Namaku Pepen. Aku orang baik. Dulu, aku pernah bekerja sebagai sopir taksi. Karena "kebaikanku", aku sering memberi tumpangan gratis bagi orang-orang yang memang tidak mampu membayar ongkos taksiku. Tentu saja kemudian aku dipecat.

Lalu aku beralih pekerjaan menjadi satpam pada sebuah bank. Pekerjaan baruku itu kujalani cukup baik, sampai suatu ketika datang beberapa orang bersenjata yang mencoba merampok bank itu! Sebagai satpam, aku berusaha menggagalkan aksi perampokan itu. Tapi sial bagiku, mereka malah melukaiku dengan senjata tajam.

Para perampok itu berhasil kabur dengan membawa hasil rampokan dan aku, yang terluka karena berusaha menjalankan tugas dengan baik, justru dutuduh terlibat dalam aksi perampokan itu! Akibatnya selama lima tahun penuh aku terpaksa mendekam di balik jeruji besi penjara.

Kini, aku sudah bebas. Tapi sulit bagiku mendapatkan pekerjaan baru karena bekas luka mengerikan yang membekas di wajahku. Bekas luka yang kuperoleh sewaktu berusaha menggagalkan aksi perampokan dulu. Namun aku tidak putus asa.

Aku tetap berusaha mencari pekerjaan yang halal entahlah, namun tampaknya uang haram jauh lebih mudah diperoleh pada jaman sekarang. Apalagi ada Joni Kerempeng yang sangat gencar membujukku untuk mau jadi "asistennya" dalam "bekerja". Joni, preman yang dulu sering mencegat taksiku dan meminta upah untuk "pelayanan keamanan", kini malah jadi temanku.

Namaku Pepen. Aku orang baik. Sungguh! Tapi, bekas luka mengerikan di wajahku membuat penampilanku jadi seperti orang jahat. Apalagi aku seorang mantan narapidana tersangka perampokan sebuah bank. Predikat itulah yang kusandang kini, sehingga menyebabkan aku sulit mencari penghidupan sebagai orang baik-baik.

Entah setan mana yang merasukiku, ataukah aku sendiri yang sudah berubah jadi setan, akhirnya tawaran Joni Kerempeng untuk bekerja sama dengannya kuterima juga. Aku sendiri pada mulanya tidak mengerti mengapa aku mau menerima pekerjaan ini. Tahu-tahu aku sudah duduk di balik kemudi dalam sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari pekarangan sebuah SMU. Kami sedang menunggu, tepatnya menjemput seseorang dari SMU itu.

Bukan, aku bukannya sedang bekerja sebagai supir pribadi sebuah keluarga. Aku sedang...ah, aku pun bingung menjelaskannya. Yang jelas aku tidak akan menerima pekerjaan ini kalau bukan karena bujukannya si Joni Kerempeng. Aku duduk dengan gelisah. Sudah pukul tiga belas lebih tiga puluh lima menit, berarti tinggal sepuluh menit lagi sebelum waktu pulang. Kubayangkan sebentar lagi pekarangan itu tentu akan penuh dengan sosok berseragam putih abu-abu yang berebut keluar dari kelasnya masing-masing. Kurasakan sepasang kaki menyentuh pundakku.

"Dia pulangnya lebih telat lima belas menit daripada kawan-kawannya yang lain," gumam Joni Kerempeng yang duduk sambil berselonjor kaki di jok belakang.

"Selalu begitu. Entah ngapain sebelum pulang."

Lima belas menit lagi? Aku merasa sedikit tenang. Berarti masih banyak waktu. Terus terang aku merasa was-was. Bagaimana kalau rencana kami tidak berhasil? Bagaimana kalau ada saksi mata yang melihat, lantas menghubungi polisi, lantas kami dikejar-kejar segerombolan mobil polisi yang sedang patroli dengan sirene yang meraung-raung, lantas...

