Yayasan Jam'iat Kheir sendiri sebetulnya didirikan sebelum tahun 1918 dan sebelum Budi Utomo yang berdiri th 1908. Jam'iat Kheir sendiri dibentuk th 1901. Jam'iat Kheir pada awal berdirinya ini tidak hanya beranggotakan para alawiyin saja, tetapi juga beranggotakan para akhwaaluna dan ikhwaanana dari golongan Al Masyaikh. Para pedagang Minang pun ada yang menjadi anggota yayasan Jam'iat Kheir.
Para konseptor utamanya termasuk Alhabib Al Mujaahid Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Husein bin Syahab (ayah dari Al Ustadz Al'allamah Dhiya' Syahab dan Al'amm Assayyid Asad Syahab) yang menjadi ketua Jam'iat Kheir yang pertama dan donatur seperti Alhabib Abubakar bin Muhammad Alhabsyi. Dua orang utama ini, disamping para habaib lain seperti Alhabib Utsman bin Yahya, Al habib Addaa'i ilallah Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Habib Ali Kwitang), Assayyid Al Badzil Abubakar bin Abdullah Al Attas adalah para pemimpin agung Jam'iat Kheir yang telah membawa Jam'iat Kheir kepada kejayaan.
Yayasan pendidikannya mulai terbentuk dan berjalan pada tahun 1918. Para guru besarnya termasuk Alhabib Alwi Bin Thaher Alhaddad (wafat sebagai Mufti Johor). Alhabib Alhabib Alwi Bin Thaher Alhaddad ini adalah saudara Abdullah bin Thaher yang tetap tinggal di Hadhramaut. Selain Alhabib Alwi bin Thaher Al Haddad, Alhabib Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab (wafat di Surabaya dan menjadi guru besar di yayasan Al Khairiyyah Surabaya), Alhabib Al Ustadz Abdullah bin Ahmad bin Muhsin bin Alwi bin Seggaf Asseggaf, Alhabib Ali Alhabsyi Kwitang dan Al Ustadz Al Allamah Muhammad Dhiya' bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Husein bin Syahab adalah para guru besar legendaris Jam'iat Kheir yang sangat berjasa. Berapa puluh karangan yang sudah dikarang oleh Alhabib Alwi bin Thaher, Alhabib Ahmad Asseggaf dan Al Ustadz Dhiya' Syahab.
Al Maktab Addaimi adalah lembaga pencatatan dan penetapan nasab-nasab As-Saadah Al-Alawiyyin. Maktab ini telah melakukan pencatatan dalam keterangan hasil pencatatan pada tanggal 18 Dzulhijjah 1358 H bertepatan dengan 28 Januari 1940 atas biaya Syekh bin Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin, jumlah yang tercatat adalah 17.764 orang. Pekerjaan pencatatan ini dilaksanakan oleh Habib Ali bin Ja'far Assegaf dengan biaya dari Al Arabithah Al-Alawiyyin. Daarul Aitam didirikan dengan akta notaris D.J.M. De HONDT No. 40.
Anggota pengurus pertama adalah :
Para komisaris :
Guru-guru besar terakhir yang masih dapat kita kenang juga dan mungkin sebagian dari kita (khusunya yang tinggal di Jakarta) pernah menimba ilmu dari mereka adalah seperti Al Ustadz Asysyeikh Abdullah Arfan dan Al Ustadz Asysyeikh Hadi Jawwas. Bagi orang yang pernah merasakan dan menimba ilmu dari para beliau ini akan merasakan begitu dalamnya pengetahuan dua orang ini dalam ilmu figih dan Nahwu/Sharaf (Gramatika bahasa Arab). Salah seorang dari para guru Jam'iat Kheir juga adalah Syekh Ahmad As Surkati Al Anshari (pendiri Al Irsyad) yang berasal dari Sudan dan didatangkan dari Madinah. Ahmad Surkati pun berasal dari Jam'iat Kheir. Coba kita bandingkan apa yang sudah dicapai oleh Al Irsyad dan apa yang sudah dicapai oleh Jam'iat Kheir dan Ar-Rabithah Al Alawiyah. Jadikanlah ini sebagai bahan renungan. Berapa dana yang dimiliki oleh Al Irsyad dan berapa yang dimiliki Jam'iat Kheir?. Sejauh mana perkembangan Al Irsyad dan sejauh mana kita?
KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Cokroaminoto serta H. Agus Salim pun adalah anggota Yayasan Jam'iat Kheir. Perlu sedikit koreksi bahwa mereka bukanlah alumni sekolah Jam'iat Kheir, tetapi anggota yayasan Jam'iat Kheir, karena Jam'iat Kheir berawal dari Yayasan yang bergerak dalam rangka memperkuat ekonomi ummat Islam Indonesia pada saat itu. Cokroaminoto cs pada th 1911 akhirnya mendirikan Syarikat Islam dan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 mendirikan Muhammadiyah (Sekolah Jam'iat Kheir berdiri th 1918, tetapi Yayasannya sudah berdiri sekitar th 1902 dan sudah direncanakan dari th 1898). Walaupun demikian keterikatan mereka kepada Jam'iat Kheir tidak lepas.
