![]() |
||
|
Hidayatullah Edisi Maret 2000
Terpaksa Mencuri Untuk Hidup
Dimanapun, nasib para pengungsi sungguh menyedihkan. Banyak yang depresi berat, kurang pangan dan obat-obatan. Herannya, bantuan dari pemerintah nihil. Itu pula yang dialami pengungsi Maluku.
Hari-hari ini, kondisi kamp-kamp pengungsian di Ternate sangat memprihatinkan. Jumlah pengungsi yang hampir mencapai 100 ribu orang, mengalami kekurangan pangan. Sebagian besar bayi dan anak-anak mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi. Bahkan sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja pengungsi mulai melakukan pencurian kecil-kecilan, agar tetap bertahan hidup.
Maklum, sejak terjadinya pembantaian di Tobelo, Halmahera Utara, akhir Desember 1999 tahun lalu, Ternate sebuah pulau kecil harus menampung hampir 100 ribu pengungsi. Kebutuhan pengungsi tentu sangat besar. Beras saja dibutuhkan 100 ton per minggu. Sementara bantuan yang dihimpun baru bisa memenuhi beras sebesar 100 ton sebulan alias baru 25% dari kebutuhan. Kami sudah mengecek gudang-gudang Dolog di Ternate dan sekitarnya, semuanya kosong, kata dr Naharus Surur, Ketua Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU).
Sejuah ini yang terjun langsung menangani pengungsi mulai dari pengadaan pangan, kesehatan, hingga persoalan sosial, baru dilakukan lembaga swadaya ummat (LSU) seperti PKPU, Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) bentukan DDII, dan lembaga-lembaga serupa, yang jumlahnya tidak banyak. Padahal mestinya yang paling depan pemerintah. Tapi hingga kini pemerintah belum turun tangan sedikitpun, kata Muhammad Hafidz, Ketua Kompak. Karena itu baik Naharus maupun Hafidz secara manusiawi bisa memahami terjadinya pencurian kecil-kecilan itu, meskipun sangat tidak diinginkan.
Ini sangat ironis, di saat pemerintah membuka kran impor beras besar-besaran, saudara-saudara kita di kamp-kamp pengungsian menderita kelaparan. Saya ingatkan kepada pemerintah dan aparat keamanan selaku pengambil kebijakan bahwa persoalan pembantaian dan pengungsi ini pengadilannya tidak hanya di dunia, tapi akan terus dikejar hingga di akhirat kelak, tegas Amien Rais, Ketua MPR yang sempat menangis menyaksikan tayangan korban pembantaian Tobelo.
Demikian juga dengan tenaga medis, yang banyak berperan juga dari lembaga swadaya ummat, seperti dokter dari Mer-C dan PKPU. Tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah Ternate yang semula 21 orang, tinggal lima orang. Sebanyak 16 dokter memilih eksodus ke luar daerah. Instalasi gawat darurat yang mestinya dilayani dokter selama 24 jam, kini dilayani oleh perawat dari Sekolah Perawat Kesehatan (setingkat SMU).
Puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan banyak yang ditinggal dokter sehingga dilayani perawat. Karena itu, PKPU membuat Klinik Ummat yang melakukan pelayanan keliling ke kamp-kamp pengsungsi. Tapi kami mengalami keterbatasan, tambah Naharus.
Kami sebenarnya sudah mendesak Menteri Kesehatan agar segera mengirim bantuan tenaga medis dan paramedis untuk mengatasi kesehatan pengungsi Muslim di Ternate. Sementara kepada Menko Kesra dan Taskin kami juga telah mendesak agar segera memberi bantuan logistik dan rehabilitasi infrastruktur fisik di kamp-kamp pengungsi Maluku Utara, kata Naharus lagi. Sejauh pantauan Sahid di lapangan, bantuan pemerintah memang belum ada.
Selain itu, persoalan sosial mulai timbul. Mentalitas pengungsi mulai menurun, baik pada anak-anak, remaja, maupun orang tua. Ini karena tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan di kamp-kamp pengungsi. Wajah mereka tampak murung, mudah tersinggung, dan cepat marah, kata Ridwan M Ilyas dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang ikut menjadi petugas lapangan di Ternate.
Menurut Ridwan, kamp-kamp pengungsi yang terbuka tanpa tabir seperti Gedung Bioskop Mitra Gelanggang Olah Raga, juga menimbulkan persoalan sosial tersendiri, terutama bagi anak-anak dan remaja. Misalnya kalau mereka terbangun tengah malam, tiba-tiba menyaksikan adanya pasangan suami istri yang tidur berpelukan. Saya khawatir mereka akan meniru, Ridwan tampak cemas. Belum lagi kalau ada kebutuhan biologis di kalangan pengungsi. Karena itulah rehabilitasi fisik menjadi sangat penting.
