Bal'am adalah seorang ulama bani Israil di jaman nabi Musa as. Ia terkenal karena ilmunya luas dan do'anya mustajab. Di dalam mengahadapi berbagai kesulitan, Bal'am sering ditonjolkan oleh kaumnya. Suatu ketika Bal'am diutus oleh nabi Musa menemui raja Madyan, menyeru kepadanya supaya mengikuti agama nabi Musa, yaitu menyembah Allah Rabbul Alamin. Tetapi dalam menunaikan tugas dakwahnya, ia termasuk indisipliner dan tidak istiqamah. Bal'am dirayu dengan harta dunia oleh sang raja, diberi hadiah tanah pertanian yang luas, disodorkan wanita cantik dan kedudukan, lalu ia murtad dan mengikuti kepercayaan yang dianut oleh sang raja itu.
Di suatu hari, ketika Musa as. bersama pengikutnya bertekad hendak membasmi kaum Jabarin, Bal'am yang telah murtad dari agama Tauhid didatangi oleh kaumnya, kemudian membujuknya dengan mengatakan, "Wahai Bal'am sesungguhnya Musa adalah seorang yang kuat dan keras serta mempunyai tentara yang banyak. Apabila ia dapat mengalahkan kita, pasti kita akan dibinasakan. Karena itu berdo'alah agar Musa dan tentaranya dihalau dari kami."
"Jika aku berdo'a kepada Allah untuk menghalau Musa dan para sahabatnya, maka akan binasalah dunia dan akhiratku" jawab Bal'am. Akan tetapi kaumnya tetap mendesak, dengan berbagai bujuk rayu, sehingga akhirnya Bal'am menuruti kehendak kaumnya.
Tentang kisah ini, Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Salim bin Nadher, menceritakannya dengan lebih jelas dan rinci.
Ketika Musa as menyerbu Bani Kan'an di Syam, ia bersama tentaranya langsung menuju daerah kaum Bal'am. Maka kaumnya datang menemui Bal'am sambil mengadu, "Musa bin Imran bersama bani Israil telah datang untuk mengusir kami dari negeri ini. Mereka akan membunuh kami dan menempatkan bani Israil disini, padahal kami kaummu sendiri tidak punya tempat tinggal. Sedang kau adalah seorang yang mustajab do'anya, karena itu keluarlah dan berdo'alah untuk kami, supaya Allah membinasakan mereka."
"Celaka kalian," jawab Bal'am. Selanjutnya ia menjelaskan pada kaumnya, "Itu Nabiyullah bersama para Malaikat dan kaum Mukminin, bagaimana aku akan mendo'akan mereka padahal aku telah mengetahui dari Allah, apa yang aku ketahui. Mendengar jawaban Bal'am, kaumnya berkata: "Lalu bagaimanakah dengan kami yang tidak memnpunyai tempat tinggal?"
Mereka terus mengharap dan minta tolong kepada Bal'am sehingga ulama murtad itu terpengaruh dan menyanggupi permintaan mereka. Bal'am berangkat mengendarai hemarnya, pergi ke sebuah gunung yang dari situ dia dapat melihat tentara bani Israil, yaitu gunung Guslan. Ketika dalam perjalanan tiba-tiba hemar itu berhenti, maka turunlah Bal'am lalu memukulnya hingga bangkit dan dikendarainya lagi. Tiba-tiba binatang itu duduk lagi, maka dipukulnya lagi sehingga Allah mengizinkan binatang itu berbicara, "Celaka anda wahai Bal'am, kemana anda akan pergi? Apakah anda tidak melihat malaikat di depanku, menghalangi agar aku tidak boleh terus berjalan? Apakah anda akan mendo'akan Nabiyullah dan kaum Mukminin?
Tetapi Bal'am tetap saja memukul dan memaksa hemar binatang tunggangannya itu, sehingga Allah terus membiarkan ia berjalan. Dan ketika ia telah dapat melihat tentara Musa beserta Bani Israil ia mulai berdo`a. Setiap kali ia mulai berdo'a untuk membinasakan nabi Musa dan sahabat-sahabatnya, terbalik lidahnya kepada kaumnya. Dan tiada berdo`a baik untuk kaumnya, malainkan terbalik lidahnya untuk bani Israil, sehingga ditegur oleh kaumnya.
"Ya Bal'am, tahukah anda apa yang anda perbuat? Mendo'akan baik bagi mereka dan mendo'akan binasa bagi kami?"
