Anwar Ibrahim: Saya Korban Persekongkolan
KUALA LUMPUR (AFP): Sehari setelah dicopot dari jabatan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Malaysia, Anwar Ibrahim kemarin buka mulut. Dia menyatakan dirinya menjadi korban persekongkolan tingkat tinggi, dan menyerukan reformasi politik.
''Tuduhan yang sangat pribadi terhadap saya adalah persekongkolan politik. Mereka sadar tidak bisa mengalahkan saya di arena politik melalui proses demokrasi,'' katanya pada konferensi pers di kediamannya.
Anwar merujuk pada kesaksian tertulis di bawah sumpah yang dibacakan Deputi Direktur Departemen Investigasi Kriminal Musa Hassan di pengadilan tinggi kemarin. Musa menuduhnya terlibat perselingkuhan seksual dan mengancam keamanan nasional.
Kantor berita Bernama merinci tuduhan yang menyangkut perilaku Anwar sebagai berikut: homoseksual, berhubungan seksual dengan wanita berbagai ras, dan menggoda istri orang.
Keterangan di bawah sumpah itu juga menyebutkan bahwa S Nallakaruppan, yang ditahan bulan lalu dengan tuduhan memiliki amunisi, bertindak sebagai perantara dalam aktivitas yang memungkinan Anwar dimanfaatkan oleh unsur-unsur yang mengancam keamanan nasional.
Musa adalah tokoh yang memimpin penyelidikan buku 50 Alasan Mengapa Anwar tidak Bisa Menjadi Perdana Menteri. Juli lalu, Anwar mendapat perintah pengadilan untuk menghentikan peredaran buku itu.
''Semua ini merupakan persekongkolan politik terhadap saya untuk mencegah saya menantang perdana menteri,'' sambungnya. Dia tidak menyebut nama. Tapi dia menuding keterlibatan sejumlah orang kaya, pengusaha, dan anggota dewan tertinggi Organisasi Malaysia Bersatu (UMNO), partai yang berkuasa.
''Saya punya bukti. Saya punya pita (rekaman),'' tukasnya.
Pencopotan Anwar, 51, terjadi sehari setelah PM Mahathir Mohamad menerapkan kebijakan pengendalian devisa. Kedua pemimpin Malaysia itu sebenarnya punya sejumlah sikap dan pandangan yang sama. Mereka sama-sama penganjur kebijakan sistem pasar bebas. Tapi ketika nilai ringgit terhadap dolar Amerika Serikat anjlok -- tahun lalu sempat mencapai 4,00 per dolar AS -- di antara kedua tokoh ini mulai muncul perbedaan berkaitan dengan kebijakan ekonomi.
Ketika diwawancarai jaringan televisi CNBC, Anwar mengimbau PM Mahathir agar berhenti bersekongkol untuk menjatuhkan dirinya. Dia mengatakan bahwa kerja samanya dengan Mahathir selama ini berjalan sangat baik. Dia juga mengaku memperlakukannya bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai ayah.
''Dia sangat baik. Tapi saya pikir, dalam setahun belakangan ini, terutama setelah kejatuhan Soeharto, banyak hal tidak menentu di kalangan kawan dekatnya,'' ujar Anwar.
Selain membantah sejumlah tuduhan itu, melalui pernyataan tertulis yang diedarkan kemarin, Anwar menyatakan bahwa waktu untuk meluncurkan reformasi politik sudah tiba. ''Kita butuh agenda yang jelas. Kita harus memutuskan jalan, bentuk, dan kecepatan reformasi. Reformasi adalah tuntutan dari dalam, bukan karena tekanan dari luar.''
Melalui pernyataan politik itu, Anwar juga menyerang kelompok-kelompok korup yang cemas tindakan kriminal mereka akan terbongkar. ''Kelompok ini menyalahgunakan kekuasaan dan kini ketakutan.'' (Agd/D-4)
Hak cipta © 1997-1998 Media Indonesia |