![]() |
||
|
Wawancara Dengan Panglima Laskar JihadBogor - 13 Apr 00 11:48 WIB (Astaga.com)
Dalam tradisi Laskar Jihad Ahlussunnah wal Jamaah, satu-satunya orang yang
diberi kewenangan untuk berbicara secara resmi kepada pers adalah panglima
perangnya Ustadz Jaffar Umar Thalib. Di tengah suasana markas latihan
mereka yang dijaga ketat, Astaga.com beruntung bisa diterima oleh panglima
laskar jihad ini .
Tidak gampang menemui sang Panglima di dalam markas latihannya. Setelah 2
jam menunggu pengecekan kartu identitas, seorang provost laskar jihad
menyuruh wartawan masuk ke area latihan. Lalu, penggeledahan dilakukan.
Tas, kamera, pokoknya semua barang bawaan diperiksa. Tidak lupa para
provot menyuruh wartawan merentangkan tangan dan kakinya, digeledah
sekujur tubuhnya.
Bersama beberapa wartawan asing, Astaga.com diterima Jaffar Umar di
tendanya yang terletak di tengah-tengah tenda anak buahnya. Beralaskan
karpet beludru tebal berwarna merah tua, wawancara dilakukan sambil
lesehan dengan suguhan buah kurma. Berikut petikan wawancara yang
dilakukan Selasa (11/4) sore):
Apa maksud latihan militer di Bogor ini?
Kegiatan di sini adalah untuk membikin training yang kita sebut latihan
gabungan nasional untuk menyatukan komando. Sebab mereka ini berasal dari
berbagai daerah dari seluruh Indonesia.
Bagaimana cara perekrutan mereka?
Seluruh santri pondok pesantren Ahlussunah wal Jamaah ikut. . Karena
Laskar Jihad ini dibentuk oleh forum komunikasi Ahlussunah wal Jamaah.
Tapi sebagian disisakan untuk menangani pondok pesantren kita tahan agar
jangan berangkat. Kalau pun mau berangkat gelombang berikutnya. Nanti
tentara cadangan ini berangkat ke sana. Kita juga buka pendaftaran.
Pasukan kita 70% sarjana dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Pelatih dari mana?
Dari mahasiswa yang ikut Menwa. Ada juga alumni Mujahidin Afghanistan,
Moro, dan Kashmir. Lengkap.
Lalu, apa yang akan dilakukan setelah latihan ini?
Setelah latgab ini kita siap-siap untuk berangkat. Tanggal 16 dari sini
mereka yang di Jawa kembali ke rumah masing-masing untuk temui keluarganya
yang akan ditinggal Jihad. Tanggal 29 kumpul di Kaliurang, lalu bergerak
menuju Surabaya . Insya Allah tanggal 30 April kita sudah bisa berangkat
dari di Tanjung Perak menuju Ambon. Tujuan pertama kita akan ke Ambon dan
sekitarnya.
Apa target utama laskar jihad?
Sebenarnya target utamanya adalah mengembalikan wibawa umat Islam
Indonesia di hadapan dunia internasional, guna mendorong terbentuknya
pemerintah yang berwibawa. Sekarang ini kita melihat kenyataan, pemerintah
kita adalah pengemis internasional. Mereka minta bantuan kepada
lembaga-lembaga internasional sampai pada tingkat tidak ada harga diri.
Karena itu kita membuat laskar jihad dengan upaya untuk menaikan wibawa
umat Islam. Ini sekaligus sebagai reaksi terhadap ketidakmampuan
pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.
Apa tujuan anda berperang di Maluku?
Tujuan kita adalah berperang melawan kelompok separatis RMS yang ingin
memisahkan diri dari RI. Kemudian sekarang berkembang ada kelompok Gereja
Protestan Maluku (GPM) yang ternyata ambisinya lebih besar dari RMS. Kalau
RMS ingin memisahkan diri dari RI, tapi kalau GPM ingin mendirikan Negara
Kristen Indonesia Timur meliputi yang meliputi 3 wilayah: Irian, Maluku
dan Sulawesi Utara. Kita akan berperang melawan mereka.
