Sore ini Rizal nampak suntuk sekali. Rapat pimpinan siang tadi benar-benar terasa menghakimi dirinya. Ia tak menyangka bahwa kelalaian kecilnya menimbulkan akibat cukup besar sehingga perlu dibahas dalam rapat tersebut. Tiga jam disidang di ruang rapat, ditambah dua jam kemacetan di jalan, tentu saja tak bisa pupus begitu saja ketika sampai di rumah.

Seperti biasanya, begitu terdengar deru mobil memasuki halaman, kedua balita di rumah Rizal akan segera berhambur ke luar menyambut kedatangan ayahnya. Namun kali ini bukan tawa riang yang keluar dari bibir mereka, namun justru pertengkaran mulut hebat yang berakhir dengan saling pukul. Fitri yang merasa lebih dulu sampai di pintu marah ketika Firman, adiknya, tiba-tiba menyerobot handel pintu dari tangannya, membuka pintu dan melesat keluar lebih dulu sambil berteriak penuh kemenangan.

Keributan kecil itu membuat kemarahan Rizal meledak. “Hei, diam... diam... Apa-apaan ini. Tidak tahu kalau papa lagi capai? Sana... sana pergi!” Sembari berteriak ia mendorong keduanya agar minggir dari depannya. Kemarahan ayah ini ternyata manjur menghentikan pertengkaran Fitri dan Firman. Pasalnya, keduanya menjadi sangat ketakutan. Tidak biasanya ayahnya marah besar seperti ini di saat pulang kerja.

Tak seperti biasanya pula, tanpa menyapa istrinya Rizal langsung masuk kamar dan merebahkan badannya di kasur. Dari balik guling yang ia peluk dapat ia dengarkan tangis sesenggukan kedua anaknya yang sedang berusaha ditenangkan istrinya. Perlahan hati Rizal pun menjadi iba. “Ya, kenapa aku harus memarahi mereka? Pertengkaran mereka suatu hal yang sudah biasa terjadi. Dan tadi pun mereka bertengkar gara-gara berlomba menyambutku. Ah, betapa sayangnya mereka padaku.”

Kaum ayah, pernahkah Anda merasa sangat terganggu oleh anak-anak di sela kesibukan-kesibukan Anda di rumah? Tentu pernah, atau mungkin juga sering. Bagi yang memiliki anak balita gampang melihat, batas antara tawa dan tangis sangat tipis sekali, sehingga tawa mereka bisa berubah menjadi tangis hanya dalam hitungan detik. Begitu juga sebaliknya.

Dalam kondisi pikiran sedang terbebani banyak hal, ada kalanya ayah ingin sendiri, berdiam diri, tidak diganggu. Sayangnya, anak-anak terkadang tak mau tahu kondisi ayahnya, sehingga tetap membuat ulah mencari perhatian seperti biasanya. Akibatnya, kemarahan ayah harus diterima oleh anak-anak tak bersalah ini. Kasihan anak-anak, karena kemarahan besar ayah ini belum tentu bisa segera hilang dalam sehari. Apalagi jika dimasukkan hati, bisa menjadi tak terlupakan! Bagaimana bisa kita mencegahnya?

1. Katakan sejujurnya
Tidak seperti wanita, laki-laki kurang mampu merekayasa tampilnya emosi keceriaan di balik kegundahan hatinya. Kalau laki-laki sedang dirundung permasalahan, yang mereka inginkan hanya diam dan menarik diri. Berpura-pura untuk tetap sedikit senyum, berbasa-basi, tidak akan mereka kerjakan. Seperti Rizal, mereka akan memilih untuk berpura-pura tidur, atau pura-pura asyik dengan koran serta buku-bukunya.

Sampai di sini, jangan terlalu merasa bersalah, karena sesuai fitrah memang seperti itulah mereka menyalurkan tekanan dalam pikirannya. John Gray, Ph D dalam bukunya, `Men Are From Mars, Women Are From Venus' mengistilahkannya dengan `masuk ke gua'. Para suami menjadi ingin berdiam diri dan mengasingkan diri dari lingkungannya. Kelak jika hatinya telah tenang ia akan keluar dari `guanya' itu.

Karena proses ini normal dan merupakan satu fase perilaku fitrah, maka sudah selayaknya jika lingkungan terdekatnya memberi dukungan. Memberi kesempatan barang sebentar bagi laki-laki untuk `bergua' dan tidak mengganggunya. Namun, bagaimana bisa mereka memberi dukungan jika mereka tak tahu persoalannya? Itulah pentingnya suami mengkomunikasikan kepada istri tentang kondisi hatinya yang sedang mengalami tekanan.

2. Mintalah waktu untuk menenangkan diri
Tak perlu menerangkan semua tekanan yang Anda alami kepada istri pada saat tersebut. Selain waktunya tidak tepat, butuh waktu lama dan ketenangan pikiran. Informasi sepotong-sepotong yang diterima istri bisa menimbulkan respons yang kurang mendukung. Sering terjadi, istri turut membenci orang yang dibenci suami. Bahkan ketika suami sudah menyelesaikan permasalahannya dengan orang itu dan telah memupus kebenciannya, istri masih amat sulit untuk mengubah kebenciannya, bahkan mungkin dibawa sampai mati. Model seperti ini memang karakter khas wanita.

