Menjawab Iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (Qur'an 7:12)

"Ana khairu minhu" (Saya lebih baik daripadanya) adalah jawaban Iblis ketika ia tidak mau diperintah Allah SWT untuk bersujud menghormati Adam. Karena inilah Iblis terusir dari surga karena kesombongannya dan tidak taatnya ia kepada Allah. Begitu besarnya bahaya kesombongan dan begitu halusnya sehingga tanpa kita sadari, perasaan ini kadang kala terlintas dalam hati kita.

Dalam masalah duniawi kadang kala perasaan-perasaan halus muncul: Saya lebih kaya dari dia, saya lebih gagah/ cantik dari dia, saya lebih intelektual dibanding dia (jabatan lebih tinggi, titel lebih tinggi), saya lebih... saya lebih... dll. Merasa lebih tinggi ini biasanya timbul keinginan untuk dipuji dan tidak ingin direndahkan. Sikap riya' dan 'ujub.

Atau bahaya yang lebih halus lagi kadang kala bisa timbul dalam hati kita terhadap sesama saudara seiman: Saya lebih sering ke masjid dari dia, saya sudah lama mengajinya dibanding dia, saya lebih aktif da'wahnya, saya lebih "nyunah" dari dia, saya lebih tahu asam garam perjalanan da'wah, dll.

Lima kali sehari sedikitnya kita menghadapkan diri kita kepada Allah SWT dalam shalat fardhu. Dalam shalat kita ucapkan :
"Allahu akbar kabira walHAMDulillahi katsira..."
"AlHAMDulillahirrabil'alamin..."
"Subhanaka Allahumma wa biHAMDika..."
"Rabbana walakalHAMD..."
"AttahiyatulMubarakatusShalawatutThayibatulillah..."

Semua intinya adalah sama: bahwa segala pujian, keagungan, kebesaran, kehormatan, keberkatan, sanjungan, kebaikan semuanya adalah MILIK ALLAH SWT Rabb semesta alam.

Tatkala kita sedang shalat, kita serahkan kembali segala pujian, sanjungan orang2 terhadap kita kepada Allah SWT semata. Kita sadarkan diri kita selalu bahwa semua itu milik Allah, Mil-ussamawati wa mil ul-ardhi wa mil-uma syi'ta min syai'in ba'd (sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu). Kalau sudah begitu, apa hak kita mengklaim pujian dan sanjungan itu milik kita? Kalau Allah yang memiliki semua itu, untuk apa lagi kita mengharapkan pujian dan sanjungan dari orang lain?

Adalah tugas kita, segala keberhasilan, skill dan kemampuan yang kita miliki kita manfaatkan untuk kepentingan ummat agar bersinar: Al-Islamu ya'lu wala yu'la alaihi... (Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya).

Wallahù'alam bíshawab. 1