Kabarnya sudah ada pasukan yang sampai di Ambon?
Sebagian pasukan yang sudah ada di sana adalah pasukan yang menyiapkan
berbagai perlengkapan komunikasi, mendirikan posko-posko untuk menyiapkan
alat-alat komunikasi. Mereka itu sebagai pasukan untuk melancarkan
komando.
Berapa jumlah pasukan yang sudah sampai kesana ?
Sekitar 7.000 orang. Kita memang merahasikan jumlah pasukan yang telah
sampai di sana. Sebab mereka menyiapkan kedatangan pasukan gelombang
kedua. Pokoknya, yang sudah dikirim ke sana lebih besar dari yang ada di
sini. Dengan demikian dapat memberikan tekanan kepada berbagai pihak agar
tidak over acting dalam menghalau pasukan yang akan datang lagi.
Ada yang menghalangi selama perjalanannya?
Sampai sekarang tidak ada yang menghalangi. Mereka masuk sebagai penumpang
biasa, bukan sebagai mujahidin. Sebagian sudah masuk Ambon, sebagian masih
dalam perjalanan.
Konflik di Maluku sudah sampai taraf menggunakan senjata api. Bagaimana
persiapan pasukan anda?
Kalau kita berbicara pertempuran yang akan terjadi disana, tentu kita
menyiapkan diri dan pasukan serta senjata-senjata api. Tapi itu tidak kita
galang dari sini. Itu kita siapkan kalau situasi disana memang memerlukan.
Tapi senjata api itu sudah disiapkan?
Pasukan yang kita kirim ke sana itu sedang menyiapkan semuanya. Kita baru
memegang persenjataan api itu kalau di medan perang memang telah meletus.
Bagaimana antisipasi terhadap ancaman pemerintah yang akan menghadang
pasukan jihad?
Upaya kita sekarang ini adalah antisipasi, lobi-lobi. Termasuk kemarin
kita menemui Presiden. Semuanya itu adalah antisipasi. Kepada pejabat
militer juga kita temui guna kita ingatkan bahwa TNI/Polri dari rakyat
untuk rakyat. Karena itu jangan sampai TNI/polri difungsikan untuk
memusuhi rakyat.
Tanggapan mereka bagaimana?
Alhamdulillah mereka secara pribadi memang mendukung aspirasi kita. Secara
pribadi. Tapi secara institusi tentunya tidak bisa semudah itu mendukung.
Jadi beliau-beliau menasehatkan kepada kita: sebaiknya jangan berangkat.
Saya sampaikan kepada beliau-beliau, jangan mengambil kesimpulan seperti
itu. Biarkan kita berjuang.
Siapa yang sudah didatangi di kalangan militer?
Itu masih pada tingkat daerah saja, jadi belum sampai tingkat pusat.
Pangdam, maksudnya?
Ya, jadi sampai pada tingkat itu saja . Beliau-beliau katakan: ya yang
penting jangan bertabrakan langsung dengan TNI karena kami tidak bisa
mengambil resiko. Jadi kita pahami itu dan memang nasihat dari ulama juga
mengatakan agar kita tidak bertabrakan langsung dengan TNI.
Pangdam di jawa?
Bukan, pangdam yang kita temui ada di luar jawa.
Di Maluku?
Bukan. Justru yang kita tuduh sebagai penjahat perang adalah Pangdam
Pattimura Maluku Max Tamaela. Dua orang di Maluku sebagai penjahat perang
yaitu Max Tamaela dan Benny Dorro atau Bernard Bicara. Benny Dorro adalah
panglima tentara Merah di Halmahera. Dua orang itu terlibat langsung dalam
pembunuhan kaum muslim di Halmahera. Buktinya kuat. Kita serahkan itu pada
MA bahwa presiden tidak mau tahu dengan bukti-bukti itu.
Anda katakan tidak mau bertabrakan dengan TNI. Tapi anda bilang Max
Tamaela sebagai penjahat perang, padahal dia seorang pangdam?