Di saat suami tertekan dan ingin mengasingkan diri, katakan saja keinginan tersebut secara jujur. Berceritalah kelak jika hati telah tenang, sehingga Anda bisa memilih kalimat-kalimat bijak, tanpa menyeret istri Anda turut terseret arus permasalahan secara emosional. Sekali dua kali, permintaan suami tanpa penjelasan lebih lanjut mungkin membuat istri kesal, atau bahkan marah. Tetapi tidak untuk kejadian-kejadian serupa berikutnya, karena mereka akan mulai memahaminya.

Berterus-teranglah jika Anda tak ingin diganggu untuk sementara, terutama dari keributan yang biasa ditimbulkan balita. Namun tentu saja sebelum meminta hal ini Anda perlu kerjakan juga poin-poin berikut.

3. Pahami dunia anak
Semua yang baik bisa tiba-tiba menjadi buruk jika suasana hati sedang tak enak. Kalaulah dalam kehidupan sehari-hari Rizal tergolong ayah yang dekat dengan anak-anaknya, suka bercanda dan bermain-main bersama, namun ia bisa menjadi sangat kasar ketika hatinya sedang galau. Beruntung, naluri kebapakannya masih peka dan perasaannya pun tersentuh ketika didengarnya tangis anak-anak di pelukan ibunya karena ketakutan terhadap bentakannya.

Rizal pun segera sadar bahwa anak-anak itu tak bersalah. Bukankah mereka berlomba untuk lebih dulu menyambut kedatangan ayahnya? Bukankah itu pertanda mereka mencintainya? Perkara kemudian mereka bertengkar, bukankah itu sudah biasa juga? Kesadaran seperti itu memudahkan Rizal untuk kemudian keluar dari kamar menemui kedua balitanya itu. Diusapnya kepala keduanya sembari mengatakan, “Ayah sedang banyak tugas dari kantor. Firman dan Fitri main sama ibu dulu, ya? Kalau tugas ayah sudah selesai, kita menggambar sama-sama lagi.”

Ayah yang dalam kehidupan sehari-hari tidak dekat dengan anak-anaknya, jarang berinteraksi maupun berkomunikasi dengan mereka, mungkin mengalami banyak kesulitan untuk memahami dunia anak. Para ayah seperti ini relatif lebih banyak mengecewakan anak-anak mereka, baik di dalam saat-saat tanpa masalah, dan terlebih lagi jika mereka sedang memiliki masalah.

4. Anak, penyejuk pandangan mata
Ada ayah yang merasa anak-anaknya sangat menyenangkan. Hatinya akan tenang bila berada bersama mereka, juga bila menatap wajah mereka. Kerewelan dan keributan yang diciptakan makhluk-makhluk mungil itu akan dapat ditanganinya dengan baik. Namun ada pula yang menganggap anak-anak adalah pengganggu nomor satu. Bagi mereka ini, rumah menjadi sarang keributan yang menjengkelkan hatinya. Mungkin ia tetap membelikan kebutuhan anak-anaknya, menyekolahkan dan mengajak anak rekreasi, semata karena kewajiban. Karena menganggap anak sebagai pengganggu, maka ia memilih berada di dekat anak ketika mereka sedang nampak manis saja, dan akan menyerahkan mereka kepada ibunya jika telah mulai bertingkah.

Na'udzu billah, semoga tak ada di antara kita yang memiliki pandangan seperti ayah kedua ini. Jika masih ada, harus segera dibuang pendapat ini. Tentang hal ini Allah telah berfirman dalam al-Qur'an surat 18 ayat 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia...” Apakah ada fungsi perhiasan lain selain untuk keindahan, untuk dinikmati dan untuk kebahagiaan? Namun nyatanya ada pula perhiasan yang membuat kulit terluka, itu karena si pemilik yang tak dapat merawatnya atau kurang sempurna dalam menentukan kreasi modelnya.

Dalam surat 25 ayat 74 Allah Swt pun telah menyebutkan peran anak sebagai `penyejuk pandangan mata' bagi orang tuanya. Sayangnya, tak semua orang tua mampu menikmati kesejukan ini. Itu sebabnya orang tua senantiasa dianjurkan untuk berdoa, Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a'yunin waj'alnaa lil-muttaqiina imaaman. (Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.)

5. Puaskan dulu kebutuhan anak
Tips terakhir untuk `mengasingkan diri' dari dunia anak-anak tanpa mengecewakan mereka adalah dengan cara memenuhi kebutuhan mereka terlebih dahulu. Ya, kebutuhan mereka yang utama adalah perhatian dari ayahnya. Itu sebabnya Firman dan Fitri saling berlomba lebih dulu menyambut ayah tercinta.

Namun tentu saja dalam kondisi kalut ayah tak bisa memberikan perhatian kepada anak-anak itu, dalam bentuk senyum serta canda tawa. Tetapi, bukankah ayah bisa memberikan perhatian dalam bentuk yang lain? Membawakan mereka oleh-oleh sebungkus martabak atau bakso kesukaan mereka, misalnya. Atau sekadar permen yang ayah beli saat berhenti membeli bensin di pom. Hadiah-hadiah kecil seperti itu sudah cukup untuk sementara bagi aank-anak. Jika kebutuhan mereka telah terpenuhi, mereka akan lebih mudah untuk mengerti pula kebutuhan ayahnya, bukan?

http://www.hidayatullah.com/2000/06/usrah.htm 1