Jam'iat Kheir memberikan dorongan dan bantuan moral dan materiel dalam jumlah besar kepada Muhammadiyah (tercatat dalam sejarah dan dapat dibuktikan dalam dokumentasi Jam'iat Kheir berapa gulden yang diberikan Jam'iat Kheir ini kepada Muhammadiyah). Jam'iat Kheir pada saat jayanya waktu itu ingin membuka cabang-cabang di berbagai daerah tetapi dilarang pemerintahan belanda, sehingga akhirnya dibentuklah yayasan-yayasan pendidikan dengan nama lain yang secara historis sebenarnya berafiliasi ke Jam'iat Kheir. Terbentuklah setelah itu Yayasan Al Khairiyaah di Surabaya, Ma'had Islam Pekalongan dan Solo (Yayasan pendidikan Diponegoro) dll. Setelah berdirinya Al Irsyad dan berkembangnya berbagai masalah sosial pada saat itu, Ar Rabithah Al Alawiyah didirikan th 1927 oleh tiga orang besar yang semuanya bernama Abubakar, yaitu:
Mereka bertiga di atas adalah para sesepuh kita, orang-orang mulia, mukhlisin, mujahidin, munfiqin fi sabilillah dan penyandang dana yang sudah menginvestasikan hartanya fi sabilillah li ajlillah demi agama dan bangsa.Hendaknya kita menjadikan mereka sebagai tauladan bagi kita untuk mengikuti jejak mereka. Hanya Allah jualah yang tahu ganjaran mereka. Mereka tentunya adalah penghuni 'illiyyin dan Firdaus.
Ketua Arrabithah Al Alawiyah yang pertama adalah Alhabib Al Allamah Alwi bin Thaher Al haddad. Alhabib Alwi Alhaddad ini jugalah yang kemudian membina Al Maktab Addaimy (bagian Arrabithah yang bergerak dalam bidang Nasab). Sebenarnya kalau kita lihat dengan kacamata sekarang mereka-mereka ini setara dengan Prof.Dr. Hanya saja mereka tidak belajar di Kampus dan tidak punya gelar formal. Para jama'ah majlas yang budiman, kalau ada kesempatan ke kantor Rabithah Al Alawiyah dapat melihat foto-foto mereka terpampang di dalam kantor Ar-rabithah Al Alawiyah. Semoga dapat sedikit mengenang jasa mereka bila kita melihatnya dan mengikuti jejak mereka.
Dalam bidang nasab ini dua kali sudah sensus Nasional dilaksanakan, yaitu sekitar tahun 1928 dan 1932. Semua Alawiyin pada saat itu, tua muda, wanita dan pria, umur, tingkat pendidikan dan domisilinya dicatat dalam sensus tersebut. Nama ayah atau kakek kita yang ada pada saat itu semuanya tercatat dalam sensus. Data sensus tersebut masih bisa kita lihat sampai sekarang. Dua orang yang sangat berjasa dalam usaha sensus dan nasab ini adalah dua orang mulia yaitu: Sayyid Ali bin Ja'far Asseggaf dan Sayyid Kadhim bin Ali bin Syahab (saudara Al Ustadz Dhiya' Syahab). Mereka berkeliling dari Sabang sampai Merauke karena Allah dan bertujuan untuk merekatkan tali silaturrahim Alawiyin saat itu. Mereka sangat concern dengan keadaan Alawiyin sehingga mereka mendata semuanya. Arrabithah Al Alawiyah mengalokasikan dananya untuk membiayai proses ini disamping dana pribadi kedua orang mulia tersebut.
Sayyid Ali bin Ja'far Asseggaf adalah sesepuh kita dalam nasBeliau membukukan kembali buku nasab Alawiyin (7 jilid) yang berasal dari Alhabib Al Imam Al Allamah An Nassabah Abdurrahman bin Muhammad Al Masyhur (Mufti Hadhramaut) dengan segala daya upayanya ke dalam 15 jilid. Banyak juga Research yang sudah dilakukan oleh Sayyid Ali bin Ja'far ini termasuk berbagai silisilah sultan di berbagai kesultanan Nusantara dan Wali Songo. Sayang sekali sebagian besar hasil-hasil reaseach dan catatan Sayyid Ali bin Ja'far itu hilang tak tahu rimbanya. Hal ini sangat menyedihkan akibat management Rabithah yang hancur setelah beliau wafat. Seperti kita ketahui Rabithah Al Alawiyah pernah mengalami zaman stagnasi yang cukup lama sampai akhirnya dihidupkan kembali tahun 80an. Semoga Allah membalas jasa-jasa orang yang terlibat dalam proses menghidupkan kembali Rabithah ini. Begitu besar jasa orang-orang ini dalam merekat tali keluarga Alawiyin di Indonesia.
Al Amm Abdillah bin Isa Alhabsyi kemudian menuliskan kembali buku induk Alawiyin ke dalam 15 buku besar. Empat (4) set buku besar ditulis dan dididtribusikan ke Maktab Daimy di Surabaya, Palembang, Jakarta dan Ujung Pandang. Konon, buku induk ini adalah buku induk yang terlengkap di dunia dalam bidang nasab/silsilah. Kita harus berbangga dan melestarikannya. Jangan sampai warisan leluhur yang mulia ini punah. Tidak ada kaum manapun di dunia ini yang sampai mencatat silsilah lengkapnya lebih dari 40 generasi kecuali keturunan Alawi Al Ghayur bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa, yaitu kita sekalian ini.
Begitu besar effort yang sudah dilakukan para orang-orang terdahulu itu. Janganlah sampai kita sia-siakan begitu saja dan jangan sampai masuk museum. Ini juga merupkan hal yang ana rasa juga harus benar-benar kita fikirkan, khususnya untuk generasi-generasi mendatang. Nabi SAW bersabda: " Man ahabba an yubsatha lahu fii rizqihi wa an laa yunsa lahu fi atsarihi fal yashil rahimahu" Artinya: "Barang siapa yang ingin rizkinya dilapangkan Allah dan selalu dikenang, maka hendaklah selalu menyambung tali silaturrahimnya.
(Tulisan ini dikutip dari tulisan Ir. Ahmad Fikri Shihab di mailing list Majlas)