Itulah ..makanya saya ingin pisahkan posisi Max Tamaela sebagai pribadi
yang penjahat perang dan sebagai aparat TNI. Karena itu, yang terus kita
upayakan adalah jangan sampai hal ini disalah fahami oleh TNI.
Kalau pemerintah tidak ambil tindakan terhadap mereka?
Yang kita kejar pertama memang Benny Dorro. Dan kalau Max Tamaela membabi
buta melindungi Benny, ya tentu kita akan melawan tapi bukan berarti
melawan TNI. Kita berperang melawan tentara Benny Dorro. Dan kita tidak
peduli ketika tentara Benny Dorro itu dilindungi oleh aparat keamanan.
Wakil ketua DPR Muhaimain Iskandar mengatakan akan melacak siapa di balik
laskar jihad karena disinyalir mempunyai motif politik
Itu terserah. Siapa pun mau melacak, kita transparan. Alhamdulllilah, kami
tidak mempunyai rahasia apa pun yang harus ditutupi. Jadi, kami jalan
terus.
Termasuk asal dana laskar jihad akan dilacak?
Silakan, mau melacak dengan apa. Yang jelas kami bukan bawahan Muhaimin
dan dia tidak bisa memanggil kami.
Tapi benar ada motif politik? Apalagi laskar jihad meminta Gus Dur
diturunkan
Ya...tuduhan motif politik itu perlu didefinisikan apa maksudnya. Kita
meminta supaya Gus Dur mundur itu karena berkaitan langsung dengan sikap
dia yang tidak bersikap apa-apa terhadap Max Tamaela dan kasus Maluku
secara keseluruhan. Dan kasus Maluku tidak akan pernah selesai selama ada
orang seperti Max Tamaela dan Benny Dorro. Kalau penggeraknya ini tidak
ditangkap, nggak ada artinya. Di sini kita lihat, Gus Dur tidak mau
bertindak sama sekali. Bahkan setiap ada upaya di kalangan TNI untuk geser
Max Tamaela, yang akan menggeser malah digesernya.
Apa pendapat anda tentang Gus Dur?
Politik Gus Dur adalah politik tentang jual beli bangsa. Waktu pertemuan,
kami katakan: kamu selalu memihak non Islam sebelum jadi presiden sampai
sekarang jadi presiden.
Apakah anda merasakan bahwa penduduk sekitar lokasi merasa terganggu
dengan kehadiran laskar jihad disini?
Alhamdulilah, selama ini kita selalu baik dengan penduduk di sini. Kita
tidak menganggu mereka. Keluhan-keluhan itu selalu disampaikan kepada kita
kalau ada.
Soal penggunaan senjata tajam?
Kapolwil telah datang kesini, mengimbau agar senjata tajam tidak perlu
dibawa ke Jakarta dsb. Alhamdulilah saya katakan, saya paham bahwa itu
berakibat kepada posisi bapak sebagai penanggung jawab keamanan. Insya
Allah, kalau melakukan kegiatan-kegiatan, kita akan tahan agar anak-anak
jangan membawa senjata tajam. Juga saya sampaikan pada beliau bahwa kita
membawa senjata tajam karena berdasar pengalaman yang sudah-sudah. Ini
bukan pelecehan terhadap aparat hukum. Ini tantangan langsung kita kepada
para preman yang selama ini sok jago. Kita menantang segenap satgas PDIP
dan preman-preman pendukungnya yang selama ini petentang petenteng. Ini
kita lakukan bukan hanya di Jakarta saja, tapi di berbagai daerah. Di
Solo, kita hadapi preman-preman yang akan kacaukan wali kota Solo.
Setelah ini tetap akan membawa pedang?
Itulahkita pertimbangkan permintaan Kapolwil. Tapi terhadap satgas PDIP
kita tetap akan keras, supaya mereka tidak petentang petenteng.
Anda anti Megawati?
Ya. Dari awal kita memang anti Megawati dan orang-orang di sekitar Mega.
