Tulisan ini adalah cuplikan dari pidato Hasan Al Banna dalam Muktamar Ikhwanul Muslimin ke lima.

Hasil dari pemahaman yang syamil tentang Islam, membuat lingkup fikroh mereka mencakup seluruh segi segi islah yang dibutuhkan ummat. Hal ini mencakup seluruh fikroh Islamiyyah lainnya. Dengan demikian manusia akan melakukan kebaikan secara ikhlas dan bersemangat. Mereka akan menemukan apa yang mereka inginkan dalam fikroh Ikhwanul Muslimin.

Dalam fikroh inilah bertemu segala cita-cita para pencinta kebaikan, di mana mereka dapat mengetahui kebaika.n itu dan memahami pula sasarannya. Dan tanpa ragu-ragu saudara dapat mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah:

1. Da'wah Salafiah:
Karena mereka menda'wahkan agar Islam dikembalikan kepada sumbernya yang suci yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

2. Tariqat Sunniah:
Karena mereka mewajibkan menjalankan sunnah Rasulullah saw yang suci dalam semua hal, terutama dalam bidang aqidah dan ibadah, selama mereka mampu melakukannya.

3. Hakikat Sufiah:
Karena mereka memahami, bahwa azas kebaikan adalah kebersihan jiwa, kesucian hati, kontinyu dalam beramal, menjauhi keduniaan, kasih sayang karena Allah dan selalu terikat dengan kebaikan.

4. Haiah Siasiah (Lembaga Politik):
Karena mereka menuntut agar dilakukan perbaikan terhadap hukum pemerintahan dalam negeri. Sedangkan mengenai hubungan luar negeri, mereka menuntut agar pemerintah merubah pandangannya terhadap masalah hubungan kaum muslimin dengan ummat Islam lainnya. Mereka juga menuntut agar bangsa muslim dididik dengan penuh 'izzah(kebanggaan) dan kemuliaan diri dan sedapat mungkin memperhatikan golongan ummat Islam.

5. Jama'ah Riyadhiah (Kumpulan Olah raga):
Karena mereka sangat memperhatikan keadaan jasmani mereka. Mereka memahami bahwa mu'min yang kuat itu lebih baik dari mu'min yang lemah. Mereka mengetahui bahwa Rasulullah saw telah bersabda: 'Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu'.

Mereka juga mengetahui bahwa semua beban Islam tidak akan dapat dilaksanakan dengan sempurna dan benar kecuali dengan tubuh yang kuat. Sholat, puasa, haji dan zakat membutuhkan raga yang mampu menahan lelah. Demikian pula halnya dengan berusaha dan berjuang mencari rezki. Dengan alasan inilah, mereka sangat memperhatikan fisiknya dan grup olah raga, seperti klub-klub yang khusus hanya bermain. Bahkan bisa jadi mereka mampu mengalahkan klub-klub tersebut.

6. Rabithah Ilmiyah Tsaqafiyah (Ikatan ilmiyyah):
Karena Islam telah memerintahkan , bahwa menuntut ilmu wajib atas setiap muslün dan muslimah. Dan pada hakikatnya kelompok-kelompok Ikhwanul Muslünin merupakan sekolah-sekolah yang bertujuan belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Disamping itu, juga sebagai akademi-akademi pendidikan jasmani, akal dan ruh.

7. Syirkah Iqtishadiyah (Usaha-Usaha Ekonomi):
Sebab Islam memperhatikan hal pemerolehan harta dan pendistribusiannya. Seperti yang dinyatakan Rasulullah saw : "Harta yang paling nikmat adalah harta yang baik yang dipegang oleh seorang yang shalih'. Selanjutnya beliau bersabda: 'Barang siapa yang hidup sampai petang bekerja dengan tangannya, dia akan berada dalam keampunan". Sabdanya lagi: 'Sesungguhnya Allah mengasihi Mu'min yang punya pekerjaan".

8. Fikroh Kemasyarakatan:
Karena mereka memperhatikan penyakit-penyakit masyarakat Islam, dan berusaha mencari jalan penyembuhan ummat dari penyakit tersebut.

Demikianlah dapat kita saksilan, bahwa integralitas pemahaman terhadap Islam telah memberikan kepada fikroh kita kesyumulan yang mencakup seluruh aspek aspek islah dan mengarahkan kegiatan lkhwanul Muslimin keseluruh aspek-aspek ini. Pada saat orang lain memfokuskan kegiatan mereka hanya kepada satu aspek kebaikan saja, maka Ikhwanul Muslimin menekankannya pada seluruh aspek kebaikan. Dan Islam memang memerintahkan demikian. Berangkat dari keadaan inilah, kemudian banyak orang melihat kerja Ikhwanul Muslimin bertentangan antara satu dengan lainnya. Padahal pertentangan itu sebenarnya tidak ada.

Mungkin suatu ketika orang akan melihat seorang al-akh muslim berada di mihrab dalam keadaan khusyu' beribadah, menangis dan merendahkan diri kepada Allah SWT. Namun tak lama kemudian al-akh ini terlihat pula memberikan nasihat dalam bentuk ceramah agama, jadi seorang ustadz yang menyentuh hati dengan berbagai perintah serta nasihat.

Di lain waktu anda lihat dia sebagai pemain yang andal, jago tendang bola, berlatih menghadapi musuh dan berenang. Di lain kesempatan, dia sedang berada di toko atau tempat ia bekerja. Dia jalankan usahanya dengan penuh amanah dan ikhlas.

Inilah bentuk lahiriah yang kadangkala dipandang orang sebagai sesuatu hal yang bertentangan tanpa ada titik temu satu sama lainnya.

Seandainya mereka mengetahui bahwa semua masalah itu ada didalam Islam, dan Islam justru menyuruh melakukannya, tentu mereka akan mendapatkan bukti, bahwa ada titik temu dan keselarasan antara masalah tersebut.

Disamping kesyumulan ini, Ikhwanul Muslimin menghindarkan diri dari semua hal yang mengundang pertentangan pendapat dan fitnah. Mereka juga menghindarkan sifat ta'assub (rasa ingin dihormati) terhadap gelar-gelar. Karena Islam telah mengumpulkan mereka ke dalam satu , yaitu Ikhwanul Muslimin. 1