Anak yang rewel biasanya mengindikasikan sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Penyebabnya bisa dari dalam bisa juga dari luar. Untuk itu, saya biasanya menganalisis dua sumber penyebab ini dengan teknik mendengar aktif.
- Cari penyebab dari dalam dengan mengajukan sejumlah pertanyaan aktif seperti: kamu kenapa dan apa yang bisa Bapak bantu? Hindari menyelesaikan masalah dengan meniadakan sebab, misalnya dengan berkata: "Jangan rewel terus, Bapak pusing tahu!"
- Jika sudah diketahui sumber kerewelan itu dari dalam, support anak dengan menunjukkan kesan (empati) bahwa kita siap membantu anak, misalnya dengan meluangkan waktu dan berhenti sejenak dari aktivitas, karena kerewelan itu tak jarang bersumber dari sesuatu yang sederhana saja, seperti anak minta dibelai kepalanya. Hindari memberi respon selintas dengan berbicara sambil melakukan sesuatu.
- Jika penyebabnya dari luar, tanyakan apa yang anak inginkan. Jangan menyederhanakan sumber dengan, misalnya, berkata: "Yang begituan aja kok menarik!" sebab bisa jadi anak sedang berada pada proses pengenalan lingkungan di sekitarnya. Ini mendorongnya untuk mencari tahu apa saja yang memberi respon menarik. Jika ini dihambat, anak akan makin penasaran dan akibatnya dia akan makin rewel. (Iyus, Redpel Annida)
Ciuman Anti Rewel
Saya kadang dibikin repot sama anak kedua saya, Himmah. Ia agak lain dari
kakak dan adiknya. Mungkin karena ia anak tengah. Kata orang, anak tengah
selalu ingin tampil beda. Bedanya, Himmah lebih bawel bin rewel dari kakak
dan adiknya. Karena kerewelannya, sejak bayi hingga sekarang berusia empat
tahun, Himmah tidak pernah jatuh dari tempat tidur. Tiap kali bangun tidur,
ia selalu memberikan pengumuman. Bunyinya sederhana, tapi kencangnya luar
biasa. "Huwaaaaaaaa!!!!"
Di usia empat tahun ini, saya seperti sudah terbiasa dengan Himmah. Ada kiat khusus buatnya, terutama kalau lagi rewel. Kalau rewelnya hampir mencapai maksimal, saya langsung memeluknya. Saya cium pipinya yang kiri, kemudian yang kanan. Setelah itu, saya cium juga dahinya.
Setelah selesai, saya bilang sama Himmah, "Mah, Umi sudah cium kamu. Sekarang, kamu cium Umi, ya!" Nah, kalau Himmah mau membalas ciuman saya maka ia bisa menghentikan rewelnya untuk beberapa saat. Mana mungkin bisa nyium sambil rewel. Saya yakin, kerewelannya berbanding lurus dengan posisinya di tengah. Dan, cara itu memang efektif. Ngiri, kali! (Yana, Karet Kuningan Setiabudi Jaksel.)
Nyalakan Api
Anak memang perhiasan dan penyejuk mata. Mata kita yang lelah bisa berubah
segar kalau ngelihat anak kesayangan. Memandang senyumnya, kelucuannya, dan
kelincahannya. Namun, bisa juga bikin pegel. Terutama, kalau si anak lagi
rewel. Pengalaman saya mengatasi anak rewel memang agak unik. Saya kadang
suka nggak sabaran dengan Audah, si bungsu yang kalau rewel mesti ditangani
khusus. Walau usianya baru dua tahun, suaranya cukup menggelegar.
Nah, inilah yang bikin kepala kadang nyut-nyutan. Waktu itu, saya kadang terpaksa nyerah. Saya turuti apa maunya. Namun, setelah merenung lagi, saya jadi nyesel sendiri. Saya yakin, langkah saya itu salah. Itu hanya akan meracuni si kecil yang akan kebawa sampai dewasa nanti. Keputusan saya, harus ditemukan cara pas buat itu. Akhirnya, ketika rewel Audah sudah mendekati puncaknya, tanpa disadari saya menggendongnya sampai ke dapur. Maksud saya, supaya bisa sambilan masak.
Nah, di saat saya menyalakan api, tiba-tiba Audah terdiam. Matanya yang sembab, tiba-tiba berbinar. Ia begitu antusias melihat nyala api. "Eh, benda apa ini, ya?" begitu kira-kira pikirannya. Nah, sejak itulah, saya sudah punya cara sendiri mengatasi anak saya yang rewel. Nggak repot, kok! Nyalakan saja korek api. Nah, diem, deh! (Tuti, Slipi Jakarta.)
Es Batu Bikin Dingin
Buat saya yang tergolong ibu baru, anak rewel bisa jadi perkara besar.
Bingung, kesal, pegel jadi satu. Sudah digendong, si Nisa masih belum diam.
Kecuali, kalau maunya dituruti. Wah, kalau selalu dituruti, bisa runyem
ekonomi rumah tangga. Ada cara yang biasa saya lakukan untuk meredam
rewelnya Nisa. Hal itu saya temukan karena tidak sengaja. Saya harus meredam
rewel Nisa tampa menuruti kemauannya.
Nah, entah kenapa, saya langsung mengambil es batu yang ada di kulkas. Satu es batu yang cukup untuk ukuran genggaman, saya perlihatkan ke Nisa yang baru berusia dua tahun. Konsentrasi rewelnya pun buyar. Ia mulai beralih ke es batu. Setelah itu, saya sentuhkan es batu ke genggamannya. Saya minta supaya Nisa menggenggam dengan lembut. Ia pun jadi benar-benar diam. Nah, dengan sedikit sentuhan kelucuan, ia mulai tersenyum. Lupa, deh tuntutannya! (Entin, Ciamis Jawa Barat.)
Mana Ayam
Anak saya yang kedua memang agak lain. Namanya, Sofia. Usianya baru delapan
bulan. Tapi, rewelnya sedikit luar biasa. Kadang-kadang, saya agak sulit
ngebedain. Apakah anak saya sedang sakit, atau memang sedang protes. Ada
cara tersendiri yang dilakukan suami saya mengatasi itu. Ia memegang kepala
Sofia. Kalau agak panas, positif karena
sakit. Tapi, kalau biasa, cek lagi ke tubuhnya kalau-kalau ada serangga yang
menggigit. Jika negatif, ada yang ingin dituntut.
Setelah yakin kalau rewelnya bukan karena sakit, suami saya langsung menggendong Sofia keluar rumah. Sampai di sini Sofia masih rewel. Namun, setelah Abinya berujar, "Kerrrrrr! Kerrrr! Mana ayam?" Sofia mulai diam. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Kalau ketemu sama ayam, diamnya berubah jadi tertawa. (Saribanon, Komplek Pelni Cimanggis Bogor)