Klonteng klonteng klonteng!!! Aku terlonjak! Kaki Joni yang disampirkan di bahuku ikut tersentak ke belakang.

Ternyata yang kudengar barusan suara lonceng sekolah. Pekarangan tiba-tiba saja ramai karena tiba waktu pulang. Suara canda tawa mengiringi kerumunan para ABG SMU itu. Hanya sekejap, karena setelah itu suasana kembali sepi. Beberapa mobil yang tadinya ikut parkir di dekat kami pun kini sudah tidak ada lagi.

Siang ini terasa begitu sunyi. Sunyi. Sunyi...

"Itu dia!" seru Joni tiba-tiba, membuat aku terlonjak kaget untuk yang kedua kalinya. Kuperhatikan seseorang melewati gerbang sekolah. Ya, itu dia.

Seorang gadis berseragam SMU, dan berjilbab. Gaya berjalannya sedikit menunduk.

Pelan kujalankan mobil mendekat ke arahnya.

"Maaf, Dik," sapa Joni yang keluar dari mobil dengan gaya sopan.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya gadis itu ramah.

"Ya, Dik. Kami mencari Jalan Arwana. Bisa tolong tunjukkan di mana letaknya?"

"Oh, Jalan Arwana, Pak. Bapak terus saja sampai ke perempatan itu," gadis itu mengisyaratkan dengan tangannya sambil menatap ke arah yang dimaksud.

Secepat kilat Joni mengeluarkan sapu tangan yang telah diberi obat bius.

"Terus belok kanan, lalu...uuuppp," gadis itu langsung tidak sadarkan diri begitu mencium aroma obat bius yang dibekapkan di mulutnya. Joni bergegas membopong tubuh lunglai itu ke dalam mobil.

"Cepat, Pen!"

Aku panik! Hampir saja aku menginjak rem. Begitu kakiku menginjak gas, hampir saja mobil kunaikkan ke atas trotoar. Untunglah aku cepat menguasai diri.

Tapi tak urung dadaku berdebar kencang, apalagi saat kusadari beberapa pasang mata menyaksikan kejadian tadi. Dalam sekejap kami pun berlalu meninggalkan tempat itu, meninggalkan debu-debu yang berterbangan di atas aspal.

***

Namaku Pepen. Dulu aku pernah jadi orang baik. Sumpah! Tapi kini aku sendiri ragu apakah aku masih pantas menyandang predikat itu. Tanganku sudah kotor, aku sudah melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Tapi...benarkah? Bujukan Joni kembali terngiang di kepalaku.

"Jangan sok idealis kamu, Pen! Orang idealis tidak bisa lagi hidup jaman sekarang. Memangnya kamu pikir, kalau kamu jujur, berlaku baik, orang akan simpati sama kamu? Buktinya sampai sekarang kamu masih saja jadi pengangguran!"

Joni mengibas-ngibaskan surat kabar yang sedang dibacanya.

"Yang kaya makin kaya teruss....yang miskin juga tambah sengsara," omelnya ketus.

"Nih, lihat nih, Pen!" tangannya menunjuk foto seseorang di surat kabar itu.

"Pak Kiai ini, rumahnya dekat dengan rumahku. Orang top dia itu...ceramahnya sering di televisi. Kalau ngasih ceramah sepertinya yang paling dermawan sedunia. Tentang sedekah-lah, hidup sederhana-lah, padahal kenyataannya? Huhhh!!"

Joni mencibirkan bibirnya.

"Mesti dikasih pelajaran dia," ujar Joni sambil menatap langit-langit. Lama. Lalu mulailah ide itu berkembang di benaknya.

"Hahhh??" reaksiku saat Joni membeberkan rencananya.

"Aku nggak mau! Itu dosa!" tantangku keras.

