Nifaq ada dua macam. Nifaq amali dan nifaq i'tiqadi (keyakinan). Orang munafiq (i'tiqadi) adalah orang yang menampakkan dirinya sebagai orang beriman, namun sebenarnya memendam kekafiran dan rasa benci terhadap Islam di dalam hati. Orang munafiq itu sangat membahayakan, sehingga aneka sifat buruk dan kecaman Allah atas mereka dituangkan dalam berbagai surat. Bahkan ada surat khusus, Surat Al-Munaafiquun.

Mereka di akherat nanti akan berada di tingkatan paling bawah dalam Neraka, sebagaimana firman Allah, yang artinya:"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (An-Nisaa': 145).

Bencana yang mereka timpakan terhadap kaum Muslimin lebih besar daripada bencana yang ditimpakan oleh orang-orang kafir. Maka Allah berfirman tentang munafiqin, yang artinya:" Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka." (Al-Munaafiquun: 4).

Mereka bergaul bersama di dalam perkampungan, di rumah, pagi dan sore, lalu mereka membocorkan rahasia kepada musuh, mengintai untuk mencari titik kelemahan, tapi kita tidak bisa menghadapi mereka lewat pertempuran frontal. Sementara itu, bergaul dengan mereka hanya akan menimbulkan aib, mencintai mereka akan memancing kemarahan Allah, dan bahkan akan menyeret ke Neraka. (Lihat Muhammad bin Sa'id bin Salim Al-Qahthani, Al-Wala' wal Bara' fil Islam, diterjemahkan menjadi Loyalitas Muslim terhadap Islam-Pemahaman Aqidah Salaf, Ramadhani, Solo, cetakan ketiga, 1994, halaman 144-145).

Bahaya Munafiqin

Tindakan-tindakan munafiqin sebagai musuh terbesar Islam jelas sangat membahayakan. Tindakan munafiqin yang paling berbahaya adalah persekongkolan mereka dengan Yahudi dan Nasrani untuk menyerang Islam. Busuknya tingkah munafiqin ini telah dibongkar langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di beberapa ayat, di antaranya, yang artinya: "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan pula dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui." (Al-Mujadilah: 14).

As-Suddy dan Muqatil berkata: "Ayat ini turun menyangkut diri Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Nabtal, dua orang munafiq. Salah seorang di antara keduanya duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia melaporkan ucapan beliau kepada orang-orang Yahudi. (Al-Wala' , hal 148).

Sifat munafiqin yang paling buruk adalah menolak berhakim kepada syari'at Allah, tetapi berhakim kepada thaghut. (lihat QS An-Nisaa' 60-63, An-Nur: 47-50). Thaghut ialah orang yang selalu memusuhi Nabi dan kaum Muslimin. Juga orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. Dan berhala-berhala pun termasuk thaghut.

Sifat dan sikap munafiqin itu berbalikan dengan sikap orang mukmin: "Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan: "kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An-Nur: 51).

Orang munafiqin itu melemahkan barisan Muslimin dan menjadi mata-mata kafirin. Allah berfirman, yang artinya: "Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut berperang: "Sekiranya mereka mau mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar." (Ali Imran: 168).

Terjadi kegoncangan yang mengangetkan dalam barisan kaum Muslimin ketika Perang Uhud (3 H), karena sepertiga (300 orang) menarik diri dari jumlah pasukan Muslimin 1000 orang. Pasukan yang menarik diri (300 orang) ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Padahal jumlah musuh , kafirin Quraisy 3.000 orang dipimpin jago perang Khalid bin Walid yang masih kafir. Begitu pula penolakan munafiqin untuk bergabung dalam perang Tabuk (9H, perang besar antara Muslimin pimpinan Rasulullah 30.000 orang melawan Nasrani Rumawi) serta keengganan-keengganan lainnya. Allah menjelaskan tentang wala' (loyalitas) mereka terhadap orang -orang kafir, yang artinya:"Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan milik Allah." (An-Nisaa': 138-139).

Beda Jauh Antara Mukminin dan Munafiqin

Dalam perang Ahzab atau perang Khandaq (5H, persekutuan kabilah-kabilah Arab kafir dan Yahudi mengepung dan memerangi Muslimin Madinah) tampak nyata perbedaan sikap antara Mukminin dan Munafiqin. Orang Mukminin berkata sebagaimana dikisah-kan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang artinya: "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya (yaitu kemenangan sesudah mengalami kesukaran) kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan." (Al-Ahzaab: 22).

