Tentang Pengingkaran Kaum Kafir
"Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula). Dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman."
Asbabun-Nuzul
Dari riwayat Abu Na'im yang bersumber dari Ibnu Abbas dikemukakan bahwa ketika Rasulullah membaca surat As-Sajdah dengan nyaring, orang-orang Quraisy merasa terganggu. Karenanya mereka bersiap-siap untuk menyiksa Rasulullah saw. Akan tetapi tiba-tiba tangan mereka terbelenggu di pundak-pundaknya, dan mereka menjadi buta sama sekali. Mereka mengharapkan pertolongan Nabi saw sambil berkata, "Kami sangat mengharapkan bantuanmu atas nama Allah dan atas nama keluarga." Kemudian Rasulullah saw berdo'a, dan merekapun sembuh. Akan tetapi tak seorangpun dari mereka menjadi beriman.
Antara Kufur Dan Kafir
Dalam bahasa Arab, kata kufur mempunyai pengertian menyembunyikan atau menutup. Orang Arab menyebut malam itu kafir, karena malam menyembunyikan sesuatu. Demikian juga petani disebut kafir, karena mereka telah menutup (menanam) benih dalam tanah. Hal yang sama ternyata juga disebut dalam al-Qur'an. Allah berfirman:
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu dan bangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani." (QS. Al-Hadid: 20)
Dalam ayat ini Allah memilih kata kuffar (jama') dari kafir, untuk menyebut petani. Disebut demikian karena pekerjaan utama petani adalah menanam (menyembunyikan) benih dalam tanah.
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa orang kafir adalah mereka yang telah mendengar atau mengetahui kebenaran, tapi enggan menerimanya. Mungkin karena keingkarannya atau kesombongannya, bukan karena kebodohan atau kekurangtahuannya.
Adapun kufur, meskipun akar katanya sama, tapi pengertian syar'inya berbeda. Bisa saja orang Islam melakukan kekufuran, tapi dia tidak bisa disebut kafir, sebab ia melakukan kekufurannya disebabkan oleh kekurangtahuan atau kebodohannya. Lain halnya bila disengaja, karena sombong atau sifat-sifat durhaka lainnya.
Banyak contoh yang bisa dikemukakan di sini untuk menjelaskan perihal kufur ini. Pada saat Fathul-Makkah, sewaktu Rasulullah keluar bersama mereka ke suatu tempat bernama Hawazin, mereka melewati sebatang pohon, di mana orang-orang musyrik menggantungkan pedangnya pada pohon tersebut. Mereka berbuat seperti itu dengan keyakinan akan mendapatkan kemenangan dalam peperangan. Kemudian seorang wanita bertanya, "Ya Rasulullah, jadikanlah bagi kami tempat menggantung pedang, sebagaimana mereka menjadikan pohon itu tempat menggantung pedang mereka."
Rasulullah menjawab, "Allah Akbar, itulah bid'ah. Demi Allah yang diri Muhammad dalam genggaman-Nya, kamu telah mengatakan sesuatu yang telah dilakukan oleh Bani Israil kepada Nabi Musa. Mereka mengatakan, 'Wahai Musa, jadikanlah untuk kami sebagaimana mereka menjadikan tuhan-tuhan untuk mereka.' Karena kemenangan hanyalah dari Allah, bagaimana kamu mengharapkan kemenangan dengan menggantungkan pedang pada sebatang pohon kayu yang membawa berkat dan kemenangan? Sesungguhnya itu adalah perbuatan syirik." Rasulullah tidak langsung memvonis wanita tersebut sebagai musyrik atau kafir. Rasulullah juga tidak mengatakan bahwa keislamannya telah gugur hingga perlu diperbarui. Rasulullah hanya mengatakan bahwa perbuatan wanita tersebut termasuk laku syirik.
Mengapa Rasulullah tidak langsung memvonis wanita tersebut sebagai musyrik atau kafir? Karena wanita itu melakukan perbuatan syirik yang belum diketahui sebelumnya. Ia melakukan perbuatan syirik karena kebodohannya. Justru teguran Rasulullah adalah untuk mencegah agar ia tidak mengulangi perbuatan tersebut di kemudian hari. Wanita tersebut telah melakukan kekufuran tapi ia tidak bisa dihukumi kafir.
Contoh yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Usamah, ada salah seorang sahabat yang berkata kepada Rasulullah, "Apa yang Allah dan engkau kehendaki pasti akan terjadi." Rasulullah menanggapi, "Apakah engkau menjadikan aku sebanding dengan Allah? Katakanlah, 'apa yang dikehendaki Allah' saja."
Meskipun perkataan ini bisa menjurus kepada perbuatan syirik, sedangkan syirik itu membatalkan iman, tapi Rasulullah tidak sampai menjatuhkan hukum kafir atau syirik kepada sahabat tersebut. Ia telah melakukan kekufuran karena ketidakmengertiannya, tapi ia bukan kafir.
Lain hal bila perbuatan syirik atau kufur itu dilakukan dengan sengaja, maka pelakunya adalah kafir. Orang kafir mengetahui kebenaran yang datang dari Allah swt, tapi dengan sengaja ia sembunyikan kebenaran itu. Ia ingkari, karena kesombongan dan keangkuhannya.
