b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina


Pertikaian di Halmahera kembali Telan Korban

TERNATE -- Bentrok fisik antarkelompok kembali terjadi Ahad (6/2) hingga Senin dinihari di Kecamatan Kao Pulau Halmahera, Maluku Utara. Bentrok itu telah mengakibatkan tiga orang tewas, 32 orang lainnya luka berat dan ringan.

Kantor berita Antara kemarin melaporkan pertikaian yang terjadi di kawasan Teluk Kao kini berhasil dikendalikan setelah satu kompi aparat keamanan diterjunkan ke lokasi pertikaian di Malifut, sekitar 50 km lebih dari Ternate, ibu kota Provinsi Maluku Utara.

Kedua kelompok yang bertikai itu diminta untuk tidak saling menyerang, karena aparat keamanan telah membuat garis demarkasi di lokasi pertikaian antara Kao-Malifut Pulau Halmahera. Ketiga korban itu meninggal setelah dievakuasi di Ternate.

Berbeda dengan data Antara, Ketua Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Maluku Utara, Nurhabib, menyatakan jumlah korban delapan orang, semuanya orang Islam. Tiga orang di antaranya berhasil dievakuasi ke Pulau Ternate dan selanjutnya dimakamkan di daerahnya masing-masing. Sedangkan lima orang lainnya, hingga tadi malam jenazahnya masih 'tertahan' di daerah pertikaian Malifut yang masih dikuasai oleh para pemberontak RMS.

''Selain itu, malam ini (tadi malam --Red) kami melakukan operasi dan pengobatan dengan fasilitas sederhana terhadap belasan anggota pasukan Mujahidin Fii Sabilillaah di ruang Klinik Pos Kesehatan,'' kata Nurhabib dalam siaran pers yang dikirim ke Republika dari Ternate, tadi malam.

Selain di Klinik Pos Kesehatan, sejumlah 32 korban luka berat dan ringan kemarin terus menjalani perawatan secara intensif di rumah sakit umum (RSU) Ternate, tiga di antaranya yang menjalani operasi adalah Sofyan, Ishak, dan Abdulrahman Hamid.

Dokter jaga di Unit Penanggulangan Gawat Darurat (UPCD) RSU Ternate dr Husen Bussalama menjelaskan ketiga korban luka berat dalam pertikaian bernuansa SARA di Teluk Kao yang dioperasi tim Medis TNI/Polri karena terkena anak panah di bagian kanan dada.

Sebagian korban telah dipulangkan, sebab luka yang diderita tidak seperti korban lainnya. Tim Medis terus berupaya mengobati dan menyelamatkan setiap korban dievakuasi ke RSU setempat, kata mantan pimpinan RSU Tobelo itu.

Nurhabib mengemukakan anggota pasukan Mujahidin Fii Sabilillaah merupakan korban dari suatu pertempuran di kawasan daerah Malifut yang sebelumnya adalah daerah umat Islam. Warga setempat diusir dan dibantai oleh para pemberontak RMS, baik yang berada di desa tetangganya yakni Desa Kao maupun Desa-desa di Galela dan Tobelo.

Meskipun aparat telah ditempatkan di sekitar kawasan teluk Kao, namun suasana masih mencekam. Kelompok non-Muslim sebagian besar masih siap siaga di pinggir jalan dan lereng gunung.

Kedua kelompok yang bertikai tersebut hingga berita ini dibuat masing-masing masih bertahan di garis demarkasi yang dibuat aparat keamanan di sana. Komandan Sektor Pemulihan Keamanan Maluku Utara Letkol Inf Sutrisno ketika ditemui Antara di Ternate mengatakan pihaknya telah meminta kedua pihak yang bentrok di Kao- Malifut untuk segera menghentikan pertikaian. ''Saya Senin (7/2) pagi telah ke lokasi pertikaian di Halmahera dan bertemu langsung dengan panglima perang Kao, Benny Doro, dan sudah diingatkan untuk segera menarik pasukannya,'' katanya.

Pihaknya juga telah mengingatkan kelompok yang bertikai untuk tidak saling menyerang. Bila di antara satu kelompok melakukan penyerangan akan dilakukan penembakan di tempat setelah melalui peringatan. ''Aparat keamanan tidak segan-segan melakukan tembak di tempat, bila ada kelompok yang menyerang karena pihaknya telah diberikan jaminan oleh Komite Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM yang berkunjung ke Maluku Utara beberapa waktu lalu itu,'' tegas Sutrisno.

Kadit Sospol Tkt I Maluku Utara Drs Sadi Syafaat menjelaskan pihaknya telah menginstruksikan kepada para camat dalam Wilayah Provinsi Maluku Utara untuk tidak lagi menerima pengungsi. ''Kalau pengungsi dari luar atau bukan penduduk asli di kecamatan yang bersangkutan, ditolak saja keberadaan mereka. Dari pada mereka provokasi warga lainnya lebih baik bertahan saja di desa masing-masing,'' tegasnya.

Sementara itu, dari Ambon dikabarkan, patroli keamanan menangkap MK (40) dan MR (18) di Jl Dr Tamaela, Ambon, Senin sekitar pukul 22.00 WIT karena membawa dua bom rakitan dan satu pistol rakitan berisi satu butir peluru M16 serta dua selebaran SARA dalam truknya.

Patroli yang dilakukan personel bantuan militer (Banmil) Yonif 405 Kodam IV Diponegoro mencurigai truk Colt Diesel bak warna biru nomor polisi DE 8246 A yang dikemudikan MR. Setelah diperiksa, aparat menemukan dua bom rakitan dan satu pistol rakitan serta gulungan kertas publikasi SARA dalam dasbor truk yang baru berangkat dari Dermaga Yos Sudarso Ambon.

Menurut pengakuan MR, dia tidak tahu-menahu bahwa dalam mobil tersebut terdapat senjata dan bom rakitan. ''Saya tidak tahu Pak. Teman saya yang membawa,'' katanya.

MK mengaku dua bom rakitan yang berdetonator tersebut diminta dari adiknya sehari sebelumnya. ''Saya minta tolong, adik saya yang membeli bom itu dari orang lain seharga seratus ribu per biji,'' katanya.

Sedangkan pistol rakitan dan satu butir amunisi dibuatnya sendiri sejak pecah pertikaian pertama di kota Ambon. ''Saya tidak pernah menggunakannya. Ini hanya untuk membela diri,'' katanya.

Keberhasilan personel Yonif 405 itu menambah jumlah orang yang diamankan menjadi empat orang sejak diterapkan peraturan untuk menangkap anggota masyarakat yang kedapatan membawa atau menyimpan senjata api atau bom rakitan pada 23 Januari 2000.

Sebelumnya, HM (21), warga Batu Gantung ditangkap di jalan yang sama pada Ahad (24/1) malam karena membawa enam butir amunisi jenis colt dan SKS yang akan dijual Rp 250 ribu/butir kepada Edi, warga Tahala.

Selain itu, aparat juga mengamankan DD (15), warga Batu Gantung yang masih kelas II SLTP karena kedapatan membawa satu pistol rakitan, empat butir amunisi, dan satu parang saat bersekolah pada Kamis (27/1). n run/ant

1