Memasuki ruang kantor memang merupakan saat-saat menyenangkan. Sejuknya AC menghilangkan rasa gerah yang mengganggu. Kebersihan, kerapian serta keindahan interior bisa menyegarkan pandangan mata pula. Rekan-rekan kerja saling bertegur sapa dan bertukar canda. Dengan wajah-wajah ceria, cantik menarik, dan bau parfum yang harum. Rafdi melangkah masuk ke dalam lift yang di dalamnya sudah ada dua rekan wanitanya. Tentu saja keduanya ayu, supel dan menyenangkan. Perjalanan lift yang tak sampai lima menit menjadi begitu menyenangkan, menghapuskan sisa-sisa kejengkelan akibat pertengkaran kecil yang sempat terjadi dengan Riri, istrinya, saat meninggalkan rumah tadi pagi.
Itu baru di lift! Rafdi mengutuk dirinya sendiri, mengapa sering tergoda dengan teman-teman wanitanya. Apalagi jika sedang 'panas' dengan Riri. Belum lagi di ruangan kantornya yang dihuni empat gadis manis-manis. Enam jam bekerja ditambah satu jam istirahat setiap harinya bukan waktu sebentar untuk menikmati kebersamaan kerja itu. Sapaan manis rekan wanita di samping Rafdi membuyarkan lamunannya. 'Mengapa Riri tak pernah menyapaku semanis itu?' pertanyaan semacam ini memang kerap hadir jika ia sedang jengkel kepada istrinya. 'Dan penampilannya itu lho, kuno sekali. Jauh jika dibandingkan Lili atau Sari.' Beberapa detik kemudian Rafdi tersadar dan beristighfar. Selalu begitu, terulang di waktu yang lain. Perasaan bersalah sering menderu dalam dada Rafdi. Namun kecenderungan untuk membanding-bandingkan itu biasanya terulang kembali. Ketika ia sempat membicarakannya dengan teman-teman prianya yang lain, betapa herannya ia karena ternyata mereka pun kerap melakukan hal yang sama!
Mengapa istri tak seperti dia?
Apakah
Anda, para suami, juga mengalami kecenderungan serupa? Membanding-bandingkan
istri dengan wanita-wanita lain yang ditemui di luar rumah? Tak perlu malu untuk
mengakui, karena ini adalah godaan yang wajar dihadapi oleh setiap suami. Suami
bisa membela diri bahwa bukanlah salah dirinya jika banyak wanita cantik di
lingkungan kerjanya. Bahkan bisa juga menyalahkan istri yang tak bisa memberikan
pelayanan terbaik. Namun, mengusut pihak mana yang mengawali kesalahan tak akan
menyelesaikan persoalan. Kenyataan ini haruslah diterima sebagai ujian yang
wajar terjadi pada setiap orang. Tinggal bagaimana kita mengantisipasi sedini
mungkin.
Patut disadari, bahwa kecenderungan membanding-bandingkan adalah sifat dasar setiap insan. Bukan hanya suami, bahkan istri pun bisa membandingkan suaminya dengan laki-laki lain. Masalahnya, karena lebih sering kaum pria yang keluar rumah dan bertemu dengan wanita-wanita lain, maka merekalah yang lebih sering mempraktekkannya. Perilaku ini menjadi berbahaya ketika si suami melakukannya dengan 'negative thinking' terhadap sang istri. Yang ia bandingkan adalah segi negatif satu pihak, dengan segi positif pihak ketiga. Tentu saja pihak istri akan kalah.
Jika ini terus-menerus ia lakukan, maka kejelekean istri akan semakin nampak di matanya, sementra kebaikan wanita lain justru merasuk dalam hatinya. Namun, adakalanya suami sudah cukup berpikir positif terhadap istrinya, ia sudah berusaha menggali kebaikan-kebaikan istrinya, ternyata saat dibandingkan tetap saja istrinya kalah. Kenyataannya, wanita ketiga lebih menarik dibanding istrinya. Perlahan tapi pasti, kondisi inipun akan menjadi bom waktu perpecahan suami dengan istrinya. Supaya semua itu tak perlu terjadi, catatlah beberapa poin berharga berikut ini.