Sebenarnya aktivitas sosial di kamp-kamp pengungsi sudah diciptakan, tapi cakupannya sangat sangat terbatas. Seperti yang dilakukan Pos Peduli Ummat yang membuka Baitul Mal wa Tamwil di pasar Ternate bagi pengungsi di Bastiong. Tapi tentu saja terbatas pada yang bisa berdagang.
Demikian juga kegiatan pendidikan, meski mulai ada tapi juga terbatas. Kompak DDII bekerja sama dengan Yayasan Al-Shohwa mencoba menerbitkan buku-buku agama untuk penyelenggaraan pendidikan darurat, seperti madrasah terbuka. Hal ini pernah dilakukan oleh KP Pelajar Islam Indonesia di kamp-kamp pengungsian Ambon dan Tual.
Persoalan sosial seperti ini sudah muncul di tempat pengungsian yang lebih lama, seperti ummat Islam di Ambon yang sudah setahun. Sebabnya kurang lebih sama, karena minimnya kegiatan yang harus dilakukan. Seperti pengungsi yang tertampung di Taman Hiburan Rakyat Ambon, masjid Al-Fatah, maupun di tempat lain.
Meski di kawasan Ambon sudah ada bantuan pemerintah, tetapi para pengungsi masih sulit menjangkau. Untuk mendapatkan bantuan kami harus bikin surat permohonan segala, kata Siti Humrah (25) pengungsi Muslim yang ditampung di THR Ambon. Sesuatu yang sangat sulit dipenuhi oleh pengungsi.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Nur Umah Latar (27), seorang pengungsi yang ditampung di SD Negeri VI Waihaong, Ambon. Akhirnya, lagi-lagi mereka kembali ke LSU yang menyalurkan bantuan seperti PKPU, Kompak, dan semacamnya itu.
Mereka yang peduli ummat
Ada empat jenis lembaga yang melakukan kegiatan kemanusiaan di Maluku.
Pertama, lembaga yang mengumpulkan bantuan dan rehabilitasi sosial bagi pengungsi seperti PKPU, Kompak, Lembaga Ummul Quro, Muhammadiyah, MUI, dan lembaga keagamaan lainnya. Kedua, lembaga yang memberi layanan medis bagi korban perang seperti Mer-C, dan lembaga medis lainnya. Ketiga, lembaga yang bergerak dalam pembentukan opini dan penyadaran masyakat seperti Yayasan Nurani Dunia dan LSM-LSM Muslim Indonesia, di dalam dan luar negeri. Terakhir adalah lembaga yang bergerak di bidang advokasi. Sejauh ini baru Pusat Advokasi Hak Asasi Manusia (PAHAM) dan Tim Advokasi MUI Maluku Utara yang aktif di sana.
Sebenarnya ada satu jenis lembaga lagi yang juga berperan di Maluku, namun yang ini agak tertutup. Yaitu yang memberikan bantuan personil dan persenjataan untuk perang.
Di daerah seribu pulau itu PKPU, Kompak, Pos Peduli Ummat, dan Lembaga Ummul Quro, menjadi ujung tombak penyaluran bantuan. Bahkan kini terjalin kerjasama antara PKPU, MUI Maluku, DDII dengan Kompaknya, Dompet Dhuafa Republika (DDR), Mer-C, dan lain-lain.
Yang menjadi salah satu kendala gerak PKPU adalah tempat yang terpencar-pencar di berbagai pelosok pulau serta kondisi alam lautnya yang sering terjadi badai. Ditambah lagi masih adanya blokade aparat keamanan sehingga menghambat pengiriman bantuan kemanusian. Belum lagi hadangan dari pihak merah.
Kepada semua pihak yang akan menyalurkan bantuannya dalam bentuk apapun, bisa melalui sekretariat PKPU: Jl Mampang Prapatan XII No 9, Tegal Parang, Mampang, Jakarta. Telepon 021-7997220. Atau melalui rekening di Bank Muamalat Indonesia (BMI) No 301.00354.15 atas nama Pos Keadilan Peduli Umat. Sementara untuk mendapat informasi bisa melalui telepon atau e-mail: umat@poskeadilan.org serta mengklik home page PKPU di: www.poskeadilan.org
Selain lembaga tersebut di atas, pihak yang menaruh perhatian besar terhadap pengungsi adalah Yayasan Nurani Dunia (YND). YND melakukan kampanye besar-besaran untuk mengangkat berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi di sejumlah tempat di tanah air. Kami memang menekankan aktivitas yang berorientasi pada fungsi penyadaran, karena bagaimanapun kasus-kasus itu tidak bisa dianggap sepele, ujar Imam B Prasodjo, sosiolog dari UI yang menjadi motor YND.