"Dosa? Ah, kurasa tidak...Kita kan cuma menuntut apa yang jadi hak kita. Toh, dalam harta milik si kaya tersimpan hak si papa, iya kan? Itu kata-kata Pak Kiai sendiri, kok. Bukan aku. Nanti, kalau hak kita sudah diberi, kita lepaskan juga anaknya. Aku yakin Pak Kiai tidak akan keberatan. Justru dia harusnya berterima kasih karena kita membantunya menyadari kewajibannya," papar Joni sok bijaksana.

Aku manggut-manggut. Ya...mungkin benar juga, pikirku. Jadilah rencana itu kami laksanakan. Tapi kini, aku mulai dihantui perasaan bersalah. Joni sama sekali tidak bilang kalau anak gadis Pak Kiai itu pakai jilbab. Dia pasti Muslimah yang baik.

Kasihan dia, tidak adil rasanya kalau gara-gara kami ingin "menyadarkan" bapaknya, justru dia yang jadi korban. Bukankah masih ada cara lain kalau cuma sekedar ingin "mengingatkan" Pak Kiai? Mengapa baru terpikirkan hal itu olehku sekarang? Tapi...aaahhh, aku mendesah. Sudah telanjur. Sudahlah. Aku menoleh ke sudut ruangan. Gadis yang kami culik tadi siang masih belum sadarkan diri di atas sofa lapuk yang lapisannya mulai terkelupas di sana-sini. Dia tampaknya begitu letih. Kasihan dia. Aku menghembuskan napas panjang. Perasaanku mulai tidak enak lagi. Mengapa Joni belum juga kembali? Tadi Si Kerempeng itu pergi keluar untuk mencari makanan, katanya cuma sebentar. Tapi hampir satu jam aku menunggu batang hidungnya saja pun belum juga kelihatan.

"Hhhh...Ya Rabbi, pusingnya..."

Aku terlonjak kaget! Sosok di atas sofa itu mulai bergerak. Ternyata bukan aku sendiri yang kaget, terbukti sewaktu melihatku dengan refleks dia merapatkan tubuhnya ke pinggir sofa.

"Masya Allah, innalillahi... Di...di mana saya?" tanyanya sambil mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan.

"Ten-ten...Tenang! Jangan takut, ka-kami tidak akan menyakitimu," ujarku terbata-bata. Tapi dia justru makin merapat ke pinggir sofa.

"Per-cayalah! Kamu tidak akan kami apa-apakan. Say...saya orang baik. Sumpah!"

Aku merasa lebih tenang setelah mengucapkan kata-kata barusan. Entahlah, apakah dia percaya atau tidak. Yang jelas gerakannya merapat ke pinggir sofa jadi terhenti. Kurasa sebaiknya aku berdiri agak menjauh, supaya dia tahu kalau ucapanku tadi sungguh-sungguh.

"Mmmm... Sudah pukul berapa sekarang?" tanyanya sambil memegangi kepalanya. Mungkin dia masih agak pusing, batinku.

"Eh... pukul lima lebih sedikit," ujarku buru-buru setelah melirik sekilas arloji butut di pergelangan tanganku.

"Saya...belum salat Ashar. Di mana kamar mandi?"

Buru-buru aku menunjukkan letak kamar mandi. Cukup lama juga gadis itu menunaikan salat. Aku memandang sekeliling. Bangunan tempat kami berada ini letaknya agak di pinggiran kota, jauh dari keramaian. Jendela-jendelanya terpasang cukup tinggi dari permukaan tanah dan terkunci rapat. Tidak mungkin gadis itu dapat memanjat keluar dari jendela. Pintu-pintu juga terkunci, dan kuncinya sudah tersimpan aman di saku celanaku. Tidak ada jalan lain buat melarikan diri...Hmmm, bagaimana kalau aku juga salat? Mumpung waktu Ashar belum habis. Perasaanku terasa lebih nyaman usai mengucapkan salam.

"Saya senang melihat Bapak salat."

Aku kaget! Ternyata gadis itu yang mengucapkannya. Kali ini dia sudah duduk kembali di atas sofa, masih mengenakan mukena.

