Selasa,
29 September 1998
Wawancara
dengan Wan Azizah
Saya Kawin
dengan Seorang Pejuang
Kuala Lumpur,
Kompas
Penangkapan Anwar
Ibrahim tidak menghentikan gerakan reformasi di Malaysia yang kini mendapat
dukungan dari pelbagai lapisan masyarakat. Komando gerakan reformasi kini
di tangan Dr Wan Azizah Wan Ismail (46), istri Anwar Ibrahim. Ia mengaku,
tak gentar menghadapi berbagai rintangan. Ia siap berjuang, karena ia sadar
sejak semula kawin dengan seorang pejuang.
"Insya
Allah gerakan reformasi akan berhasil, karena didukung terutama oleh
lapisan masyarakat bawah, yang terdiri dari berbagai kaum. Baik Melayu,
Cina, maupun India. Rakyat Malaysia juga yakin akan bersikap teguh dalam
memperjuangkan keadilan di negerinya," ujarnya dalam wawancara khusus dengan
wartawan Kompas, Asep Setiawan di kediamannya Jalan Setia
Murni I No 8 Bukit Damansara, Kuala Lumpur, kemarin.
Datin Wan Azizah,
yang tampil berpakaian motif bunga berwarna kuning cerah dengan kerudung
polos warna kuning emas, tidak bisa lagi menerima para pendukungnya seperti
biasa. Ia dan rumahnya diawasi polisi selama 24 jam. Bahkan hampir setiap
hari ada helikopter polisi yang mengawasi dari udara.
Namun demikian,
semangat reformasi di negara yang berpenduduk 22 juta jiwa itu sudah menjalar
ke berbagai pelosok. Sejak Anwar dipecat 2 September kemudian ditahan 20
September lalu, Wan Azizah menjadi fokus harapan. Berikut ini petikan wawancaranya.
Apakah
Datin (Ibu -Red) Wan Azizah yakin gerakan reformasi
di Malaysia akan berhasil?
Insya Allah.
Sebab apa? Allah akan menolong orang dalam kebenaran. Orang yang menuntut
hak itu, akan ditolong Allah, tetapi mestilah diberikan satu ujian, untuk
menguji bagaimana kita menangani masalah ini dengan ketaqwaan kepada Allah
SWT, dengan iman dan amal kita. Saya merasa ini suatu hikmah. Musibah yang
berlaku atas suami saya dan keluarga telah mendekatkan kami kepada Allah
SWT.
Apakah Anda
siap melanjutkan gerakan reformasi, Datin ?
Ya, saya akan
memikul amanah apa yang Abang (Anwar) katakan. Saya percaya pada perjuangannya,
sebab itulah kita menikah dulu. Saya menikah bukan dengan seorang menteri,
saya kawin dengan seorang pejuang. Saya membela kebenaran, dan itu akan
menjadi kekuatan untuk mengatasi masalah ini. Selama ini Anwar berjuang
di dalam pemerintahan, mengikuti peraturan, dan konsensus. Akan tetapi,
ia memohon maaf ketika dalam pemerintahan, ia tak berdaya membetulkan apa
yang dianggapnya tidak benar. Akan tetapi, itulah harga yang harus dibayarnya,
pemecatan dirinya. Ia tidak hanya dicopot dari jabatannya, tetapi juga
diaibkan tanpa pengadilan.
Bagaimana
Datin melihat tanggapan masyarakat terhadap gerakan reformasi ?
Alhamdulillah,
saya bersyukur kepada Allah SWT, karena penyokong-penyokong bukannya dari
kalangan orang berkepentingan dan berpangkat tinggi, melainkan dari orang
biasa, yang tidak kami kenal dan tidak pernah masuk aliran politik. Mereka
melihat kasus Anwar dianiaya, mereka sendiri terpanggil, datang untuk menyuarakan
protes atas keadaan ini.
PM Mahathir
Mohamad menuduh demonstrasi, misalnya di Masjid Negara, itu membuat kekacauan?
Bagaimana komentar Datin?
Sebenarnya bukan
membawa kekacauan, melainkan hanya menyuarakan suara hati tentang terjadinya
ketidakadilan. Di mana-mana akan terdengar suara protes. Orang tidak mempunyai
saluran untuk mengutarakan ketidakpuasannya terhadap ketidakadilan yang
terjadi. Kalau saja orang nomor dua di negeri ini diperlakukan secara begitu,
lalu bagaimana nasib orang biasa?
Apakah harapan
Datin terhadap pengadilan Anwar nanti ?
Saya berharap
sekali Pak Anwar, Insya Allah, diberikan pengadilan yang seadil-adilnya,
sidang pengadilan yang terbuka, dengan pengacara-pengacara yang kami pilih
dan hakim independen. Pengacara kami belum bisa bertemu Pak Anwar walaupun
berulangkali memohon tetapi tidak diberikan izin berjumpa.
Mana buktinya
kalau Pak Anwar berbuat aib. Tidak ada. Yang ada hanya kesaksian dua orang
yang diambil polisi. Keluarga dan pengacara tidak diberi kesempatan bertemu
kliennya. Mereka juga tidak diberi kesempatan untuk tahu kapan masa persidangannya.
Ketika mereka tahu sudah hampir selesai, lalu diberi hukuman saja.
Ketika Datuk
Anwar dikatakan tidak bermoral bagaimana perasaan Datin ?
Oh, saya tidak
percaya sama sekali. Setelah saya menikahinya, saya mengetahui ia orang
yang selalu bersembahyang, selalu pulang rumah, family man. Kalau
pergi berlibur, membawa kami semua sekeluarga, anak kami keenamnya ikut.
Ibu bapaknya juga ikut kami. Dia selalu memberitahu anak-anaknya, dia orang
yang bertanggung jawab, dia orang yang lembut kasih kepada diri saya. Jadi
saya tidak memiliki alasan untuk menuduh dia berlaku durjana.
Bagaimana
perasaan anak-anak ?
Memang anak-anak
sedih karena ayahnya diaibkan. Mereka tahu ayahnya tak bersalah. Mereka
juga sedih tidak dapat jumpa ayahnya - buah hati pernikahan Anwar-Wan Azizah
tahun 1980 itu adalah Nurul Azizah (18), Nurul Nuha Anwar (14), Muhammad
Ihsan (13), Nurul Ilham (11), Nurul Iman (8) dan Nurul Hana (6).*
|