Media Minggu
Minggu, 6 September 1998

Di Negeri Jiran

INTERNASIONAL 


Perseteruan antara Mahathir Mohammad dan Anwar Ibrahim semakin meruncing. Anwar merencanakan untuk melakukan perjalanan ke seluruh negeri, mencari dukungan

IMPIAN makin jauh dari harapan. Mungkin itulah yang saat ini dialami Anwar Ibrahim selaku politikus generasi muda yang diharapkan dapat memimpin Malaysia pada milenium ketiga mendatang.

Untung saja, mantan Menteri Keuangan dan Deputi Perdana Menteri, Anwar Ibrahim, 51 tahun, yang dipecat, tak langsung patah arang. Anwar mengatakan, Jum'at lalu bahwa ia berencana melakukan perjalanan ke seantero negeri untuk mendesak sejumlah reformasi politik. Ada juga kemungkinan ia akan bergabung dengan pihak oposisi.

''Yang pasti terdapat gerakan besar reformasi di negeri ini. Saya hanya melanjutkan perjuangan,''ungkapnya.

Berbicara di hadapan para wartawan dan reporter di rumahnya, politikus yang dua hari setelah pemecatan juga 'dibuang' dari United Malays National Organisation (UMNO) mengatakan tak mengenyampingkan kemungkinan bergabung dengan Partai se-Islam Malaysia (PAS) yang dikenal fundamentalis.

''Saya bekerja dengan semua kelompok yang berketetapan dengan reformasi, baik UMNO, oposisi, tapi khususnya dengan rakyat '' ujar Anwar Ibrahim pula.

Pertentangan antara Mahathir dan Anwar semakin meruncing setelah Mahathir mendesak Anwar sebagai menkeu untuk segera mengubah sistem kurs bebas menjadi kurs tetap. Rencana itulah yang sangat ditentang pria yang semula diproyeksikan menduduki tampuk Perdana Menteri. Anwar sebaliknya bersikukuh untuk mengikuti kebijakan yang diambil dua negara tetangga dekatnya, yaitu Thailand dan Indonesia, untuk meminta pertolongan Dana Moneter Internasional (IMF).

Penyebab lain yang tak kalah mengejutkan dan membuatnya harus tersingkir dari jajaran pemerintahan adalah dugaan bahwa ia terlibat dalam sejumlah kasus skandal seks. Dalam sebuah buku baru yang berjudul, ''Lima Puluh Alasan Mengapa Anwar Tak Bisa Menjadi Perdana Menteri.''

Dalam buku yang saat ini dihentikan peredarannya itu disebutkan bahwa Anwar adalah seorang homoseksual dan pelaku seks menyimpang. Sementara itu, Inspektur Jenderal Polisi Abdul Rahim Noor mengatakan pihaknya dalam waktu dekat tak akan menangkap Anwar melainkan tetap melanjutkan penyelidikan atas dakwaan-dakwaan itu.

Dalam beberapa pernyataan tertulis yang diajukan tujuh orang tanpa identitas di Pengadilan Tinggi di Kuala Lumpur, diuraikan rincian yang menyeramkan. Seorang saksi pria mengaku telah disodomi oleh Dato Seri Anwar sebanyak 15 kali. Saksi lain mengatakan kecurigaannya terhadap adik iparnya yang memiliki hubungan seks dengan Anwar.

Bahkan mantan sopir Anwar memberikan pernyataan yang memberatkan dengan mengatakan ia diminta oleh sejumlah rekan bisnis mantan Deputi PM itu ''untuk mendapatkan wanita dari berbagai kebangsaan, seperti Cina, Meksiko, dan Ero-Asia serta wanita lain untuk aktivitas seks haram. Pernyataan itu lebih lanjut menyebutkan terdapat bukti-bukti rekan bisnis Anwar memberinya uang tunai sebanyak 60 juta ringgit atau 16 juta dolar AS selama pemilihan umum tiga tahun lalu.