"Saya yakin Bapak tidak akan mengapa-apakan saya. Karena Bapak salat, Bapak masih ingat kepada Allah yang mengawasi semua tingkah laku Bapak."

Aku garuk-garuk kepala, padahal kepalaku sama sekali tidak gatal. Yah, mungkin aku sudah membuat bingung gadis ini, penculik kok salat. Tapi...ah, sudahlah. Bukankah biar begini-begini aku juga masih percaya pada Tuhan? Aku juga masih punya iman! Tapi perbuatanku saat ini...aaahhh! Aku pusing. Perlahan kulihat gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mungkin buku pelajaran. Sambil menunduk ia mulai membaca...Al-Quran! Ternyata gadis itu membaca Al-Quran. Perasaanku makin tertohok. Aku seperti terhempas ke dasar jurang yang paling dalam. Ya Tuhan... berdosanya aku. Aku sudah merampas kebebasan gadis baik-baik ini. Semua ini gara-gara si Joni Kerempeng! Coba kalau dia tidak membujukku, tentu aku tidak akan melakukan perbuatan terkutuk ini. Hhh...tunggu sampai nanti dia kembali, pasti akan ku... akan ku...

Kreettt...Bunyi pintu dibuka. Joni Kerempeng! Cuma dia yang punya kunci cadangan pintu depan, selain yang ada di saku celanaku. Dengan sempoyongan Joni masuk ke dalam rumah.

"Hik, udah bangun rupanya...Hik!"

Bau alkohol menyebar dari mulutnya. Dengan sempoyongan juga Joni menyambar gagang telepon yang letaknya agak tersembunyi di balik sofa. Sepertinya dia sudah hafal benar dengan nomor-nomor yang ditekannya.

"Halo? Hik! Rumahnya Pak Kiai Ahmad? Hik! Iya...saya mau bicara dengan Bapak Kiai!"

Hening sebentar. Sepertinya Joni sedang menunggu seseorang di seberang sana.

"Halo? Hik...Bapak Kiai? Hik! Bapak tidak kenal dengan saya! Tapi..hik, anak Bapak ada pada saya!"

Dengan kasar Joni menarik gadis itu. Al-Quran yang di pangkuannya terjatuh. Buru-buru aku memungut kitab suci itu dari lantai.

"Nih! Ngomong sama Bapakmu...Hik! Tapi jangan lama-lama! Bilang kalo kamu masih selamat!"

"Ayah?"

Joni mendorong gadis itu kembali ke atas sofa.

"Gimana? Hik! Udah dengar sendiri? Hik...! Kalau mau anak Bapak selamat, cepat siapkan uang lima puluh juta! Li-ma-pu-luh-ju-ta! Awas, jangan lapor polisi...Nanti saya telepon lagi, hik!"

Klik! Joni menutup gagang telepon. Aku menatapnya ngeri. Tampang Joni benar-benar berantakan saat itu. Rambut gondrongnya awut-awutan. matanya merah, dan bau alkohol yang keluar dari mulutnya begitu menyengat. Jalannya sempoyongan karena tidak bisa berdiri tegak.

"Hik! Tadi...aku beli makanan! Mungkin kamu lapar!" Joni melemparkan bungkusuan di tangannya ke arahku.

"Aku...mandi dulu! Awas kalau kamu berani lari, hik!" ancamnya sambil menatap gadis itu.

Aku memeriksa isi bungkusan yang dibawa Joni. Hmm... lumayan juga, roti sama tahu goreng! Tapi...selera makanku sepertinya sudah menguap entah ke mana!

"Nih... makan dulu! Kamu pasti lapar," ujarku sambil menaruh beberapa potong roti di depan gadis itu. Aku sendiri kemudian duduk di pojok ruangan, makan. Biar bagaimanapun perutku harus tetap kuisi.

"Eh... tidak mau makan? Tidak lapar?" tanyaku heran.

