Assertiveness #1

 

 
  Di dalam beberapa tayangan serialku seperti Emotional Intelligence dan Marah
saya pernah menyinggung mengenai subyek tetapi tidak membahasnya secara
rinci. Webster mendefinisikan assertive sebagai 'disposed to or characterized
by bold or confident assertion'. Akan halnya assertion, kata benda dari 'to
assert', Webster berbunyi 'to state or declare positively and often
forcefully or aggressively'. Ingat bahwa intinya adalah 'to state or declare',
membuat pernyataan, bukan berlaku agresif.

Nah, si Benny dari milis serviamTO memang benar, anak-anak Indo kurang sekali
assertiveness-nya, kalau agresif ga usah dibilang :-) sebab ini warisan
kakek-moyang sejak jaman Ken Arok. Salah satu yang membuat anak-anak Kanada
dan Amrik (kutak tahu di benua lain) assertive adalah karena sejak mereka
masih di TK, Taman Kanak-kanak, mereka sudah dilatih untuk menjadi assertive.
Sarananya tentu di lingkungan sekolah melalui apa yang namanya 'show and
tell'. Dari waktu ke waktu mereka ditugaskan untuk memberikan "presentasi",
membawa benda atau kisah dari rumah dan dipagelarkan. Tidak mungkin lagi ada
anak yang malu-malu kucing, apalagi isin-isin asu. Setelah ia besar, jadilah
ia mempunyai keberanian ber-speak-up. Melenceng dikit. Kemarin terjadi heboh
luar biasa di comberan ogut. Gini dongengnya.

Menjadi acara rutin setiap tahun, kami mengundang pembicara untuk Beginning
Year Meeting kami. Umumnya tokoh-tokoh anak Kanada atau Amrik yang diundang
seperti Edward de Bono pakar lateral thinking, Silken Lauman atlit pendayung
Olympiade, dan kemarin Diane Francis. Doi adalah wartawati, pengarang buku
dan apa yang dikemukakannya penuh kontroversi. Salah satunya adalah ia
mengatakan (nyontek Thomas Friedman) bahwa Rusia dan Indonesia are messy
states. Menyingkat cerita, anak secomberanku mengirimkan email ke 2500 pegawai
dengan permintaan agar direknyatur Lab meminta maaf sebab sudah begok sekali
mengundang orang yang telah menghina nusa bangsa tanah air ente semua :-).
Itulah contoh assertiveness. Inti dari keberanian untuk menjadi assertive
adalah: TAHU HAK KITA. Itulah sebabnya, pernah kusinggung, paguyuban negro
alias anak item di Toruntung ini, salah satu yang paling assertive karena
mereka tahu benar hak mereka.

Anda suka membaca atau bertemu dengan orang yang berkata, "Maaf ya Mas,
mungkin saya salah, tapi mau bertanya ..."? Itulah suatu contoh bahwa
yang bersangkutan jauh dari sikap assertive. "Mas, itu kan sopan santun,"
kata Anda lagi, pertanda kerendahan-hati. Nah, that's the essence. Itulah
yang membedakan mereka yang assertive, tahu hak, dengan yang selama ini
dirampas hak-haknya sehingga bermental "rendah hati" seperti itu. Saya pernah
juga mendongeng lewat tulisan "When I say no I feel guilty". Sedikit banyak
orang yang merasa bersalah banget kalau bilang TIDAK, kurang assertive.
Adalah hak kita untuk bisa berkata tidak, tambahkan kata sori kalau mau
kelihatan sopan. Salah satu hak yang suka kita takutkan adalah MENGUBAH
PENDAPAT kita. Kita takut dicap tidak berpendirian, mencla-mencle, banci
dsb. Padahal, orang yang assertive tidak takut untuk mengubah pendapatnya,
apalagi kalau kita tahu bahwa pendapat itu keliru sebetulnya. "Gengsi dong
Mas," kata ente lagi. Gengsi yang bego dan membegokan yang bersangkutan.

Anda yang mempunyai anak, terlebih yang tinggal di Amrik Utara, mempunyai
banyak kesempatan untuk mempraktekkan assertiveness, maupun dijadiin sasaran
praktek sang anak :-). Bila Anda pendatang baru di Toronto ini, siap-siaplah
mempunyai jawaban akan seratus seribu kata "WHY" yang akan dilontarkan oleh
anakmu. Satu hal yang saya dan Cecilia pelajari (sampai sekarangpun) adalah
untuk berusaha banyak memakai kata "I", saya, di dalam berkomunikasi dengan
anak-anak. Maupun dengan man-teman Anda tentunya. Soalnya, kata "you" membuat
yang bersangkutan sering-sering di dalam keadaan defensive atau merasa
terserang. Tidak mudah, apalagi bila kita datang dari kampung dimana segala
macam kesalahan mesti dicari penyebabnya atau kambing kuningnya :-). Satu
syering atau dongeng lagi. Ibuku berangasan, udah dari sononya. Meskipun
kakinya sekarang pincang, tetap saja ia galak. Nah, pembokat di rumah, anak
baru. Sesekali atau setiap hari ada saja kesalahannya, kasihan doi :-).
Dasar rumah sudah tua, ledengnya sering/suka dol, dan ia yang kena getahnya
sebab sudah salah prosedur ketika membuka sang ledeng. Suatu hari kudengar
bunyi seperti air keluar dari daerah belakang rumah, tapi tidak kulihat.
Sampai Cecilia yang "mau tahu azha" memeriksa secara teliti. Masyamalaikat,
salah satu krannya sudah dol dan bocor hebat. Si pembokat, saking takut
diomelin, ia pakai slang dan menyalurkan air itu langsung ke bukaan got.
Gile sekhalei, 3 hari 3 malam kami tahu itu telah terjadi. "Rasain deh," kata
ogut ke nyokapku, "Ngomel mulu, siap-siap bayar ledeng dobel bulan ini."

Kembali ke judul, sekali lagi, menjadi assertive tidak mudah dan perlu kita
latih dari hari ke hari. Satu teknik lagi yang suka kupakai, baik kalau
berurusan dengan bagian customer service atau menginginkan apa yang kumau
tercapai adalah dengan teknik "ngotot". Istilah kerennya, broken record
technique, yakni usahakan kita jadi kaya piringan hitam rusak. Ulang lagi
ulang lagi apa yang kita kehendaki, hanya jangan esmotsi atau nasping atau
sampai marah. Katakan dengan tegas, "I want to return this thing." Tidak
perlu Anda kasih alasannya kalau itu memang hak Anda mengembalikannya. Si
pegawai akan mengatakan bla bla bla, Anda berkata lagi, "I understand, but
I want to return this thing," Blo blo blo ble ble ble lagi. "Yes I see but
I want to return this thing." Biasanya doi akan bosen sendiri, atau memanggil
dekingannya dan Anda bisa mengulangi lagi adegan broken record itu. Nah,
saya yakin Anda mulai sedikit bisa bersikap assertive, baik di lingkungan
pergaulan sosial maupun di comberanmu. Sekian dulu, sampai dongengan yang
berikutnya, bai bai lam lekom.
... (bersambung) ...

Jusni Hilwan
Email ID: hilwan@rogers.com. Homepage: http://ca.geocities.com/hilwan
Toronto, Canada
 
 
 

 List of Contents 

 
1