1. Banyak sekali orang menanyakan tentang istilah "Negara Kurnia Allah". Baiklah kami akan coba menerangkannya dengan serba singkat, apakah gerangan yang dinamakan "Negara Kurnia Allah" itu.
  2. Terlebih dahulu, kita harus mempunyai dua pokok yang besar, ‘anasir yang menjadi syarat masyrut serta rukun daripada N.K.A.itu.
  3. Pertama, harus ada suatu Negara yang berdaulat penuh, 100%, keluar dan kedalam, de facto dan de jure. Kedua, harus ada peraturan Allah yang merupakan Agama Allah, atau Agama Islam.
  4. Kedua ‘anasir yang besar ini harus bersatu atau dipersatukan. Bukan sebagai minyak dengan air yang ada di sebuah periuk. Tetapi bersatu dan dipersatukan, hingga tiap2 ‘anasir yang ada dalam negara itu, baik yang berupa Fa’il (subjekt), Maf’ul (Objekt) maupun Fa’il (Predikaat), urusan ketata-negaraan, kemiliteran, hingga sampai kepada tiap2 jirim dan jisim yang hidup dalam negara itu, semuanya itu dapat melakukan baktinya kepada ‘Azza wa jalla. Mitsalnya : Seperti "air" dengan "kopi" tidak begitu saja lalu menjadi "air kopi", sehingga tiap2 ‘anasir "air" bersatu dengan ‘anasir "kopi", melainkan setelah airnya dimasak hingga 100 graad Celsius. Maka tidak lupa mungkin Negara dan Agama, Manusia dan Agama, dapat bersatu dalam arti kata yang seluas-luas dan sesempurna2nya, melainkan apabila Negara dan Masyarakat serta segenap ‘anasir yang termasuk didalamnya dapat dipanaskan sampai kepada tingkatan yang setinggi-tingginya.
  5. Pergolakan masyarakat, pergolakan negara, pergolakan bangsa manusia yang serupa inilah, yang biasanya dinamakan Perang atau Revolusi.
  6. Oleh karena Agama yang hendak dipersatukan dengan masyarakat Indonesia ini merupakan Revolusi Islam.
  7. Jadi, untuk membina dan menggalang Negara Kurnia Allah itu, perlu dan wajiblah bergeloranya Revolusi, lebih2 lagi Revolusi Islam, yang akan memasak masyarakat sampai kepada tingkatan "mateng" (moding), baik dalam arti kata politis, militer, Agama maupun dalam arti kata yang lainnya. Jadi, kalau kita menghendaki berdirinya Negara Kurnia Allah itu, yangan sekali-kali takut terjilat oleh api revolusi. "Tiada bayi yang lahir, melainkan disertai dengan curahan darah".
  8. Inilah satu2nya jalan, menuju kepada Mardlotillah Dunia dan Mardlotillah Achirat, kelak.
  9. Sebelum menyudahi keterangan ini, baik juga kiranya diperma’lumkan, bahwa cita2 yang lagi diusahakan oleh ummat Islam Bangsa Indonesia pada dewasa ini menjelang zaman baru, dalam tingkatan ke-4 itu, jauh lebih tinggi daripada "theori-Pakistan-Indonesia". Sehingga disini tiada tempatnya, memperbincangkan sual itu lebih jauh. Kedudukan "Pakistan-Indonesia" hanya setinggi dominion status; Jadi kurang dari kedaulatan 100%. Hendaklah ma’lum!
  10. Semoga Allah membenarkan apa yang ditulis diatas itu jua adanya. Insya Allah. Amin. Dan kepada Allah pula kita sekalian selalu berlindung diri. Wallahu ‘alam bissawab.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Madinah Indonesia, 1 Dzul-qa’idah 1368 / 20 Agustus 1949. 1