"Terima kasih, Pak. Nanti saja...untuk buka puasa," ucapnya lirih.

Aku tersentak! Sepotong tahu goreng tersumbat di kerongkonganku. Ya Allah...aku makin merasa bersalah!

***

"Pak Kiai? Sudah ada uang lima puluh jutanya? Bagus! Sekarang dengarkan baik-baik! Nanti malam, Bapak harus datang sendirian ke jembatan di dekat perempatan Jalan Diponegoro. Ingat, sen-di-ri-an! Uang itu harus Bapak taruh di dalam sebuah tas warna hijau. Kemudian tas itu harus Bapak letakkan di dekat semak-semak di bawah jembatan... mengerti! Nah, setelah itu Bapak boleh pulang. Kalau isi tas itu sesuai dengan yang kami harapkan, besok pagi anak Bapak akan kembali ke rumah dengan selamat. Tapi, kalau ternyata tidak... Yah, silakan ucapkan selamat tinggal untuk anak gadis kesayangan Bapak!"

Klik! Joni mengakhiri pembicaraan di telepon. Tampak kepuasan terpancar di wajahnya.

"Lihat, Pen... Gampang kan? Cuma dua hari, dua hari Pen!! Tapi hasilnya? Wooowww!!" sorak Joni kegirangan.

"Tapi, Jon... Gimana kalau Pak Kiai ternyata tidak sanggup memenuhi tuntutan kita? Kamu kan tidak sungguh-sungguh akan..." Aku tidak sangup meneruskan kata-kataku. Aku merasa ngeri.

"Kenapa? Kamu takut?" Joni menatap gadis itu yang sedang menekuni Al-Quran di pangkuannya di sudut ruangan. Tatapan mata Joni begitu liar saat itu.

"Sayang, besok kita akan berpisah dengan gadis itu. Terlalu cepat ya, Pen? Padahal dia lumayan manis..."

Joni mulai melangkah mendekat ke sudut ruangan.

"Jangan gila kamu, Joni! Kalau kamu berani macam-macam, kamu akan ku..." aku mencekal lengan Joni.

"Kamu akan kubunuh!"

Entah dari mana kekuatanku untuk mengucapkan kata-kata barusan. Yang jelas kulihat si Kerempeng ini sedikit bergidik. Ukuran badannya memang tidak seberapa kalau dibandingkan dengan otot-ototku. Hanya saja aku kurang punya nyali untuk menyakiti orang lain, termasuk manusia sampah seperti Joni sekali pun.

"Tenang, Pen...Tenang! Aku cuma bercanda,kok!" ujarnya sambil menepiskan tanganku.

"Udah, ya...Aku mau keluar dulu! Mau cari makan!"

Joni menghempaskan pintu di belakangnya. Kurasakan sepertinya dia agak takut saat kutatapi tadi. Yah, selama ini dia memang lebih mengenalku sebagai orang yang lembut hati. Wajar kalau tiba-tiba dia merasa heran melihat sikapku tadi...Aku sendiri juga heran. Tapi syukurlah kalau tindakanku tadi dapat menyelamatkan gadis ini dari niat jahat Joni. Aku menatap keluar. Waktu sepertinya berlalu begitu lamban. Aku mulai merasa bosan. Kalau begini terus, mendingan aku tidur...

"Bapak tidak salat Jumat?"

Aku menoleh. Gadis itu baru saja mengakhiri bacaan Qurannya.

"Di dekat sini ada masjid kan? Bagaimana kalau Bapak pergi salat?"

"Tapi...eh, aku kan mesti mengawasimu!" sergahku ketus. Gadis ini mau membodohiku rupanya.

"Saya tidak mungkin lari kan? Bapak sendiri tahu kalau tidak ada jalan buat saya untuk keluar. Tapi..."

"Eh, bagaimana kalau... kalau nanti temanku pulang? Dia itu orangnya tidak sebaik aku! nanti kamu bisa diapa-apakan olehnya!" ujarku khawatir.

