Judul diatas tidak berarti saya akan bercerita tentang salah sebuah perwujudan jin dalam bentuk wanita yang berpunggung bolong. Ataupun tidak sedang mencoba untuk mempopulerkan kembali film nasional yang sempat box office di tahun 80' an. Ataupun tidak bermaksud menebarkan ketakutan atas makhluk Allah yang mampu bermetamorfosa menjadi wujud monster itu.

Saya cuma bersedih. Ketika menyaksikan film Indonesia era 80 an yang saat ini sering diputar kembali di stasiun TV kita. Pun, sinetron horor Indonesia khas Asia yang menjadi tontonan prime time dan menjadi teman makan malam kita.

Dimana letak kesedihan saya? Saat sosok hantu, genderuwo, drakula, tuyul, sundel bolong, leak dan seterusnya berteriak-teriak terbakar, membara, habis menjadi arang ketika dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Yang membacakan seseorang dengan sosok jubah putih, berjanggut putih, pandangan yang teduh dan menenteng tasbih.

Kesedihan saya bukan pada terbakarnya jin tersebut. Karena urusan terbakar atau tidak terbakar, ataupun lenyap jadi abu, ataupun tersambar petir dari langit bukanlah urusan saya. Itu adalah urusan pembuat skenario, tuntutan produser dan mungkin keinginan penonoton.

Kesedihan saya adalah manakala agama, dalam hal ini diwakili oleh figur orang suci/ ulama/ wali/ ustad dan ayat-ayat dari kitab suci semata- mata hanya menjadi pembasmi mahluk halus yang gentayangan di pojok kampung, tepi sumur atau tanah makam. Kesedihan saya menjadi-jadi manakala film tersebut hanya *sekali lagi: hanya* menampilkan ajakan agama dan syiar dalam bentuknya yang paling primitif. Agama seakan-akan adalah ramuan insektisida untuk membasmi dukun santet, dukun pelet, nenek lampir. Sudah tak terhitung banyaknya episode yang mengetengahkan adegan kiai sedang beradu ilmu dan kesaktian dengan gembong dukun yang bersemayam di kaki gunung. Sebuah adegan pengulangan kisah ribuan tahun lampau : Nabi Musa vs penyihir Fir'aun.

Tak sadarkah kita bila agama ternyata dengan halusnya dilecehkan sedemikian rupa sehingga akibatnya adalah seperti sekarang : bila lewat kuburan atau pojokan jalan yang gelap orang berkomat-kamit membaca ayat Kursi, atau ta'awudz atau potongan ayat lainnya. Ayat-ayat suci turun derajat maknanya menjadi sebuah mantra yang sakti. Ulama seakan- akan menjadi sepasukan pembasmi hantu-hantu nakal. Ghostbuster. Tuyul hilang. Pocongan lenyap. Happy ending.

Malangnya lagi, masa kecil kita mungkin diisi dengan kisah-kisah semacam itu dan saat ini mewujud dalam bentuk yang lebih multimedia. Ada efek khusus sehingga nyata dan benar-benar terjadi. Dan, saat ini masih terjadi dihadapan pasang mata jutaan anak muslim Indonesia yang melek teknologi dan informasi. Bahkan, mungkin sebagian dari kita secara tak sadar menyenangi film-film demikian. Di kampung dan desa- desa, di pinggiran kota besar, bila ada pertunjukkan layar tancap, film horor lokal hampir pasti diputar.

Adalah hak anda dan saya untuk memilih tontonan. Tapi kemanakah hak Allah, sebagai pencipta dan penguasa jagat raya ini? Apakah kita tidak malu dihadapanNya kelak : Mengamalkan ayat-ayat suci laksana mantra pengusir setan belaka. Memperlakukan ulama sebagai ghost terminator. Dan menyuguhkan anak-anak kita (kelak) dengan tontonan yang jauh dari nilai ketauhidan. 1