Media Indonesia OnLine
Senin, 28 September 1998

KDR Luncurkan Gerakan Reformasi. Setelah Unjuk Rasa, Kuala Lumpur Tenang

INTERNASIONAL 


KUALA LUMPUR (AFP): Kuala Lumpur sejak kemarin pagi kembali tenang, setelah terjadi ketegangan hampir sepanjang Sabtu malam. "Keadaan aman... seperti biasa. Publik bisa pergi ke Lapangan Merdeka. Tetapi jangan pergi ke sana untuk berdemonstrasi," kata seorang perwira polisi Malaysia.

Penjelasan bahwa keadaan Ibu Kota Malaysia normal, berkait erat dengan suasana di Kuala Lumpur malam sebelumnya --Sabtu malam-- yang sempat tegang karena ribuan pendukung Anwar Ibrahim --mantan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan-- berkumpul dan menggelar aksi protes di kawasan pusat perbelanjaan.

Unjuk rasa dengan memilih tempat yang biasanya selalu padat pengunjung, apalagi pada malam hari menjelang hari libur, merupakan taktik baru yang diterapkan para pendukung Anwar. Bisa jadi karena Lapangan Merdeka atau Mesjid Negara, lokasi di sekitar kediaman Anwar di pinggiran barat Kuala Lumpur, atau lokasi strategis lainnya, sudah diblokir aparat keamanan.

Kelompok proreformasi atau pro-Anwar, Jumat pekan lalu (25/9), sempat memanfaatkan Mesjid Negara menjadi lokasi unjuk rasa. Usai Salat Jumat, sekelompok orang langsung menggelar unjuk rasa dan meneriakkan "reformasi" dan sejumlah slogan lainnya yang bernada antipemerintah.

Seorang pengunjuk rasa, dengan memenfaatkan pengeras suara di dalam mesjid, sempat membacakan sejumlah tuntutan. "Kami mengecam penyalahgunaan ISA, OSA (Undang-undang Rahasia Pejabat), dan Undang-Undang Masyarakat. Semua undang-undang ini mengekang suara rakyat. Kami menentang korupsi dan kekejaman, dan kami mendukung keadilan," kata seorang pengunjuk rasa yang tidak diketahui identitasnya itu.

Aksi unjuk rasa ini tidak berlangsung lama. Setelah polisi antihuru-hara masuk ke dalam mesjid, massa berusaha menyelamatkan diri dengan lari ke berbagai arah.

Menghadapi aksi unjuk rasa Sabtu lalu, polisi berusaha membubarkan sebelum massa menjadi terlalu besar. Peringatan "bubar secepatnya atau kami akan menggunakan kekerasan," terdengar beberapa kali. Karena peringatan ini tidak dihiraukan dan massa terus bertambah, polisi yang bersenjata pentungan rotan dan dilengkapi perisai, akhirnya bergerak ke arah kumpulan massa.

Polisi tidak bisa menggunakan peralatan pengendali huru-hara --seperti penyembur air bertegangan tinggi-- secara maksimal karena massa pengunjuk rasa berbaur dengan turis dan pengunjung pusat perbelanjaan. Tetapi dengan menyusupkan polisi tidak berseragam ke tengah-tengah massa, aparat keamanan akhirnya berhasil mengusai keadaan dan menahan sekitar 20 orang.

Seorang pemuda tampak diseret aparat keamanan dengan disaksikan ratusan pasang mata. Pada saat bersamaan, seorang pria setengah baya tampak dipukul oleh sejumlah polisi, setelah mengibarkan bendera Malaysia yang dilengkapi dengan foto Anwar.

Setelah terjadi ketegangan selama sekitar tiga jam usai Salat Magrib di tiga mesjid yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan itu, para pengunjuk rasa menghentikan teriakan-teriakan menuntut reformasi dan dukungan untuk Anwar, serta menghindari bentrokan frontal dengan polisi. Apalagi dalam waktu relatif singkat, jumlah aparat keamanan di lokasi unjuk rasa, setara dengan jumlah pengunjuk rasa.

Mungkin untuk mencegah jangan sampai aksi meluas, polisi menutup seluruh jalan utama menuju pusat Kota Kuala Lumpur. Polisi juga tampak berjaga-jaga di jalan-jalan menuju dan di sekitar Lapangan Merdeka. Lapangan ini sempat menjadi pusat aksi protes. Sekitar 50.000 orang pendukung Anwar, Minggu pekan lalu (20/9), menggelar aksi antipemerintah di sini.

Walau tidak ada lagi massa yang berteriak-teriak, bukan berarti unjuk rasa selesai. Para pendukung Anwar yang berbaur dengan para pengunjung pusat perbelanjaan, tetap bergerak diam-diam dengan membagi-bagikan brosur dan menjual buku tentang Anwar dan gerakan reformasi. Salah satu buku yang dijual di dekat sebuah mesjid, berjudul "Anwar: Skandal Seks atau Persekongkolan Politik?"

Sementara itu, Koalisi untuk Demokrasi Rakyat (KDR) --gabungan antara partai politik dan kelompok sosial yang baru dibentuk-- meluncurkan kampanye menuntut reformasi. Sejumlah sumber menilai, ini merupakan gerakan menentang Perdana Menteri Mahathir Mohammad.

"Kami menuntut perubahan... kami menuntut reformasi dan keadilan sosial," kata Tian Chua, Ketua KDR.

Tian mengatakan, misi KDR adalah menciptakan platform alternatif bagi berbagai kebijakaan saat ini, baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial. "Semua ini mencerminkan suara-suara rakyat," katanya. (Agd/W-1)


Hak cipta © 1997-1998 Media Indonesia 
  1