Gadis itu tersenyum.

"Bapak jangan khawatir. Insya Allah, ada Allah yang menjaga saya."

Aku bimbang. Gadis ini tampak begitu tenang. Yah, kalau dia sendiri begitu yakin dengan keselamatannya... apa salahnya kalau aku juga mempercayakan penjagaan gadis ini kepada Allah? Dia sebaik-baik penjaga. Hatiku terasa begitu lapang ketika aku melangkahkan kaki menuju mesjid...

***

Plak! Aku menepuk nyamuk kesekian yang mencoba hinggap di kakiku.

"Sial... lama amat," lamat-lamat kudengar suara Joni yang duduk di belakangku. Aku menguap lebar. Sudah tiga jam lebih kami menunggu, tapi suasana masih tampak sepi-sepi saja. Daerah di sekitar jembatan tempat kami menunggu "rezeki" lima puluh juta, malam ini memang jarang dilalui kendaraan. Wajar kalau Joni memilih tempat ini sebagai tempat yang harus didatangi Pak Kiai. Plak! Seekor nyamuk lagi mencoba menghisap darahku.

"Joni, tadi kamu pesan Pak Kiai mesti datang jam berapa?" tanyaku memecah kesunyian.

"Hah? Jam... jam berapa?" Joni tergagap.

Tiba-tiba aku tersadar. Ya ampun! Si Kerempeng ini lupa memberitahukan jam berapa uang itu harus diantarkan ke tempat ini. Kalau begini, bisa-bisa aku sudah habis jadi santapan nyamuk, baru rezeki itu datang. Wah, apes benar aku jadi asisten si Kerempeng, rutukku dalam hati.

"Itu dia datang, Pen... Itu dia!" tiba-tiba suara Joni menegang. Kuperhatikan sebuah Kijang diparkir tidak jauh dari tempat kami bersembunyi. Kemudian pengemudinya turun sambil menenteng sesuatu. Sosok itu lalu turun ke bawah jembatan.

"Lima puluh juta kita," bisik Joni penuh perasaan.

"Akhirnya...akhirnya uang itu jadi milik kita, Pen! Nah... apa katamu sekarang? Lima puluh juta, Pen!"

Aku tidak mampu berkata-kata. Setahuku itu uang haram, tapi... bukankah dalam harta milik orang kaya terdapat hak si miskin? Kata-kata Joni tempo hari kembali terngiang. Ah... benarkah uang itu sungguh-sungguh hak kami? Aku masih terpaku. Sosok yang tadi menghilang ke bawah jembatan itu kini sudah kembali lagi ke atas. Dengan dada berdebar kami menunggu sampai sosok itu kembali ke Kijangnya dan berlalu dari tempat itu.

"Kini saatnya, Pen... Lima puluh juta!" Joni kegirangan. Setengah meloncat dia keluar dari mobil yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan langsung berlari ke bawah jembatan. Aku masih terpaku. Lima puluh juta... dengan uang sebanyak itu aku tidak perlu susah-susah lagi cari makan. Tidak perlu lagi berbuat jahat. Cukup sekali, dan setelah ini aku akan tobat!

"Pen...ayo turun, Pen! Lihat uang kita!"

Tapi... itu kan uang haram! Apa tobatku bisa diterima, kalau aku makan uang haram? Sudut hatiku bimbang. Tidak kudengar sorak-sorai Joni yang seperti kesurupan saat melihat uang.

"Cihuy... Lima puluh juta! Asli! Lima pul... Hah! Kertas! Kertas-kertas... Kita ditipu, Pen! Tidak ada uang... yang ada cuma kertas.Cuma kertas..."

Aku seperti tersentak. Apa? Kertas? Tiba-tiba kurasakan seberkas sinar jatuh mengenai mukaku.

"Jangan bergerak! Anda sudah kami kepung!"

