan yang salah, kami tak mungkin berbuat yang sudah di luar batas!

Papa kembali menatap kami. “Chi Chi! Ai Mei! Mei Yung! Kalian pergi ke pelabuhan hampir tiap hari! Sekarang be-ritahu aku apa yang tengah terjadi atau kalian akan kukurung dalam kamar selama sebulan!” Ia mulai mengancam. “Cepat!”

Aku, Chi Chi dan Ai Mei saling berpandangan dengan takut. Apa yang harus kami katakan?!!!

“JAWAB PERTANYAANKU!!!” Papa membentak tak sabar.

“Aa… “ ujar Chi Chi terbata-bata. “Ka-kami hanya jalan-jalan di pelabuhan, tak lebih dari itu.”

“Betul,” Ai Mei langsung mengiyakan. “Kami hanya melihat-lihat laut.”

“Hanya itu,” tambahku.

Papa memicingkan mata. “Aku paling tak suka dibohongi,” katanya dingin. “Katakan padaku yang sejujurnya! Aku tak membesarkan kalian untuk menjadi pembohong!”

Kami menjadi serba salah. Kami tak mau membohongi Papa, tapi kami tak bisa mengatakan soal ini! Ini urusan pribadi kami! Kami juga butuh privasi!

“Pasti karena laki-laki kan?” tebak Papa, atau lebih tepat disebut menuding.

Aku menelan ludah.

“JAWAB!!!”

Kami seakan diperintah oleh rasa takut kami untuk menganggukkan kepala.

“Kalian memang keterlaluan,” kata Papa emosi. “Mulai sekarang aku larang kalian untuk berada di luar rumah se-telah langit berubah merah! Dua jam sebelum makan malam kalian sudah harus ada di rumah! Mengerti?!!!”

Dalam hati kami menggerutu habis-habisan.

“MENGERTI?!!!” Papa seakan dapat membaca pikiran kami.

“Ya!” jawab kami serempak.

“Hal ini juga berlaku untuk Fung Ling dan Pai Yoen. Kalian mengerti?”

Mereka mengangguk.

“Bagus.” Ia bangkit berdiri. “Kalau sampai kalian melanggar, tanggung sendiri akibatnya! Chi Chi, ikut aku! Kita ha-rus mendiskusikan masalah penjualan sutra pada Syeik Abdullah besok.”

Chi Chi mengikuti Papa dari belakang, meninggalkan kami berempat dengan Mama.

Mama menghirup tehnya. Ia nyaris tak bereaksi, namun tiba-tiba ia buka suara, “Jangan bermain api kalau takut hangus, jangan bermain air kalau takut basah.” Ia menatap kami. “Kalian tahu Papa kalian sangat keras kepala, seha-rusnya kalian jangan mencobanya membuatnya marah, apalagi membohonginya.”

“Kami tak bermaksud begitu, Ma!” potongku. “Kami hanya berpikir bahwa kami punya kehidupan dan privasi kami sendiri.”

“Ini hidup kami, Ma.” Ai Mei ikut beralasan.

Mama menggelengkan kepala. “Kalian bisa hidup karena Papa. Kalian tak akan ada kalau Papa tak ada.”

Tak ada yang bisa mengalahkan kata-kata Mama.





Leif menampakkan wajah herannya ketika melihatku di balik pintu. “Kenapa kau terlambat?” Ia langsung menutup pintu rapat-rapat begitu aku masuk.

“Ada masalah lagi dengan Papa,” jawabku, “Ia…” Aku tak bisa mengucapkan kelanjutannya. Lidahku kelu saat me-lihat sepasang mata birunya yang sayu itu. “Ia tahu mengenai kita, Leif.”

Leif tertegun. “Lalu?”

“Ia melarangku keluar rumah selama seminggu. Aku harus mengendap-endap bila hendak datang kemari dan…” Air mataku sudah menumpuk di pelupuk. “Dan ia bersumpah akan membunuhmu bila kita terus berhubungan…” Aku tak tahan lagi. Hampir saja dua butir air mata bergulir di pipiku, namun Leif menyekanya dengan lembut.

“Jangan menangis, Mei…” Aksen Skandinavianya masih kental terdengar dalam nada bicaranya. “Kita akan mene-mukan jalan keluar yang terbaik… aku janji,” ujarnya mantap.

“Aku takut kau akan terluka, Leif… Papa selalu sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya! Kalau sampai i-a menyuruh tukang pukulnya untuk datang kemari dan menghabisimu, aku…” Wajahku basah oleh air mata.