Adapun orang munafiqin keadaan mereka dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang artinya: "Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya". (Al-Ahzaab: 12).

Sikap beda jauh itu juga terkuak dalam perang Tabuk (9H perang besar antara Muslimin pimpinan Rasulullah 30.000 orang melawan Nasrani Rumawi). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang ahli munafiq, yang artinya: "Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) ini merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." (At-Taubah: 81).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang yang beriman, artinya:"...mereka berjihad dengan harta dan diri mereka." (At-Taubah: 88). Al-Quran membongkar keburukan munafiqin Allah Subhanahu wa Ta'ala membongkar keburukan munafiqin, bahkan surat At-Taubah disebut Surat Al-Fadhihah (membongkar keburukan) atas munafiqin. Keburukan munafiqin di antaranya;

  1. Tidak ikut berjihad, mereka lebih mementingkan dunia (lihat At-Taubah: 86-87).

  2. Mengadu domba, marah, dan memfitnah (lihat At-Taubah: 47-48).

  3. Mencela sistem Rasulullah dalam pembagian harta, mereka rela dan marah tergantung kepentingan dunia mereka. (lihat At-Taubah: 58).

  4. Menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasalam (lihat At-Taubah: 61).

  5. Minta maaf atau keridhaan Rasulullah dengan sumpah palsu (lihat At-Taubah: 62).

  6. Memerintahkan kemunkaran dan mencegah kebaikan, serta pelit berinfaq di jalan Allah. (lihat At-Taubah: 67).

  7. Mengingkari janji (lihat At-Taubah: 75-77).

  8. Mencela dan mencibir Mukminin dalam segala hal (lihat At-Taubah: 79).

  9. Memandang berinfaq itu suatu bentuk yang merugikan, dan mereka menunggu-nunggu datangnya marabahaya atas mukminin. (lihat At-Taubah: 98).

  10. Datangnya Al-Quran hanya menambah kekafiran mereka. (lihat At-Taubah: 124-125).

  11. Berpaling dan lari dari kebenaran. (lihat At-Taubah: 127).

Metode Menghadapi Munafiqin

Allah memerintahkan jihad dan bersikap keras terhadap mereka. "Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah: 73).

Allah memerintahkan tidak bersikap lembut terhadap munafiqin bahkan memerintahkan berjihad melawan mereka dan bersikap keras atas mereka. Sementara itu Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan bersikap lunak dan hormat terhadap mukminin.Sungguh Allah telah berfirman, yang artinya: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (Asy-Syu'araa': 215).

Tidak memintakan ampun kepada munafiqin. Karena mereka tidak berhak dimintakan ampun. (lihat At-Taubah: 80, Al-Munaafiquun: 6).

Sementara itu Allah memerintahkan Nabi shallallahu alaihi wasalam (dan mukminin) untuk memintakan ampun orang mukminin yang benar. (lihat QS Muhammad:19, dan Al-Mumtahanah: 12).

Allah melarang Nabi shallallahu alaihi wasalam (dan Mukminin) menshalati jenazah munafiq, dan melarang berdiri (mendo'akan) di kuburnya (lihat at-Taubah: 84).

Allah melarang Nabi shallallahu alaihi wasalam (dan mukminin) bergabung dengan munafiqin dalam berperang dan melarang membolehkan mereka ikut berperang. (lihat At-Taubah: 82)

Manhaj Islam adalah mengobarkan semangat jihad kepada mukminin secara umum. Allah berfirman, yang artinya: "Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksa(Nya). (An-Nisaa': 84).

Perbedaan tegas antara manhaj terhadap mukminin dan manhaj terhadap munafiqin itu karena sifat-sifat dan sikap antara keduanya jelas jauh berbeda. Maka Islam tegas-tegas membedaka-nnya dalam menyikapi yang mukmin di satu pihak dan yang munafq di pihak lain. Tidak boleh dicampur aduk .

Rujukan :

  1. Muhammad bin Sa'id bin Salim Al-Qahthany, Al-Wala' wal Bara' fil Islam min Mafahim 'Aqidah As-Salaf.

  2. Muhammad Shalah Muhammad As-Shawi , Manzilatus Shahabah fil Quran, Daru Thibah, Riyadh.

  3. Ustadz Umar Abdul Jabbar, Khulashah Nurul Yaqin, juz 2.

1