Kamis,
1 Oktober 1998
Anwar: Mahathir
Diktator
Kuala Lumpur,
Kompas
Penganiayaan
yang dilakukan polisi selama dalam tahanan, tidak meruntuhkan semangat
Anwar Ibrahim untuk terus berjuang menegakkan keadilan dan mengobarkan
reformasi. Bahkan, kemarin, ia secara tegas mengatakan PM Mahathir mempertahankan
kekuasaan lewat tindakan diktatoris yang sebenarnya ditolak oleh rakyat
Malaysia. Ia mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tertulis yang diajukan
oleh wartawan Reuters di sela-sela sidang di Petaling Jaya, Selangor
hari Rabu (30/9). Ia juga mengimbau agar rakyat Malaysia sadar akan apa
yang dilakukan Mahathir yang menghancurkan kebebasan fundamental mereka.
Dalam sidang kedua ini, Anwar dituduh telah melakukan sodomi, yakni dengan
Mior Abdul Razak Yahya di Hotel PJ Hilton pada 3 Desember 1992.
Pernyataan
Anwar itu, menurut laporan wartawan Kompas Asep Setiawan
dari Kuala Lumpur semalam, dipertegas oleh istrinya, Wan Azizah Wan Ismail
yang hadir di sidang pengadilan. Ia secara terbuka mengajak rakyat Malaysia
sadar akan memburuknya kebebasan di negaranya.
"Rakyat
Malaysia seharusnya sadar terhadap memburuknya kebebasan fundamental dan
tindakan diktator Mahathir serta harus tegas dan berjuang mendorong reformasi
dan melanjutkan penolakan terhadap para pemimpin korup," tegas Wan Azizah.
Pertemuan
mengharukan
Dengan
wajah terlihat letih tapi masih bersemangat Anwar tiba di pengadilan. Ia
sempat mengangkat tangannya seperti melambaikan tangan kepada pendukungnya.
Polisi tidak membiarkan para wartawan mendekatinya. Sedikitnya 200 polisi
dikerahkan untuk berjaga-jaga jika massa pendukung Anwar berkumpul. Puluhan
truk dan mobil pemadam kebakaran ditempatkan di jalan masuk menuju pengadilan,
tetapi sampai sidang berakhir tidak terjadi insiden yang berarti.
Dalam kesempatan
pengadilan di Petaling Jaya, Anwar bertemu kembali dengan istri dan lima
anaknya. Mereka bertemu dengan Anwar dalam suasana yang mengharukan. Pertemuan
singkat selama 20 menit itu berakhir dan kemudian Wan Azizah dan Nurul
Izzah diizinkan masuk ke ruang sidang.
Kelima
anaknya itu lalu menumpahkan kerinduan terhadap ayahnya yang ditahan sejak
20 September. Mereka itu adalah Nurul Azizah (18), Muhammad Ihsan (13),
Nurul Ilham (11), Nurul Iman (8) dan Nurul Hana (6). Nurul Nuha Anwar (14)
yang datang Selasa lalu tidak ikut ke Petaling Jaya. *
|