1. Menjaga Pergaulan
Syariah Islam
sudah menetapkan bahwa lingkungan yang terbaik adalah yang terpisah antara
laki-laki dan perempuan. Namun jika ini tak memungkinkan, sebaiknya tiap
individu lebih menjaga lagi batasan-batasan pergaulan yang telah ada.
Menundukkan pandangan mata secukupnya, dengan sopan dan tanpa menyinggung
perasaan lawan jenis yang mengajak bicara. Kontak mata langsung yang terlalu
lama harus dihindari, kecuali dalam kondisi yang darurat. Berkata-katalah
seperlunya saja, tanpa memancing maupun melayani kalimat-kalimat bernada manja
atau menarik perhatian. Janganlah terpancing untuk membicarakan hal-hal di luar
urusan kantor. Hindari sentuhan kulit, kecuali jika terpaksa untuk berjabat
tangan dalam kondisi tertentu.
2. Puaskan di Rumah
Anda merasa mulai
tergoda? Berdzikirlah segera. Biasakan untuk menyediakan mushaf al-Qur'an di
meja kantor atau di saku baju, untuk teman berdzikir jika godaan datang.
Ingatlah bahwa perjuangan melawan zina, walaupun hanya zina hati, adalah
berpahala besar. Kembalikan pikiran kepada istri dan anak-anak di rumah. Kalau
perlu pasang foto keluarga di meja kantor Anda. Dan jika kita mau jujur, istri
masih punya banyak kelebihan yang mungkin belum kita syukuri. Rasulullah pun
menyarankan, jika seseorang merasa terangsang nafsu seksualnya, hendaklah segera
pulang ke rumah untuk memuaskannya dengan istrinya.
Beliau pernah datang di siang hari di rumah Zainab binti Jahsy tatkala istri beliau itu sedang menyamak kulit. Beliau pun mengajak sang istri untuk melakukan hubungan suami-istri. Zainab menurut, walau ada keheranan dengan hal yang tidak biasanya seperti itu. Begitulah teladan Rasulullah, untuk bersegera pulang dan memuaskan nafsu seksual bersama istri di rumah, manakala datang godaan saat berada di luar rumah. Allah seakan mengingatkan kita, bahwa kenikmatan yang haram tak pernah lebih baik dari pada kenikmatan halal. Itu sebabnya jika kita tergiur dengan yang haram, segera cari penawarnya pada yang halal.
3. Iklim Keterbukaan
Sepahit apapun,
menceritakan apa yang terjadi di kantor kepada istri akan lebih selamat dari
pada merahasiakannya. Pada awalnya istri mungkin bereaksi negatif, namun
tanggapilah dengan sabar dan dewasa. Tunjukkan iktikad baik Anda. Lambat laun,
istri akan terbiasa dengan iklim keterbukan seperti itu. Dengan cara halus Anda
bisa mengajak istri untuk memperbaiki penampilannya, mengurangi
kejelekan-kejelekan sifatnya. Tapi awas, jangan menyebut-nyebut nama wanita lain
sebagai pembandingnya!
4. Saling Memahami dan
Menyesuaikan
Yang paling penting adalah upaya untuk memahami kondisi istri
apa adanya. Kemudian berusaha menyesuaikan dengan kondisi itu. Hilangkan
negative thinking dan su-uzhan terhadap istri. Jika ada sifat jelek istri,
Rasulullah memberikan resep untuk tidak memperpanjang masalah tersebut, namun
beralih mencari-cari kelebihan istri untuk diingat-ingat. Bukankah tiap orang
pasti punya kelebihan? Carilah, dan jadikanlah kelebihan itu sebagai hal yang
selalu Anda banding-bandingkan dengan kekurangan-kekurangan wanita-wanita di
sekitar lingkungan kerja Anda!