![]() |
||
|
Ambon Lumpuh Total, 23 Orang Tewas AMBON -- Kondisi keamanan di Ambon semakin tak menentu. Menyusul pertikaian Selasa (16/5) dan Rabu (17/5), terjadi bentrok susulan dan pembakaran terhadap puluhan rumah penduduk. Kerusuhan itu sedikitnya menewaskan 23 orang dan sekitar 100 luka berat/ringan. Situasi Ambon saat ini lumpuh total. Pasar tampak sepi dan jalan-jalan raya di blokade aparat.
Antara melaporkan puluhan rumah penduduk di RT 04 Kawasan Ahuru dibakar sekitar pukul 09.00 WIT oleh sekelompok massa. Para warga yang sedang berjaga-jaga di sana menjelaskan massa juga membakar rumah ibadah dan puskesmas.
Hingga kemarin, situasi Ambon dan sekitarnya masih mencekam. Sejumlah ruas jalan tertutup dan barikade-barikade dibuat masyarakat guna mengantisipasi adanya perusuh menyerang menggunakan kendaraan.
Ketegangan sudah terasa sejak Kamis pagi. Terlihat adanya pergerakan massa ke arah Kelurahan Ahuru. Sebelumnya Ahuru, Rabu sore, diserang massa dari arah Kebun Cengkih mengakibatkan enam tewas. Mereka yang tewas Lamaludi (27), Asman Buamona (20), Majid Kaimudin (61), Mohamad Taher Hatala (62), Mohamad Wagola (30), sedangkan satu lainnya belum teridentifikasi.
Kemarin, pergerakan massa juga terlihat di Kelurahan Ahusen, Jl Sultan Khairun dan perbatasan Mardika-Batumerah. Sekelompok massa berjaga-jaga karena khawatir adanya penyerangan kembali. Dengan dilengkapi berbagai jenis senjata, kelompok massa itu menolak kehadiran empat unit panser di Jl Sultan Khairun karena kecewa terhadap penanganan aparat keamanan sehingga sejumlah rumah di Jl Sedap Malam dibombardir.
Ketegangan dan pembakaran rumah penduduk itu merupakan rentetan peristiwa Selasa dan Rabu di perbatasan Mardika-Batumerah, Ambon. Sedikitnya 17 orang -- baik warga sipil maupun TNI/Polri -- tewas dan 60-an lainnya terluka dalam pertikaian bernuansa SARA di Ambon itu.
Data di Posko Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku serta RSU Gereja Protestan Maluku (GPM) dan RS Bhakti Rahayu menyebutkan korban meninggal maupun luka-luka itu sebagian besar terkena tembakan aparat keamanan, senjata api, dan bom rakitan.
Peristiwa ini sangat disesalkan masyarakat karena aparat keamanan yang bertugas mengamankan kawasan Ahuru tidak bisa mengantisipasi para penyerang sehingga satu tempat ibadah dan sejumlah unit rumah penduduk terbakar.
Masyarakat lari tunggang-langgang menyelamatkan diri sambil diberondong tembakan yang diduga berasal dari senjata organik. Saat berlari ini sejumlah anggota masyarakat terkena tembakan.
Sekretaris Eksekutif Posko MUI Wilayah Maluku, Malik Selang, saat dikonfirmasi mengatakan insiden Selasa sore hingga Rabu siang tercatat 13 orang meninggal dunia dan 40-an luka berat/ringan, termasuk anggota TNI/Polri. Korban meninggal lainnya di RS Bersalin Al Fatah Ambon yang teridentifikasi 11 orang.
Dari pantauan di lapangan, Rabu, korban tewas dan luka-luka terkena peluru aparat keamanan, yang teridentifikasi adalah Agus Muskita (23), Mohamad Silehu (25), Aliadi Watimury (18), Aftal Daeng Ngawi (32), Solaeman Uma Gapi (28), Zulkifli Suadna (15), Amir Bugis (24), Forman (20), Adam Tutupoho (20), Kopda Nurdin Safari (28) anggota Yonif 303 Garut.
Korban tewas lainnya adalah Sertu Pol Alfian Hasanussy (19), Yusuf (37), serta Mohamad Aris (25). Para korban yang tewas umumnya terkena tembakan di bagian kepala, leher, perut, dan dada dari aparat keamanan ketika terjadi konsentrasi massa di kawasan itu. Pelaku penembakan belum diketahui.
Sementara itu di Jailolo, Ternate, Rabu (17/5), delapan tewas dan puluhan lainnya luka berat akibat terkena peluru tajam. Wakil Danyon (Wadan) Batalyon Banteng Raiders Mayor Inf Dudung membantah keras tuduhan keterlibatan batalyonnya dalam bentrokan dengan pasukan putih.
''Peristiwa penembakan di Desa Tedeng itu bukan kami pelakunya. Kami datang ke tempat kejadian 15 menit sesudah terjadi penembakan,'' katanya di Ternate, Kamis. Dia tak menutup kemungkinan yang melakukan penembakan itu adalah aparat setempat yang menyusup saat pasukannya melakukan tembakan peringatan.
