b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

 

MER-C Sebuah Amanah bagi Kemanusiaan

Mendatangi Markas Besar MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) di Jl Kramat Kwitang 1 E, Jakarta Pusat Senin (15/5) sore lalu, tampak tiga gadis berjilbab tengah menghitung uang. Kebanyakan uang recehan sumbangan dari berbagai masjid maupun majelis taklim sebagai tanda kepedulian umat guna meringankan saudara-saudara mereka di Maluku.

Dalam pengumpulan dana ini, uang tersebut oleh MER-C hampir tidak pernah ditahan-tahan, berputar terus. Langsung dibelikan segala perlengkapan yang dibutuhkan oleh para korban dan pengungsi, kata seorang di antara mereka.

Sekalipun, kerusuhan di wilayah Indonesia bagian timur yang terjadi sejak awal 1999 itu sudah tidak lagi menghiasi halaman-halaman surat kabar, tapi jangan dikira keadaan sudah normal. Sebagaimana dikatakan oleh aktivis MER-C, Suseno (24), konflik antara dua kubu yang saling bermusuhan itu masih terus terjadi. ''Setidak-tidaknya secara sporadis baku hantam antara kelompok Islam dan Kristen sering terjadi,'' kata mahasiswa tingkat akhir IISIP Lenteng Agung, Jakarta Selatan yang baru saja kembali dari Galela, Maluku Utara.

Di Halmahera saja, ungkap Suseno --salah seorang relawan MER-C yang berada di Maluku Utara selama lebih dari dua bulan-- terdapat sekitar 70 ribu pengungsi Muslim dari Galela, sebuah kecamatan di bagian utara Pulau Halmahera. Dari jumlah tersebut, baru 7.000 pengungsi yang kembali ke Galela, yang hingga kini masih terisolir. Karena jalan darat dari sini ke Halmahera yang dapat ditempuh empat jam, hingga kini tidak dapat dilewati akibat dikuasai kelompok Kristen. Mereka, bersama dengan para pengungsi di Halmahera sangat memerlukan pertolongan medis. Di samping makanan, termasuk makanan bayi, pakaian, dan peralatan sekolah.

Belum lagi obat-obatan dan peralatan medis seperti alat-alat operasi, peralatan untuk para cacat, generator set, dan masih banyak lagi. Hingga kepedulian masyarakat terhadap nasib saudara-saudaranya di Maluku masih dibutuhkan. Karena itulah MER-C, hingga kini masih terus melakukan berbagai kegiatan medis di Maluku. Untuk itu, MER-C telah menerima pendaftaran lebih dari 200 relawan. Sekitar 50 persen dari mereka terdiri dari tenaga dokter dan medis, yang siap sewaktu-waktu diberangkatkan.

Sejak kerusuhan di Ambon sekitar satu setengah tahun lalu, sudah tidak terhitung banyaknya tenaga MER-C yang diterjunkan ke Maluku. Bahkan dewasa ini belasan dokter, puluhan tenaga medis dan pekerja sosial MER-C berada di sana.

Di antara mereka terdapat pula sejumlah psikolog. Tenaga ini, kata Suseno, sangat dibutuhkan untuk meneliti dampak dari konflik dan pembantaian terhadap jiwa anak-anak para pengungsi. Karena banyak di antara mereka menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya dibantai secara kejam, saat konflik terjadi. Trauma ini tidak boleh berkepanjangan hingga mempengaruhi masa depan mereka.

Sementara itu Ketua Presidium MER-C, dr Joserizal Jurnalis kini tengah mengadakan 'road show' keliling Eropa. Bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk menjelaskan keadaan sebenarnya peristiwa di Maluku, kepada pihak LSM dan pemerintah di negara-negara itu. Menurut sumber Republika, dr Joserizal akan menjelaskan bagaimana sebenarnya konflik di Maluku terjadi. Yang dimulai justru oleh kelompok Kristen.

Menurut sumber tersebut, hal ini perlu dijelaskan, karena di negara-negara Eropa berita-berita tentang Maluku telah diplintir demikian rupa, seolah-olah umat Islam-lah yang melakukan pembantaian terhadap kelompok agama lain. Melalui pers Barat yang memutarbalikkan fakta, digambarkan seolah-olah umat Islam di Maluku tidak mengenal perikemanusiaan. Padahal merekalah yang menjadi korban kekerasan.

MER-C memulai operasi kemanusiaannya di Maluku hanya beberapa bulan setelah timbul kerusuhan di Ambon. Adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Tim Medis Mahasiswa UI (TMM-UI) melihat keadaan yang sangat menyedihkan ini pada bulan April 1999 mengirimkan tim ke Ambon dan Tual.

Tanpa mengenal lelah dan dalam kondisi serba darurat, para mahasiswa dan dokter ini telah melakukan berbagai aksi kemanusiaan. Antara lain berupa pelayanan pengobatan bagi pengungsi dan hospitalisasi di sebuah rumah sakit yang sudah tidak berfungsi lagi sejak kerusuhan berlangsung.

Menyoroti penanganan korban kerusuhan dan pengungsi pada tragedi Ambon, TMM-UI berpendapat bahwa terdapat ketidaknetralan dan keberpihakan tenaga medis dalam kancah pertempuran di kepulauan Maluku. Yang sangat memprihatinkan, sikap profesional yang seharusnya ada pada setiap tenaga medis, salah satunya terlihat dari sikap netral dan tidak berpihak, sulit ditemui.