Leif merengkuhku ke dalam pelukannya yang hangat. “Aku tak akan apa-apa. Aku bisa menjaga diriku. Tak ada yang perlu kautakutkan, Mei…”

Kutatap kedua bola mata indahnya. Entah kenapa aku merasa jauh lebih baik dari saat aku berada dalam perja-lanan menuju kemari tadi.

“Aku mencintaimu.” Kata-kata itu terucap keluar dari mulutku. Mungkin kedengarannya sangat konyol, tapi baru se-karang aku benar-benar yakin kalau aku sangat mencintainya. Mencintai makhluk dalam dongeng pengantar tidur Ma-ma yang pirang dan tampan…

Leif melabuhkan bibirnya di atas bibirku. “Aku juga mencintaimu, putri Cinaku yang manis… cintaku padamu jauh lebih besar daripada kehidupan.”

Aku tersenyum. “Baru bisa bahasa Cina saja sudah pintar menggombal… dasar Viking.”

Ia mendecakkan lidah. “Kau belum pernah melihat Viking marah ya?!!!” Dirangkulnya aku dari belakang dan ta-ngan-tangannya mulai menggerayangi bagian-bagian tubuhku yang sensitif…

“LEIF!!! Lepaskan aku! Hey!!! LEIF, JANGAN BERCANDA!!!” jeritku histeris. Ia tertawa terbahak-bahak dan terus melancarkan serangan tangan-tangan nakalnya itu. “LEIF!!! Berhenti!!! Leif, aku akan membunuhmu!!! Lei…” Kami ke-hilangan keseimbangan dan terjatuh ke atas ranjangnya yang empuk dan terbalut oleh seprai sutra yang begitu lem-but…

Kami saling bertatapan. Seluruh tubuhku mendadak kaku. Dada kami, tangan kami, kaki kami… seluruh tubuh ka-mi bersentuhan dan kedua bola mata Leif memandangku dengan tatapan yang begitu aneh… waktu seakan terhenti, meninggalkan kami berdua sendirian di dalam salah satu celahnya, tanpa arah, tanpa tujuan… menantikan penyatuan yang abadi.

Tapi akal sehatku mencegahku untuk terperosok lebih jauh.

“Leif, aku harus pulang--” Dengan napas bergemuruh aku mencoba bangkit, namun ia menahan tubuhku dengan tubuhnya.

“Kau tak boleh pulang.” Ia menggeleng.

“Leif, Papa akan membunuh kita kalau sampai ia tahu aku ada di sini…“ Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa takut padanya.

“…aku tak peduli akan apa yang dilakukan oleh Papamu, Mei. Aku tak peduli bila ia akan membunuhku, aku sama sekali tak peduli. Aku sudah tak punya alasan lagi untuk hidup selain untuk dirimu… kumohon, Mei… malam ini saja… tinggallah bersamaku…” Raut wajahnya yang sedih membuatku luluh, dan aku tak dapat berbuat apa-apa ketika perla-han lengannya mulai merayapi bagian dalam Chiong Samku. Aku bisa merasakan jari-jemarinya menyentuh dagingku yang tengah terbakar…

“Leif…”

Aku tak ingat apa-apa lagi.





Tak ada orang yang tahu siapa Leif sebenarnya. Ia hanya mengatakan bahwa kapalnya ditenggelamkan oleh ba-dai besar di tengah Lautan Atlantik yang ganas dan ia sama sekali tak ingat apa-apa lagi; sampai ia menemukan diri-nya terdampar di pantai berpasir putih, dalam keadaan yang bahkan terlalu lemah berpikir. Semua awak kapalnya le-nyap ditelan laut, sisanya yang berhasil lolos pun hanya dapat mengulur waktu kematian mereka saja, karena hiu-hiu raksasa yang berdarah dingin itu pasti sudah membunuh mereka sebelum mereka sempat menyadari makhluk apa yang tengah mereka hadapi. Hanya Leif yang mampu bertahan hidup… dan para nelayan Cina yang menemukannya termasuk sangat baik untuk memberinya makanan dan pakaian juga tempat tinggal, sebelum ia merasa sudah cukup kuat dan memutuskan untuk memulai hidupnya yang baru di negeri yang sama sekali tak dikenalnya ini.