Korban luka tembak, Hariyanto Ishak (23), menuturkan ketika mendengar tembakan dia dalam posisi tiarap. Meski tiarap, menurutnya, peluru tetap menghantamnya apalagi yang dalam posisi berdiri. ''Rentetan tembakan berlangsung selama 30 menit, satu per satu pasukan putih roboh terkena peluru tajam, sehingga mengakibatkan delapan tewas. Empat jenazah berhasil dibawa sedangkan sisanya tidak sempat,'' kata Hariyanto.
Para saksi korban tembakan, tokoh masyarakat, serta seluruh pasukan putih yang berada di lokasi penembakan bersedia memberikan kesaksian atas keterlibatan aparat Batalyon 401 Banteng Raiders dalam peristiwa tersebut.
Tentang kejadian di Ambon, eksekutif Posko MUI Maluku, Malik Selang, membantah tudingan bahwa kerusuhan di Ambon itu dipicu Laskar Jihad. Menurutnya, Laskar Jihad tidak pernah masuk Ambon. Yang ada adalah forum relawan Ahlussunah Waljamaah// yang bergerak dalam membina pergerakan perekonomian rakyat. ''Bahkan, ada teman saya dari pihak Kristen yang meminta keahlian dalam membangun rumah ibadah Kristen,'' urainya ketika dihubingi //Republika// kemarin.
Para relawan tersebut, urai Malik, datang untuk memberikan siraman rohani dan dakwah keagamaan. Dalam setiap kegiatannya ini, mereka tak pernah menyinggung soal jihad. Sebaliknya, mereka mengajak bagaimana membangun perdamaian di Maluku sesuai amanat Alquran dan hadis. ''Mereka juga membagikan keterampilan dalam menumbuhkembangkan perekonomian rakyat,'' katanya.
Menurut Malik, jumlah relawan Ahlussunnah Waljama'ah yang saat ini sudah masuk ke Ambon sekitar seribu orang. Mereka tersebar di berbagai lokasi pengungsian untuk tugas kemanusiaan. Malik menandaskan para relawan ini tak pernah membawa pedang.
Ihwal konflik kemarin, Malik mengeluhkan kebijakan Pangdan XVI Patimura Brigjen TNI Max Tamaela, yang tidak memberikan pengamanan yang adil. Ia mengatakan aparat tak dikerahkan di sepanjang desa Kristen, mulai dari Desa Paso sampai Galala. Sedangkan di kawasan Muslim di Batu Merah, beratus-ratus aparat berjaga-jaga. ''Itulah yang menjelaskan kenapa warga Muslim tidak aman ketika melewati daerah Kristen,'' katanya.
Keluhan terhadap Pangdam juga dikemukakan Wakil Ketua DPRD I Maluku, Jhon Mailoa, menyusul dugaan adanya pengiriman senjata dalam sembilan unit kontainer dari Surabaya, Sabtu (13/5) lalu. Senjata itu diangkut KM Tanto Permai II.
Mailoa sudah meminta Pangdam menyita sembilan kontainer yang diduga berisi senjata dan amunisi itu. DPRD juga telah melakukan pendekatan kepada Pangdam untuk meningkatkan pengawasan. ''Namun, Pangdam tidak melakukan tindakan represif dengan mengamankan kontainer tersebut ke markas Kodam atau Pangkalan TNI-AL. Kemudian penempatannya di pelabuhan juga kurang mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan,'' katanya.
Berdasarkan data intel -- baik Kodam XVI/Pattimura, Polda Maluku, dan Polres P Ambon serta PP Lease -- senjata itu dikirim ekspedisi Aman dari Surabaya dengan tujuan Toko Surabaya Indah di Jl AY Patty, Ambon. Namun toko tersebut sudah musnah terbakar.
Koordinator Forum Ahlussunah Waljamaah, Ayip Syafruddin, menolak tuduhan laskar jihad berada di belakang kerusuhan Maluku. ''Tuduhan tersebut merupakan upaya sistematis untuk memojokkan laskar jihad. Untuk menutupi ketidakmampuan aparat menangani situasi, laskar jihad dijadikan kambing hitam,'' kata Ayip kepada //Republika// semalam.
Tujuan utama pengiriman laskar yang berada di bawah koordinasi Forum Ahlussunah Waljamaah itu, terang Ayip, adalah untuk berdakwah. Mereka merupakan gelombang pertama yang jumlahnya sekitar 2.000 orang.
Selama di Maluku korps dakwah laskar jihad antara lain menjalankan program merintis sekolah darurat bagi anak-anak Muslim. Mereka juga berupaya mengangkat moral kaum Muslim yang secara psikoligis sangat tertekan. Hasilnya antara lain warga Muslim sudah mulai berani memasuki rumahnya seperti yang terjadi di Air Salobar.
Mengenai adanya laskar jihad yang membawa senjata, menurut Ayip, hal tersebut dilakukan semata-mata untuk membela diri. Sedangkan tentang kemungkinan penambahan jumlah laskar, menurut Ayip, hingga saat ini belum ada rencana. n pri/sbt/ant