Entah dari arah mana datangnya, tiba-tiba muncul beberapa sosok dari kegelapan yang langsung menghampiri dan memborgol kedua tanganku.

"Pen...Kamu dengar tidak, Pen?! Kita ditipu, Peennn!! Kertas-kertas..." Joni seperti gila. Sesaat kemudian sinar tersebut juga mengenai wajahnya, barulah ia tersadar. Joni berusaha lari. Dor! Dor!

"Ah, kakiku... Kakiku kena!"

Joni meraung-raung. Sementara aku tetap terus terpaku, tak berkutik.

***

Namaku Pepen. Aku orang baik. Sumpah! Tapi, kini aku kembali meringkuk di balik tahanan. Padahal aku sama sekali tidak bermaksud jahat. Aku cuma termakan bujukannya si Joni Kerempeng. Ah! Aku menyesal sekali...lebih menyesal lagi saat kutahu kalau Pak Kiai Ahmadi, bapak gadis yang kami culik tempo hari, ternyata seorang ulama yang baik. Tidak benar kalau beliau seorang yang tidak dermawan. Hanya saja beliau tidak suka kalau bantuannya kapada fakir miskin dipublikasikan. Ah, aku sangat menyesal. Bukan saja karena telah berprasangka buruk kepada beliau, tapi juga karena kami telah berbuat jahat kepada anaknya. Gadis baik itu... aku belajar banyak darinya. Meski cuma dua hari bersamanya, tapi dia telah mengajariku banyak hal. Termasuk mengisi waktu luangku dengan baik. Aku kini banyak membaca Al-Quran dan mengerjakan salat sunat. Mudah-mudahan saja Dia mau menerima tobatku. Lamat-lamat kudengar langkah kaki seseorang mendekat.

"Bapak kedatangan tamu," ucap orang itu yang ternyata petugas di rumah tahanan ini. Kulihat sosok yang sangat kukenal berdiri tidak jauh di belakangnya.

"Pak Pepen..."

Aku berdiri, hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Gadis itu! Putri Pak Kiai...

"Saya mau mengucapkan terima kasih, atas kebaikan Pak Pepen selama saya berada di penculikan."

A-apa! Apa aku tidak salah dengar. Gadis ini mengucapkan terima kasih...

"Saya sudah ceritakan semuanya kepada Bapak saya, tentang perlakuan baik Pak Pepen terhadap saya. Insya Allah, kalau Pak Pepen bebas nanti, Bapak saya akan menghubungi Pak Pepen kembali. Kami harap Pak Pepen mau bekerja menjadi sopir pribadi keluarga kami."

Aku masih ternganga. Apa aku mimpi? Kata-kata gadis ini meluncur begitu cepat, sehingga aku tidak sempat memastikan apakah pendengaranku masih normal atau tidak. Ternyata pandangan kosongku yang lurus ke arahnya membuatnya jadi salah tingkah. Dia menatap lantai.

"Oh ya, hampir lupa, nama saya Ayu. Ayu Arianda. Insya Allah, di pengadilan nanti saya akan bersaksi tentang semua kejadian yang saya alami. Saya harap, kesaksian saya nanti dapat membantu Pak Pepen bebas secepatnya dari rumah tahanan ini."

Aku masih terpaku. A-apa yang kuucapkan?

"Terima kasih, Nak Ayu..." akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku.

Tapi terlambat! Gadis itu sudah lebih dulu berlalu, saat aku masih terpaku tadi. Aku bahkan baru sadar kalau sebelum pergi tadi dia lebih dulu mengucapkan salam.

Allah Mahabesar... Allahu Akbar! Tanpa terasa aku sudah bersimpuh di lantai, bersujud... merasakan keagungan-Nya...

***

Ah, namaku Pepen. Aku orang baik. Sungguh! Dan aku akan tetap jadi orang baik... Sampai kapan pun juga...

***

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung, (3:104) 1