Ia bekerja di pelabuhan sebagai pengangkut barang, namun keahlian menyelamnya digunakannya untuk mencari mutiara di dasar laut dangkal. Penghasilannya lumayan, setidaknya ia dapat menyewa sebuah rumah kecil di dekat pelabuhan dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Aku tahu ia sangat ingin pulang ke rumahnya di Swedia sana, tapi ia sudah pasrah akan kehidupannya. Sering kulihat ia merenung sendiri di tepi dermaga, meman-dang laut dengan matanya yang jernih namun kosong.

Sementara Papa tetap tidak menyetujui hubunganku dengan Leif. Beliau begitu benci pada orang asing, apalagi Leif hanya seorang pencari mutiara yang tak jelas masa depannya. Papa sama sekali tak mau mengerti perasaanku. I-a tak percaya akan cinta.

Mama juga sama saja. Ia yang biasanya selalu membela kami, kini lebih banyak diam dan cenderung memihak Papa. Celakanya, ia terlalu cerdik untuk dibohongi.

“Mei, Mama perlu bicara,” katanya suatu hari ketika aku hendak pergi keluar untuk bertemu Leif.

“Ta-tapi…” Aku berusaha mencari alasan yang tepat. “Aku sudah janji untuk datang ke rumah Mi Shie…”

“Sekarang, Mei,” tegas Mama. “Aku tak akan lama. Ayo.” Ia menyuruhku mengikutinya ke dalam kamarku. Aku tak punya pilihan lain.

Kami masuk ke dalam kamarku yang tak terlalu besar namun termasuk nyaman untuk ditempati.

“Duduk,” perintahnya seraya menunjuk ke arah tepi ranjang.

Aku sempat ragu, namun kuturuti juga kata-katanya.

“Kau tahu kenapa Mama ingin bicara denganmu?”

Aku menggeleng, walaupun lebih kurang aku sudah bisa menebaknya.

Mama mengambil duduk di sampingku dan menatapku dengan pandangan yang betul-betul tak kumengerti.

“Kenapa, Ma?” tanyaku penasaran.

Mama menggenggam tanganku. Kata-katanya selanjutnya membuatku terpana.





Semilir angin laut membelai rambut kecoklatanku dan mencerai-beraikan hiasan-hiasannya. Hari itu langit begitu cerah, sama seperti hari-hari musim panas lainnya. Rasanya begitu menakjubkan bahwa di pesisir pantai Shanghai yang begitu sesak dan ramai ada tempat tersembunyi yang sepi dan sangat alami seperti ini.

Shanghai memang kota yang indah. Hampir enam belas tahun aku tinggal dan dibesarkan di ini. Aku tak pernah bepergian terlalu jauh; Papa sangat mengekangku untuk urusan yang satu itu. Mungkin itu salahku juga, aku begitu sering keluar rumah bahkan pada saat sedang dihukum. Kadang aku merasa sangat iri pada Chi Chi ataupun Fung Ling yang sering diajak Papa bepergian ke luar kota. Maklumlah, mereka anak paling besar di keluarga kami. Aku? Huh, menjadi anak bungsu sama sekali tak ada bagus-bagusnya. Semua orang memperlakukanmu seperti anak kecil, memberimu berbagai macam peraturan yang kebanyakan tidak masuk di akal, mempersalahkanmu bila sesuatu terja-di, dan banyak lainnya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Tak ada. Tiap kali aku merasa sedih aku hanya bisa duduk di tempat ini dan menangis… tanpa ada orang yang peduli.

Dadaku terasa sesak. Untuk apa aku hidup? Aku tak melihat keuntungannya barang sedikitpun. Mataku mulai me-rah dan berkaca-kaca. Aku sering menangis belakangan ini, meratapi nasibku dan perasaanku yang terus kupendam.

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahuku dari belakang. Kutolehkan kepalaku dan Leif sedang berdiri di sana.

“Kau kenapa, Mei?” Ia langsung berjongkok di hadapanku dengan kening berkerut.

Air mataku mengalir semakin deras. Hanya dia yang memperhatikanku, hanya dia yang tahu dan mengerti pasti a-pa yang kurasakan, hanya dia yang mampu membuatku merasa berharga. Tapi mengapa ketika aku telah berhasil menemukannya, semua orang malah berusaha memisahkanku darinya?

Ini tidak adil… “Ini tidak adil, Leif… tidak adil…” isakku.

“Apanya yang tidak adil?” tanyanya lembut. Ia berusaha menenangkanku, namun usahanya tak membuahkan ha-sil. “Apa yang dikatakan Papamu?” Kehangatan yang dipancarkannya malah membuatku semakin sedih…

Kucoba untuk menghentikan tangisku. Perlahan aku mulai tenang kembali, atau setidaknya itulah yang dilihat oleh Leif. Ia tak tahu betapa galaunya hatiku, setelah aku mendengar perkataan Mama…

“Mungkin…” Kupalingkan wajahku darinya. “Sebaiknya kita tak usah bertemu lagi…”

“Kenapa?” Nada khawatir yang amat sangat terdengar dari suaranya.