Yayasan ini sebetulnya lebih berfungsi sebagai networking saja, sebagai fungsi penyadaran. Setelah itu bantuan diberikan ke mana, terserah. Tapi ada juga yang menyerahkan ke YND. Hingga saat ini YND sudah menyalurkan bantuan lebih dari 250 juta rupiah dalam bentuk obat-obatan, makanan, susu, pakaian dalam, selimut, kasur, pembalut wanita, serta berbagai keperluan hidup lainnya.
Lebih jauh Imam menjelaskan bahwa lembaganya juga selalu melakukan kerjasama dengan lembaga lainnya yang juga memiliki misi yang sama antara lain PKPU dan MER-C.
Saat ini, YND berkantor di Jl Proklamasi No 37 Jakarta. Masyarakat yang berniat menyalurkan bantuannya bisa datang langsung ke sekretariat YND atau melalui rekening BNI Cab Wisma Argo Manunggal No 260000500246001. Adapun informasi lebih detil bisa menghubungi telepon 021-3913768 dan alamat e-mail: nurani@dnet.net.id atau dengan mengklik home page: www.nuranidunia.org
Selain PKPU, lembaga medis yang paling sering bersentuhan dengan pengungsi adalah Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang diketuai dr Joserizal Jurnalis, SpBO. Sejak tragedi Maluku I, Mer-C telah mengirimkan tim medisnya ke medan konflik, baik di Ambon maupun di Tual. Kondisi lapangan yang masih panas seakan tidak dihiraukannya. Seringkali Mer-C melakukan tindakan medis dengan pengamanan aparat, baik kepada kelompok Muslim maupun Kristen.
Ketika tragedi di Halmahera Utara yang bertepatan dengan saat-saat Natal dan tahun baru 2000, MER-C kembali menerjunkan satu tim medisnya yang terdiri atas lima orang dokter di bawah pimpinan Joserizal Jurnalis. Di sana dokter-dokter muda itu menyaksikan pembantaian yang lebih mengerikan dari yang terjadi di Ambon (Baca: 700 Jam Bersama Pengungsi).
Kami lakukan itu bukan karena semata-mata kebetulan kami Muslim sebagaimana para pengungsi itu, tapi karena secara kemanusiaan mereka memang berhak mendapat perlindungan dari keberingasan orang-orang yang kebetulan Kristen, kata Joserizal, mengungkapkan alasan keterlibatannya di Galela.
Diakui Jose, sebetulnya lembaga ini merupakan lembaga kalengan alias tidak ada dana. Kalau kami akan memberangkatkan tim medis, kami tunggu sampai dana terkumpul dulu, kata Jose. Karena itu dia menyambut baik lembaga lain yang selama ini peduli terhadap pengungsi dengan saling menjalin kerjasama.
Kesulitan lembaga ini memang masalah dukungan dana. Problem klasik ini seringkali menjadi kendala juga bagi MER-C dalam menjalankan perannya yang lebih maksimal. Bagaimana tidak, untuk beberapa kali keberangkatan saja, tim ini harus menunggu dana yang masuk. Sampai-sampai untuk memastikan keberangkatan tim yang akan kami utus, setiap saat kita selalu mengecek apakah sudah ada dana yang masuk ke rekening kami, kenang Wahyu Widodo, salah seorang dokter yang akan diberangkatkan lagi untuk kedua kalinya ke Galela.
Bahkan untuk membeli perangkat kedokteran yang sangat dibutuhkan untuk pengobatan dan operasi di lapangan saja, MER-C masih belum mampu. Sehingga, sejumlah perangkat vital yang diperlukan pun harus dipinjam dari sejumlah simpatisan. Alat-alat kedokteran yang kami bawa adalah milik kami masing-masing. Selebihnya kami pinjam dari sejumlah dokter senior kami, tambah Wahyu lagi.
Dengan kondisi seperti itu maka MER-C masih mengharapkan dukungan dan partisipasi masyarakat. Bantuan bisa disampaikan langsung ke sekretariat MER-C: Jl Kramat Kwitang IE No 15A Jakarta Pusat atau melalui rekening BMI No 301.00349.15 dan BNI 46 No 001129556.001 atas nama Medical Emergency Rescue Committee. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor telepon 021-3149421 dan alamat e-mail: merc@indosat.net.id atau mengklik website: www.come.to/mer-c