Karena mereka termasuk dalam orang yang terlibat dalam kasus Ambon. Alex
Litay terlibat langsung pada kerusuhan pertama. Itu juga yang akan kita
perkarakan. Tapi kita tidak akan memperkarakan tanpa menggalang massa
lebih dahulu. Kita belajar dari kasus Theo Sjafei. Pidatonya melecehkan
umat Islam dan menjadi provokator kerusuhan Kupang. Tapi ketika diadukan
ke pihak berwajib, semua itu sia-sia.
Sampai saat ini berapa dana yang sudah dikumpulkan laskar jihad ?
Yang sudah kita pakai untuk pelatihan di daerah dan latihan gabungan
nasional ini ada Rp 700 juta lebih. Dan ini sekaligus sebagai laporan
kepada masyarakat yang memberi sumbangan ke kita melalui kotak-kotak
sumbangan.
Dana yang tersisa berapa?
Masih ada sekitar Rp100 juta lebih. Itu untuk kepentingan konsumsi dan
konvoi yang kita bikin waktu pemberangkatan besok, tanggal 29 April sampai
tanggal 30 April yang berangkat dari Yogyakarta ke Surabaya. Dana itu kita
pilah-pilah untuk berbagai kepentingan. Untuk kepentingan latihan-lataihan
sekitar itu (RP 700 juta), kemudian dana-dana lain. Dana kami berasal
sumbangan dari masyarakat di jalan-jalan dan rumah-rumah.
Ada dana dari luar negeri?
Dari luar negeri kita upayakan. Yang sudah masuk dari Kongres Umat Islam
New Jersey pada tanggal 8-9 April lalu. Kami utus orang ke sana. Jumlahnya
tidak bisa kami sebutkan. Dari Saudi Arabia juga ada dukungan dana.
Ada Ormas Islam yang ikut menyumbang?
Ndak, ndak ada.
Kalau sampai dihadang, dilarang pergi ke Maluku, anda mengancam akan
mengobarkan Jihad di Jawa?
Kita akan yakinkan bahwa gerakan kita ini bukan berperang melawan mereka
(aparat keamanan). Tapi kalau mereka tetap menolak, terpaksa Jihad itu
kita kobarkan di Jawa.
Siapa sasarannya?
Sasarannya adalah orang, lembaga dan fasilitas-fasilitas yang berhubungan
dengan pembantaian umat Islam di Maluku.
Bisa anda sebutkan?
Wah, ya jangan. Sementara biar mereka tenang-tenang saja.
Tidak ada jalan lain selain Jihad?
Sudah kita upayakan setahun lebih. Sejak tanggal 19 Januari 1999 sudah
mengupayakan tindakan persuasif. Bahkan kita sudah kirim map lengkap
data-data ke presiden, waktu itu Habibie.
Ada kelompok lain yang mendukung anda?
Seluruh kaum muslimin alhamdulillah mendukung. Dari PBNU, Pak Shalahudin
Wahid mendukung, dari PP Muhamadiyah mendukung. Amien Rais juga mendukung.
Berbagai kelompok umat Islam mendukung.
Ada pasukan luar yang siap bergabung?
Mereka riilnya ada. Tapi kami tidak bisa menampung seluruhnya di sini
sehingga mereka akan berangkat yang sudah dilatih. Yang belum akan
menyusul walau ada keinginan dari pihak luar, dari Moro dsb, kami
menyatakan maaf, kami mengurus mereka repot kan. Mereka dari Yaman,
Afghan, dari Moro ingin masuk ke sini.
Anda tidak takut reaksi Banser NU?
Kyai-kyai NU terus kita lobi, kita yakinkan bahwa sesungguhnya ini untuk
umat Islam keseluruhan. Dan, yang jadi korban di sana itu kebanyakan dari
NU.
Apakah laskar jihad ada hubungannya dengan Pam Swakarsa waktu SI MPR dulu?
Nggak ada. Waktu ada Pam Swakarsa, kami masih ngaji kitab kuning. Kita
bukan pendukung Habibie atau pendukung tokoh lainnya. Kita, alhamdulillah,
independen. (budiyono)
Selesai.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
(DI-14/04/00)
Source :
http://www.astaga.com/Article/0,4536,9079,00.html