Yang demikian itu terjadi pada dedengkot kaum kafir, yaitu Fir'aun. Dalam banyak dialognya dengan Nabi Musa jelas sekali bahwa ia telah mendengar kebenaran dari Allah, tapi ia tetap mengingkarinya. Allah berfirman: "Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mu'jizat-mu'jizat itu kecuali Tuhan Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seseorang yang akan binasa.'" (QS. Al-Israa': 102)
Pada hakikatnya mereka menyadari dan mengerti bahwa Nabi Musa membawa kebenaran dari Allah. Mereka juga tahu bahwa Allah itu ada dan berkuasa penuh atas seluruh jagad raya. Akan tetapi karena kesombongannya, mereka menolak kebenaran itu. Karena nafsunya, mereka ingkar. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
"Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan." (QS. An-Naml: 14)
Di segala zaman, watak orang kafir itu sama, yaitu mengingkari kebenaran yang sebenarnya telah diyakini oleh hatinya. Mereka lakukan hal itu demi menuruti hawa nafsunya, juga karena gengsi dan kesombongannya.
Di zaman Nabi Muhammad dikenal tokoh-tokoh kafir yang keras kepala. Mereka bukan saja mengingkari kebenaran yang datangnya dari Rasulullah, bahkan mereka juga menentang dan memusuhinya. Gerak dakwah Islam dihambat dengan berbagai cara, bahkan dengan perbuatan yang sangat keji. Mereka merencanakan pembunuhan yang diarahkan langsung kepada Nabi.
Abu Jahal, misalnya. Ia sangat dekat dengan Muhammad ketika masih belum menjadi rasul. Bersama tokoh lainnya, ia bahkan memberikan gelar al-Amin, terpercaya. Akan tetapi setelah Muhammad menyampaikan kebenaran wahyu, ia menentang habis-habisan. Hal itu dilakukan bukan karena ia tidak percaya kepada Muhammad, juga bukan karena kurang percaya kepada ajaran yang dibawanya. Dalam hatinya ia percaya. Hanya karena khawatir kewibawaannya jatuh, kepemimpinannya terancam, dan kemuliaannya tergugat, maka kebenaran itu disembunyikannya dalam-dalam. Ia nekat menentang dan memusuhi.
Bukti-bukti pembenarannya sangat banyak. Tidak jarang orang-orang kafir, termasuk Abu Jahal sendiri kepergok ketika mengintip Nabi sedang membaca al-Qur'an. Mereka sangat terpesona dan membenarkan al-Qur'an. Akan tetapi mereka mengingkari hatinya sendiri.
Karena itulah Allah sering menghibur hati Rasulullah agar tidak gundah menghadapi teror dan cemoohan mereka, sebab mereka tidak punya dasar untuk mendustakan kerasulannya. Hanya saja mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah. "Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati) karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. Al-An'am: 33)
Menyikapi Orang Kafir Saat Ini
Pengingkaran orang-orang kafir terhadap kebenaran Islam menghasilkan suatu sikap kebencian dan permusuhan yang luar biasa. Fitnah, tuduhan, cemoohan, dan berbagai teror yang diakukan melalui mulut-mulut atau tulisan-tulisan mereka sungguh sangat keji. Akan tetapi apa yang tersembunyi dalam hatinya lebih busuk dan lebih jahat lagi. Allah berfirman:
"Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahami." (QS. Ali Imran: 118)
Propaganda mereka untuk menyudutkan dan menjelek-jelekkan citra Islam dilakukan dengan intensif sekali. Baik melalui media cetak, media elektronik, maupun melalui berbagai forum seminar dan diskusi. Mereka dengan sangat lihai memutar-balikkan fakta, apalagi di saat dunia informasi sedang mereka kuasai. Tujuan mereka satu, yaitu pudarnya cahaya Islam. "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Akan tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya." (QS. Ash-Shaaf: 8)
Permusuhan orang kafir kepada ummat Islam itu tidak sebatas pada mulut saja, tapi dalam banyak event sejarah terbukti bahwa mereka sangat agresif memerangi ummat Islam. Mereka berusaha untuk mengusir ummat Islam dari tanah airnya, memenjarakan karena alasan agama, bahkan membunuh dengan cara-cara yang sadis. Itulah kenyataan sejarah yang terus berulang hingga kini.
"Dan mereka tak henti-hentinya memerangi kalian sehingga berhasil mengeluarkan kalian dari agama kalian, sekiranya mereka mampu." (QS. Al-Baqarah: 217)
Untuk itu Allah swt mengajarkan kita untuk bersikap realistis. Artinya, jika mereka memusuhi Islam, maka tidak ada sikap yang lebih baik kecuali kita harus memusuhi juga. Jika mereka keras, maka sikap kita adalah keras juga. Bukan berlunak-lunak, meskipun mereka itu orang yang paling dekat hubungannya dengan kita. Allah berfirman:
"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya." (QS. Al-Mujadalah: 22)
Itulah sikap yang diajarkan Allah kepada kaum muslimin. Kebencian dan permusuhan kepada ummat Islam tidak pantas dibalas, kecuali dengan sikap dan tindakan yang setimpal. Kita sekalipun tidak boleh condong hati kepada mereka, dalam segala hal. Allah berfirman: "Dan janganlah engkau condong kepada orang-orang yang zhalim (karena bila demikian) maka kamu akan disentuh api neraka." (QS. Huud: 112).