Kisah ini disebutkan di dalam Al-Qur'an tentang peperangan umat Islam dengan pasukan Al-Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu) juga dengan Bani Quraidhah yang menusuk dari belakang, mengkhianati perjanjian yang ada pada saat perang yang sama. (QS Al-Ahzab [33]: 9-25, Al-Ahzab [33]: 26-27)
Ketika pasukan Muslimin tengah dikepung oleh pasukan kafir Quraisy beserta para sekutu-sekutu mereka sekeliling Madinah, satu-satunya yang menghalangi mereka di front depan adalah trench (parit) yang dibuat kaum Muslimin, sedang di belakang Madinah terdapat fortressnya (benteng) Bani Quraidhah yang telah berjanji menjadi sekutunya umat Islam? Di kala umat Islam mati-matian menghalau para intruder yang masuk menginfiltrasi pertahanan di garis depan (jumlah musuh jauh lebih banyak), tiba-tiba Bani Quraidhah dari belakang mencoba menikam kaum Muslimin (di bagian garis belakang kota Madinah banyak kaum wanita dan anak-anak yang terancam oleh serangan Bani Quraidhah ini).
Nabi SAW dan umat Islam yang telah mempercayai sepenuh hati atas pakta pertahanan bersama dengan Bani Quraidhah sempat shock berat atas pengkhianatan yang mereka lakukan, karena menurut perhitungan akal sehat, nasib umat Islam sebentar lagi akan habis terusir dari muka bumi Madinah, dihimpit dua arah (depan dan belakang kota).
Kaum munafik di tengah-tengah kota kalang kabut dan menyebarkan keragu-raguan kepada kaum Muslimin untuk menyerah dan murtad karena terbukti Nabi SAW kepalsuannya menjanjikan kemenangan Islam. Bahkan sebagian dari mereka lari dari Madinah bergabung dengan kaum kafir. (QS Al-Ahzab [33]: 9-27)
Alhamdulillah, Allah SWT tidak menginginkan Islam habis dari muka bumi. Keajaiban alam tiba-tiba terjadi. Angin topan besar dan badai membuat pasukan kafir lari kocar-kacir, dan akhirnya mundur kembali ke daerah mereka masing-masing. Bani Quraidhah yang tadinya mendapat garansi pertahanan dari kafir Quraysh dan sekutu-sekutunya karena mau merusak perjanjian dengan Nabi SAW dengan menyerang dari belakang, kini sadar tidak ada jalan lain kecuali menyerah pada takdir Tuhan atas dosa besar mereka, menikam dari belakang. (Old Testament Deut.20:10-14, Numbers 31:6-12)
Semua pasukan Bani Quraidhah (di satu report 300-400 orang, di lain report 600-700 orang) yang sudah siap dengan segala senjata mereka, setelah dikepung dan perang panah dengan kaum Muslimin selama seminggu lebih di dalam fortress mereka akhirnya menyerah. Bekas sekutu mereka (suku Aus) di Madinah meminta Nabi untuk menunjuk seorang mediator dari pihak mereka untuk menjatuhkan hukuman atas perbuatan pengkhianatan Bani Quraidhah. Semua pihak setuju Saad bin Muadh (pimpinan bani Aus) orangnya, dan Saad memerintahkan hukuman untuk mengeksekusi semua pasukan Bani Quraidhah atas penghianatan mereka dan semua wanita serta anak-anak ditahan. Saad pun akhirnya mati syahid karena luka parah tertembus panah dalam peperangan Al-Ahzab.
Beberapa orang dari pasukan yang akan dieksekusi mendapat amnesti oleh Nabi SAW karena jasa mereka terhadap umat Islam dan permohonan dari beberapa Muslim. Beberapa orang mendapat amnesti tapi menolak dan memilih hukuman mati (seperti dikatakan Karen Armstrong, bahwa mereka memilih menerima hukuman mereka, seperti yang juga dinyatakan dalam kitab suci mereka, Taurat).
Karen Armstrong yang orientalis non-Muslim sendiri memberi penjelasan atas tindakan Nabi SAW pada kejadian atas Bani Qurayzah ini, karena memang situasi saat itu sangat kritis dan menentukan masa depan Islam: "The Muslim ummah [people] had narrowly escaped extermination at the siege and emotions were naturally running high. Qurayzah had nearly destroyed Medina. If Muhammad had let them go they would at once have swelled the Jewish opposition at Khaybar and have organized another offensive against Medina: the next time the Muslims might not be so lucky and the blood struggle for survival would continue indefinitely with more suffering and more deaths. The summary executions would have impressed Muhammad's enemies. Nobody seems to have been shocked by the massacre and the Qurayzah themselves seem to have accepted its inevitability. The execution sent a grim message to the Jews at Khaybar, an the Arab tribes would have noted that Muhammad was not afraid of any friends or allies of Qurayzah avenging their deaths in blood-feud. It was a symbol of the extraordinary power that Muhammad had achieved after the siege, when he had become the leader of the most powerful group in Arabia." (MUHAMMAD: A Western Attempt to Understand Islam, p.208)
Watt, Muir, Margoliouth, Rodinson serta tidak sedikit orientalis lainnya yang non-Muslim pun mengakui hikmah tegasnya hukuman terhadap penghianatan Bani Quraidhah ini. Mereka menilai bahwa hukuman itu bukan disebabkan oleh karena ras ataupun agama mereka, tetapi disebabkan oleh pengkhianatan Bani Quraidhah.
Peperangan Al-Ahzab ini tidak menyebabkan kaum Muslimin anti-Yahudi. Bahkan setelah peperangan, masih terdapat kelompok-kelompok Yahudi yang masih mau tinggal dan merasa aman di Madinah. Setelah Nabi SAW wafat pun kaum Yahudi masih hidup berdampingan dengan kaum Muslimin di Jerusalem, Andalusia, Turki Utsmaniyah. Anti-Semit tidak dikenal di kalangan kaum Muslimin. Islam bukan anti Yahudi, tanpa anti Zionis. (MUHAMMAD: A Western Attempt to Understand Islam; Armstrong)