|
BULETIN AIS JABAR KATA PENGANTAR Musim kemarau yang terjadi pada tahun 1997, ternyata memberikan dampak yang sangat nyata terhadap terjadinya kenaikan harga-harga hampir seluruh jenis sayuran di Jawa Barat. Bagi para petani kondisi tersebut hendaknya dapat diambil sebagai hikmah untuk perencanaan usahatani di masa yang akan datang, karena bagi sentra produksi yang berpengairan teknis, baik itu di dataran menengah maupun rendah. Musim kemarau ternyata memberikan peluang usaha yang cukup menjanjikan yaitu dari tingginya harga-harga sayuran. Inisiatif yang dapat diambil oleh petani-petani yang lahan usahanya berpengairan adalah dalam penentuan pola tanam dan pemilihan komoditas yang tepat, sebagai contoh. Berdasarkan data ternyata disetiap musim kemarau harga Wortel selalu tinggi karena tidak adanya supply dari sentra-sentra produksi yang tidak berpengairan teknis. Sedangkan khusus untuk petani sayuran dataran tinggi yang tidak berpengairan teknis, hikmah kemarau yang harus diambil adalah perlunya investasi untuk memanfaatkan sumber air atau membuat embung untuk menampung air hujan pada waktu musim kemarau. Melalui gotong royong atau pembentukan mitra cai tampaknya upaya untuk mengatasi masalah kekeringan dapat dieliminir. Buletin kali ini menyajikan situasi pasar sayuran yang cukup berfluktuasi akibat adanya kemarau panjang, semoga dapat diambil manfaatnya baik oleh para petani maupun pedagang. Plt. KEPALA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN |
|
|||||||
|
ANALISA
SITUASI PASAR SAYURAN Peningkatan Harga sayuran kali ini sangat dipengaruhi oleh terjadinya Kemarau yang sudah berlangsung selama 5 bulan disamping adanya krisis moneter sejak Juli 1997. Terjadinya peningkatan harga berbagai komoditas Tanaman Pangan seperti beras untuk kualitas yang sama hingga mencapai 50 % dan beberapa jenis sayuran yang mengalami peningkatan hingga 60 % sebenarnya masih pada batas normal. Sebab apabila daya beli tidak melemah kemungkinan peningkatan harga komoditas-komoditas tersebut akan lebih meningkat lagi. Situasi kali ini agak berbeda dibanding waktu kemarau panjang tahun 1992. Dampak kemarau 1992 terhadap kenaikan harga lebih tinggi dibanding situasi sekarang, hal ini dimungkinkan agak melemahnya daya beli konsumen akibat Krisis Moneter. Dengan adanya kelambatan musim hujan akan berpengaruh terhadap pergeseran tanam hampir di seluruh daerah sentra produksi. Hal tersebut jelas akan mempengaruhi pasokan barang yang diperkirakan pada awal penghujan yaitu bulan Desember dan Januari. Terutama untuk beberapa jenis komoditas sayuran yang menjadi bahan baku industri pangan seperti Kentang dan cabe akan mengalami lonjakan harga yang cukup berarti. Keadaan itu tidak menutup kemungkinan mendorong industri untuk melakukan import. Kekhawatiran kita , apabila import ada bocoran barang yang masuk ke pasar bebas dan menjadi pesaing bagi produksi lokal. Ironis memang, tapi mengingat penyebabnya Bencana Alam merupakan kendala yang tidak bisa disiasati manusia. |
Produksi Langkah yang dapat diambil untuk mengantisipasi kondisi kurangnya pasokan, pada kedua bulan di atas adalah melalui pengembangan dan perluasan komoditas sayuran umur pendek seperti Bayam, Caisin, Baby corn dll, yang nota bene dapat dipanen dalam waktu 40 hari guna mensubstitusi kekosongan sayuran-sayuran pokok pada bulan Desember dan Januari. Dengan memanfaatkan lahan usahatani untuk budidaya dalam waktu singkat selain akan mempercepat pasokan uang juga akan bermanfaat bagi masyarakat yang akan menunaikan ibadah puasa. Selanjutnya dari aspek suply otomatis akan memundurkan waktu tanam karena diselang dengan sayuran berumur pendek, dengan demikian memberikan peluang waktu panen yang tidak bertepatan dengan panen raya, melainkan akan bertepatan dengan musim hajatan sehingga tingkat harga relatif akan lebih baik. Disamping langkah di atas para petani juga dapat melakukan kegiatan usahatani secara tumpang sari dengan jenis tanaman sayuran yang berumur pendek untuk mempercepat perolehan hasil panen. Berikut adalah gambaran data suply beberapa komoditi sayuran unggulan pada musim kemarau berdasarkan keterangan para pedagang dibandingkan dengan pada waktu musim hujan : |