Anwar, yang memiliki reputasi sebagai muslim taat, mengatakan sebagian besar dakwaan yang ditujukan kepadanya merupakan bagian dari konspirasi untuk menodai namanya dan menjatuhkan dirinya.

''Media lokal juga dengan sengaja meruntuhkan saya, mulai dari skandal seks, pembunuhan, agen negara asing, korupsi, dan pengkhianatan,'' ujarnya. Atas tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya, Anwar bersikap tegas. Ia akan membawa masalah ini ke pengadilan.

Intrik politik yang dialami Anwar ternyata bukan pertama kali. Semasa menjadi Ketua Pergerakan Pemuda Muslim Malaysia dan sebelum bergabung dengan UMNO, ia sempat mendekam di bui selama 20 bulan pada 1974 di bawah Undang-undang Keamanan Dalam Negeri.

Kali ini, Anwar tersandung karena ia berulang kali mengkampanyekan pada pemerintah untuk melakukan reformasi politik dan segera mengakhiri praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Anwar lalu menunjuk pada kejatuhan Soeharto yang banyak terlibat korupsi. ''Itulah mengapa saat ini di Malaysia berkembang ketakutan yang sangat terhadap KKN,'' katanya.

Anwar, yang juga disebut-sebut banyak kalangan sebagai putra mahkota Mahathir mengatakan tak memahami mengapa seniornya itu harus takut padanya. Ia berpendapat bawa dirinya dikeluarkan dari kabinet dikarenakan kekhawatiran posisinya sebagai Deputi PM akan menandingi Mahathir pada pemilu tahun depan.

''Jika ia(Mahathir) tak terkalahkan dan sangat kuat, mengapa harus takut pada saya?,'' ungkapnya.

Menurut Gerald Segal, seorang pakar Asia dari Institut Studi Strategis di London menyebutkan, tengah berlangsung suatu eksperimen besar di wilayah Asia Tenggara dan Mahathir mewakili satu dari dua reaksi terhadap krisis yang berkembang. Reaksi pertama seperti yang dilakukan oleh Thailand dan Indonesia ialah dengan meminta bantuan IMF. Sedangkan Mahathir berpendapat dengan bantuan IMF, risikonya bagi negara peminjam akan menjadi wilayah kolonisasi baru kekuatan Barat yang berhasrat untuk membeli aset secara murah.

''Pemecatan Anwar menjadi masuk akal karena ia secara terang-terangan tak mengikuti pandangan Mahathir,''ujar Segal.

Setelah mengeluarkan kebijakan yang tak populer itu, Mahathir kemudian melarang setiap bentuk perdagangan ringgit di luar negeri. Ia lalu menyerukan agar 20 miliar ringgit atau 5,26 miliar dolar AS yang berada di luar negeri harus dikembalikan sebelum 1 Oktober mendatang. Dengan melakukan kurs tetap, ia berharap tingkat suku bunga akan turun dan uang bisa dipompakan tanpa risiko harus kehilangan nilai tukar.

Namun, banyak kalangan terutama pelaku bisnis merasa skeptis, cara yang ditempuh Mahathir itu dapat menyelematkan Malaysia dari krisis. Menurut mereka sistem kurs tetap, hanya berhasil jika pemerintah Malaysia menutup perusahaan-perusahaan yang tak aktif. Analisa lain menyebutkan dengan suku bunga rendah akan mengakibatkan sistem perekonomian akan dibanjiri uang tunai dan inflasi meningkat tajam.

Yang patut ditunggu ke depan adalah bagaimana perkembangan situasi perekonomian Malaysia setelah diberlakukannya kurs tetap. Dan apakah posisi Anwar saat ini menjadi penghalang untuk mengikuti suksesi tahun depan. .Hotma Siregar/C-1

sis 


Hak cipta © 1997-1998 Media Indonesia 
  1