Mengaitkan pemberian keperluan anak dengan peningkatan perilaku anak

“Ditya....,” panggil teman Ditya dari pagar depan rumah. Yang dipanggil terhenyak kaget dan segera melihat jam dinding. Sudah pukul empat sore rupanya. Pantas Eni sudah datang menjemput. Keduanya berjanji akan bermain bersama. Padahal Ditya belum mandi sore. Bagaimana ibu bisa mengijinkannya pergi jika belum mandi. “Sebentar En..,” jerit Ditya sambil melompat menyambar handuk, melepas pakaian di depan pintu kamar mandi dan segera mandi.

Sepuluh menit kemudian ketika ibu Ditya selesai dari shalat Ashar-nya, dilihatnya Ditya sudah tak ada di rumah. Pakaian kotor Ditya masih terserak di depan kamar mandi, sementara handuknya tersampir di sandaran kursi makan. Tetes air membasahi lantai di sekitar kamar mandi. Ibu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Kebiasaan buruk Ditya terulang lagi. Anak kelas dua SD ini masih malas meletakkan barang-barang pada tempatnya. Apalagi jika sedang tergesa-gesa, atau sedang kelelahan. Sepulang sekolah misalnya, dengan badan yang berpeluh Ditya segera menghempaskan badannya ke kasur, setelah sebelumnya melepas sepatu sembarangan di pintu depan serta meletakkan tas sekolahnya di lantai. Jika tidak segera ditegur ibu, seragam sekolah pun ia lepas sembarangan dan ibu baru menemukannya sore hari di bawah kolong tempat tidur. Akibatnya ketika esoknya hendak berangkat sekolah, sering kali ia kehilangan kaos kaki, kerudung, bahkan buku-buku pelajarannya, gara-gara terlupa belum dibereskan di malam harinya.

Seingat ibu, semenjak ia mulai mendidik anaknya itu agar mau mengurusi barangnya sendiri di awal kelas dua, rupanya usahanya belum membuahkan hasil. Sudah hampir setahun, dan itu membuat ibu begitu gemas. Menyadari ketidakpedulian anaknya terhadap masalah itu memunculkan ide ibu untuk membuat sebuah kontrak.

Di tengah suasana santai menjelang tidur malam, ibu mengutarakan rasa kecewanya tentang perilaku Ditya yang belum banyak berubah tersebut. Padahal jika Ditya bisa mengurusi barang-barangnya sendiri, itu akan sangat membantu meringankan beban ibu. Ditya setuju untuk berusaha memperbaiki kesalahannya. Tapi itu belum cukup, karena janji seperti itu sudah berulang kali ia ucapkan namun belum mampu ia laksanakan.

Maka malam itu ibu menawarkan satu perjanjian, dengan memberikan bintang prestasi kepada Ditya setiap hari jika dalam sehari itu Ditya mau meletakkan sendiri barang-barangnya di tempatnya tanpa diingatkan dua kali. Kelak jika bintangnya telah mencapai 20 buah, ibu akan memberi hadiah buku cerita sebagai tanda keberhasilan usahanya. Untuk itu ibu telah menyediakan satu tabel kosong untuk diiisi dengan bintang dari spidol merah ibu yang ditempel di dinding kamar Ditya. Kelak, ibu sangat bangga terhadap anaknya itu karena telah berubah begitu banyak dalam waktu 2 bulan.

Apakah `Sistem Kontrak' itu? Sistem Kontrak, adalah sebuah istilah untuk satu metode yang dilakukan atas dasar perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak dalam rangka memperbaiki suatu perilaku yang ingin diubah. Kenyataannya, tak pernah ada anak yang selesai bermasalah. Selesai memperbaiki yang satu akan muncul masalah perilaku berikutnya. Sebaik apapun perilaku anak, dalam perkembangannya pasti mengalami tahapan-tahapan sulit pembentukan karakter kepribadian. Sistim kontrak adalah salah satu alternatif yang bisa dikerjakan orang tua dan tidaklah terlalu sulit pula pelaksanaannya. Namun dalam prakteknya diperlukan beberapa syarat agar sistem ini bisa berhasil.

1. Obyeknya spesifik

Jika orang tua ingin anaknya memiliki kebiasan belajar yang baik, jangan hanya menyebutkan materi `rajin belajar setiap hari' yang akan diberi penghargaan. Ini akan mendorong anak untuk mencari-cari kemudahan, seperti menunda-nunda, meringankan pelajaran yang dibaca atau mempersingkat waktu. Lebih baik buat perjanjian spesifik `belajar sekurang-kurangnya satu jam seusai makan malam.' Keterangan spesifik seperti ini akan menghapus perbedaan standar penilaian antara orang tua dan anak. Contoh lain seperti perilaku sikat gigi dua kali sehari, tidur siang, mandi sore sebelum pukul 4, atau bangun Subuh. Namun jangan pula membuat penilaian sekaligus untuk beberapa perilaku karena dikhawatirkan akan membingungkan serta mengurangi konsentrasi anak dalam membentuk kebiasaan baru.

2. Hadiahnya edukatif

Berhati-hati dalam memilih hadiah sangat perlu agar tidak menimbulkan ketagihan. Hindarilah memberi hadiah uang, karena selain benda ini sangat menggiurkan, orang tua pun harus bekerja dua kali untuk membimbing anak agar mampu membelanjakan uangnya dengan baik. Pilihlah hadiah yang bersifat edukatif, sehingga tak jadi persoalan jika anak-anak kemudian ketagihan. Buku cerita, alat-alat sekolah serta perlengkapan hoby anak akan cukup menyenangkan mereka. Pilih barang yang saat itu sedang mereka butuhkan, sehingga anda tak perlu membelikannya lagi. Jika sepatu mereka sudah mulai nampak berlubang, mengapa tidak menjadikanya saja sebagai hadiah akhir bulan? Kalaupun tidak sebagai hadiah toh akhirnya ibu harus membelikannya juga.