Aku tak sanggup mengatakannya. “Ini tak akan berhasil, Leif…” “Apa maksudmu?!!” Ia semakin gelisah. “Mei?”

Kugelengkan kepalaku dengan sedih.

“Mei, apa yang terjadi?!! Kenapa tiba-tiba kau berkata begini?!!!” Ia tak habis pikir.

Tangisku meledak lagi, tapi aku tetap berkeras pada pendirianku. ”Aku sudah berpikir dan aku sadar bahwa hubu-ngan kita tak akan berhasil!!! Itulah yang terjadi!!! Maaf Leif, tapi aku tak mau bertemu ataupun melihat mukamu lagi selamanya!!!” Kubalikkan tubuhku, namun ia mencengkram kedua lenganku sedemikian kerasnya sampai-sampai tu-lang-tulangku terasa sakit.

“Matamu tak bisa berbohong, Mei.” Suaranya berubah dingin. Mata birunya kini menjadi sedingin es dan bulu ku-dukku merinding karena takutnya.

Aku terus menangis dan menangis, mengharapkan ia akan membiarkanku pergi; tapi doaku tak terkabul.

“Ceritakan, Mei,” perintahnya.

“Aku tak…” Suaranku sudah bercampur dengan tangisan. “Aku tak bisa--”

“MEI, AKU KEKASIHMU!!!!” Seruannya bergema sampai ke ujung lautan sana. Tangisku makin menjadi-jadi, dan aku menjerit sekuat tenagaku,

“AKU AKAN DINIKAHKAN, LEIFFFFF!!!!!!!!!!”

Lalu keheningan menyeruak di tempat itu. Hanya bunyi desiran ombak yang menggulung-gulung dan memecah di pantai.

Tak pernah kulihat Leif sekaget itu sebelumnya. Matanya yang bulat terbelalak, kedua bibirnya terkatup rapat dan ia tak bergerak sedikitpun. Ia bagaikan patung ukiran pemahat ternama Cina yang betul-betul hidup…

Aku terduduk lemas. Apa dosaku sehingga aku harus menanggung beban seberat ini? Aku tak bisa membayang-kan bagaimana aku harus menjalani sisa hidupku bersama pria yang tak kucintai… Namun bila aku harus hidup tanpa Leif… tanpa Viking Swediaku yang kucintai melebihi apapun di dunia ini…

“Kapan… pernikahannya?” Leif mengarahkan pandangannya ke laut nan biru, tapi itu dilakukannya hanya untuk menyembunyikan air mata yang keluar dari sudut-sudut matanya yang indah.

Aku teronggok bagaikan tanpa nyawa. “…besok.”

Leif jatuh ke bumi. Ia menangis meraung-raung seperti anak lima tahun yang kehilangan mainan yang sangat disu-kainya. Ia kehilangan seseorang yang dicintainya melebihi dirinya sendiri. Ia kehilangan hidupnya.

Rasa haru menyelimuti dadaku. Betapa bahagianya diriku dicintai olehnya. Ia seorang pemuda yang begitu sem-purna, dan kurasa ia berhak mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik; dengan wanita lain yang juga jauh lebih ba-ik dari seorang gadis Cina yang lebih muda sembilan tahun darinya dan selalu melibatkannya dalam bahaya dan kesu-sahan yang tak seharusnya dipikulnya.

Kugerakkan tanganku dan kubelai rambutnya yang pirang keperakan. Air mata membasahi bulu-bulu matanya yang lentik dan pirang bagai kilau mutiara. Aku tak bisa membohongi diriku… aku cinta padanya. Hatiku seakan terti-kam oleh pedang bermata dua mendengar tangisannya yang begitu memilukan…

“Kita harus melawan,” katanya setelah sekian lama terdiam. “Aku lebih baik mati daripada melihatmu bersama pria lain.” Suaranya sembab dan rapuh, namun tatapan matanya yang ekspresif dan tajam menunjukkan bahwa ia ber-sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.

Kugenggam tangannya erat-erat dan kukecup lembut bibirnya yang pucat. Aku sudah siap mati untuk memperta-hankan cinta ini.


...to be continued.



Home

(c)1999 AndreaHearn 1