GAMMA, 1-7 Maret 2000 hal. 75 Di Balik Tirai Kepalsuan
Nama Al Chaidar menjulang sejak "Aksi Sejuta Umat" di Monas, Jakarta, yang menggegerkan pada Januari silam. Dialah penulis buku "Serial Musuh-musuh Darul Islam: Sepak Terjang KW 9 Abu Toto Menyelewengknn NKA-NII Pasca S.M. Kartosoewirjo ". Putra Aceh ini pengagum berat S.M. Kartosoewirjo, proklamator NII di masa revolusi fisik dulu. Alumnus FISIP UI pada 1996 dan pelahap buku-buku Marxis dan novel Pramoedya Ananta Toer itu juga menulis buku "Pemikiran Politik Proklamator NII S.M. Kartosoewirjo.
Al Chaidar yang aktif dalam lingkup akademi antar negara - Jepang, Singapura, Malaysia, dan Inggris - ternyata pernah aktif di kancah NII (Negara Islam Indonesia) dengan pengalaman mencengangkan. Ia, mengaku ikut gerakan NII Abu Toto Abdussalam sejak 1991-1996. Tapi, nalar dan batinnya merasakan penyimpangan luar biasa sejak 1993. "Coba, awalnya pengumpulan infak dan sedekah jumlahnya kecil, dan tak dipaksakan. Kemudian berubah menjadi besar, dan dipaksakan," katanya.
Mulanya, semua dana yang terkumpul tercatat dan dipertanggungjawabkan pada 1991-1992. Pada 1991, terkumpul Rp 2 milyar. "Di wilayah Bekasi Barat, saya komandannya, perolehan dari 2.000 umat aktif setiap bulan mencapai Rp 12-16 juta. Tapi, tak ada lagi pertanggungjawaban sejak 1993," katanya.
Malah, mereka diberi legitimasi dengan tameng penafsiran kitab suci untuk menghalalkan apa saja. "Misalnya, melacurkan diri bagi perempuan, dan meminta-minta bagi yang berwajah tak menarik, termasuk di lampu-lampu merah persimpangan jalan," kata Al Chaidar. Ia lalu tarik diri. Berikut ia bercerita kepada GAMMA.
+ Kenapa terjadi penyimpangan?
- Gerakan NII selalu saja muncul ketika terjadi ketimpangan dan ketidakadilan yang mengakibatkan benturan anatara umat Islam dan negara. Oleh karena itu, (Al Chaidar menyebut nama dua jenderal, red.) membuat program deveksi (bandingan) atau duplikat NII, karena tak sanggup menghancurkan dari dalam (inveksi). Misalnya, selain merekrut gerakan yang asli, juga membuat gerakan bandingan, tapi dengan cara yang keras, memaksa, memeras, atau menghalalakan segala cara.
+ Beda Kartosoewirjo dengan Abu Toto?
- Relatif sama, bedanya terletak pada pemaksaan.
+ Menurut penelitian Anda, ada atau tidak tujuan lain dari perjuangan Abu Toto?
- Paling inti adalah menghancurkan gerakan NII yang asli.
+ Kalau gerakan Kartosoewirjo?
- Temuan penelitian menunjukkan gerakan mereka sangat ramah, humanis, mengerti kemanusiaan, dan penuh pertimbangan.
+ Kenapa Abu Toto berubah?
- Ada konspirasi antara Abu Toto dan elite militer untuk menangkap dan membunuh Haji Rais, orang nomor satu dalam gerakan yang kemudian diganti oleh Abu Toto. Dan orang-orang ketiga, atau massanya, tak sadar, karena sangat struktural dan tertutup.
Awalnya, kami sembilan orang sebelumnya dipimpin oleh H. Rais. Tapi, ketika dipegang oleh Abu Toto pada 1993, timbul friksi. Misaslnya, dengan merekayasa H. Rais diundang ke sebuah forum, yang orang-orangnya siap disumpah masuk NII, ternyata mereka intel semua. Haji Rais ditangkap.
+ Kok bisa Anda ikut NII?
- Awalnya, saya ikut gerakan yang peduli rakyat kecil, terutama buruh. Tapi, buruh sulit untuk direkrut dan dibina. Lalu, datanglah NII, saya pun berganti ideologi. Apalagi, banyak dosen yang menyatakan pemikiran Marx itu diambil dari Islam. Jadi, konversi ideologi saya makin cepat.
+ Sekarang Anda bagaiman?
- Setelah 1996, saya masuk dalam komunitas korban Abu Toto. Komunitas itu tak punya nama, tapi merasa memiliki satu ideologi Darul Islam, dan banyak membicarakan negara Islam Madinah, negara Cardova. Kita bergerak bukan dalam tataran struktural, melainkan kultural.
+ Dalam posisi ideologi Kartosoewirjo, posisi Anda di mana?
- Saya sudah menghubungi semua faksi-faksi, dan saya bermain di permukaan, dan tidak ingin mereka rekrut. Ada 14 faksi, salah satunya Abu Toto. Ada pula faksi Abdullah Sungkar (Malaysia), Faksi Abdul Fatah Nagaapati (Tasikmalaya), Mahfud Sidik (Banten, Serang, Lampung), Faksi Tahmid Rahman (anak Kartosoewirjo - Bandung), Gaos Taufik (Medan), Ajengan Masduki (Purwokerto, Yogya), Ibnu Hajar (Kalimantan), Ali Atte (Sulawesi pelanjut Khahar Muzakar), dan Teungku Ahmad (Pidie Aceh) yang getol melawan Gerakan Aceh Merdeka.
+ Faksi mana yang terkooptasi oleh militer?
- Yang jelas Abu Toto, yang lain saya kurang mengerti.
+ Gerakan di Jawa Barat kok sepertinya dibiarkan aparat?
- Memang. Ketika ditangkap Kodim, di pasar Kemis, Tangerang, setelah ditanya-tanya, dan saya jawab dengan jujur, saya terus dilepas, tapi uang diambil. Waktu itu, saya punya nama lain. Anehnya, beberapa orang lainnya ditangkap, tak dilepas. Baru saya tahu, ternyata mereka yang asli. Jadi, saya beruntung, ikut yang palsu, jadi tangkap-lepas.