3. Diberikan untuk menghargai usaha

Orang tua harus sejak awal dan terus-menerus menanamkan pengertian bahwa hadiah yang diberikan kepada anak bukan semata untuk menghargai prestasi akhir mereka, namun lebih dititikberatkan pada usaha anak untuk mengubah dirinya. Jangan sekali-kali menjanjikan hadiah jika kelak anak berhasil meraih ranking ke-1 di kelasnya. Bukankah ada banyak sekali faktor yang menentukan pemegang ranking 1? Kalau anak sudah berusaha semaksimal mungkin namun ia gagal meraih peringkat tertinggi itu, ia bisa merasa gagal memperebutkan cinta kasih ibu. Lebih baik ibu membuatkan kontrak agar anak `belajar tiga jam sehari selama sepekan sebelum TPB', atau `menyelesaikan pengerjaan 3 buku latihan soal tambahan yang dibelikan ayah paling akhir tiga hari sebelum TPB tiba.'

Jangan pula lupa untuk selalu berkata, “Mama tahu betapa beratnya usahamu untuk menggosok gigi ketika mata sudah mengantuk. Untuk itulah usahamu mama hargai dengan hadiah.” Atau senantiasa mengatakan, “Siapa yang tak suka menonton film di televisi? Kalau kamu berhasil mengurangi jam menontonmu hingga hanya dua jam sehari, itu sungguh usaha berat yang patut diberi penghargaan.”

4. Jaraknya Cukup

Lama tidaknya rentang waktu perjanjian ditentukan oleh berbagai faktor. Pertama, faktor kepercayaan. Anak yang sudah terbiasa dengan sistem ini akan percaya bahwa sistem ini menguntungkannya. Ia pun yakin akan konsistensi orang tuanya dalam memegang janji, sehingga ia relatif mudah menjaga motivasinya untuk menaati perjanjian tersebut. Faktor berikut, berat tidaknya materi perjanjian. Untuk masalah kecil yang cukup dengan pembiasaan sederhana seperti membiasakan mengucap salam, bisa jadi hanya memerlukan waktu satu atau dua pekan. Tetapi untuk membiasakan gosok gigi, shalat maupun mengaji, mungkin perlu waktu sebulan lebih.

Selanjutnya lama tidaknya tenggang waktu kontrak ini akan mempengaruhi besar kecilnya hadiah. Rugi sekali orang tua jika menjanjikan sepeda hanya untuk perjanjian agar anak bisa bangun Subuh selama sepekan. Untuk jarak pendek seperti ini hadiah cukup yang ringan seperti pensil indah, penghapus frutti harum, rautan mobil, atau buku cerita mungil. Tingkatkan kualitas hadiah untuk jarak bulanan, seperti buku cerita yang bagus, sepatu, tas atau mainan.

Jarak yang terlalu lama seperti per akhir cawu atau akhir tahun, hanya akan membuat anak patah semangat karena hadiah terlalu lama diangan-angan. Kecuali jika sembari menunggu akhir masa perjanjian yang setahun itu masih tetap ada hadiah-hadiah kecil di antaranya. Seorang ibu menjanjikan kepada anaknya untuk mengajaknya pergi umrah jika telah berhasil menghafal juz `amma di akhir tahun. Sementara untuk per bulannya ibu menghadiahkan buku cerita atas usaha sang anak yang cukup antusias dalam menghafal.

5. Konsistensi

Jika tak ingin gagal atau bahkan berakibat lebih buruk dari semula, peliharalah konsistensi. Jika belum terbiasa dengan metode kontrak ini, jangan terburu-buru menetapkan jangka waktu perjanjian yang panjang. Menyediakan lembar isian yang ditempel di dinding akan memudahkan ibu dan anak untuk mengingat dan mengisinya setiap hari. Perhitungkan pula jangka waktu kontrak agar tidak melompati satu masa tenggang, seperti pergi berlibur selama sepekan, agar proses pembiasaan tidak terhenti.

Hindari pula untuk mengingkari janji yang telah dibuat masing-masing pihak di awal perjanjian. Jika ada perubahan kondisi sehingga perjanjian kontrak terpaksa dihentikan, diskusikan bersama jalan keluarnya agar masing-masing pihak tak ada yang merasa dirugikan.

6. Teknis Pelaksanaan

Patut diingat bahwa dalam perjanjian sistem kontrak di sini adalah untuk kepentingan bersama, sehingga anak pun harus diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Beri mereka kesempatan untuk turut menyumbangkan saran tentang materi perilaku yang akan diberi penghargaan, rentang waktu penilaian serta bentuk hadiah. Penawaran bisa dilakukan antar orang tua dan anak sebelum perjanjian ini sama-sama disetujui kedua belah pihak secara ikhlas. Jika anak dilibatkan dalam pembuatan perjanjian seperti ini, mereka akan termotivasi untuk menaatinya.

Orang tua bisa memberikan kepercayan untuk mengisi sendiri tabel perjanjian kontraknya setiap hari. Bisa dengan cara menggambarkan sebuah bintang, bulan tersenyum atau tanda ceklis (check list) pada kolom harian. Tentu saja orang tua tetap mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaannya setiap hari. 1