Daerah Produksi | Jenis Sayuran | Suply Saat ini | Pada Saat musim penghujan | |
1. |
Pangalengan | - Tomat | 25 - 30 ton/hari |
40 - 50 ton/hari |
- Kentang | 20 - 25 ton/hari |
40 - 100 ton/hari |
||
2. |
Ciwidey | - Tomat | 10 - 15 ton/hari |
50 - 60 ton/hari |
- Kentang | 5 - 10 ton/hari |
10 - 20 ton/hari |
||
- Seledri | 45 - 50 ton/hari |
60 - 70 ton/hari |
||
- Buncis | 3 - 4 ton/hari |
5 - 10 ton/hari |
||
- Kubis | 4 - 5 ton/hari |
10 - 25 ton/hari |
||
3. |
Cikajang | - Tomat | 30 ton/hari |
60 ton/hari |
- Kentang | 50 ton/hari |
100 ton/hari |
||
- Cabe | 1 ton/hari |
10 ton/hari |
||
- Kubis | 30 ton/hari |
90 ton/hari |
Selanjutnya khusus di pasar Induk Caringin gambaran situasi pasarnya adalah sebagai
berikut: 1. Kol Situasi pasar komoditi kol mulai bulan September Minggu ke II s/d akhir bulan Oktober ini rata-rata trend harga sayuran menunjukkan kenaikan antara 1 s/d 20 %-an, sehingga sampai pada harga Rp. 900,- s/d Rp. 1.000,- ini sudah termasuk harga sangat tinggi, apabila dikonversikan dengan jumlah pasokan normal PIC yakni 500 s/d 600 ton dalam setiap minggunya sedang pasokan saat ini ditaksir 300 s/d 400 ton, jadi mengalami penurunan ± 30 %- an. Menyinggung sentra pemasok pada saat ini nampaknya masih dari sentra-sentra produksi yang biasa yakni Pangalengan, garut, Tanjungsari, Ciwidey dan daerah-daerah lain lingkup Jawa Barat. Melonjaknya harga sedemikian itu diperkirakan karena banyaknya bandar-bandar yang mencari barang didaerah sumber Pasar induk Caringin untuk dikirm ke daerah-daerah lain seperti ke Cibitung, Bogor dan Jakarta sekitarnya sedangkan permintaan memusat ke PIC.
2. Kentang Situasi pasar yang terjadi pada komoditi ini dalam dua bulan terakhir ini tidak banyak mengalami perubahan hanya kondisi pasokan mengalami penurunan 1 s/d 10 % - an dari kondisi pasokan biasa yakni rata-rata 90 s/d/ 100 ton /hari, sedangkan situasi sekarang ini ditaksir antara 70 s/d 80 ton/ harinya, menurunnya sedemikian itu karena produksi sentra produksi dapat memasok sedang dari Dieng ± 50 % - nya dan dari sentra-sentra yang tak teridentifikasi 20 % - nya. Dalam dua bulan terakhir ini nampaknya Sentra Produksi Dieng sangat berjasa dalam mensuply kebutuhan PIC bahkan kebutuhan Nasional yang sementara ini dari sentra produksi lain produksinya melorot karena kekeringan.
3. Bawang daun. Situasi pasar yang terjadi pada komoditi Bawang daun dalam dua bulan terakhir ini sangat luar biasa sehingga harga sampai tak terkendali di atas Rp. 1.000,-/ kg, menyinggung kapasitas PIC untuk komoditi Bawang daun dalam per harinya antara 40 s/d 60 ton sedang pada saat ini ditaksir di bawah 30 ton/ harinya, sedang permintaan konsumen yang rutin saja cukup banyak, menyinggung sentra pemasok pada saat ini masih dari sentra lokal yakni Cibeureum Pacet, Ciwidey dan Pangalengan juga daerah lain yang tak teridentifikasi.
4. Bawang Merah Komoditi Bawang Merah dalam dua bulan terakhir ini nampaknya tidak banyak perubahan.
5. Cabe Merah Situasi komoditi Cabe Merah dalam dua bulan terakhir ini nampaknya tidak ada kondisi yang mencolok meskipun trend harga cenderung naik tetapi kondisi pasokan mengimbanginya (masih dalam ambang kendali), menyinggung kondisi pasokan pada saat ini ditaksir antara 60 s/d 80 perharinya sedang rata-rata normal masih di bawah 90 ton/ harinya, menyinggung sentra pemasok yang rutin sampai saat ini dari daerah Tanjung (Jateng) ± 45 % nya, dari Banyuwangi ± 30 % an, dari daerah lain yang tidak teridentifikasi ± 25 % nya ; menurut beberapa pedagang yang cukup ngetop di Pasar Induk Caringin harga Cabe Merah ditaksir masih tidak akan cepat berfluktuasi.