"Hanya itulah yang dapat aku lakukan" jawab Bal'am. Kemudian lidahnya menjulur keluar hingga mencapai dada panjangnya. Lalu ia berkata. Kini aku telah rugi dunia dan akhirat, dan tiada daya bagimu kecuali tipu daya dan siasat. Hiasilah kaum wanitamu dan perintahkan pada mereka membawa dagangan ke laskar Musa dan Bani Israil supaya berjualan di sana, dan anjurkan kepada mereka untuk tidak menolak siapapun dari bani Israil jika akan berbuat lacur (zina) dengan mereka. Sebab seorang saja yang berzina dari mereka itu sudah cukup."
Ketika wanita-wanita itu telah memasuki daerah laskar bani Israil, seorang wanita bangsawan Kan'an berjalan melewati seorang pemuka bani Israil bernama Zumri bin Sulum, pemimpin dari turunan Syani'un bin Ya'kub as. Pada saat memandang wanita cantik itu dengan rambutnya yang terurai, segera ia bangkit dan menggandeng tangannya membawa ke hadapan nabi Musa as. dan berkata lancang pada nabinya sendiri, "Saya yakin anda akan mengatakan bahwa wanita ini haram atasku dan melarang aku mendekatinya."
"Benar, ia haram atasmu," jawab Nabi Musa.
Zumri berkata, "Demi Allah, saya tidak taat kepadamu dalam hal ini".
Lalu wanita itu dibawa masuk ke kemahnya dan melepaskan nafsu birahinya. Seketika itu juga Allah menurunkan wabah thaa'un di kalangan bani Israil. Sedangkan pada waktu itu Fanhash, panglima yang dipercaya oleh Musa, tidak ada di tempat.
Sewaktu menjalar wabah thaa'un dan berita mengenai kasus Zumri tadi disampaikan kepadanya, segera ia membawa tombaknya memasuki kemah, selanjutnya menusuk tubuh kedua orang yang sedang berzina itu, hingga tembus. Sambil keluar, Fanhash mengangkat tubuh mereka di ujung tombak, seraya menatap langit dan berdo'a: "Ya Allah demikianlah hukuman kami terhadap orang yang bermaksiat kepada-Mu."
Maka dengan rahmat-Nya seketika penyakit itu musnah dari mereka. Kemudian dihitung yang mati karena wabah kolera selama Zumri berbuat dosa hingga dibunuh oleh Fanhash, sebanyak 70.000 orang. Ada yang mengurangi bilangannya menyatakan 20.000 orang pada waktu sesaat di siang hari.
Di dalam Mukhtashar Ibnu Katsir, yang daripadanya kami nukilkan kisah di atas dikatakan: - ayat 175-176 surat Al-A'raf diturunkan, berkenaan dengan kisah Bal'am.
"Dan bacakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka berita yang kami berikan kepada ayat-ayat Kami, kemudian ia tidak mengindahkannya lantas ia digoda oleh syaitan, maka ia termasuk orang yang sesat. Dan kalau Kami kehendaki, tentu kami dapat tinggikan derajatnya dengan mengikuti ayat-ayat-Ku itu, tetapi ia condong kepada kesenangan dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaannya seperti anjing; jika kau halau dijulurkannya lidahnya, dan jika engkau biarkan saja maka dijulurkannya pula lidahnya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka menzalimi diri sendiri". (QS Al-A'raf [7]: 175-176)
Ayat ini diturunkan dan menceritakan kisah Bal'am, untuk mengingatkan kepada kita, meskipun orang itu telah mempunyai ilmu yang tinggi sebagaimana ilmunya para Nabi, tetapi ia maksiat lalu hatinya condong pada dunia, maka akhirnya bernasib sebagaimana Bal'am yang disebut oleh Allah, "Bagaikan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam segala hal". Menjilat-jilat bagai anjing, tak berguna baginya segala peringatan, ancaman, dan nasehat, tidak berguna baginya iman dan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, orang-orang shalih menasehatkan: "Manakala engkau menyaksikan seorang dapat berjalan diatas air, atau terbang di udara janganlah engkau sampai terpedaya karena ulahnya sebelum engkau lihat perbuatannya sesuai dengan kitab Allah atau tidak".
Itulah kisah Bal'am. Jika seorang telah terpedaya oleh harta dan kedudukan, maka harga dirinya hilang dan agamanya termakan oleh keserakahannya.
Ambisi dan keserakahan adalah dua hal yang dapat menjerumuskan manusia, bahkan yang bergelar ulama sekalipun ke dalam jurang kebinasaan. Dia tidak akan peduli berapa banyak harta yang akan dihabiskan untuk meraih ambisinya. Bahkan tidak peduli berapa banyak kaum muslimin yang menemui kebinasaan, berapa banyak negara yang porak poranda, yang penting ambisinya terpenuhi, popularitasnya meningkat dan hartanya menggunung.