b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Laporan Perkembangan Tragedi Ramadhan Berdarah Halmahera

Oleh : Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Umat Ternate

Telp. (0921) 24422, keadilan@ternate.wasantara.net.id

  

PKPU Tte, Rabu, May 3, 2000

  

Kali ini di tengah laut, 12 tewas

Setelah Wapres Ibu Megawati Sukarno Putri datang ke Galela dan Tobelo

tanggal 27/04 silam, praktis tidak ada bekas sama sekali. Buktinya

pertikaian kembali terjadi, bahkan di tengah laut. Kali ini memakan korban

di pihak merah (obet) sedikitnya 12 orang. Awalnya pasukan putih (acang)

yang sedang berangkat dari Ternate (1/05) menuju Galela melihat pasukan

merah (obet) yang terletak di desa Limau pesisir Galela dengan dikawal

aparat mencoba mensuplai bahan logistik untuk tujuan Tobelo dengan kapal

yang lebih kecil. Maka pasukan jihad mengajar hingga jarak kapal saling

berdekatan. Terjadilah pertikaian di tengah laut yang akhirnya kapal obet

tenggelam. Dari peristiwa itu terdapat 5 orang luka berat, 1 luka ringan, 1

aparat kesatuan 732, 2 ibu selamat. Selain yang tewas, semuanya disandera

dan diserahkan ke aparat 512 di galela.

 

 

Tokoh Pengkhianat ditangkap

Tokoh pengkhianat yang mencoba berlagak sebagai pahlawan telah ditangkap

oleh pasukan jihad. Yaitu Saleh Sibua, pria asal Morotai Selatan kini

terpaksa mukanya harus bengkak-bengkak. Begitu juga kawannya bernama Idhar,

pria asal Makian telah menodai perjuangan kawannya sendiri. Pasalnya kedua

pria tadi mewakili kelompok Islam ikut menghadiri acara rekonsiliasi yang

diadakan Manado tanggal 3-4 April lalu. Masyarakat Maluku Utara tidak ada

yang tahu rencana rekonsiliasi. Semuanya baru mengetahui setelah salah satu

TV swasta menyiarkan acara tersebut. Langsung spontanitas masyarakat yang

merasa terwakili terutama orang Morotai dan Makian merusak rumahnya. Kini

sudah hampir sebulan peristiwa itu terjadi. Anggapan masalah tersebut sudah

selesai sehingga Saleh Sibua dan Idhar perlu datang kembali di tempat

tinggalnya. Namun apa yang diduga ternyata meleset, masyarakat masih belum

mau menerima kedatangannya. Bahkan sempat di interogasi oleh

kawan-kawannya.

Menanggapi utusan rekonsiliasi ini, Ust. Abdul Gani, Lc menyatakan ummat

Islam bukan tidak mau rekonsiliasi, tapi tolong hak-hak umat Islam yang

selama ini dirampas dikembalikan seperti Malifut, Tobelo harus

dikembalikan dulu. Halmahera bukan hanya milik kristen saja. Para penjahat,

pembantai, dan provokator harus di tidak tegas dan diadili. Baru umat Islam

mau rekonsiliasi. Kalau saya ikut dalam rekonsiliasi sebelum hak-hak

dikembalikan berarti saya korban berikutnya. Dan yang seperti itu saya

tidak mau, lanjut ustadz sebelum berangkat ke Jakarta.

Ternate Tegang

Keberangkatan pasukan jihad untuk merebut hak-haknya kembali umat Islam

ternyata banyak mendapat rintangan. Tidak saja di jawa, di Ternate pun

demikian. Padahal pasukan jihad dengan alat yang sederhana yang terdiri

dari para pengungsi saat ini terlunta-lunta ibarat pergi untuk

mempertahankan daerahnya atau mengambil harta nya kembali yang dijarah

obet. Sampai berita ini ditulis masih nyaring terdengar bunyi tiang listrik

dan tembakan aparat meletup. Awalnya pasukan jihad yang berjumlah sekitar

300-an akan berangkat jam 20.00 WIT. Namun tempat yang biasanya untuk

pemberangkatan banyak dijaga aparat. Jumlahnya 2 truk. Untuk mengelabuhi

aparat masyarakat membunyikan tiang listrik sehingga perhatiannya terpecah.

Masyarakat panik, maka terdengarlah letupan laras panjang aparat. Lokasi

kejadian di kelurahan Toboko, dan Tanah Tinggi.****

 

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh

(DI-07/05/00)

 

Source : Pos Keadilan Ternate

 

1