6. Seledri Situasi pasar komoditi Saledri dari tiga bulan yang lalu yang selalu berdekatan dengan harga bawang daun dalam dua bulan terakhir ini nampaknya ketinggalan jauh bahkan dapat dibilang hampir mati ; harga rata-rata dalam minggu itu di bawah Rp. 350,- bahkan sampai di bawah Rp. 200,- . Menurunnya harga saledri tersebut diperkirakan karena selain dari sentra yang biasa memasok yakni dari Ciwidey dalam dua bulan terakhir ini masuk juga barang dari Indramayu (nampaknya sentra temporer) sehingga pasokan mengalami kelebihan (over suply) sedang kapasitas normal pasar antara 30 s/d 40 ton per harinya, pasokan pada saat ini ditaksir sampai 50 ton-an, selain itu juga banyak bandar-bandar yang mendrop barangnya langsung ke pasar-pasar konsumen luar Pasar Induk Caringin sehingga permintaan ke Pasar Induk Caringin sepi.
7. Tomat Situasi pasar komoditi Tomat Tw nampaknya tidak banyak perubahan demikian juga sentra-sentra pemasoknya masih tetap sehingga situasi pasarpun masih terbilang normal .
8. Wortel Situasi yang luar biasa ini terjadi juga pada komoditi wortel yang diperkirakan dalam 3 bulan terakhir ini mengalami gejolak harga yang dahsyat yakni sampai diatas Rp.900,- harga sedemikian itu menurut para pedagang masih cukup alot ± sampai datangnya musim hujan dalam 3 bulan terakhir itu situasi pasokan dapat dikatakan tersendat-sendat karena pasokan tergantung dari sentra yang cukup jauh yakni dari daerah batu malang (Jatim), sehingga para pelaku dagang harus memperhitungkan usahanya matang-matang. Dari Batu Malang ini diperkirkan memasok 60 % nya dari total tonase masuk barang yang ± dalam kondisi seperti ini masuk barang antara 20 s/d 25 ton perharinya sedang yang 40 % nya masih dari daerah Pacet-Cibeureum , menyinggung kapasitas normal pasar untuk komoditi Wortel ditaksir antara 35 s/d 45 ton perhari. Kondisi kemarau pada tahun 1997, pengaruhnya terhadap harga ternyata sangat nyata, tampak dari tingginya kenaikan persentase rata-rata harga beberapa sayuran unggulan di Sentra Produksi di Jawa Barat pada tahun 1997 di bandingkan dengan rata-rata tahun 1996 |
Khusus situasi di pasar Induk Cibitung saat ini sedang mengalami
lesunya transaksi, disamping pengaruh situasi pasar seperti Pasar Induk Caringin juga
akibat perpindahan pasar sementara yang berpengaruh terhadap calon pembeli sebanyak 40 %.
Berdasarkan perkiraan para pembeli beralih ke pasar Induk Kramat Jati. Hambatan yang dapat disampaikan kepada para petani untuk menghadapi situasi musim tanam saat ini adalah melalui penggalangan petani ke dalam Kelompok Tani yang selanjutnya digabungkan kembali menjadi Gabungan Kelompok Tani yang melakukan manajemen satu komoditi, satu daerah sentra produksi. Diharapkan melalui pengaturan manajemen Gabungan Kelompok Tani posisi tawar menawar petani akan lebih baik karena adanya volume barang yang sangat besar, kontinuitas suply serta keseragaman kualitas. Bagaimana menyikapi pembentukan Gabungan Kelompok Tani berdasarkan pengalaman di satu daerah akan dikemukakan pada Buletin berikutnya. |
LAMPIRAN Harga rata-rata Komoditi Sayuran Tahun 1991 - 1997 KOL BULATTOMATGONDOL BLUMKOL SIAMPO BUNCIS BAWANG PUTIH BAWANG DAUN CABE KERITING KENTANG TOMAT TW WORTEL LABU SIAM KOL GEPENG SALEDRI CAISIN |
Link | Indonesian : DEPTAN, Badan
Agribisnis, BINUS-TPH, BPS, BPPKU, Mandiri, more .. English : Mardi, AVRDC, Extension Service, USDA's, Today's Prices , more .. |
||
aisjabar@indosat.net.id | |||
Alamat Surat | Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi DT. I
Jawa Barat Jl Surapati No. 71, Bandung 40115 , Jawa Barat, Indonesia Telepon 61-022-2503884, 61-022-2500963 |