Kamis,
1 Oktober 1998
Polisi Taruh
Api dalam Sekam
"TAK tahulah
saya. Bagaimana polisi bisa bertindak seperti itu," ujar Omar, karyawan
swasta di Kuala Lumpur, ketika ditanya soal pemukulan terhadap mantan Deputi
PM Anwar Ibrahim di tahanan polisi. "Sepatutnya polisi tak lakukan itu,"
tambahnya. Mantan pegawai penjara itu lalu mengungkapkan, biasanya polisi
melakukan pemukulan jika mau meminta pengakuan. Mungkin, tuturnya, Anwar
tak mau mengaku maka dipukullah dia.
"Jangan
tanya soal itu, saya tak boleh cakap. Bisa susahlah," komentar Yip, pegawai
swasta keturunan Cina di Kuala Lumpur. Ia menghindar ketika ditanya pendapatnya
soal pemukulan terhadap Anwar sehingga mukanya terlihat bengkak. Ada pula
orang yang menyalahkan PM Mahathir Mohamad yang sebagai Menteri Dalam Negeri
membawahi polisi yang bertindak kasar. Mahathir pun mengakui tidak mustahil
Anwar cedera dipukul polisi.
Kini media
massa lokal sebagian sudah berani memuat berita dan bahkan ada yang disertai
foto wajah Anwar yang mata kirinya terlihat cedera. Anwar sendiri mengaku
di pengadilan sejak ditahan 20 September lalu, polisi menutup matanya,
memborgol tangannya lalu memukulnya hingga suatu kali pingsan. Wan Azizah
Wan Ismail, istri Anwar, juga mengkhawatirkan kondisi kesehatan Anwar selama
ada dalam penahanan di Bukit Aman, markas kepolisian Malaysia.
Memang
sulit dipercaya, mantan PM Malaysia dianiaya dalam tahanan polisi sebelum
pengadilan menyatakannya bersalah. Tampaknya rakyat Malaysia setelah mengetahui
duduk perkara seperti itu akan membuat suara ketidakpuasan. Namun sejauh
ini seperti diperlihatkan di pengadilan hari kedua kemarin di Petaling
Jaya (Selangor), massa terlihat tidak terlalu banyak dibandingkan ratusan
polisi berseragam dan intel disebar di sejumlah penjuru jalan. Massa terlihat
tenang.
***
UNTUK mencari jawaban
soal reaksi masyarakat itu, seorang wartawan senior Malaysia yang tak mau
disebut namanya, mengungkapkan bahwa pada umumnya masyarakat Melayu yang
merupakan 50 persen dari 22 juta warga Malaysia mengikuti sebuah hikmah
di mana jika tidak setuju pada sesuatu hal dan tidak bisa bertindak dengan
tangan dan suaranya maka dipilihlah diam. Namun hatinya memperlihatkan
ketidaksetujuan.
Namun jika
hal-hal yang tidak adil itu sudah sampai kepada tingkat yang menyesakkan,
mungkin meledak tak terkendali. Apakah kasus Anwar ini juga akan meledak
jadi aksi protes meluas? Sebagian warga Malaysia yang dihubungi menjawab,
tidak tahu.
"Semuanya
bisa berubah cepat. Kasus ini tak bisa diramalkan saat ini," kata wartawan
sebuah media cetak. Memang semua hal bisa terjadi di Malaysia mulai dari
hukuman terhadap Anwar meski kasus-kasusnya banyak diragukan-kecuali oleh
para petinggi Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO)-sampai kepada jatuhnya
Mahathir yang sudah berkuasa selama 17 tahun. Semua kemungkinan masih terbuka.
Meskipun
demikian, saat ini Malaysia dalam suasana yang mengarah kepada perubahan.
Apa bentuk perubahannya dan apakah besar atau kecil belum diketahui pasti.
Pengadilan Anwar ini sendiri terkesan sebuah pengadilan politik yang mungkin
keputusannya seperti terlihat dari berbagai komentar para pejabat sudah
ada jauh sebelum pengadilan berlangsung.
Di tengah reaksi
keras terhadap penahanan dan penganiayaan itu, tampaknya masyarakat Malaysia
membutuhkan reformasi politik, hukum dan ekonomi sehingga bisa keluar dari
krisis politik-ekonomi saat ini. (Asep Setiawan, dari Kuala Lumpur)
|