Seperti distribusi bantuan berupa logistik dan pelayanan medis yang diberikan kepada kedua belah pihak yang bertikai tidak adil dan merata. Tentu saja yang dimaksudkan adalah kerugian bagi kelompok Islam dalam memperoleh pelayanan kesehatan di Maluku.

Kondisi ini lebih diperparah lagi oleh mobilitas tenaga medis ke daerah kerusuhan yang kurang. Semua faktor di atas berimplikasi pada penanganan korban yang tidak optimal.

Untuk itulah, TMM-UI membentuk MER-C, yang punya sifat profesional, netral, mandiri, sukarela dan memiliki mobilitas tinggi. Didirikan pada 14 Agustus 1999 di Jakarta dengan asas Islam dan berpegang pada prinsip rahmatan lil 'alamin. Sehari setelah berdiri, 15 Agustus 199 telah diberangkatkan tim medis pertama dan obat-obatan. Seminggu kemudian, 21 Agustus 1999 dikirim tim medis berikutnya. Sejak saat itu, hingga kini tidak pernah henti-hentinya MER-C mengirimkan tim medisnya. Termasuk sekali ke Aceh.n as

Perlu Mubaligh Tahan Banting

Di kediaman Ustadz Hussain Alatas di Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur, tampak beberapa peti berisi pakaian wanita, pakaian anak-anak, mukena dan sajadah. Pimpinan Majelis Taklim Rahmatan Lil Alamin ini boleh dikata secara rutin, hingga kini, selalu mengirimkan bantuan kepada para pengungsi Muslim di Maluku. Termasuk obat-obatan dan peralatan medis. Bahkan, sebagaimana diakui oleh pihak MER-C sendiri, ustadz lulusan Kairo 1986 ini merupakan donatur tetap MER-C yang selalu membantu MER-C. Bahkan ikut dalam kepengurusan MER-C sejak awal organisasi kemanusiaan itu didirikan.

Ustadz kelahiran Betawi 39 tahun lalu ini, bahkan beberapa waktu lalu telah menyaksikan sendiri keadaan para pengungsi di Maluku. Yang membuat dai muda ini makin giat menggelorakan semangat kaum Muslimin di Tanah Air untuk menyisihkan sebagian rezekinya kepada saudara-saudara mereka di Maluku. Dakwah-dakwah semacam ini tidak pernah luput ia sampaikan saat berceramah di berbagai tempat.

Setelah hampir satu setengah tahun tanpa pernah jemu menyerukan hal itu, Ustadz Hussain merasa cukup banyak umat yang menaruh kepedulian terhadap saudara mereka di Maluku. ''Sekalipun dengan berat hati saya mengatakan bahwa dana yang terkumpul masih jauh dibandingkan dengan potensi umat Islam sendiri,'' katanya kepada Republika.

Ia, dewasa ini tengah mewujudkan cita-citanya untuk menarik generasi muda di Maluku, khususnya dari para pengungsi sendiri guna dididik di Jakarta. ''Mereka akan kita gembleng di sini, untuk kemudian dikembalikan ke daerahnya masing-masing sebagai juru dakwah.''

Baik Hussain maupun Suseno, yang diwawancarai secara terpisah mengakui setelah terjadi kerusuhan, semangat ke-Islaman di kalangan umat di Maluku makin meningkat. Hanya sayangnya, mereka kekurangan juru dakwah atau mubaligh yang andal.

Dalam kaitan dengan perlunya pengiriman mubaligh yang akan diterjunkan di kamp-kamp pengungsi ini, Hussain secara terang-terangan mengemukakan, yang dibutuhkan adalah para mubaligh yang moralis. ''Tidak money oriented dan bisa meresapkan penderitaan saudara-saudaranya di kamp-kamp pengungsi.'' Ini sangat penting, karena menurut ayah empat anak ini, para mubaligh yang diterjunkan di Maluku dalam situasi sekarang harus tahan banting. Sedangkan dalam bidang dakwah mereka harus punya terapi yang tepat.

Setelah menyaksikan sendiri keadaan di kamp-kamp pengungsi, Hussain mengkhawatirkan akan terjadinya demoralisasi khususnya di kalangan generasi muda. Mengingat mereka dikumpulkan dalam satu tempat dalam jumlah yang sangat besar.

Hussain mendirikan Yayasan Rahmatan lil 'alamin yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan ekonomi rakyat kecil pada tahun 1988, dua tahun setelah ia menamatkan pendidikan di Al-Azhar, Kairo. Dalam upaya memberdayakan umat, yayasan ini telah berhasil memberikan peluang-peluang kepada kaum kecil untuk meningkatkan ilmunya. Seperti latihan-latihan untuk menjadi tenaga pengajar bahasa Arab dan Inggris. Di samping cukup banyak memberikan modal usaha bagi pengusaha kecil.

Yayasan Rahmatan lil 'alamin boleh dikata merupakan organisasi Islam nonsektarian. Karena itu tidak heran kalau pengajian rutin tiap Ahad pagi, didatangi umat dari berbagai kelompok. Seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan habaib. ''Mereka semua sama-sama digerakkan dalam persaudaraan atas dasar keimanan,'' katanya. ''Kita tidak mau melibatkan konflik masa lalu, dan saling curiga satu sama lain,'' ujar ustadz yang dakwahnya hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur itu.

1